
Mendengar banyaknya bacotan dari segala arah akhirnya Lan wu terpaksa melompat keatas arena dan menerima tantangan dari putrinya tersebut.
"Salam paman Feng, hais...maaf membuat mu kerepotan dengan anak bodoh ku ini" ucap Lan wu.
"Hahahaha... saudara Lan tidak perlu begitu sungkan, bagaimanapun juga kita adalah keluarga. Okelah, aku akan memulai pertandingan menarik ini" ucap Feng lalu melompat naik kesisi Jian.
Nampak Lan wu maupun Xuya masih berdiri tenang seraya menatap satu sama lainnya.
"Menjadi pendekar pedang membutuhkan hati yang lapang. Kesembongan akan membuat jalan mu menjadi berliku" ucap Lan wu seraya mengeluarkan pedang sunyi dari cincin ruangnya.
"Pendekar pedang sejati dapat berkembang selama mampu menerobos penghalangnya.
Ayah...kau adalah penghalang itu, nama ku bersinar dikarenakan status ku yang merupakan putri dari pendekar no 1 di kekaisaran" balas Xuya seraya menghunus pedangnya.
"Baiklah...mari lihat sejauh mana kau berkembang.." ucap Lan wu seraya mengeluarkan niat membunuhnya.
Xuya berhenti sesaat usai merasakan niat membunuh yang begitu kuat dilepaskan Lan wu. Akan tetapi ia segera mengendalikan dirinya dan bergerak cepat menyerang Lan wu.
Gerakan pedang Xuya begitu teliti dan mematikan. Setiap gerakan tidak memiliki kekurangan dan cela untuk menyerang balik.
Disis lain Ia dapat dengan mudah bergerak bebas dibawah tekanan niat membunuh milik Lan wu.
"Tarian pedang sunyi..!" Teriak Xuya yang menerjang Lan wu dengan permainan pedang indah layaknya seorang penari.
"Putaran sunyi....badai acak..!" Teriak Xuya melepaskan seluruh energinya hingga menciptakan tekanan hebat disertai hembusan angin yang menerbangkan debu-debu diarena.
Dari arah bangku penonton terlihat seluruh orang menjadi tegang tidak terkecuali Yiyi, kaisar An, dan ketua Jian.
"Hos...hos...apakah berhasil..?" Tanya Xuya seraya melihat kepulan debu yang menutupi Lan wu usai diserang oleh Xuya.
"Alunan pedang sunyi..." Terdengar suara Lan wu bersamaan dengan melambatnya waktu diarena tersebut.
Xuya terlihat kesulitan untuk bergerak sementara disisi lain Lan wu tengah berjalan pelan mendekatinya dengan pedang yang siap dikeluarkan dari sarungnya.
"Hati merupakan mata bagi pendekar pedang, perasaan mewakili setiap jurus yang dikeluarkan dari pedang sunyi. Kekuatan kasar memang berguna, namun jangan sesekali melupakan arti dari alunan sunyi.." ucap Lan wu yang berhenti beberapa langkah didepan Xuya.
"Niat...aku....hanya ingin melampaui mu..!" Teriak Xuya yang berhasil lepas dari jurus ilusi Lan wu.
"Pedang sunyi...pemabantai naga gerakan sempurna...!" Sambung Xuya yang mengeluarkan jurus pedangnya.
Kini Lan wu merasa sedikit tertekan oleh energi dari jurus tersebut. Ia juga begitu kaget melihat Xuya dapat memodifikasi jurus pembantai naga hingga dititik tersebut.
"Xuya apa yang kau lakukan...!" Teriak Yiyi dengan nada cemas melihat kearah Lan wu yang nampak bingung hendak berbuat apa.
"Hancurlah...!"
"Duar..!" Ledakan besar terjadi tepat ditengah-tengah arena hingga membuat ketua Jian mengaktifkan formasi aray pelindung yang telah disiapkan diarena tersebut.
"Ketua Jian... apakah Xuya memiliki masalah dengan Lan wu?" Tanya Feng seraya menatap serius kepulauan debu yang perlahan-lahan menipis.
"Entahlah...namun melihat ekspresi Xuya yang seperti itu, siapapun juga akan menyangka bahwa keduanya memiliki perselisihan..." Jawab Jian seraya menghela nafasnya.
__ADS_1
"Lihat itu...!" Teriak penonton usai debu telah lenyap sepenuhnya.
