
Dengan nada gemetaran ketua sakte menjawab perkataan Lan wu. " Tentu.. tentu kami akan mengingatnya"
Para tetua tersebut memberi hormat kepada Lan wu yang telah berjalan begitu tenang seraya melingkarkan tangannya dibelakang pinggang.
"Tetua Susu, kau dan tetua Losung tolong bantu leluhur untuk menyembuhkan dirinya di puncak utama. Aku, tetua Jidan, dan tetua Zinzu akan membereskan kekacauan ini" suruh ketua sakte dengan wajah tertekan.
Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya seraya bergumam. " Apakah ini bencana atau keberuntungan kami?" ...
**
Dua hari berlalu tenang semenjak kejadian besar di area inti. Nama Lan wu menjadi pembicaraan utama dikalangan murid-murid luar dan inti. Beberapa murid yang pernah menyinggung Lan wu terpaksa harus menahan diri untuk bergerak.
Selain nama Lan wu yang tersohor, puncak Zo semakin ramai tiap harinya oleh aktivitas murid-murid yang berlatih di area dalam puncak Zo ataupun area hutan.
Singa taring roh yang dibawa pulang oleh Lan wu, dibiarkan bebas di wilayah hutan bukit Zo untuk meneruskan pelatihannya ketahap lebih tinggi.
Kini tempat bersantai Lan wu berpindah ke belakang kediamanya yang terdapat sebuah kolam kecil dan pohon rindang.
"Adik Kein.. ada yang ingin bertemu dengan mu" ucap Fifi yang membangunkan Lan wu dari tidur singkatnya.
Lan wu merenggangkan tubuhnya seraya mengusap kemudian menjawab Fifi.
"Biarkan dia kesini"
Lan wu menuangkan teh kedalam cangkir kemudian meminumnya dalam sekali teguk.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda" ujar leluhur sakte immortal dengan nada yang sopan.
"Ah.. leluhur, jangan terlalu menghormati bocah ini. Kein, mana sopan santun mu kepada leluhur..?!" Bentak Fifi dengan nada kesal.
"Ah.. nak Fifi jangan begitu.. itu tidak apa-apa.." sergah pria tua tersebut dengan senyuman dan ekspresi panik.
__ADS_1
Lan wu tersenyum tipis melihat kedua orang disampingnya.
"Kakak Fifi benar, maaf atas ketidak sopanan ku leluhur. Silahkan duduk" ucap Lan wu yang bangkit dari duduknya.
Fifi meninggalkan keduanya yang tidak berbicara apapun semenjak Fifi pergi.
Dalam hati, Lan wu mengetahui tujuan kedatangan pria tua tersebut.
Jika bukan untuk menjadi salah satu tetua, pasti ia ingin agar Lan wu mengajarinya pukulan terakhir yang membuat pria tua tersebut terluka parah.
"Ehem..anda tidak perlu ragu leluhur, selama bisa ku penuhi maka aku akan membantu mu" ucap Lan wu membuka pembicaraan.
Wajah pria tua disampingnya sontak berubah senang. Ia menuangkan teh kecangkir Lan wu lalu menyerahkannya kepada Lan wu.
"Mohon terima aku sebagai murid mu!" Ucap pria tersebut yang membuat Lan wu menyemburkan kembali teh yang baru ia minum.
"Uhuk..uhuk..! Apa maksud anda..? Tolong perhatikan usia mu.." Tanya Lan wu tidak menyangka dengan permintaan pria tersebut.
"Mater.. usai tidak menentukan batasan ilmu, meskipun aku lebih tau sedikit dari mu tapi kemampuan dan pemahaman anda lebih tinggi" jelas pria tersebut yang membuat kepala Lan wu cenat-cenut dan tidak berhenti merayu Lan wu.
Setelah cukup lama menahan diri dari permintaan pria tersebut, akhirnya dengan pikiran pendek Lan wu memberikan solusi.
"Aku akan membantu anda menerobos dua tingkat dan sebagai gantinya carikan aku seorang pelayan. Ini adalah transaksi bukan hubungan guru murid bagaimana?"
Saran yang diberikan Lan wu berhasil menarik perhatian pria tersebut. " Baik, aku akan mencari bahan-bahan kultivasi untuk menerobos"
"Aku tidak suka membuang waktu" gumam Lan wu seraya mengarahkan inti api iblis kedalam tubuh pria tua itu.
Hak tersebut dengan cepat disadari olehnya dan langsung duduk bersila. Selama proses tersebut Lan wu mengawasi leluhur sakte immortal begitu ketat.
"Api iblis bukan hanya membantu membakar kotoran bawaan dalam meridian, namun bagus juga digunakan untuk menempa tubuh. Entah kekuatan seperti apa yang berhasil dicapai kakek ini setelah selesa" pikir Lan wu seraya tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang, terbukalah.!" Teriak pria tua tersebut sesaat sebelum energi dari terobosannya menjulang tinggi ke atas langit.
Lan wu sontak terkejut dan merasakan adanya ancaman besar dari atas langit.
"Ada apa ini..?! Aku bahkan bisa ketakutan dengan tekanan ini..?!" Gumam Lan wu dengan wajah serius diselimuti oleh aura miliknya.
Langit yang semula begitu cerah kini berubah menjadi gelap disertai dengan gemuruh petir yang menggelegar.
Disis lain terlihat leluhur sakte yang baru selesai menerobos kini berdiri dan melompat keatas dengan mengeluarkan seluruh energi miliknya.
"Aku begitu tidak beruntung mendapatkan amarah langit..!" Ucap leluhur sakte tersebut dengan wajah serius.
" Ini bagus..! Ini bagus..!" Teriak Lan wu yang melesat lebih dahulu kearah langit dengan ratusan pedang api iblis dibelakangnya.
"Senior..! Jangan membahayakan diri anda untuk orang tua seperti ku.!" Teriak leluhur sakte seraya menyusul Lan wu.
Dari balik awan hitam tersebut muncul sebuah tangan besar yang memegang sebuah tombak berwarna merah terang.
"Maju pedang api.!" Teriak Lan wu dengan wajah yang begitu semangat.
Benturan dari amarah langit dengan ratusan pedang api Lan wu menciptakan ledakan dahsyat disertai tekanan angin yang melebihi badai.
Satu-persatu pedang api milik Lan wu hancur disertai ledakan terus-menerus yang menutupi amarah langit beberapa saat.
"Cih..! Tidak buruk.." gumam Lan wu yang pipinya tersayat oleh niat membunuh dari amarah langit yang berhasil dihancurkan olehnya.
Disisi lain terlihat leluhur skate immortal yang tidak menyangka bahwa amarah langit yang begitu ditakuti dapat dengan mudah dihancurkan oleh Lan wu.
"Cepat serap energi dari hukuman mu, itu akan banyak meningkatkan pelatihan mu" teriak Lan wu yang segera dilakukan oleh prai tua tersebut.
Selang 5 menit kini kembali muncul amarah langit dengan bentuk yang berbeda.
__ADS_1
"Prajurit emas? Bukan, ini hanyalah bentuk fisik kosong tanpa pikiran. Akan tetapi kemampuanya tidaklah rendah" pikir Lan wu.