
Lan wu menghela nafasnya seraya pasrah menerima wajah tubuh barunya tersebut. Masalah yiyi dan lainya ia akan memikirkan nya nanti, mungkin saja iblis singa memiliki tujuan tertentu dengan memberinya wujud baru, meskipun Itu di luar pemikiran dari lan wu. Ia berjalan ke arah sebaliknya dari kota harimau petir menuju bagian timur dari bukit tersebut. Lan wu beriniat menyelidiki sesaat keberadaan serigala putih yang di ceritakan oleh iblis singa.
Hal aneh yang mengganjal pikiran lan wu ialah persoalan tentang naga hitam dan naga dewa yang merupakan wujud terakhir dari kemarahan alam, jika memang mereka merupakan wujud ketiga tersebut mengapa mereka masih terlibat dengan peperangan antar alam, meskipun memiliki tujuan baik yaitu menyatukan kembali ke 3 alam.
"Aku bahkan tidak merasakan kekuatan yang sebesar iblis singa di naga hitam dan naga dewa, sepertinya masih ada hal lainĀ yang belum ku ketahui mengenai wujud ketiga dari kemarahan alam" pikir lan wu seraya berjalan pelan.
Seketika lan wu menghentikan langkahnya dan mengeluarkan api bola apai iblis yang berhasil menghancurkan empat batu besar di depan lan wu. Tatapan lan wu nampak tidak begitu heran seakan ia telah mengetahui daya hancur dari bola api tersebut.
"Sudah ku duga kemampuan api iblis ikut meningkat usai aku mencapai tingkat energi hitam angin" gumam lan wu menata rambutnya yang berantakan akibat tekanan angin dari api iblis.
Nampak rambut yang di tatanya kembali terurai kedepan dan menutupi matanya. Lan wu menata kembali rambutnya namun seperti semula rambut tersebut kembali terurai dan menutupi matanya.
Tatapan geram terlihat di wajah lan wu yang kini kedua tangan kanannya menggenggam erat pedang sunyi.
"Bukankah sudah ku bilang, aku sangat benci dengan rambut panjang" teriak lan wu seraya menyayat rambut nya.
Tak di sangka rambut lan wu justru menerjang dengan sendirinya ke pedang sunyi, seketika pedang sunyi yang di pegang lan wu nampak terlilit bersamaan dengan tangan lan wu.
"Apa? Sudah salah masih mau melawan? Lagian sejak kapan rambut bisa bergerak jika tidak ada agin bodoh..!" Teriak lan wu dengan marah berusaha menarik pedmg sunyi dari lilitan rambut tersebut.
**Beberapa saat kemudian***
"Baik..baik.. aku tidak akan memotong mu, tapi bisakah kau melepaskan pedang dan tangan ku?" Ujar lan wu yang kini kedua tangannya di lilit oleh rambutnya.
Lan wu baru menyadari bahwa di rambutnya terdapat sebuah energi murni yang begitu kuat, ia sungguh tidak menyangka bahwa ia dapat kembali menggunakan energi murni meski hanya memanfaatkan rambutnya sebagai media penampung energi. Lan wu berfikir bahwa mungkin rambutnya akan berguna saat ia berada dalam kondisi terdesak.
__ADS_1
Rambut tersebut terlihat melepaskan lilitannya seraya dengan sendirinya terikat dengan rapi. Lan wu menarik nafas lega usai menyelesaikan permasalahan aneh yang menimpa dirinya. Ia bertambah yakin bahwa rambut tersebut dapat di jadikan sebagai seragan kejutan ataupun sebagai pertahanan, terlebih lagi dengan adanya energi murni Takan begitu sudah untuk mengeluarkan serangan dengan energi untuk menambah daya hancur dari serangan tersebut.
Setelah lan wu berpikir sejenak, ia akhirnya memutuskan untuk menunda perjalanannya dan kembali ke kota harimau petir untuk melihat Fei dan lainya. Lan wu bermaksud menyampaikan informasi yang ia dapatkan dari long saat di perjalanan menuju ke bukit tersebut. Lan wu melompat ke udara kemudian terbang dengan cepat menuju kota harimau petir.
Dari udara lan wu dapat melihat beberapa hewan ajaib yang berada di hutan tersebut, dengan senyum lebar lan wu mendarat di tanah seraya menatap seekor elang dengan tubuh yang di tutupi oleh energi merah.
Nampak elang tersebut menunduk seraya menetralkan energi yang sedari tadi menyelimutinya. Lan wu dapat memastikan bahwa elang tersebut bukanlah hewan gaib bisa, ia memutuskan untuk menjadikan elang tersebut sebagai hadiah permintaan maafnya kepada fui.
"Sebutkan nama mu saudara" ujar lan wu tersenyum seraya menatap elang di hadapannya.
"Raja, hamba hanyalah hewan gaib tingakat menengah tentu saja tidak pantas bagi hamba untuk memanggil raja sebagai saudara. Hamba adalah elang batu perwujudan dari seluruh bukit yang ada di hutan ini, secara tidak langsung hamba adalah pemimpin pada hewan gaib di hutan ini" jelas elang batu sembari menunduk.
"Jadi kau orang penting ya, hais..sudahlah aku tidak akan meminta bantuan pada mu" ujar lan wu tersenyum tenang.
"Katakan saja permintaan raja, aku dengan segenap hati akan menurutinya" nampak elang batu mempersilahkan lan wu untuk berbicara.
Nampak elang batu diam sejenak seraya berpikir mengenai perkataan lan wu barusan. "Raja, karena dia merupakan adik mu aku dapat tenang mendengar" ucap elang batu sedikit mengejutkan lan wu.
Mendadak dari arah langit terlihat seekor elang batu dengan ukuran sedikit lebih kecil nampak mendarat tepat di samping penguasa hutan tersebut.
"Raja, ini adalah anak ku dengan level pelatihanya yang cukup tinggi aku yakin adik mu akan aman bersamanya" jelas elang tersebut.
Lan wu mengangguk setuju sembari mengeluarkan beberapa bahan kultivasi yang berada di cincin ruangnya.
Wajah kedua elang tersebut nampak terkejut melihat bahan langka yang di keluarkan oleh lan wu.
__ADS_1
"Ini merupakan beberapa tanaman langka yang aku dapatkan sewaktu berada di alam fana, aku harap saudara menerimanya sebagai rasa terimakasih ku" ujar lan wu tersenyum ramah.
"Raja terlalu sungkan, sudah tugas kami untuk mematuhi perintah dari raja" balas penguasa hutan tersebut dengan perasaan tidak enak.
"Hahahaha..saudara memang pantas mendapatkannya, aku yakin suatu saat akan memerlukan kekuatan saudara elang untuk menghadapi bencana dari luar semesta,sampai hari itu tiba aku harap saudara terus memperkuat diri" ujar lan wu seraya melompat ke udara bersamaan dengan anak dari elang batu tersebut.
Di perjalanan menuju kota harimau petir, lan wu beberapa kali melirik ke elang muda berwarna jingga yang terbang dengan tenang di samping lan wu. Lan wu sedikit mengenali aura dari elang tersebut, terlebih lagi elang muda itu nampak memiliki buku ekor serta jambul yang mirip dengan Phoenix. Lan wu terus menerka aura yang sangat familiar baginya.
Mata lan wu melebar seraya menatap elang muda tersebut. " Hey apakah kau memiliki darah Phoenix? Sepertinya kau memiliki aura dari seekor Phoenix" tanya lan wu menatap elang tersebut.
"Hmm..tuan benar, ayah ku menikah dengan ibu ku yang merupakan keturunan ras Phoenix, namun pernikahan mereka di tentang dan mengakibatkan peperangan antar ras elang batu dan ras Phoenix terjadi. Ibu ku mengorbankan statusnya sebagai putri dari pemimpin ras Phoenix. Pelatihan ayah ku di lumpuhkan sementara ibu ku di kurung di alam fana" jelas elang muda tersebut dengan raut wajah sedih.
"Apakah ibu mu merupakan Phoenix api?" Tanya lan wu dengan wajah tenang.
"Ya Anda benar tuan, darimana anda mengetahui itu?" Tanya elang muda tersebut dengan wajah penasaran.
"Ternyata kau memang anak dari xioca, dasar burung nakal kau bahkan menutupi hal ini dari ku" ujar lan wu seraya mengelus kepala elang muda tersebut.
"Tu ..tuan mengenal ibu ku? Apakah tuan mengetahui dimana dia?" Tanya elang muda dengan antusias tinggi.
"Hehehe tentu saja, xioca merupakan adik ku dan secara tidak langsung kau juga merupakan keponakan ku, jika pertandingan di hutan harimau petir selesai, aku berencana untuk kembali ke alam fana sembari menyelidiki beberapa hal terkait dengan rencana terselubung dari ras harimau petir yang berada di alam fana. Kau dapat mengajak ayah mu jika dia mau, aku rasa pagoda suci dan lembah neraka sangat cocok untuk tempat berlatih kalian berdua" ujar lan wu tersenyum lebar.
"Tentu saja aku mau, aku yakin ayah juga akan sangat senang mengetahuinya" jawab elang muda dengan wajah senang.
Mereka kemudian mempercepat laju mereka menuju kota harimau petir.
__ADS_1
Dengan kemampuan yang sekarang lan wu dapatkan, ia sangat yakin bahwa alam fana tidak akan lagi berani menolaknya, terlebih lagi ia telah menguasai energi hitam serta aura dari singa iblis. Lan wu menatap ke arah depan eraya memasang senyum lebar di bibirnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera menemui yiyi dan lainya.
"Hahaha, akhirnya hanya tinggal sedikit lagi, tunggulah aku... Yiyi" gumam lan wu seraya tertawa senang.