
Sepulangnya dari perjamuan, Qinde dan lainya segera membersihkan diri kemudian mencari Lan wu dibelakang penginapan para tamu yang mereka tempati.
Sesampainya di halaman belakang, mereka terkejut melihat Lan wu yang sedang duduk tenang di kursinya nampak ditemani oleh seorang gadis yang tengah mengipasi Lan wu.
"Siapa gadis itu..? Mengapa saudara Kein begitu dihormati oleh pendekar ranah immortal awal..?" Gumam Qinde dan lainya secara bersamaan.
"Tuan, mereka telah berdiri cukup lama disana. Apakah anda ingin agar aku membereskan mereka.?" Tanya gadis tersebut dengan nada sopan.
"Mereka adalah teman-teman ku, panggil mereka kesini." Jawab Lan wu yang masih memejamkan matanya.
Gadis tersebut membungkuk kemudian mendekati Qinde dan lainya. Ia menjelaskan tentang dirinya yang dikirim oleh seseorang untuk melayani Lan wu seumur hidup.
"Saudara Kein, apa kau adalah pemimpin atau tuan muda dari aliran tersembunyi?" Tanya Ran xiojan seraya melangkah mendekati Lan wu.
"Pikiran mu terlalu jauh bocah, namun apa yang kau katakan juga tidak salah. Bisa dibilang bahwa aku dulunya adalah pemimpin disebuah tempat.
Karena beberapa alasan aku memutuskan untuk mengasingkan diri lalu tanpa sengaja datang ke sakte immortal" jelas Lan wu yang memperkuat keyakinan Ran xiojan tentang latar belakang Lan wu.
"Silahkan tuan" ujar pelayan Lan wu menyodorkan segelas teh dengan aroma yang begitu harum.
Lan wu mengambil dan meminumnya dengan santai seraya memberikan kesempatan kepada Ran xiojan untuk bertanya lebih jauh.
"Saat waktunya tiba kalian akan mengetahui siapa diriku..." Ujar Lan wu yang begitu tenang.
"Kau antarkan mereka untuk beristirahat dan jangan biarkan seseorang memasuki halaman belakang ini selain ke-enam bocah ini" tutur Lan wu dengan nada tenang.
Gadis tersebut menuruti perintah Lan wu tanpa membantah sedikitpun. Disisi lain Lan wu menatap gadis tersebut dengan penuh selidik dan sedikit bertanya-tanya dengan asal gadis tersebut.
Keesokan harinya Lan wu dan rombongan sakte immortal pamit kepada pangeran untuk kembali menuju sakte. Perjalanan tersebut tidak memakan waktu lama seperti sebelumnya dengan bantuan elang badai.
Nama dari murid sakte immortal semakin meningkat akibat keterlibatan mereka dalam perang di benteng perbatasan. Namun salah satu nama yang paling bersinar diantara mereka adalah Kein.
Tiga hari kemudian rombongan Lan wu telah sampai di sakte immortal. Mereka disambut oleh semua murid dan tetua sakte diarea inti.
__ADS_1
Ketua sakte dan Hong anzu juga turut menyambut kedatangan mereka.
"Luar biasa, kalian bisa kembali dengan jumblah yang lengkap dan berkontribusi besar terhadap sakte dan dinasti. Aku akan memberikan kalian kompensasi yang layak" ucap ketua sakte dengan wajah senang.
"Terimakasih ketua sakte, namun kami semua hanya membantu sedikit. Saudara Kein lah yang paling banyak berkontribusi.." jawab Qihua seraya memberi hormat.
"Aku tau, tapi dia tidak membutuhkan apa-apa. Lagian tidak ada barang ataupun hadiah yang bisa menarik perhatiannya" balas ketua sakte dengan senyum pahit.
"Lalu diamana Kein dan Ran xiojan?" Tanya Hong anzu memotong pembicaraan ketua sakte dan Qihua.
"Ah, saudara Kein berpisah dengan kami di gerbang bawah. Ia mungkin sudah sampai di puncak Zo, sementara kakak Ran xiojan menyusulnya beberapa saat kemudian.." jawab Qinde nampak membuat Hong anzu pemasaran.
