Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
Tamu tak di undang ll 2.36


__ADS_3

Lan wu kembali menyarungkan pedangnya. Ia nampak sedikit menyesal membiarkan orang tersebut pergi tanpa cidera parah. Usai memastikan tidak ada lagi sisa aura dari pria tersebut. Lan wu akhirnya melesat cepat untuk menyusul yiyi dan lainya. Tidak lama usai ia terbang, akhirnya lan wu berhasil menyusul yiyi dan lainnya yang saat itu telah berjarak beberapa meter dari kota utama kekaisaran emas biru.


Setelah mendarat di sebuah area kosong, xioca kembali berubah ke wujud manusia dan mengajak lan wu untuk menemui beberapa kenalannya dengan maksud mencari informasi akan keberadaan Kun. Kebetulan kenalan xioca adalah sekelompok orang yang menjual jasa pencari informasi dan lain-lain. Tidak jauh dari pelabuhan terlihat sebuah toko yang menjual berbagai persenjataan dan pil.


Xioca mengajak lan wu dan lainnya untuk mengunjungi toko tersebut, yang merupakan tempat berkumpulnya kenalan xioca untuk bertukar informasi dan hal penting lainnya. Setelah berada di dalam toko xioca kemudian memberikan sebuah batu berwarna hitam dengan lambang pedang dl sisi batu tersebut, sontak penjaga toko mempersilahkan xioca dan lainya untuk masuk ke sebuah ruangan yang tertutupi oleh pajangan senjata.


"Hahahaha kakak xio mengapa tidak memberitahu dahulu jika hendak kemari" ucap seorang gadis berpakaian sutra.


Penampilan gadis tersebut begitu terbuka dan sontak membuat yiyi segera menutup mata lan wu menggunakan tangannya.


"Kakak jangan mesum" ucap yiyi dengan nada kesal.


"Iya..iya.. tapi sampai kapan kau ingin menutupi mata ku seperti ini?" Tanya lan wu dengan nada pasrah.


"Hehehehe maaf kakak, aku tidak mengetahui jika tamu kali ini ada seorang pria" ujar gadis kenalan xioca seraya berdiri meninggalkan xioca dan lainya ke arah belakang.


Xioca mempersilahkan lan wu dan lainya untuk duduk. Xioca terlihat begitu santai seolah ia sedang berada di rumahnya. Akhirnya dengan sedikit rasa canggung lan wu dan lainya memutuskan untuk duduk sembari menunggu kenalan xioca kembali.


"Bagaiamana kau bisa kenal dengan mereka?" Tanya lan wu yang kini dapat melihat dengan jelas.


"Aku membantu sekelompok pedagang yang di rampok, dan kebetulan fumei berada di kelompok pedang tersebut" jelas xioca semabri tersenyum canggung.


"Hehehehe guru xio telah menjadi pahlawan di luar kekaisaran Qin" sambung xuya terlihat begitu senang.


"Adik xioca, apakah tidak sebaiknya menyuruh kakak lan untuk menunggu di luar?" Tanya yiyi dengan pipi memerah.

__ADS_1


"Ada apa memangnya kakak ipar?" Tanya xioca dengan nada heran.


"Emh.. anu.. itu.. aku takut pria mesum ini membuat nona fumei tidak nyaman" jelas yiyi dengan nada malu.


Nampak xioca dan xuya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan yiyi, sementara lan wu terlihat sedikit kesal akan suara tawa dari xioca dan xuya.


"Siapa yang kau sebut pria mesum?" Tanya lan wu dengan nada kesal.


"Kakak lan, mesum.. aku tadi melihat mata mu menatap yang tidak seharusnya" balas yiyi semabri menarik pipi lan wu.


"Mana ada..? Aku Bahakan belum melihat wajah si kenalan xioca, kau langsung menutup mata ku" elak lan wu.


"Pokoknya kakak mesum.. kakak sebaiknya menunggu di luar.!!" Teriak yiyi sembari memejamkan matanya menahan malu.


Setelah perdebatan sengit tersebut, akhirnya lan wu setuju untuk menunggu di luar. Tentu saja ia tidak akan sanggup untuk menang jika berhadapan dengan yiyi. Lan wu berjalan ke arah pintu keluar sembari melihat beberapa pedang yang di pajang di dinding toko tersebut. Perhatian lan wu tertuju kepada seorang gadis yang tengah melihat sebuah pedang tidak jauh di sampingnya.


"Lambang itu.?!" Kaget lan wu usai melihat lambang di punggung gadis tersebut sama dengan lambang kereta kuda yang di tumpangi oleh ibu xuya beberapa tahun lalu.


"Apakah mungkin?" Gumam lan wu seraya berfikir.


Belum habis ia menerka, nampak seorang pemuda berpakaian sama dengan gadis yang di lihat lan wu. Datang mendekat ke arahnya.


"Salam tuan, sepertinya anda tidak menggunakan mata anda dengan baik.!" Ucap pemuda di hadapan lan wu sontak menyandarkannya dari lamunan.


"Aku sungguh tidak sengaja.. kebetulan aku teringat sesuatu usai melihat lambang yang berada di punggung gadis tersebut" jelas lan wu dengan nada tenang.

__ADS_1


"Lambang? Apakah maksud tuan adalah lambang sakte yang berada di jubah kami?" Tanya pemuda tersebut.


"Benar..! Kebetulan lambang tersebut sangat mirip dengan lambang yang berada di kereta kuda. Aku saat itu menemui seorang wanita yang tengah sekarat, ia menitipkan anaknya kepada ku. Aku berniat untuk mencari keluarga dari anak itu, namun hingga sekarang belum memiliki petunjuk" jelas lan wu berharap pemuda di depannya mengenali sosok yang di ceritakan olehnya.


"Sungguh malang nasib anak itu, namun di sakte kami tidak pernah mengetahui hal tersebut, mungkin saja lambang yang tuan lihat hanya tiruan untuk menjamin keselamatan rombongan tersebut" jelas pemuda di hadapannya.


Lan wu nampak sedikit kecewa. " Mungkin saja, kalau begitu aku tidak akan menggangu waktu saudar sekalian" ujar lan wu seraya pamit keluar dari toko tersebut.


Ia kembali terpikirkan perihal memberi tau xuya mengenai asal-usul dirinya, namun lan wu begitu takut jika xuya akan salah paham mendengar penjelasannya. Di sisi lain lan wu tidak tega terus menyembunyikan hal tersebut dari xuya, di hatinya ia bertekad selama xuya bahagia dengan situasi sekarang, maka ia tidak akan mengubah kebahagiaan tersebut.


"Hais.. nyonya, aku sungguh meminta maaf kepada mu. Aku tidak mengetahui bahwa untuk menepati janji ku, aku harus berfikir sekeras ini" gumam lan wu seraya menghela nafas panjang.


Lan wu kemudian memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon, seraya kembali meningkatkan energi hitam miliknya. Kebetulan masih tersisa beberapa rumput iblis. Ia menenangkan pikirannya dan fokus untuk menyerap rumput iblis tersebut. Sesaat lan wu merasa bahwa energi hitam yang berpusat di pusaran badai hitam nampak mencair dan membasahi daratan di sekitar badai hitam.


"Huf.. sepertinya aku akan segera mencapai energi hitam tingkat air" gumam lan wu sembari membuka matanya.


Tidak terasa ia telah bersemedi hampir 6 jam. Langit bahkan telah terlihat semakin gelap, namun xioca dan lainya tak kunjung keluar. Ia hendak menemui mereka namun takutnya yiyi akan salah paham, akhirnya lan wu memutuskan untuk mencari sebuah restoran usai menitipkan pesannya kepada penjaga toko tersebut.


Di perjalanannya mencari restoran yang cocok, ia di suguhkan dengan pemandangan malam pada kota tersebut. Ia melihat banyak pendekar muda, serta beberapa gadis dari rumah bordil yang terus melambai ke arahnya dari depan pintu rumah bordil tersebut. Terlihat juga beberapa orang yang berkelahi akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.


"Apakah pemandangan seperti ini akan bisa di nikmati oleh generasi muda nantinya?" Tanya lan wu mendadak terucap.


Ia mengetahui dengan pasti, bahwa kedamaian sempurna mustahil untuk di wujudkan. Akan selalu ada beberapa kelompok di antara masyarakat yang pasti menuai konflik entah sengaja maupun tidak, ia tidak bisa mengatakan bahwa ******* di kota tersebut wajib di usir, sebab ia tau dengan pasti alasan mereka melakukan pekerjaan tersebut pasti akibat tuntutan perut dan keperluan lainnya.


Lan wu hanya bisa berharap, bila aliran hitam yang merusak semakin kuat, maka akan muncul pahlawan-pahlawan baru yang sigap menegakkan kedamaian yang sewajarnya. Pahlawan yang tidak memandang sakte, marga, ras, aliran, dan lainya.

__ADS_1


"Peraturan di dunia ini hanya satu.. menghargai yang kotor, ketika ia bersikap bersih" ujar lan wu sembari memasang senyum.


__ADS_2