
Dari kejauhan Ming yu melihat tetua Feng yang melompat dari pohon satu ke pohon lainya dengan begitu cepat, Ming yu menyuruh xioca untuk menghadang arah dari tetua Feng.
"Tetua Feng...!" Teriak Ming yu yang kini telah berada di depan tetua Feng.
Melihat Ming yu, tetua Feng sontak menghentikan langkahnya dan melompat turun dari pohon. Ia terlihat lega usai melihat Ming yu dan xioca.
"Untung saja kalian selamat, apakah kalian berhasil memenangkan pertempuran tersebut?" Tanya tetu Feng tidak sabaran.
Ming yu hanya menggeleng dengan wajah sedih, hal tersebut membuat tetua Feng bertambah khawatir. Ia menggoyangkan tubuh Ming yu seraya memaksa agar Ming yu menjelaskan lebih detail kondisi pedang dewa saat ini.
"Tetua Feng.. pedang dewa telah musnah, dan hanya tersisa kami serta beberapa murid dan tetua yang tengah melakukan misi di luar sakte" ujar xioca yang tidak tahan melihat kekhawatiran tetua Feng.
Mendengar perkataan xioca mendadak tetua Feng terduduk lemas di atas tanah. Ia memukul tubuhnya beberapa kali semabri menyalahkan dirinya yang tidak dapat berbuat banyak untuk mempertahankan pedang dewa.
"Sudahlah Tetu Feng, aku juga begitu sedih atas situasi ini... Namun ada baiknya kita meningkatkan pelatihan kita, dan membalas dendam atas kematian saudara-saudara kita" sambung Ming yu ikut duduk di sebelah tetua Feng.
"Yang dikatakan Ming yu benar, semua ini sudah di takdirkan" sambung xioca yang kini berwujud manusia.
"Dimana yiyi dan anak-anaknya?" Tanya tetu Feng dengan nada sedih.
" Mereka telah berada di tempat yang aman, dan mengenai penculikan wu Jia ternyata adalah untuk menyelamatkan keluarga kaisar an dari situasi ini" jelas xioca dengan wajah serius.
"Kalian pergilah.. tinggalkan aku disini, aku hendak mengunjungi suatu tempat dan menyusun rencana untuk membalas kejadian ini..!" Ujar tetua Feng setelah terdiam cukup lama.
Nampak Ming yu dan xioca tidak setuju dengan pemikiran tetua Feng, akan tetapi tetua Feng tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Baiklah tetua Feng, kita berpisah disini.. aku harap dapat bertemu kembali dengan anda saat hari pembalasan tiba" ucap Ming yu sembari mengulurkan tangannya kearah tetu Feng.
"Pasti" jawab tetua Feng menjabat tangan Ming yu dengan senyum paksa.
Tetua Feng mengubah arahnya ke sebelah barat dan perlahan menghilang dari pandangan Ming yu dan xioca.
__ADS_1
**
Cepat panggilkan tabib untuk merawat ketua Yuan dan keluarganya" teriak kaisar an memerintahkan beberapa prajuritnya.
Mereka mendirikan tenda darurat yang digunakan sebagai tempat untuk mengobati yuan dan keluarganya. Awalnya mereka berniat untuk membawa Yuan ke kuil matahari, namun ketua kuil matahari menyarankan agar Yuan segera di obati, semabri menunggu kondisi benar-benar tenang.
"Apa rencana anda selanjutnya?" Tanya ketua kuil matahari kepada kaisar an.
"Menurut informasi dari elang muda, pada penyerangan tersebut terdapat prajurit kekaisaran emas biru, dan anggota sakte gunung biru. Untuk sementara waktu kita akan berdiam diri sembari mengumpulkan kekuatan untuk menyerang emas biru. Mereka yang memulai pertempuran ini, dan kita tidak bisa berdiam diri.!" Jelas kaisar an.
"Anda benar kaisar, namun dengan lenyapnya pedang dewa sangat mempengaruhi kekuatan dari kekaisaran QIN, terlabih lagi sakte elang surgawi yang juga kehilangan puluhan tetua hebat milik mereka. Aku rasa akan memakan waktu yang lama hingga kekuatan kita kembali seperti semula" tutur ketua kuil matahari dengan wajah risau.
