
"Kemampuan ku tidak dapat dibandingkan dengan para tetua mu yang lain. Seperti yang anda lihat bahwasanya tingkat kultivasi ku begitu rendah"
Jelas Lan wu seraya menatap kearah ketua sakte.
Pertanyaan Lan wu berhasil membuat ketua sakte terdiam dengan wajah serius. Ia perlahan-lahan mengarahkan tangannya ke atas sembari mengalirkan energi miliknya yang membentuk sebuah kubah transparan disekitar mereka berdua.
Didalam kubah tersebut Lan wu dapat merasakan kegelisahan yang dialami oleh ketua sakte, kegelisahan yang merupakan rahasia terbesar dari sakte yang memiliki sejarah panjang ribuan tahun.
"Ternyata begitu..."
Ujar Lan wu.
"Aku tidak memiliki pilihan lain lagi, musuh sebenarnya telah mengincar kami dan menunggu kesempatan untuk menyerang..
Posisi tetua sakte saat ini masih banyak yang kosong, selain itu kemampuan mu bisa dikatakan setara dengan tetua ke 7.."
"Aku telah meminta pendapat para tetua dan mereka setuju untuk menjadikan mu sebagai tetua pintu luar. Setidaknya sakte ini memiliki pertahanan awal yang dapat diandalkan untuk mencegah adanya penyusup"
"Selain itu, kemampuan mu berbeda dari kebanyakan kultivator yang pernah ku temui.. kau menyimpan banyak rahasia besar nak.."
Ujar ketua sakte kemudian melemparkan sebuah lencana kepada Lan wu, ia kembali berjalan dengan santainya meninggalkan halaman depan Lan wu yang telah hancur sedemikian rupa.
"Rahasia ya..."
Gumam Lan wu dengan wajah muram.
Siang harinya, Lan wu mengunjungi aula sakte cakar macan. Sebenarnya Lan wu masih sedikit ragu untuk mengambil posisi tersebut, namun mengingat ketua sakte yang begitu gigih Lan wu yakin bahwa ada maksud tersembunyi yang berhubungan dengan beberapa pengintai yang selalu mengawasinya.
Sesampainya di aula sakte, Lan wu dikejutkan dengan banyaknya wajah baru yang berada di ruangan tersebut.
Tatapan mereka seakan-akan menunjukkan kerguan dan ketidak sukaan mereka pada Lan wu.
Berbeda dengan ketua sakte serta tetua ke 5 yang menyambut Lan wu dengan ramah.
"Akhirnya kau datang tetua Lan.. kami sudah lama menunggu mu"
Ucap ketua sakte menyambut Lan wu diikuti oleh tetua lainya.
"Mereka semua adalah para tetua sakte dan murid-murid pribadi mereka. Mungkin diantaranya kau sudah pernah melihatnya"
Kini salah satu dari tetua beranjak dari kursinya kemudian menghampiri Lan wu dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Siapa yang menyangka bahwa perjalanan jauh ku kemari hanyalah untuk melihat sendiri calon saudara ku"
Wanita tersebut adalah Mei Qingru, tetua ke 6 yang berada di ranah spritual akhir.
Ia merupakan tetua di gerbang pedang langit yang memiliki sekiranya 10 murid khusus dan puluhan murid gerbang.
(Sekedar info, bahwasanya di sakte cakar macan terdapat 10 gerbang yang masing-masing dipimpin oleh satu tetua).
"Sebuah kehormatan bagi ku bisa mendapat kesempatan bertemu dengan tetua ke 6"
Lan wu memberi salam.
"Ranah Qi awal.. bukankah tingkat ku lebih tinggi daripadanya? Mengapa bukan aku saja yang mengambil posisi tetua gerbang luar?"
Dari samping tetua ke 9 terdengar celetu kecil yang seketika menarik perhatian setiap orang di ruangan tersebut.
Ekspresi ketua sakte kini berganti marah. Dengan nada keras ia menegur gadis berumur 18 tahun itu dan memintanya untuk diam.
"Lian su..! Kau tidak memiliki kualifikasi untuk mencela tetua Lan..!"
