Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
sambutan kedua


__ADS_3

"Keluar kau..! Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di dalam..!"


"Heh.. siapa yang mencari mati hingga memprovokasi senior Yen?"


Ujar beberapa orang yang memandang rendah akan Lan wu.


"Entahlah.. aku takutkan ia tidak akan bisa berdiri dari ranjangnya usai menerima amarah senior.."


"Hahahaha... Mari kita lihat si bodoh ini..!"


Ledekan dan pandangan remeh silih berganti terdengar oleh Lan wu yang berada di dalam gubuknya.


"Ho...! Kau tidak ingin keluar, maka jangan salahkan aku jika memaksa mu.!"


Senyum lebar tampak menghiasi wajah Kuon yen.


Ia mengarahkan jurusnya kearah gubuk Lan wu dan bermaksud menghancurkannya.


Namun sesaat sebelum serangan tersebut menghantam dinding gubuk, Lan wu dengan tenangnya mematahkan serangan tersebut dan mendorong Kuon yen mundur beberapa langkah.


"Salam senior, langit dan cuaca sore ini begitu bagus. Namun mengapa anda malah merusaknya?"


Tanya Lan wu seraya menunjukkan ekspresi tidak senang dengan kedatangan orang-orang tersebut.


Sekilas Koun yen terdiam, ia begitu terkejut melihat sendiri niat membunuh yang pekat keluar dari tubuh Lan wu.


"Heh...! Kau sudah bersikap lancang terhadap guru ku. Aku kemari untuk menghukum mu.!"


Kuon yen kini mengumpulkan energinya yang memicu terjadinya tekanan kuat diarea tersebut.


"Itu adalah jurus telapak darah, salah satu jurus milik senior kuon yang bahkan tidak mampu ditahan oleh murid inti perguruan..!"


Ucap beberapa orang yang menonton pertandingan keduanya.


"Hahahaha..! Mana sikap tenang mu tadi..?!


Berlututlah dihadapan ku dan aku akan meringankan hukuman mu.!"


Sambung Koun yen dengan ekspresi sombong.


"Hanya jurus anak-anak.. bukan masalah bagi ku"


Lan wu mengisyaratkan kepada Koun yen untuk maju.


Hal tersebut membuat Koun yen menjadi tambah geram.


Tanpa basa-basi lagi ia segera menerjang Lan wu dengan telapak darahnya.


Tampak seluruh orang-orang ditempat tersebut tercengang dan segera melompat menjauhi area tersebut.


Telapak darah koun yen bergerak lurus dengan cahaya merah pekat dan siap menghantam Lan wu yang masih tak bereaksi.


"Kemampuan mu tidak buruk, setidaknya kutu seperti mu berbeda dengan semut-semut di alam ku.."


Lan wu tersenyum hambar sembari melangkah maju dengan tatapan tenang.


Ia mengarahkan tangannya membentuk lingkaran yang kemudian keluarlah sebuah lingkaran api hitam menerjang tapak darah Koun yen.


Lingkaran api tersebut dengan sekejap mata menyedot habis jurus koun yen hingga membuat pemuda tersebut tersungkur ketanah.

__ADS_1


Dengan cepat Lan wu menangkap wajah Koun kemudian menyeretnya lalu melemparkan pemuda tersebut tepat ke kerumunan orang-orang yang menonton.


"Bawa senior ini dan katakan kepada tetua ke 7 untuk mengajarinya tata krama"


Ucap Lan wu seraya menatap kearah tiga orang terdepan.


"Uhuk..!. Jangan senang dulu kau bocah..!"


Tampak Koun yen berusaha bangkit seraya memandang Lan wu penuh amarah.


Ia merogoh sakunya kemudian mengeluarkan sebuah pil berwarna bening kemudian memakannya.


"Pil apa itu..?"


Lan wu bertanya dalam hati seraya menatap Koun yen yang terselubungi oleh energi dasyat di sekujur tubuhnya.


Wajah pemuda tersebut berubah menjadi merah dengan ukuran tubuh yang dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


Tangan dan kakinya dipenuhi oleh urat yang seperti hendak merobek kulitnya.


"Arrhhh..! Hari ini aku akan menyeret mu ke neraka bersama ku.!"


Teriak Koun yen diiringi dengan ledakan energi yang menghempaskan orang-orang dibelakangnya.


"Situasi menjadi buruk..."


Lan wu menggunakan penggeser waktu untuk berpindah ke belakang Koun dan menghempaskan orang-orang yang masih tergeletak di tanah untuk menjauh.


"Tenanglah..!"


Ucap Lan wu sedikit menekan suaranya sembari menahan pukulan Koun yen dari arah belakang.


Koun yen tanpa henti terus mengarahkan serangannya dengan kecepatan penuh kearah Lan wu.


Dilain sisi, Lan wu terus-menerus menahan pukulan Koun yen seraya mencari akal untuk menghentikan efek dari pil yang dikonsumsi pemuda tersebut.


"Mati..! Mati..! Mati..!"


"Hahaha..!"


Koun yen tampak seperti kehilangan akalnya. Ekspresi wajahnya tampak begitu mengerikan dengan mulut yang menyeringai serta matanya yang berwarna merah.


"Uhh..!"


Rintih Lan wu yang mundur beberapa langkah usai menahan pukulan Koun yen.


"Sial..! Jika dibiarkan bisa-bisa tubuh ku hancur oleh pukulannya, namun saat ini aliran energi di tubuhnya tidak stabil. Jika aku menggunakan pukulan keras maka bisa saja ia akan meledak.."


Gumam Lan wu seraya menahan serangan-serangan Koun yen.


"Hiahh..! Mati..!"


"Apa ini..?!"


Lan wu dengan cepat melompat mundur usai merasakan adanya bahaya yang terpancar dari jurus Koun yen.


Tampak ditangan pemuda tersebut muncul sebuah pedang yang terbuat dari tulang belakang naga. Aura mengerikan dari pedang tersebut sanggup menggetarkan tubuh Lan wu.


"Sial..!"

__ADS_1


Lan wu segera mengeluarkan pedang naga kiamat yang kemudian ia ayunkan menyambut pedang Koun yen dihadapannya.


Tangan Lan wu bergetar hebat usai kedua pedang tersebut berbenturan. Aura dari pedang Koun yen terlihat mencoba untuk mengendalikan pedang naga kiamat.


Akan tetapi Lan wu dengan cepat mengalirkan energi hitam miliknya hingga membuat Koun yen mundur beberapa langkah kebelakang.


Disaat tersebut Lan wu bergerak kembali menuju Koun yen seraya mengeluarkan jurus pedangnya untuk mengakhiri pertaruangan.


"Pembantai naga..!"


Teriak Lan wu yang berjarak beberapa langkah dihadapan Koun yen.


Pedang Lan wu mendadak terhenti oleh sesuatu yang tidak ia ketahui sesaat sebelum dirinya terpental mundur akibat ledakan dari jurusnya.


Lan wu mampu menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia mendarat dengan sempurna tanpa terjatuh. Tatapannya kini dipenuhi rasa kesal akan tetapi ia berusaha untuk mengontrol emosi nya.


Kini dihadapannya telah berdiri seorang pria tua dengan jubah yang bertuliskan ketua sakte terlihat memandangi Lan wu dengan seksama.


Ia tentunya merasa heran dengan Lan wu yang masih berdiri tenang tanpa luka sedikitpun walupun telah berbenturan dengan dirinya.


"Heh tidak disangka ketua sakte akan tertarik dengan pertengkaran murid kecil ini.."


Ujar Lan wu seraya melangkah maju.


"Apa yang membawa anda kemari?"


Perkataan Lan wu terdengar begitu berani. Disisi lain tampak ketua sakte hanya tersenyum seraya meminta beberapa murid untuk membawa Koun yen yang sebelumnya telah kehilangan kesadarannya.


"Kau memiliki kemampuan yang setingkat dengan tetua sakte ku.. aku penasaran bagaimana pendapatmu jika aku menjadikan mu sebagai tetua ke 10?"


Ucap ketua sakte sembari mengelus-elus janggutnya.


Dari raut wajah ketua sakte, Lan wu dapat memastikan bahwa perkataannya tidaklah bercanda. Adapun maksud dan tujuan ketua sakte masih menjadi pertanyaan besar bagi Lan wu.


Dalam keheningan Lan wu, ia merasakan adanya kehadiran seseorang yang mengawasinya dari kejauhan.


Akan tetapi dengan acuhnya Lan wu membiarkan hal tersebut, jika sosok itu berniat buruk padanya maka Lan wu tidak keberatan untuk meladeninya.


Ehemm..!


Lan wu tersadarkan oleh suara batuk yang terdengar dipaksakan oleh ketua sakte.


Ia tentu sedang menunggu jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


"Begini ketua... Dalam beberapa hal aku keberatan dengan posisi yang kau tawarkan. Selain akan menimbulkan ketidak sukaan para murid, aku juga saat ini tengah berselisih dengan tetua ke 7.."


"Alasan lainnya adalah aku tidak ingin terikat terlalu dalam dengan sakte mu.."


Jawab Lan wu mengutarakan alasanya.


Tanpa diduga-duga, ketua sakte malah tertawa terbahak-bahak seraya mengelus janggutnya putihnya.


"Hahahahaha... Jika kau menjadi tetua maka tidak akan ada yang berani mengganggu mu termasuk tetua ke 7 tanpa seizin ku. Adapun keinginan mu untuk tidak terikat jauh dengan sakte ku, aku bisa mengabaikan hal tersebut.."


Sorot mata Lan wu kini dipenuhi pertanyaan.


Ia kemudian menanyakan alasan ketua sakte berbuat demikian.


"Aku tidak tau ada masalah apa dengan dirimu ketua, hingga anda begitu memaksa ku untuk mengambil posisi tetua..?"

__ADS_1


__ADS_2