Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
Kembali ke 2.36


__ADS_3

Setelah cukup jauh dari gerbang sakte, lan wu segera mengeluarkan elang muda dan melompat ke atas punggungnya. Elang muda terbang dengan kecepatan penuh, tak terasa kini lan wu telah sampai di langit istana kekaisaran Yon. Ia mengamati dari ketinggian seraya tersenyum usai melihat beberapa prajurit yang tengah melakukan penjagaan di halaman istana.


"Apakah tuan hendak singgah?" Tanya elang muda dengan nada sopan.


"Nanti saja, sedari tadi hati ku tidak begitu tenang hendak sampai rumah dengan cepat" jawab lan wu tersenyum mantap.


Mendengar hal tersebut elang muda segera menambah kecepatannya. Setelah beberapa saat nampak hamparan lautan yang biru nan luas tersuguhi di mata lan wu, ia semakin tidak sabar untuk segera sampai di pedang dewa. Ia membayangkan bagaimana reaksi yiyi dan lainya ketika melihatnya kembali, meskipun lan wu sedikit khawatir bahwa ia akan sedikit sudah untuk meyakinkan yiyi bahwa dirinya memanglah lan wu.


Lan wu terlalu hanyut dalam pikirannya hingga ia tidak memperhatikan seseorang yang tengah melintas berlawanan arah dengannya. Orang tersebut mengendarai seekor burung besar yang tidak di ketahui jenisnya, namun melihat dari aura burung tersebut setidaknya ia berada di tingkat dewa menengah.


Sosok yang menaiki burung tersebut tersentak seraya menatap ke arah lan wu yang tersenyum lebar sembari memejamkan matanya.


Ia begitu terkejut melihat elang dewa yang memancarkan aura kuat dari tubuhnya.


"Tuan, orang itu sepertinya menatap kita terus" ujar elang muda sontak membuat lan wu tersadar dari lamunannya.


Benar saja ia melihat seorang gadis yang tengah menatap lurus ke arahnya sembari menggenggam pedang yang berada di tangan kirinya. Wajah lan wu sedikit mengerut usai mengenali gadis yang berada di depannya. Gadis itu adalah suiya, putri kedua dari kaisar negara Yon. Lan wu tersentak sejenak seraya kagum melihat perkembangan dari sui.


"Salam nona, apakah ada sesuatu yang salah di muka ku?" Tanya lan wu ketika jarak mereka berdekatan.


"Maafkan aku tuan, aku hanya sedikit terkejut anda mengendarai hewan gaib yang begitu kuat" ujar sui dengan nada sopan.


"Hahaha.. dia adalah sahabat ku, namanya jeishi" balas lan wu sembarangan.


"Baikalah senang bertemu dengan senior, aku pamit " ujar sui seraya memberi salam.


"Baiklah, salam untuk kaisar Yon" jawab lan wu bersaman dengan elang muda yang melesat kencang meninggalkan sui.


Sui sedikit kaget mendengar perkataan lan wu, namun ia memilih untuk tidak memikirkannya dan meneruskan perjalanannya. Semenyar di sisi lain nampak lan wu sedikit penasaran mengenai hewan gaib yang di naiki oleh sui. Bentuk hewan tersebut hampir menyerupai kuda dengan sayap hitam di punggungnya, namun di leher kuda tersebut terdapat buku lebat seperti di kepala singa.


"Apakah kau mengenali hewan tersebut?" Tanya lan wu ke elang muda.


"Aku juga baru pertama kali melihatnya, mungkin saja ia memiliko beberapa darah dari hewan gaib lainnya" jawab elang emas.


"Mungkin kau benar, eh apakah tidak masalah jika aku memanggilmu jeishi?" Tanya lan wu sedikit tertawa.


"Aku menyukainya tuan" jawab elang muda tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Beberapa saat nampak lan wu telah memasuki are daratan, kambali lan wu tersenyum manis usai mengenali daratan tersebut. Ia melihat rombongan pedagang dari ketinggian ia sedikit mengeluarkan aura neraka untuk menakuti beberapa perampok yang tengah bersembunyi di balik pepohonan.


Para perampok tersebut bergegas pergi usai mengira bahwa aura tersebut berasal dari pendekar yang mengawal rombongan tersebut. Lan wu menyuruh elang muda untuk terus bergerak.


"Jeishi, mendardoah sebentar di tempat itu" ujar lan wu yang kini telah berada di area gunung biru. Ia berniat menemui Yui untuk sekedar mengetahui kondisi sakte yang di pimpin olehnya.


Terlihat seluruh tetua dan murid gunung biru yang membentuk sebuah formasi untuk mencegah lan wu memasuki area gunung biru. Beberapa serangan nampak mengarah ke lan wu yang kini telah berjarak beberapa meter dari tanah. Melihat serangan tersebut elang batu segera mengarahkan cakarnya dan berhasil menghancurkan serangan dari pra tetua tersebut. Lan wu mendarat tepat di kepungan para tetua dan murid gunung biru.


"Tenanglah aku merupakan adik dari pemimpin kalian, nama ku sein" ujar lan wu dengan wajah ramah.


Terlihat sun segera melompat ke arah lan wu sembari bersiap mengeluarkan jurus miliknya. " Kau berani sekali mengaku sebagai kakak senior, aku tidak bisa memaafkan mu.!" Ucap sun dengan nada geram.


Melihat hal tersebut lan wu segera mengeluarkan lencana miliknya dan melemparkannya kepada sun. Wajah sun nampak terkejut usai mengenali lencana tersebut. Ia menetralkan energi petarung miliknya seraya berjalan mendekat ke arah lan wu.