"Dia hanyalah sampah, tidak bisakah ketua sakte melihatnya..?!"
Nada keras gadis tersebut bagaikan tamparan keras di wajah ketua sakte. Akan tetapi perilaku gadis tersebut sebaliknya membuat ketua sakte terdiam.
"Susu... Jangan lancang kepada ketua sakte, apakah ini yang ku ajarkan pada mu?"
Tetua ke 8 ikut bersuara mencoba menghentikan tindakan Luan su.
Kepribadian tetua ke 8 tampak begitu bijak, namun tidak dapat menutupi rasa malunya kepada ketua sakte dan terutama Lan wu.
"Hahahaha.. tetua Hongmen begitu kaku, ini wajar jika seorang murid tidak puas dengan kekuatan tetua sakte. Bukankah kehadiran tetua sakte adalah untuk melindungi murid?
Menurut ku, Susu hanya membutuhkan keyakinan dan tentu saja ini harus merepotkan tetua Lan.."
Dari pojok kanan terdengar suara tetua ke 4 yang mengejutkan ketua sakte.
"Juan ge..."
"Aku setuju ketua sakte, bukankah anda dan tetua ke 3 melihat sendiri kemampuan tetua Lan saat bertarung melawan tetua ke 7?
Aku rasa tetua ke 7 sudah tidak sabaran ingin mengujinya.."
__ADS_1
Belum selesai tetua ke 4 bicara, tampak pintu aula seketika terbuka disusul oleh tekanan energi yang menciptakan hembusan angin kencang.
Samar-samar terlihat sebuah telapak tangan yang mendorong tubuh Lan wu keluar dari aula sakte menuju halaman depan aula yang lebih luas.
"Yah... Aku hanya mengusulkan"
Ujar tetua ke 4 tersenyum pahit melihat kearah luar dimana Lan wu yang kini berdiri berhadapan dengan tetua ke 7.
"Aku tidak akan lembut seperti sebelumnya.."
Tetua ke 7 mendadak gagu setelah menatap langsung mata Lan wu yang diselimuti oleh kemarahan.
Tekanan ditempat tersebut semakin meningkat seiring dengan gemetarnya tubuh wanita tersebut yang kesulitan melawan tekanan tersebut.
Dalam sekejap mata muncul kobaran api iblis tepat di hadapan tetua ke 7. Melihat hal tersebut sontak membuat wanita tersebut memuntahkan darah segar kemudian terkapar dibawah.
Disisi lain ketua sakte dan lainnya segera bergegas keluar dan mencoba menghentikan pertaruangan tersebut.
Tetua ke 3 mengarahkan jurusnya ketengah Lan wu dan tetua ke 7, jurus tersebut tampak melebar kemudian menghempaskan tetua ke 7 kearah belakang.
Tetua ke 8 mengambil kesempatan tersebut untuk membawa tetua ke 7 dengan energinya kesisi mereka yang berada tepat di depan pintu masuk aula.
"Jurus mengerikan apa ini..?! Bukankah itu hanya sebuah api roh.?!"
Gumam tetua ke 4 yang terkejut melihat kobaran api yang kini berada di telapak tangan Lan wu.
"Tetua Lan.. ini hanya sebuah tes, jangan begitu serisu.."
Ucap tetua ke 4 dengan ekspresi datar seakan-akan menyuruh Lan wu agar berhenti.
"Baiklah.. aku harap tetua sekalian tidak mempersulit ku nanti, jika memiliki masalah tolong selesaikan dengan pikiran terbuka dan langsung menemui ku.."
"Melibatkan murid dan membuat kekacauan di rumah ku.. tentu saja seperti menghina kemampuan ku"
Ujar Lan wu menatap tajam kearah tetua ke 7 dan Luan su yang berdiri di sebelah tetua ke 8.
"Mengingat ketulusan ketua sakte, aku menerima posisi baru ini. Namun harus di perjelas bahwasanya aku tidak suka dengan keramaian dan hanya akan mengawasi gerbang luar.
Aku tidak bertanggung jawab dengan urusan internal gerbang lain..
Aku mohon pamit, salam ketua.."
__ADS_1
Sambung Lan wu sembari memberi salam kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut.