
"aku sudah kembali untuk menepati janji ku.." ujar lan wu sembari membiarkan air matanya terus mengalir.
"Kakak lan bisakah kau berjanji untuk tidak pergi lagi? Aku sungguh tidak kuat menunggu nya" ucap yiyi dengan suara serak.
"Tenanglah aku kini siapapun takan sanggup memisahkan kita" jawab lan wu membelai rambut yiyi dengan lembut.
Lan wu sungguh senang, ia tidak memerlukan penjelasan lebih agar yiyi percaya. Ia begitu mensyukuri dapat memiliki yiyi yang begitu mengenal dirinya. Lan wu menoleh kearah xuya yang tengah mematung sembari meneteskan air mata. Wajah gadis tersebut memerah akibat menahan suara tangisnya. Lan wu akhirnya melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah xuya.
"Hay gadis kecil, bagaiamana kabar mu?" Tanya lan wu semabri mengusap kepala xuya.
Tanpa sepatah kata xuya sontak menerjang lan wu dan memeluknya. Ia menangis sejadi-jadinya dan melepaskan semua unek-unek yang selama ini ia simpan. Beberapa kali ia memukul pelan dada lan wu dan memarahi lan wu. Lan wu hanya memasang senyum pedih sembari mengusap punggung gadis kecil tersebut. Ia memberikan waktu kepada xuya untuk melampiaskan kesedihannya.
Yiyi menuntun lan wu kedalam rumah untuk menyiapkan sarapan bagi lan wu. Xuya tak sedikitpun melepaskan pelukannya dari lan wu, terpaksa lan wu menggendongnya sembari berjalan ke dalam rumah. Mata lan wu kini menatap ke kursi yang terdapat di ruang tamu, ia melihat anak kecil tengah berbaring sembari tersenyum lembut menatapnya.
"Xuya, apakah ini adik mu?" Tanya lan wu dengan nada pelan.
"Iya ayah, itu adik wu Jia wajahnya mirip sekali sama ayah" jelas xuya tersenyum senang semabri merapatkan pelukannya.
"Hahahha.. tentulah aku kan pendekar yang paling tampan" jawab lan wu tertawa lantang.
"Adi wu Jia lebih tampan dari pada ayah" ujar xuya membuat lan wu tersendat nafasnya.
"Kau gadis kecil.. beraninya mempermainkan ayah mu, rasakan ini.." kesal lan wu sembari menggelitik xuya.
"Kalian berdua.?!.." sontak kepala lan wu terasa begitu sakit akibat pukulan yiyi yang mendarat tepat di kepala lan wu dan xuya.
"Yiyi dia yang salah mengapa aku juga kena pukul?" Tanya lan wu semabri mengusap kepalanya.
"Ibu jangan dengarkan ayah, dia jelas yang mulai duluan" sergah xuya.
"Pak.! Pak..!" Pukulan kembali mendarat di kepala mereka berdua.
Kini lan wu dan xuya diam seribu bahasa sembari saling berbisik satu sama lainya. " Xuya kau jangan bicara lagi, nanti kalau ibu mu beneran marah dewa sekalipun tidak sanggup menghentikannya" bidik lan wu seraya di jawab dengan xuya.
"Benar ayah, ibu kalau marah sangat mengerikan.. tapi ayah kan sangat kuat, kenapa tidak berani melawan ibu?" Tanya xuya sembari mengembungkan pioi kirinya.
"Hais... Gadis ini, tentu saja aku tidak bisa melawannya. Dia itu putri dari kaisar negara ini, apakah kau mau jika nanti aku harus mendekam di penjara? Selain itu aku sangat menyayangi ibu mu, jangankan tangan ku mengenainya jika ada serangga kecil yang membuatnya khawatir pasti aku akan menyingkirkan nya. Itulah rasa sayang yang sebenarnya" jelas lan wu sembari tersenyum.
__ADS_1
Lan wu beranjak duduk di sebelah yiyi yang tengah menyusui xuya, senyum kembali mekar di bibir lan wu. Ia begitu tenang saat melihat wajah yiyi yang di penuhi oleh kebahagiaan. Lan wu serentak mencubit pipi wu Jia hingga membuat wu Jia menangis pelan. Lan wu tertawa terbahak-bahak seraya menatap wajah imut wu Jia yang nampak memerah.
"Kakak lan, apakah kau mau menangis seperti wu'er?" Tanya yiyi dengan nada kesal.
"Hahahaha.. tidak mau..tidak mau.. bagaiamana jika gantinya xuya saja?" Tawar lan wu sontak membuat yiyi tertawa pelan.
Lan wu merangkul yiyi sembari berbisik pelan di telinganya." Emm..yiyi apakah aku bisa.. itu...aduh kok susah ngomong nya ya..?" Ujar lan wu terbata-bata.
"Ih...kakak lan, mengapa kau berpikiran seperti itu..?" Jawab yiyi setengah berteriak.
"Xuya tolong ibu untuk memberikan hukuman ke 2" ujar yiyi sembari menatap xuya yang tersenyum menyeringai.
"Emm..adik yiyi, istriku sayang...maaf.. aku sungguh bersalah.." mohon lan wu dengan wajah ketakutan.
"Ah.....!! Kenapa harus kupu-kupu..!! Kenapa.!?" Teriak lan wu sembari berlari kencang ke arah luar.
Xuya tertawa terbahak-bahak semabri memegang kupu-kupu di tangan kanannya. " Ayah..ayah.. kau bahkan tidak takut sama pedang mengapa bisa setakut ini dengan kupu-kupu?" Guamam xuya sembari memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
"Sudah aman kah?" Tanya lan wu sembari melihat ke arah belakang.
Ia memutuskan untuk menemui ketua Jian di aul utama sekaligus memantau menara suci. Ia begitu penasaran akan perkembangan para murid serta tetua di pedang dewa. Di perjalanan lan wu bertemu dengan beberapa murid khusus dan juga tetua baru di pedang dewa. Para tetua tersebut menatap lan wu dengan tatapan curiga namun lan wu sama sekali tidak memperdulikannya.
"Aku akan menemui adik yiyi sekaligus memberikan beberapa hadiah untuk xuya dan wu Jia, dia pasti akan senang dengan ku" ucap salah satu tetua baru yang berada di samping lan wu.
"Hahahaha.. aku yakin yiyi akan memperhatikan ku suatu saat nanti" seru tetua lainya.
Lan wu tersenyum kecut sembari mengepal tanganya. Ia begitu ingin menghajar para tetua tersebut dengan tangannya, namun lan wu menahan dirinya. Ia sangat yakin bahwa yiyi Takan pernah menerima orang lain di hatinya selain lan wu, terlebih lagi jika lan wu membuat keributan sebelum mengungkapkan identitas nya, akan sangat sulit baginya untuk membuat ketua Jian dan lainya percaya kepadanya.
Ia mempercepat langkahnya dan tidak lama kemudian ia telah sampai di halaman aula utama. Lan wu segera berjalan memasuki aula tersebut untuk menemui ketua Jian. Tidak lupa ia juga mengenakan jubah tetua pedang dan sontak menarik perhatian orang-orang yang berada di aula tersebut.
"Maaf saudara, kalau boleh tau siapakah anda?" Tanya Sorang tetua pedang dewa dengan nada sopan.
"Aku salah satu tetua di sini dan kebetulan baru pulang dari misi beberapa tahun lalu, katakan pada ku dimana aku bisa bertemu dengan kakek Jian?" Tanya lan wu sontak membuat tetua tersebut begitu terkejut.
Ia tidak menyangka bahwa hubungan lan wu dengan ketua Jian begitu dekat.
__ADS_1
"Ketua Jian kebetulan baru kembali dari pelatihanya, dan sekarang sedang berada di ruangannya, mari saya antar" tawar tetua tersebut.
"Terimakasih sudara, namun aku bisa sendiri" jawab lan wu singkat sembari berjalan melewati tetua tersebut.
Ketika lan wu telah berdiri tepat di depan pintu ruangan ketua Jian, ia segera mengeluarkan setengah aura neraka miliknya dan menciptakan tekanan udara yang sanggup membuat seluruh orang di dalam aula tersebut merinding ketakutan, nampak Jian dan Yuan segera keluar dari ruangan sembari mengeluarkan energi petarung milik mereka.
Lan wu tersenyum senang seraya membungkuk dan memberi salam.
"Salam kepada kakek Jian, dan paman Yuan. Maaf membuat kalian menunggu cukup lama" ujar lan wu tersenyum.
"Kau..?" Ucapan Jian tertahan saat melihat lan wu yang mengeluarkan tanda pengenal tetua pedang miliknya.
"Ada beberapa hal yang membuat penampilan ku menjadi seperti ini? Aku tau kalian pasti tidak mengenali ku karena wajah ini, namun aku sangat yakin kalau begitu mengenal aura milikku serta kedua api ini" sambung lan wu semabri mengeluarkan pisau api di sekelilingnya.
"Hahahahaha...bocah ini bertambah kuat" ucap ketua Jian tertawa keras.
Ia kemudian mendekati lan wu seraya tersenyum lebar. "Selamat datang kembali di rumah" ujar ketua Jian menepuk pundak lan wu.
Nampak Yuan hanya tersenyum senang sembari melihat lan wu dan ketua Jian.
"Beraninya kau membuat ku khawatir.!" Ujar Jian memukul kepala lan wu.
"Kakek tua.. kan aku sudah minta maaf.." balas lan wu menarik janggut milik Jian.
Yuan menepuk jidatnya usai melihat tingkah lan wu dan Jian yang kembali seperti sebelumnya.
"Apa mereka lupa dengan usia mereka?" Pikir Yuan seraya menggeleng heran.
Keduanya bertengkar dengan konyol sebelum akhirnya di lerai oleh Yuan. Yuan akhirnya mengajak keduanya untuk berbincang di dalam ruangan sembari menyuruh lan wu untuk menjelaskan situasi di alam dewa kepada mereka berdua. Kini ketiganya telah berada di dalam ruangan, lan wu akhirnya menjelaskan situasi alam dewa dan alasan dirinya kembali ke alam fana.
Ia hanya menceritakan hal umum dan menyembunyikan soal dirinya yang mengemban tugas besar. Lan wu hendak mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepada ketua Jian dan Yuan.
"Aku hendak menyelidiki beberapa hal di kediaman ras harimau petir terkait peperangan beberapa tahun lalu" jelas lan wu dengan nada serius.
"Jadi memang Meraka dalang dari pernah tersebut ya?"ujar Jian sembari mengelus jangut nya.
"Begitulah, namun untuk memperjelas hal tersebut aku hendak menanyakan hal ini secara langsung kepada mereka" sambung lan wu.
__ADS_1
"Aku mengerti, namun ada baiknya kau tidak buru-buru melakukan hal tersebut" timpal yuan seraya meneguk araknya.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka hingga menjelang sore, akhirnya lan wu dan Yuan pamit pulang.