"Apakah kau memang kakak senior?" Tanya sun dengan ragu.


"Benar, aku baru turun dari alam dewa beberapa jam yang lalu, dan hendak menuju pedang dewa" jawab lan wu dengan wajah tenang.


"Ternyata memang anda, syukurlah senior sudah kembali" ujar sun dengan wajah senang.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya lan wu dan sun samoi di sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.


Lan wu merasakan energi besar dari balik pintu tersebut. Bebedap saat akhirnya energi itu nampak mengilang bersaman dengan pintu tersebut perlahan terbuka.


"Salam untuk kakak yu" ujar lan wu tersenyum.


"Tetua sun, siapakah pemuda ini?" Tanya Yui dengan wajah heran.


Akhirnya sun menjelaskan perihal lan wu dengan teliti, tak lupa juga Yui mengetes lan wu secara langsung untuk memastikan bahwa orang di hadapannya memanglah lan wu yang asli.


Untuk membuat Yui menjadi yakin, akhirnya lan wu mengeluarkan pisau api dana akhirnya Yui pun nempercayainya.


"Kau... Kau.. kapan sampai?" Ucap Yui dengan menahan tangis harunya.


"Baru beberapa menit.. kakak aku hanya mampir untuk mengecek kondisi mu. Melihat kakak baik-baik saja akhirnya aku menjadi tenang untuk mekanjutkan perjalanan ku" ujar lan wu tersenyum manis.


"Kau.. sudah mau pergi? Bahan aku belum mendengarkan cerita mu mengenai alam atas, beberapa tahun lalu aku mendengar perihal kenaikan mu sungguh membuat ku sedih, padahal ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan kepada mu" ujar Yui dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Kakak boleh memberitahukannya sekarang, aku akan mendengarkan" jawab lan wu.


"Lupakanlah, itu bahkan sudah tidak penting lagi" nampak Yui menggeleng pelan seraya memasang wajah kesal.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit" ujar lan wu seraya memberi salam.


Yui bermaksud untuk menahan lan wu lebih lama, namun ia mengerti perasaan lan wu yang begitu merindukan pedang dewa, terlebih lagi ia telah berpisah lama dengan istri serata anaknya, tentu saja hal tersebut lebih penting ketimbang dirinya yang bukan orang penting bagi lan wu. Yui mengantar lan wu dengan raut sedih, ia hanya sanggup melihat lan wu terbang menjauh tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada lan wu.


"Ketua apakah anda baik-baik saja? Mengapa anda tidak jujur kepada senior sein?" Tanya sun dengan wajah heran.


"Bodoh.. tentu saja dia akan menolaknya, terlebih lagi aku sudah sangat terlambat jika mengatakan hal tersebut" balas Yui tersenyum hambar.


**


Lan wu telah berada jauh dari wilayah kekaisaran emas biru. Matanya tak henti menatap daratan yang berada di bawahnya, ia sedikitpun tidak membiarkan matanya berkedip. Jantungnya berdetak kencang hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas. Ia mengenali tempat itu, ia mengenali kota dibawahnya, dan ia sangat mengenali gerbang besar yang berada tidak jauh dari kota tersebut.


"Pedang dewa.. sungguh aku tidak percaya dapat kembali lagi kesini, mengapa aku begitu gugup?" Gimam lan wu seraya melintasi gerbang pedang dewa.


Ia melihat kesibukan para murid yang tengah berlatih. Lan wu sungguh senang melihat kondisi pedang dewa yang tidak berubah drastis semenjak ia naik ke alam atas. Lan wu menyuruh elang muda untuk terbang lebih tinggi agar keberadaan merak tidak di ketahui oleh Jian dan lainya. Lan wu berniat untuk mengunjungi makam gurunya terlebih dahulu sembari mengumpulkan keberanian untuk menemui yiyi dan lainya.


Akhirnya lan wu mendarat tepat di depan makam gurunya, ia memberi penghormatan seraya meletakan arak yang ia simpan dalam cincin ruang miliknya.


"Guru, aku telah menjadi pendekar hebat sama seperti mu dan guru Xin" uja lan wu memasang senyum senang.


Lan wu memberi hormat sekali lagi sebelum akhirnya terbang bersama elang muda menuju kediaman lan wu.


Dari ketinggian lan wu melihat xuya yang tengah beralih di halaman depan kediamanya, ia tersenyum lebar seraya mendarat tepat di samping xuya yang kini melompat mundur dengan sembari memegang pedangnya.


"Ibu..! Ada orang asing masuk ke rumah kita" teriak xuya dengan nada khawatir.


Beberapa saat keluarlah yiyi sembari memegang pedang sunyi. Yiyi menerjang lan wu dengan pedang sembari menyuruh xuya untuk menjauh. Lan wu tidak menghiraukan pedang yiyi yang kini berhasil menusuk bahu kanannya. Lan wu sebelumnya malah memeluk yiyi dengan linangan air mata. Ia sungguh bahagia dapat memeluk yiyi, nampak yiyi yang seketika terpaku usai merasakan detak jantungnya yang begitu cepat.


"Ka..ka..Kaka lan? Apakah ini kau?" Ucap yiyi dengan suara tertahan.


"Ini aku, apakah kau tidak mengenali ku" ujar lan wu mengeratkan pelukannya.


"Ka..kau sudah pulang...kau sudah pulang..." Yiyi kini balik memeluk lan wu sembari menangis sejadi-jadinya

__ADS_1


__ADS_2