PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
sempak


__ADS_3

Biar pun Askar menolak, tapi lelaki ku*nyuk itu tetap saja keras kepala, Askar benar-benar paham jika Ke'su tipe orang yang menyusahkan dan Askar tidak ingin perjalanannya semakin merepotkan.


"Hei, hei ... biar pun kau sampai bertaruh nyawa aku tidak sudi membawamu bersamaku." Askar jelas saja menolak keinginan Ke'su untuk menjadi pengawal bagi Asy.


Memang benar jika pangeran Ke'su ikut Askar tidak khawatir dengan keselamatan Asy, bagaimana pun dia masihlah seorang lord yang nyata sama seperti Sina.


Terlebih kakek loe teu yiu hanya menjalankan janji untuk melindungi Askar, tapi tidak dengan wanita-wanitanya, akan sangat sulit jika harus melindungi mereka sendirian.


"Askar biarkan dia ikut." Asy angkat bicara.


"Tapi.... Aku yakin ini akan sangat merepotkan." Lemas Askar menjawab dan dia pun merasa risih kalau ada orang asing, sedangkan Ke'su memiliki masalah kepadanya.


"Setidaknya kita bisa manfaatkan nama Ke'su sebagai perlindungan."


"Bukankah nama kakek loe teu yiu sudah cukup, bahkan dia jauh lebih terkenal."


"Biar pun begitu, dia tidak akan mau bertanggung jawab jika kau mendapat masalah pribadi."


"Kau ada benarnya, tapi bukankah itu sama dengan si Ku*nyuk ini."


Dan Ke'su masih cengengesan ketika mendengar Askar memanggilnya dengan ku*nyuk, karena dia tidak tahu apa pun soal penghinaan dari Askar.


"Tidak jika kau membawa aku dalam masalahmu, tentu dia harus mau menjadi perlindungan kita."


"Baiklah kalau begitu." Askar cukup paham dengan perkataan Asy.


Dilihat wajah Ke'su yang lecek, dekil dan kusut itu membuat Askar kesal sendiri, secara pribadi, walau Ke'su adalah seorang personel boy band sekali pun Askar tetap kesal, karena sikapnya.


Tapi berdiri dihadapan pangeran Ke'su yang jelas memiliki tinggi hampir dua meter, bertubuh besar tinggi sekaligus kekar Askar menujuk tanpa rasa takut.


"Aku akan membawamu, tapi ingat kau harus mematuhi aturan yang aku miliki."


"Tidak, kewajiban ku adalah melindungi Dewi Asy." Jawab Ke'su tanpa ragu.


"Ya aku mengerti, tapi jika Dewi mu mengalami masalah kau harus melindunginya apa pun yang terjadi." Askar masih berusaha sabar.

__ADS_1


"Tentu saja, apa kau bodoh menanyakan hal itu." Sikap Ke'su bukan seperti orang yang meminta, dia masih membanggakan diri sebagai sosok pangeran klan Phoenix.


"Kau yang bodoh !, Dan satu lagi kau harus bersih, aku tidak nyaman berada satu tempat dengan orang yang baunya seperti hasil fermentasi nasi didalam perut, apa kau mengerti ?." Berkata Askar dengan tegas.


"Aku tidak mau." Tapi Ke'su menolak.


"Itu harus, kau tidak mau jika Dewi mu itu sampai mut'ah-mut'ah bukan."


"Baiklah jika memang itu perlu."


"Aku bertanya-tanya, apa di sini mandi itu bukan sebuah keperluan." Gumam Askar dengan gelengan kepala.


Tanpa perlu jawaban, Askar pun menyadari, jika semua laki-laki dalam klan Phoenix hampir tidak pernah mandi, entah apa yang mereka pikirkan, apa mandi akan menghilangkan kekuatan mereka.


Sedangkan para wanita klan Phoenix terlihat cantik dengan kulit coklat yang eksotis, karena lingkungan serba panas memang tidak bisa ditolak, tapi kebersihan adalah kunci utama orang itu layak dipandang atau tidak.


Pangeran Ke'su segera mempersiapkan diri dengan segala keperluan dalam perjalanan bersama Asy, walau begitu dia yang tidak berbaju harusnya tidak membawa banyak hal, kecuali dirinya sendiri dan semua masalah.