"Aku akan meminta istana naga putih untuk mengirimkan beberapa ahli meraka, sebagai balasan atas pengorbanan kekaisaran QIN yang telah membantu kebangkitan darah" ucap kaisar seraya berjalan menuju ke sebuah tenda yang terdapat siyouyu.
**
1 Minggu setelah insiden tersebut, pihak musuh tidak lagi terlihat di kekaisaran Qin.
Akses keluar masuk antar kekaisaran untuk sementara ditutup oleh kaisar an.
Akan tetapi banyak dari para tetua dan murid yang tersisa dari pedang dewa menolak tawaran kaisar an. Mereka yang baru mengetahui kabar musnahnya pedang dewa begitu trauma, dan takut jika menjadi incaran dari pihak musuh.
Sebagian memilih berkelana, dan lainya memilih untuk berhenti menjadi pendekar dan menjalani hidup normal di suatu tempat.
Bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri didepan reruntuhan pedang dewa.
Pada dasarnya pedang dewa merupakan sebuah tempat bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat untuk pulang. Kekeluargaan yang terjalin begitu lama, tentu menimbulkan kesedihan atas hancur dan musnah seluruh kerabat di pedang dewa.
**
"Kaisar..!! Kaisar.!!!" Teriak salah satu prajurit dari luar tenda kaisar an.
__ADS_1
Sontak kaisar an buru-buru menghampiri prajurit tersebut.
"Ada apa? Mengapa kau begitu terburu-buru?" Tanya kaisar an dengan wajah khawatir.
"Ketua Yuan.... Meninggal" ucap prajurit tersebut sontak membuat kaisar an begitu terkejut.
Kaisar menyuruh prajurit tersebut untuk mengabari perihal kematian Yuan kepada Ming yu dan murid dari yuan, yueyin.
Usai pengumuman dibacakan sontak seluruh orang yang berada di tempat tersebut mendatangi tenda ketua Yuan.
Terlihat yueyin yang tengah menangis sejadi-jadinya sembari menatap ketua Yuan yang terbaring dengan wajah pucat.
Ming yu, xioca, dan houcung juga meneteskan air mata seraya menatap jasad orang no 2 di pedang dewa tersebut.
"Mari kita semua memberi penghormatan terakhir kepada ketua Yuan. Dia adalah sosok hebat yang menciptakan kedamaian selama beberapa tahun" ujar kaisar sesaat sebelum menundukkan kepalanya diikuti oleh seluruh orang ditempat tersebut.
Ketua Yuan mengalami luka dalam yang menghancurkan orangan vital miliknya.
Walaupun telah diobati oleh tabib namun luka tersebut terlalu parah, terlabih lagi kondisi Yuan yang mengalami bentrokan energi dalam usai pelatihannya terganggu.
Diketahui bahwa sesaat sebelum penyerangan. Yuan tengah melakukan pelatihan tertutup untuk menerobos tingakat permulaan abadi.
Ia terhenti di tengah-tengah usai sebuah serangan kuat mengarah ke pagoda suci tempat dirinya tengah berlatih, ditambah lagi pertarungannya melawan 2 orang ditahap dewa bintang akhir membuat kondisi tubuhnya bertambah buruk.
Keesokan harinya ketua Yuan beserta istrinya dimakamkan secara terhormat di makam tempat ketua pedang dewa sebelumnya di makamkan.
Bebebrapa saat setelah Yuan wafat, kondisi istrinya mendadak kritis dan akhirnya ikut mengembuskan nafas terakhirnya pada malam yang sama dengan Yuan.
Langit menurunkan airnya seolah ikut berkabung atas duka yang dirasakan oleh seluruh kekaisaran QIN. Seluruh orang yang menghadiri pemakaman tersebut terdiam tanpa sepatah katapun.
Yin-yin tak kuasa membendung air matanya menatap nisan kedua orang yang telah dianggap sebagai orang tua kandungnya.
__ADS_1
Ming yu menancapkan pedang tetua Yuan tepat di belakang nisan, dan memandang senyap kearah makam yang masih basah tersebut.
Satu-satu orang di pemakaman tersebut meninggalkan tempat itu, hanya tersisa Ming yu, xioca, houcung, Ling yang baru hadir bersama tetua 13 dari istana laut awan biru.