Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
Tangan naga 2.27


__ADS_3

Ketua sakte memimpin seluruh rombongan untuk kembali menuju sakte teratai putih. Perhatian seluruhnya tertuju kepada lan wu yang menjadi kunci utama dalam keberhasilan tersebut. Mereka bahkan sangat kagum melihat lan wu yang tidak begitu memikirkan tangan kanannya yang kini tidak dapat lagi di gunakan, terlebih lagi beberapa luka parah yang menghiasi tubuh lan wu, mereka dapat melihat darah yang menetes dari luka di tubuh lan wu.


Sudah pasti rasa sakit yang di tahan oleh lan wu sangatlah luar biasa kuatnya, andai mereka di posisi lan wu belum tentu mereka dapat berjalan tenang seperti yang lan wu lakukan.


Mata lan wu fokus ke arah depan, ia sedikit terfikirkan mengenai penggabungan jiwa tersebut, akan sangat repot jika lan wu nantinya menghadapi pertarungan dan mengalami luka parah ia sangat khawatir jika tubuh Fei juga akan mengalami luka yang serupa dengannya. Lan wu tak berani memikirkan hal aneh di kepalnya karena Fei akan sangat mudah membaca pikiran tersebut.


"Hah" ujar lan wu membuang keresahannya.


"Adapa?" Tanya ketua sakte seraya menatap lan wu.


"Apakah aku masih bisa melanjutkan perjalanan ku untuk menjadi kuat? Aku sangat khawatir jika di perjalanan aku bertemu dengan lawan kuat, secara tidak langsung akan sangat berbahaya bagi ku ataupun Fei begitupun sebaliknya. Aku sungguh bimbang sekarang" ujar lan wu dengan nada sedih.


"Itulah mengapa kau harus bersama terus dengan Fei, tidak peduli dimanapun kau berada Fei akan tetap menemani mu. Kalian dapat saling menjaga dan menemukan solusi dari permasalahan tersebut" jelas ketua sakte menambah kecemasan di hati lan wu.


"Yang dikatakan oleh ketua guru memanglah benar, kini kau dan Fei saling berbagi takdir dan nyawa. Ikatan tersebut tidak akan pernah putus oleh apapun" sambung Lou yu membenarkan perkataan ketua sakte.


"Lalu apa yang akan ku lakukan jika menemui istriku kembali? Apa dia akan percaya mengenai penggabungan roh? Aih..aku bahkan hampir kehilangan nyawa saat terlibat perjodohan" keluh lan wu di akhiri dengan senyum takut di wajahnya.


"Aku akan menjelaskan semuanya nanti kepada nona yiyi, aku rasa aku dapat berhubungan baik dengannya" ujar Fei tersenyum manis.


Lan wu mengangguk paksa seraya memasang senyum di bibirnya. Lan wu merasa itu Takan berjalan selancar yang di pikirkan oleh Fei, terlebih lagi ia telah meninggalkan yiyi cukup lama. Sesaat lan wu tersenyum lebar seraya membayangkan wajah anaknya yang mungkin telah berumur sekitar 3 tahun. Pikirannya menerka seraya memikirkan beberapa hadiah untuk di berikan kepada anaknya.


Lan wu bertekan akan kembali secepatnya ke alam fana, dan tidak ingin terlibat lagi di dunia kultivasi.


Tanpa sadar pikiran lan wu keluar dan di rasakan oleh Fei, senyum sedih nampak keluar dari bibir manis milik Fei.


Ia mengetahui bahwa tidak sedikitpun tersedia cela di hati lan wu. Ia hanya bisa berharap bahwa suatu saat ia dapat memiliki lan wu sepenuhnya.


"Aku paham perasaan mu, hanya saja aku sungguh tidak bisa membalasnya" seru batin lan wu yang segera di jawab oleh Fei.


"Tenanglah aku tidak akan memaksa mu, namun biarkan aku terus berjuang" Fei menggenggam erat tangan kiri lan wu.

__ADS_1


Mereka akhirnya memasuki gerbang utama tertai putih. Ketua sakte menyuruh seluruh murid untuk mengambil imbalan di tempat penerimaan misi lalu kemudian menyembuhkan diri mereka. Ketua sakte hendak mengajak lan wu untuk membicarakan beberapa hal, namun lan wu menolak dengan alasan hendak menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu.


..


Hari beranjak gelap, kini lan wu tengah fokus menyembuhkan dirinya dengan menggunakan api suci. Ia teringat akan petir pengadil yang sangat jarang ia guankaan dalam peetarungan, padahal kemampuan naga petir sangatlah hebat dalam hal menghancurkan. Lan wu membuka mengaliri petir pengadil di lengan kanannya dan bermaksud untuk menempa lengan tersebut dengan bahan dasar tulang sayap naga dewa yang di tersisa di cincin ruangnya.


Proses tersebut memakan waktu yang sangat lama. Perlahan-lahan aliran saraf di lengan lan wu kembali tersambung, namun terdapat sedikit ke anehan di lengan tersebut. Sontak aura beserta tekanan besar keluar dari tangan kanan lan wu. Ia dapat melihat bentuk tangannya yang menyerupai tangan dari seekor naga yang berwarna putih. Lan wu meninju dinding kamarnya untuk mengetes kekuatan lengan tersebut.


Mata lan wu terbuka lebar usai melihat tembok di belakangnya hancur berkeping-keping dalam sekali hantaman.


Ia menatap lengan kanannya yang menyerupai tangan naga sembari menggeleng tak percaya.


"Luar biasa..!" Kagum lan wu seraya mengepal tanganya.


