
Sesampainya di istana, Lan wu meminta Cei Hua agar mencarikannya sebuah ruang untuk berkultivasi. Cei Hua dengan senang hati menyiapkan permintaan Lan wu.
Ia juga mengumpulkan beberapa bahan-bahan kultivasi kemudian menaruhnya didalam ruangan tersebut.
"Mungkin besok aku baru akan keluar, jika tidak sempat untuk berangkat bersama-sama mu. Tinggalkan saja jejak energi atau seseorang yang mengetahui tempat yang kau tuju. Aku akan menyusul nantinya"
Ucap Lan wu sebelum masuk kedalam ruangan untuk berkultivasi.
Ia mengambil posisi bersila kemudian menyerap energi kebencian yang terdapat dunia tersebut dengan formasi pengunci energi hitam yang telah ia sediakan sebelumnya.
Energi hitam yang diserap Lan wu semakin lama semakin banyak hingga memenuhi lautan kekacauannya yang kemudian menimbulkan beberapa retakan didalam lautan kekacauannya.
Dari dalam retakan tersebut mengalir deras energi hitam yang mencair dan jatuh tepat dipermukaan lautan kekacauan Lan wu.
Tubuhnya merasa puluhan kali lebih kuat bahkan aura dan pilar langit terpengaruh oleh energi tersebut.
Kini cahaya kemerah-merahan melesat kelangit menandakan bahwa Lan wu telah berhasil menerobos tingakat spritual menengah yang dilihat oleh Cei Hua dari halaman istananya.
Esok harinya Cei Hua dan 20 orang-orangnya telah bersiap untuk memulai perjalanan mereka menuju makam misterius yang terletak di kota Nanren yang menjadi ibukota dari wilayah ras manusia.
Jarak kota Nanren dari Canglan lumayan jauh, mereka harus melewati 2 kota untuk sampai di kota Nanren.
"Yisun, apakah Bai xang sudah keluar dari latihannya?"
Tanya Cei Hua yang hendak berangkat saat itu juga.
"Belum ratu, mungkin dia tidak akan keluar hari ini.."
Balas Yisun yang sedikit membuat Cei Hua sedikit kecewa.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat.."
Ujar Cei Hua yang melompat keatas punggung gagak Jade hijau yang diikuti oleh Yisun dan lainya.
Gagak tersebut kini mulai mengepakkan sayapnya seiring dengan terbangnya mereka meninggalkan halaman depan istana.
__ADS_1
Mendadak dari arah belakang melesat satu pilar langit yang dinaiki oleh Lan wu mengejar gagak Jade hijau milik Cei Hua.
"Hey.. boleh aku menumpang?"
Tanya Lan wu sembari tersenyum menatap Cei Hua yang membalas senyumnya.
"Maaf suamiku, tapi sudah penuh.."
Balas Cei Hua dengan wajah senang.
"Hohoho.. baiklah.."
Lan wu mengarhkan tangan api suci kearah Cei Hua kemudian menggenggamnya dan memba Cei Hua dari punggung gagak Jade hijau menuju pilar langit miliknya.
Hal tersebut tentu saja membuat para pengikut Cei Hua terkejut. Mereka hendak membawa kembali dirinya akan tetapi segera ditahan oleh Yisun.
"Apakah kalian tidak lihat ekspresi ratu yang begitu senang?"
Tanya Yisun sembari menatap senyum manis Cei Hua yang saat ini digendong oleh Lan wu.
Sambung beberapa orang yang menyadari ekspresi dari Cei Hua.
Dilain sisi Lan wu telah menurunkan Cei Hua yang kini berdiri tepat disebelah Lan wu setelah ia memperbesar ukuran pilar langitnya.
"Bagiamana hasil latihan mu?"
Tanya Cei Hua sembari melirik Lan wu yang terlihat diam dengan ekspresi tenang.
"Lumayan, setidaknya jauh lebih kuat dari saat sebelum aku melakukan pelatihan"
Balas Lan wu.
Cei Hua kemudian mengeluarkan sebuah pedang dari cincin ruang miliknya kemudian beralih kehadapan Lan wu yang kini merasa sedikit terkejut usai Cei Hua berada tepat didepannya.
"Selamat atas kenaikan tingkat mu.."
__ADS_1
Ucap Cei Hua dengaj wajah malu-malu sembari mengalihkan wajahnya menghindari tatapan Lan wu.
Lan wu tersenyum kecil kemudian memperhatikan pedang yang disodorkan oleh Cei Hua padanya.
Sarung pedang tersebut berwarna putih dengan ukiran pohon persik yang menghiasi sarungnya. Gagang pedang itu dilapisi dengan sutra halus kemudian ujung gagangnya terdapat giok berbentuk kotak tipis dengan ukiran kata Cei Hua.
Lan wu menyadari bahwa pedang yang diberikan oleh wanita tersebut bukanlah senjata biasa, mata pedang Lan wu dapat melihat jelas energi kuat serta hasrat pedang yang setidaknya telah berumur ratusan tahun.
Selain itu Lan wu juga bisa merasakan sisa-sisa aura dari pemilik pedang sebelumnya. Tentu saja aura tersebut sama dengan sosok Bai xang yang dilihat Lan wu didalam ingatan singa iblis.
"Aura menyedihkan dan keputusasaan.. aku penasaran apa yang membuat mu menjadi seperti ini..?"
Batin Lan wu yang kemudian mengambil pedang ditangan Cei Hua.
Pedang tersebut seketika memancarkan energi berwarna hitam yang dipenuhi oleh kebencian serta amarah mendalam. Tubuh Lan wu terasa kaku bersamaan dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir diwajahnya.
Anehnya Cei Hua dan lainya tidak merasakan hal tersebut, mereka terlihat biasa dan asik bertukar cerita.
"Cukup lama...! Sangat lama..! Akhirnya.. akhirnya aku terbangun..!"
Terdengar suara mengerikan yang keluar dari pedang tersebut.
"Apa kau adalah pewaris ku..?!"
Tanya suara tersebut yang hanya bisa didengar oleh Lan wu.
"Kau.. apakah kau spirit roh pedang ini..?"
Tanya Lan wu dalam hati.
"Benar.. berkat kecocokan energi dan aura mu, akhirnya aku terbangun dari tidur panjangku. Berikan aku darah mu sebagai kontrak dan kau akan menjadi tuan ku."
Ujar suara tersebut yang kemudian dituruti oleh Lan wu.
Setelah kontrak tersebut selesai, pedang ditangan Lan wu terasa lebih ringan dan juga tekanan barusan menghilang.
__ADS_1
"Kau sudah menjadi tuan ku. Namun dengan kultivasi mu yang sekarang kau tidak mampu mengeluarkan jurus kuat milik ku jadinya aku tidak bisa membantu banyak selain memberikan jurus dasar yang sesuai dengan kemampuan mu"