Dan Askar berjalan kepada So'ek, dia yang bertindak sebagai dewan suci dan juga penasehat klan tentu lebih mudah untuk diajak bicara.


"Tuan Askar, maaf jika aku tidak bisa membela anda, karena aku sendiri memiliki pemikiran yang sama dengan pangeran Ke'su." Ucap So'ek yang kini membungkuk hormat.


"Tidak usah katakan lagi, aku pun paham dengan tujuan klan demi menjaga Asy, tapi memang benar, jika dia berada di sini, maka klan ini pun akan di incar." Jawab Askar dengan sopan.


"Aku coba memahami itu, terlebih... Keputusan sang Dewi adalah mutlak, kami tidak bisa membantah."


"Tapi bagaimana dengan kondisi klan jika pangeran Ke'su pergi dari sini." Bertanya Askar.


Bagaimana pun Askar tidak nyaman sendiri, jika kepergian pangeran Ke'su akan berimbas buruk bagi keamanan klan Phoenix.


"Soal itu." So'ek seakan ragu untuk berbicara, dia tersenyum sendiri, sedikit terpaksa seakan ada alasan lain dibalik jawabannya.


"Kenapa kau tersenyum." Penasaran atas jawaban So'ek.


"Sebenarnya kami sedang jika pangeran Ke'su pergi dari sini, bahkan kalau bisa tidak perlu kembali lagi." Balas jawaban itu via bisikan di telinga.

__ADS_1


"Bukankah anda terlalu jujur, tapi kenapa begitu ?." Askar tidak bisa membayangkan perbuatan Ke'su di klan Phoenix.


"Kalau di ceritain mah sedih."


"Kenapa sedih ?, Apa ada drama di sini ?." Binggung Askar.


Satu hembusan lemas keluar dari mulut lelaki tua itu, Askar semakin penasaran apa yang sudah terjadi dengan So'ek.


"Ya mungkin kau tidak tahu bagaimana mengurus seseorang yang hanya bisa terima beres atas segala hal." Dengan lemas dia berbicara, bahkan hembusan nafasnya sudah menujukan seberapa rumit dia mengurus seorang pangeran.


Raut wajah tua itu sangat tersiksa untuk mengingat semua tentang pangeran Ke'su yang selalu dia berikan nasihat, walau pada akhirnya Ke'su jarang sekali mendengar ucapannya.


"Sabar yah." Balas Askar dengan menepuk pundak So'ek.


So'ek mengangguk mengerti, Askar bisa merasakan kalau pangeran Ke'su memang merepotkan, tapi dia masih mematuhi perkataan dari Asy.


"Dan satu lagi tuan Askar, jika kau sempat, pergilah ke alam semesta awal penciptaan, disana ada satu tempat yang menjadi sarang awal kelahiran Phoenix, siapa tahu ada beberapa keuntungan yang bisa kau dapat."


"Itu memang menjadi tujuanku selanjutnya." Askar tersenyum cerah kepada So'ek siapa sangka lelaki yang menjadi penasihat untuk Ke'su memberikan sebuah informasi penting.


Alam semesta awal penciptaan memang tempat sakral yang menjadi asal mula penciptaan jagat raya, karena disana adalah tempat, dimana Tuhan sejati mulai membentuk keberadaan para dewa.


"Hati-hatilah dengan keberadaan makhluk yang sudah mengambil jiwa Phoenix, Askar, aku yakin jika mereka tahu Dewi Asy bangkit, maka bahaya akan datang kepadamu."


"Tentu tuan So'ek aku akan berhati-hati."


Tidak berselang lama, dia pun muncul, ya... si pangeran ku*nyuk yang membawa tiga buntalan kain dengan segala macam isi, entah apa itu.


"Hei apa yang kau pikirkan dengan membawa banyak barang, kita bukan mau liburan." Tegas ucapan Askar kepada Ke'su dengan kesal.


"Ini semua adalah pakaian ganti." Jawabnya tanpa ragu.


"Apa yang mau kau ganti dengan itu, sejak awal aku hanya melihat kau menggunakan ****** saja." Memang begitu penampilan Ke'su.


"Biar pun aku jarang mandi, tapi pakaian harus tetap bersih."

__ADS_1


"Apa ****** sama dengan pakaian." Pusing Askar memikirkan ucapan si ku*nyuk itu.


__ADS_2