"Cih..dasar lancang, beraninya dia tidak menghormati leluhur Hong.!" Tambah seorang pemuda sengaja memprovokasi.
"Gonsang! Jaga mulut mu.!" Bentak tetua Losung dengan nada marah.
Pemuda tersebut seketika menunduk menyembunyikan wajah kesalnya.
"Siapa yang berani membentak cucu ku.?" Tanya wanita tua tersebut seraya menatap sinis kearah tetua Losung.
"Ini, adalah kakak perempuan dari leluhur Hong anzu. Hong huli..?" Gumam ketua sakte yang nampaknya mengetahui sosok wanita dihadapannya.
"Kakak Huli, ini hanyalah masalah anak muda. Apa perlu kita yang sudah tua ini ikut campur?" Potong Hong anzu.
"Hmm..tapi aku melihat sendiri bagaimana cucu ku tidak mendapatkan keadilan. Ia hanya membela mu dari junior yang kurang sopan mengapa perlu membentaknya?" Balas wanita tersebut yang membuat Hong anzu kesulitan menjawab.
Melihat Hong anzu yang sedikit tertekan, Gonsang memanfaatkan hal tersebut agar Lan wu bisa disingkirkan dengan bantuan dari Gon anxu.
"Nenek Huli, pemuda yang bernama Kein telah menyebabkan kekacauan di sakte dan bahkan merebut kaisar hewan buas milik tetua di balai roh. Ia ingin menguntungkan puncak Zo dan bahkan tidak hormat kepada leluhur Anzu.." ujar Gonsang serya tersenyum licik.
Mendengar hal tersebut sontak Hong Huli menjadi marah dan melesat cepat kearah puncak Zo. Hong anzu menyusul kakaknya dan diikuti oleh para tetua lainya.
"Kau dasar bajingan.!" Maki Qihua dengan wajah geram.
__ADS_1
Gonsang membalas makian Qihua dengan senyum tenang seraya menjulurkan lidahnya kearah Qihua. " Hehehe.. setelah ini selesai maka junior ini akan menikmati keindahan senior Qihua.."
Di puncak Zo.
Lan wu sedang beristirahat di halaman belakang rumahnya ditemani oleh pelayan gadisnya yang senantiasa berdiri disebelah Lan wu.
Mendadak aura mengerikan disertai oleh tekanan anergi membuat tiga bagunan di area inti puncak Zo bergetar hebat.
Tetua Jidan dan Ran xiojan sontak keluar dari kediaman Jidan untuk melihat asal tekanan tersebut.
Mata Jidan melebar dan berganti menjadi ketakutan setelah melihat sendiri Hong huli yang tengah melayang di udara.
"Tetua Jidan, apakah anda mengenal wanita tua itu?" Tanya Ran xiojan yang langsung dipotong oleh Jidan.
"Dia adalah kakak dari leluhur Hong anzu, jika dia telah keluar dari pengasingan maka bisa dipastikan bahwa dia telah mencapai ranah separuh immortal" jawab Jidan dengan wajah cemas.
"Bukankah bagus, jadi sakte kita akan kembali berjaya seperti dulu.." ucapan Ran xiojan segera dipotong oleh Jidan.
"Memang benar namun dari ekspresi wajah nya aku rasa ia kesini bukan hanya bertamu atau melihat-lihat"
"Jidan..! Dimana murid mu yang bernama Kein.? Suruh dia keluar dan menghadap ku.!" Tanya Hong Huli.
Jidan hanya bisa diam dan tidak berani menjawab pertanyaan dari Hong huli.
"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya, biar aku sendiri yang akan memaksa dia keluar.!" Ujar Hong Huli melepaskan serangan kuat kearah rumah Lan wu.
Ekspresi Jidan nampak begitu khawatir melihat ledakan besar yang menutupi seluruh bagian dari rumah tersebut.
Namun ekspresi tersebut tidak bertahan lama usai debu yang menutupi rumah tersebut menipis.
Didepan rumah Lan wu berdiri seorang gadis dengan wajah tenang seraya menatap tajam kearah Hong Huli.
"Gadis ini..! Dia begitu muda dan sudah berada di ranah immortal? Aku tidak berani memprovokasi orang kuat seperti dia" gumam Hong Huli dengan wajah tidak tenang.
__ADS_1