Nampak Lan wu yang tertusuk pedang milik Xuya di bahu kanannya sementara ia menggunakan aura neraka untuk melindungi Xuya dari ledakan tersebut.
"Suami ku...!" Teriak Yiyi begitu khawatir sontak turun ke arena dan menghampiri Lan wu yang mengalami beberapa luka di tubuhnya.
"Bagaimana keadaan mu..?" Tanya Yiyi seraya memegang lengan Lan wu.
"Tenanglah...aku tidak apa-apa, ada baiknya bila kau membawa Xuya untuk menyembuhkan dirinya. Ia terlalu memaksakan dirinya hingga menyebabkan efek balik pada tubuhnya.." jelas Lan wu seraya menetralkan wujud auranya.
Yiyi segera membawa Xuya untuk diobati sementara Lan wu masih berdiri ditengah-tengah arena dengan pedang yang menancap dibahu kanannya.
"Ada apa bocah...mengapa wajah mu terlihat murung?" Tanya Jian menghampiri Lan wu.
"Apakah akhir-akhir ini Xu'er sering keluar sakte?" Tanya Lan wu dengan nada sedih.
"Memang benar, ia juga baru kembali dari kekaisaran emas biru sebelum datang mengunjungi mu di istana.."
"Begitu ya..." Tutur Lan wu kemudian mencabut pedang yang tertancap ditubuhnya lalu meninggalkan Jian tanpa suara sedikitpun.
2 hari kemudian Ling dan Houcung datang bersama dengan Yuan serta Yin, mereka yang mendengar akan kedatangan Lan wu segera dengan cepat menemuinya.
Didalam kediaman ketua Jian terlihat Lan wu, Jian, kaisar An dan Yiyi sedang berbincang-bincang ringan. Kaisar An menanyakan persiapan Lan wu dalam mengurusi orang-orang dikota Ziyou.
"Aku akan berbicara secara baik-baik dengan pihak disana, adapun kemungkinan terburuknya maka aku akan membersihkan kota itu dari orang-orang rakus seperti mereka" jawab Lan wu dengan nada yang terdengar tidak bersemangat.
"Aku mempertahankan kedamaian di kekaisaran ini selama bertahun-tahun tidak disangka akan membuat segelintir orang mengambil cela..." Tutur kaisar An.
"Tenang saja adik Yiyi, saudari mu itu akhir-akhir ini menjadi penghubung di kekaisaran Ning.." sambung Ling yang telah sampai di ruang tersebut.
"Kakak Ling.... akhirnya aku bisa bertemu dengan mu.." sambut Yiyi seraya memberi salam kepada Ling.
"Hehehe...bibi Yiyi tidak perlu khawatir selama ada aku yang menjaga guru maka dia akan baik-baik saja.." ucap Houcung membanggakan diri.
"Sudah lama tidak bertemu saudari Yiyi, kamu semakin cantik saja" puji Yin seraya tersenyum kearah Yiyi.
Yiyi nampak terhanyut dalam pembicaraan bersama Ling dan lainya, tanpa disadari Lan wu sedari tadi melamun seraya menunjukkan ekspresi bimbang.
"Lan'er...apakah ada masalah besar yang menimpamu..?" Tanya Yuan sontak mengalihkan perhatian yang lainnya kepada Lan wu.
"Huf...tidak ada yang lainya...aku hanya memikirkan Xu'er, dia telah tumbuh menjadi gadis yang canti dan kuat. Statusnya di dunia kultivasi dan kekaisaran membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan" jawab Lan wu yang kini berdiri serya menatap teduh kearah luar jendela.
"Apa maksudnya suami ku..?" Tanya Yiyi yang terdengar khawatir.
Yiyi mendekat kepada Lan wu lalu memeluk lengan kanan suaminya tersebut.
"Yiyi....kini aku sedang merasa senang sekaligus sedih, saat pertaruangan melawan Xuya....ada beberapa hal yang dikatakan Xuya kepada ku..." Jawab Lan wu sembari mengusap rambut Yiyi dengan lembut.
"Bagaimanapun dia ingin melampaui mu, tentu saja dia akan begitu serius saat melawan mu" ucap Yiyi mencoba menenangkan Lan wu.
Lan wu tersenyum sesaat sebelum menjawab perkataan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Benar...namun, kata melampaui tersebut telah berubah menjadi benci. Sejujurnya Xu'er telah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung ku.." jelas Lan wu sontak membuat Yiyi melepaskan pelukannya dari Lan wu.
