PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
jadi dokter


__ADS_3

Berjalan Askar kembali ke penginapan dengan keadaan cukup payah.


Kedua wanita yang bersama dengan Askar memang menjadi pusat perhatian semua orang, dan tidak lagi perduli, karena pikiran Askar tertuju kepada hal lain.


Setelah pertarungan melawan wanita itu, separuh kekuatan Askar habis, hanya untuk melawannya, bahkan itu masih belum setengah dari kekuatan Virnda.


"Misalkan ada lawan yang jauh lebih kuat lagi apa kita bisa menghentikannya Askar." Bertanya Sina karena melihat wajah Askar yang begitu rumit.


"Aku harap itu tidak terjadi, karena aku hampir mustahil untuk melawan lord alam setengah saint tahap akhir." Tapi Askar tidak ingin membayangkan perkataan Sina.


"Hampir ?, Kalau begitu kau memiliki cara, setidaknya untuk menyelamatkan diri." Rea pun bertanya.


"Ya dengan membuka gerbang ke enam : raja penguasa, tapi sangat terbatas, bisa untuk kabur, tapi mustahil untuk menang." Jawab Askar dengan rencana terakhir jika dihadapkan pada situasi darurat.


Jika Askar menggunakan semua kekuatan, dari transformasi hukum kegelapan dan cahaya golden darkness, dan pembukaan skill pemangsa gerbang ke enam : raja penguasa.


Maka Askar mampu menyamai lord alam setengah saint tahap akhir, hanya saja batas waktu tidak lebih dari lima menit.


Sedangkan pertarungan melawan lord alam setengah saint, tentu jauh lebih sengit dari pada melawan Virnda sebelumnya.


"Paling tidak kita bisa memiliki kesempatan selamat." Walau memang agak berat Sina untuk bersikap tenang tapi jelas dia tidak ingin membebankan masalah lain kepada Askar.


"Jangan berharap lebih Sina, karena itulah, saat ini aku benar-benar mencari aman." Balas Askar dengan sedikit murung.


"Apa salahnya, mencari posisi aman adalah naluri alami dari manusia, semua itu menghindari segala kemungkinan akan terjadinya suatu masalah." Rea pun membantu Askar agar terlepas dalam rasa rumit di kepala.


Askar hanya berpikir jika kekuatannya saat ini masih belum ada apa-apanya dengan para penguasa alam semesta, bagaimana mungkin menyelamatkan jagat raya dari bencana kaisar akhir zaman.


***

__ADS_1


Sampai di depan pintu kamar, seketika Askar berhenti, dia merasa aneh atas suara kemrosok dan erangan kucing yang terdengar jelas ditelinga.


Tentu Askar bisa membayangkan apa yang terjadi, karena dari zona persepsi sudah menggambarkan setiap hal yang dilakukan oleh Omen.


Pelan-pelan Askar membuka pintu, dan memang dilihatnya seekor kucing Oren belang-belang putih itu sedang menindihi kuicng lain yang entah dia bawa dari mana.


Rea dan Sina pun hanya diam menujukan wajah tanpa ekspresi, bahkan melihat Omen seperti seonggok sampah tergeletak dihadapan mereka.


"Hei aku tidak tahu kalau kamar ini sekarang menjadi tempat untuk kumpul kebo." Berkata Sina dengan tatapan tajam kepada Omen.


"Dia kucing Sina." Askar mengingatkan.


"Terserah kau saja."


Dengan cepat kucing betina yang terkejut atas kedatangan Askar mendadak membuatnya kabur dan Omen merasa kecewa.


"Tuan kenapa anda tidak memberi kabar dulu, aku belum sempat menyelesaikannya." Balas Omen yang kesal namun takut jika kena marah.


Jika saja Omen hanya kucing rumahan yang kerjaannya mencari tikus, mengeong-ngeong untuk meminta makan dan tidak bisa bicara seperti spesies satu ini.


Tapi dia kucing spesial yang memiliki akal pikiran dan bisa berdiri dengan dua kaki pula, tentu tidak akan Sina kesal karena perbuatannya.


"Peliharaan dan majikan, seakan tidak ada bedanya." Sindir Rea kepada Askar yang jelas tertawa kecil.


"Hei kenapa kau menghakimiku begitu saja, paling tidak aku lebih bertanggung jawab untuk urusan seperti ini." Askar tidak bisa menerima tanggapan Rea tentang dirinya.


"Tanggung jawab sih tanggung jawab, tapi lama-lama banyak yang harus kau tanggung, hingga asal saja untukmu menjawab." Sina jelas saja ikut ambil bagian dalam memojokkan Askar.


"Aku tidak bisa membantah hal itu." Askar mati kutu untuk membalas perkataan Sina.

__ADS_1


***


Askar duduk lemas di atas ranjang, diikuti oleh Sina dan Rea di kedua sampingnya, jelas sekali raut wajah rumit yang masih memikirkan tentang bermacam hal untuk masa depan nanti.


"Sampai delapan belas tahun di masa depan nanti, aku rasa tidak bisa duduk tenang dan memikirkan tentang kenyamanan hidup santai bersama keluarga, bercerita membahas masa depan, ketika anakku berkata, 'aku pengin jadi dokter seperti ayah.'."


"Memang kau dokter, Askar ?." Rea bingung atas ungkapan Askar.


"Tidak, tapi ayah juga kepengin jadi dokter, itu jawab anakku nanti." Jawab Askar yang jelas mengada-ada.


"Jangan ngelawak kalo lagi serius Askar." Balas Rea dengan perasaan kesal sendiri.


Sedikit Askar menujukan senyum, dia hanya tidak ingin terlalu berpikir berat atas semua yang terjadi dan akan datang, karena segala hal bisa terjadi.


"Ya aku sadar untuk hal ini, sampai masa depan nanti kita hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja." Berkata Rea yang tetap tenang dalam segala kondisi.


"Aku juga berharap begitu, karena ini bukan hanya untukku, tapi untuk anak-anakku nanti." Askar memang merasa nyaman ketika kedua wanitanya yang memahami segala keadaan.


Askar benar-benar harus mencari kekuatan, lawannya bukan kaisar akhir zaman saja, melainkan para penguasa alam semesta atas akan perbuatan mereka di masa lalu.


Rasa benci untuk membalas perbuatan mereka jelas tertanam melalui ingatan Asyura, sebuah janji dan pembalasan dendam.


Tapi untuk Askar saat ini dia masih bukan siapa-siapa, bahkan dihadapan para penguasa, satu tepukan tangan tewas dirinya tanpa perlawanan.


"Aku harus menjadi lebih kuat lagi." Gumam Askar dengan tujuan pasti di alam semesta atas ini.


Memang jelas, alam semesta atas adalah tempat yang sesuai untuk Askar meningkatkan kekuatan, sumber energi alam begitu kuat, batu kristal energi kualitas tinggi melimpah ruah, pengalaman bertarung yang bisa dia lihat dari lord alam setengah saint ke atas.


Tentu dalam kurun waktu tiga tahun yang diberikan oleh Elica, tidak bisa Askar sia-siakan, hanya untuk mengantarkan Sina dan Rea saja.

__ADS_1


Terlebih lagi, alam semesta kerajaan beladiri adalah tujuan Askar, dendam atas perbuatan mereka yang membunuh para bawahannya, tentu akan dia balas, walau itu membutuhkan waktu lama.


__ADS_2