Namun sayangnya lengan tersebut tidak dapat berubah menjadi bentuk lengan manusia, akan sangat repot bila hal tersebut di lihat oleh orang banyak. Lan wu membutuhkan untuk menutupi lengannya dengan perban.


"Sempurna" ujar lan wu seraya bangkit dari duduknya.


Pintu kamar lan wu mendadak terbuka bersaman dengan munculnya Fei yang terlihat begitu buru-buru.


Lan wu tersenyum kecut, ia lupa bahwa Fei dapat mengetahui setiap pikiran lan wu."setidaknya lengan ini sangat kuat, mungkin dapat mengimbangi pedang milik mu" ujar lan wu tersenyum seraya menatap Fei.


"Bodoh..! Dalam situasi seperti ini kau Bahakan masih bercanda" kesal Fei seraya menjitak kepala lan wu.


"Makanya kau jangan terlalu serius" balas lan wu seraya mengacak-ngacak rambut Fei.


Fei memasang senyum lebar seraya menarik tangan lan wu menuju ruang makan. Ia telah menyediakan makan malam bagi lan wu dan lainya. Aile dan Lou yu telah lebih dahulu berada di meja makan. Lan wu akhirnya deraga duduk dan menyapa Aile dan Lou yu. Mereka menyantap hidangan sembari berbincang-bincang ringan. Lan wu terlihat senang dengan lelucon yang di ceritakan oleh Lou yu.


Aile turut menyumbang pengalaman lucunya yang menambah gelak tawa di villa tersebut. Usai makan malam, Lou yu mengajak lan wu untuk melihat Chu yang tengah berlatih di halaman belakang. Chu begitu giat dalam mempelajari jurus pedang yang di berikan oleh lan wu. Sekali lagi lan wu tercengang usai melihat kemajuan pelatihan dari Chu, hanya memerlukan kurang dari 2 hari untuk Chu menyempurnakan jurus pedang tersebut.


Lan wu memanggil Chu kemudian mengajaknya untuk bergabung di pondok bersamanya dan Lou yu. Chu segera mendekat usai mendengar perkataan lan wu.

__ADS_1


"Kau butuh bersantai" ujar lan wu seraya menyerahkan secangkir arak kepada chu.


Chu menerima arak tersebut dan langsung meminumnya. Lan wu dan Lou yu tertawa terpingkal-pingkal usai melihat ekspresi wajah dari Chu yang nampak masam.


"Tuan, aku mau lagi" ujar Chu seraya menyodorkan gelasnya.


Lan wu tersenyum sejenak seraya menuangkan arak di gelas Chu. Mereka bertiga menghabisi malam dengan menikmati arak sembari berbagi permasalahan yang tengah di hadapi oleh mereka.


Chu hanya mendengar sembari menjawab jika ditanya oleh lan wu dan Lou yu.


"Bagaiamana persiapan mu dalam mengikuti pertandingan antar murid berbakat tersebut?" Tanya Lou yu serta meneguk araknya.


"Seperti yang kakak lihat, ungkin dengan pertandingan tersebut aku dapat segera menjadi lebih kuat dari sekarang" jawab lan wu tersenyum tenang.


"Sepertinya kau memerlukan waktu yang lama untuk kembali ke alam fana? Entah menagapa aku juga jadi tertarik untuk mengunjungi alam fana, mungkin saja aku dapat menemukan jodoh ku di sana" ucap Lou yu sontak membuat lan wu tersendat minumannya.


Lan wu diam sejenak kemudian tersenyum lebar seraya menatap Lou yu.


"Adik lan apakah kau sudah mabuk?" Tanya Lou yu merasa sedikit terganggu dengan senyum lebar lan wu.


"Kakak, aku akan mengenalkan mu dengan adik dari istriku. Dia merupakan murid ku sewaktu berada di alam fana. Soal bakat dan kecantikan kau tidak perlu meragukannya" jelas lan wu bermaksud menjodohkan lili dengan Lou yu.


"Sepertinya aku memang berjodoh dengannya" Lou yu memasang senyum senang sembari menuangkan arak di gelas lan wu dana miliknya.


"Aku Chu, aku adalah pelayan dari tuan lan, siapapun yang berani melukai tuan ku maka akan ku tunjukan kepadanya jalan ke neraka" ujar Chu sembari berdiri.


Lan wu kembali tertawa usai melihat Chu yang terkapar di tanah dalam kondisi tertidur. Ia tidak menyangka bahwa Chu sangat menghormatinya. Lan wu memang merasa bahwa Chu merupakan manusia sepertinya, namun mungkin saja Chu di segel oleh orang hebat dan mengubahnya menjadi senjata langit.


"Suatu saat pasti akan ku ketahui" gumam lan wu meneguk kembali minumannya.


Mereka berdua kembali melanjutkan bernincangan dengan santai hingga arak di guci tersebut telah habis. Lan wu Lou yu terlebih dahulu meninggalkan pondok seraya memapah Chu yang tertidur dengan pulas. Lan wu sejenak hendak menikmati ketenangan seraya mengingat yiyi dan lainya di pedang dewa. Ia sungguh tak kuasa lagi menahan rindu di hatinya.

__ADS_1


Lan wu menatap ke arah langit sembari tersenyum tenang. Ia memejamkan matanya dan membiarkan udara malam menerobos masuk di tubuhnya. Lan berjalan keluar pondok dan berbaring di rerumputan. Ia mengarhkan tangannya ke langit kemudian mengepalnya, nampak semangat terpancar dari wajah lan wu ia tersenyum sesaat seraya memejamkan matanya.


"Yiyi aku akan segera kembali" gumam lan wu sesaat sebelum terlelap.


__ADS_2