Yiyi dengan wajah yang tidak tenang langsung bergegas menuju kamar Xuya meninggalkan Lan wu dan lainnya yang masih terdiam.
"Ayah...aku memohon kepada mu untuk kembali ke istana dan menggantikan ku untuk sementara waktu, aku memohon..." Ujar Lan wu dengan nada bergetar seraya membungkuk didepan kaisar An.
"Lan'er....mengapa kau seperti ini, kau tidak perlu begitu sopan terhadap ayahmu sendiri nak.. aku paham dengan apa yang kau rasakan serta tujuan mu.." tutur kaisar An dengan nada lembut.
"Tidak ayah...aku tidak akan bangun jika anda tidak mengabulkan permintaan ku.." bantah Lan wu dengan keras.
"Baiklah...untuk sementara waktu aku akan kembali ke istana, temukan kebenaran dan tenangkan hatimu, jangan lupa kau harus meminta izin kepada Yiyi" balas kaisar An yang hanya bisa pasrah.
**
Sore harinya Lan wu mengirim pesan kepada mentri pertahanan untuk memulai rencana ke kota Ziyou. Disisi lain Yiyi sedang berbincang dengan Xuya didalam kamarnya.
Lan wu menghampiri keduanya dan duduk disamping kanan Xuya.
"Suami ku, bagaimanapun kau harus meminta maaf kepada Xu'er atas hal ini..." Ucap Yiyi dengan wajah memelas.
"Hmmm.... Xu'er, rencana kita sukses" ucap Lan wu seraya memeluk kuat putrinya tersebut dan mencubit beberapa kali pipi Xuya.
Sedangkan Yiyi masih mencerna situasi tersebut.
"Argh...! Ayah luka ku terbuka lagi...!" Kesal Xuya seraya menggigit pelan lengan Lan wu.
"Kalian..! Apa yang sebenarnya kalian mainkan..!" Tanya Yiyi bersamaan dengan niat membunuh yang terpancar dari tubuhnya.
"Buk..! Buk...!" Pukulan mendarat di kepala Lan wu dan Xuya hingga membuat keduanya terdiam dengan perasaan ketakutan.
"Ehe... sebenarnya aku dan Xuya hanya memainkan sebuah drama kecil...hehehe.." jelas Lan wu mendadak bersikap manja kepada Yiyi.
"Maksudnya..?!" Tekan Yiyi mencubit pipi Lan wu.
"Ah...begini istri ku, sebenarnya perihal identitas Xu'er telah ku beritahukan kepadanya beberapa bulan lalu tapi..."
"Tapi apa hah...?!" Tanya Yiyi dengan seraya menyeringai.
"Ehem...ibu, sebenarnya ayah berencana untuk menyelesaikan masalah kekaisaran di kota Ziyou, itulah mengapa ia memanfaatkan ku untuk membuatnya bisa pergi dari istana" jelas Xuya seraya menahan rasa takutnya kepada Yiyi.
"Hemph..!" Kesal Yiyi memalingkan wajahnya dari Lan wu.
"Itu benar istri ku, aku hanya bisa membereskan masalah di kota Ziyou dengan tangan ku sendiri...dan dalam hal ini mungkin aku akan melakukan beberapa penyamaran.." jelas Lan wu yang kini menjadi serius.
"Itu sangat berbahaya suami ku.... meskipun kamu adalah orang terkuat di negara ini, namun kau telah lama tidak bertarung. Apakah kau lupa bahwa sekarang banyak orang-orang jenius yang bermunculan..?" Tutur Yiyi dengan nada khawatir.
"Aku tau, setelah takdir ku terpenuhi aku memang merasakan dunia ini semakin berubah. Namun, sudah tugas ku untuk menyelesaikan perkara ini"
"Percayalah....aku akan kembali nanti, kau bisa menunggu ku di istana bersama Wu Jia" ucap Lan wu seraya memeluk Yiyi.
"Baiklah..tapi kau harus berjanji untuk kembali dengan selamat" pinta Yiyi dengan suara bergetar.
__ADS_1
Lan wu dengan sengaja menekan titik akupuntur Yiyi hingga membuatnya tertidur seketika, ia membaringkan tubuh Yiyi dengan hati-hati lalu memasukkan darahnya di tubuh Yiyi.