
"Tuan Bai, air panasnya sudah siap. Apakah anda ingin menggunakannya?"
Tanya Yisun dari luar kamar mandi.
Mendengar hal tersebut, Lan wu segera mengenakan kembali pakaiannya lalu mempersilahkan Yisun untuk masuk.
"Tuangkan saja di bak mandi itu nona Sun.."
Ujar Lan wu.
Setelah Yisun menuangkan air panas kedalam bak mandi ia mengatakan pada Lan wu agar tidak mengunci pintu kamar mandi.
Entah apa maksud wanita tersebut akan tetapi Lan wu melakukan apa yang dikatakan Yisun.
Ia kembali masuk kedalam bak mandi yabg yang berukuran dua orang tersebut, sembari bersandar merilekskan diri. Dari arah belakangnya mendadak ada dua buah tangan lembut yang memijatnya.
"Cei... Cei Hua...?! Apa yang kamu lakukan disini..?!"
Kaget Lan wu yang reflek menutupi tubuhnya.
Cei Hua saat itu hanya menggunakan kain tipis menutupi bagian intim tubuhnya. Hal tersebut tentu saja membuat Lan wu sedikit gugup dan malu.
"Jangan banyak bergerak..! Aku hanya ingin membantu agar kondisi mu lebih baik.
Perjalanan besok masih jauh, dan kau harus pulih sepenuhnya.."
Jawab Cei Hua yang kali ini terdengar begitu serius.
"Ada apa dengannya..? Tidak biasa dia terlihat sangat serius.."
Pikir Lan wu yang tersenyum kecil kemudian mulai menikmati pijitan Cei Hua yang terasa begitu nyaman.
"Bai..."
Ucap Cei Hua dengan nada yang tertahan.
"Ya..?"
"Tidak apa-apa, cepatlah mandi dan bersiap-siap. Kita akan menghadiri jamuan di istana Shandian"
Sambungnya sembari berjalan keluar dari kamar mandi.
Usai mandi, Lan wu kemudian mengganti pakaiannya lalu menghampiri Cei Hua dan lainya yang sedang menunggunya di ruang tamu.
"Sudah siap?"
Tanya Cei Hua seraya menghampiri Lan wu kemudian menggandengnya.
__ADS_1
"Iya.."
Balas Lan wu seraya berjalan bersamaan dengan lainya.
Jarak menuju istana tidak terlalu jauh, hanya memerlukan sekitar 15 menit perjalanan.
Sesampainya di istana, mereka dijamu oleh pangeran ke 3 yang kemudian membawa mereka menuju ruang perjamuan.
"Mohon maaf jika jamuan kami sederhana, akan tetapi aku dengan tulus menyambut kedatangan yang mulia Cei Linhua"
Ucap pangeran ketiga dengan wajah ramah.
Ia kemudian mempersilahkan Rombongan Cei Hua duduk di tempat khusus tamu istana, sementara Cei Hua diminta untuk duduk bersama dengan pangeran ketiga serta raja dari istana Shandian.
"Mohon maaf ratu, tapi dia tidak bisa ikut duduk. Tempat tersebut dikhususkan untuk yang mulia ratu dan ayahku. Beliau hendak membicarakan perihal penting"
Ujar pageran ketiga seraya menunjuk Lan wu yang digandeng oleh Cei Hua.
"Dia bukan orang lain, kami adalah suami istri dan tentu posisinya sama dengan ku"
Jawab Cei Hua menanggapi perkataan pangeran ketiga barusan.
"Aku paham itu yang mulia, tapi aku hanya menjalankan perintah dari ayah ku"
"Jika begitu aku menolak untuk duduk bersama pangeran dan yang mulia raja.."
"Cei Hua.. tidak apa-apa, lagian aku juga tidak begitu suka suasana serius.."
Dengan wajah yang sedikit dipaksakan, akhirnya Cei Hua menyetujui permintaan pangeran ketiga.
Lan wu kini berjalan kembali kearah Yisun dan lainya yang berjarak tidak terlalu jauh dari meja Cei Hua.
"Tuan Bai.. mengapa anda menyetujui hal tersebut?"
Tanya Xianlu tepat setelah Lan wu duduk disebelahnya.
"Hmmm.. dia selalu mengutamakan ku yang orang baru di kehidupannya, ia bahkan tidak memperhatikan bahwa waktu miliknya semakin sempit dengan adanya diriku.."
"Ia tentu memiliki urusan penting yang harus dibicarakan dengan raja istana Shandian.."
Jelas Lan wu kemudian menuangkan teh hijau kedalam cangkirnya.
"Tapi ada hal yang tidak anda ketahui tuan Bai.."
Sambung Xianli yang membuat Lan wu sedikit penasaran.
"Bukan rahasia lagi jika pangeran ketiga memiliki perasaan istimewa terhadap ratu. Bahkan pernah mengirimkan lamaran saat acara perburuan tahun lalu.."
__ADS_1
Ujar Xianli.
"Kau cemburu kan tuan Bai?"
Tanya Xianli yang sontak membuat Lan wu tersedak minumannya.
"Ehem.. itu.. itu tidak mungkin, lagian jika memang benar apa aku punya hak untuk ikut campur.?"
"Hais.. tuan Bai.. mengapa kau begitu bodoh? Bahkan perasaan ratu tidak bisa kau lihat..?!"
"Xianli jaga ucapan mu..!"
Gertak Yisun yang mendadak mengagetkan Lan wu.
"Anu...hey... Tidak perlu serius, aku lebih suka gaya bicara Xianli yang lepas ini.."
Lan wu menepuk pundak Yisun beberapa kali seraya tersenyum canggung kearahnya.
"Kakak Sun.. aku berkata jujur, seharusnya tuan Bai mulai melakukan beberapa persiapan untuk memenangkan pertaruangan berebut cinta.."
"Ugh... Aku tidak setuju.."
Sambung Lan wu dengan eskpresi geli mendengar perkataan Xianli.
Tanpa sadar Lan wu mulai akrab dengan Yisun, Xianli, dan Xianlu. Ia hanyut dalam percakapan mereka dan tidak menyadari bahwa Cei Hua diam-diam memandangnya.
Beberapa saat kemudian Cei hua meninggalkan raja dan pangeran ketiga menuju kearah Lan wu dan lainya yang asik ngobrol.
"Ratu.. kau harus mendengarkan cerita tuan Bai dari dunianya..."
Ujar Xianlu yang kemudian menarik Cei Hua duduk tepat disebelahnya yang mana berhadapan langsung dengan Lan wu.
"Apakah seseru itu Xianli...?"
Tanya Cei Hua seraya tersenyum mengisyaratkan agar Lan wu juga menceritakan kisahnya kepada dia.
"Ehm.. aku akan mulai dari mana ya..?"
"Oh.. aku akan menceritakan sebuah kisah dari orang terkuat di dunia ku.."
Ucap Lan wu yang kini disimak baik-baik oleh Cei Hua dan seluruh prajurit yang ikut mendekat kemeja tersebut.
"Dia bernama Lan wu, sosok pria yang berdiri tegak dengan pendiriannya..."
"Hmmm.. bukankah itu nama yang kau sebut kan pada ku waktu itu..?"
Potong Cei Hua dengan wajah lugunya.
__ADS_1
"Hahahaha.. saat itu aku begitu gugup jadinya menyebutkan nama sosok itu tanpa sadar.."
Jelas Lan wu yang kemudian kembali memasang wajah serius.