PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
hologram


__ADS_3

Jarak antara penginapan yang Askar tempati dengan istana kerajaan beladiri tidaklah terlalu jauh, karena dari jendela kamar pun sudah terlihat kilauan tiang-tiang emas menjulang tinggi ratusan meter.


Askar tidak bisa diam saja saat tahu bahwa di sana lah keberadaan dari Silviana, dan Askar tidak bisa membayangkan apa yang di lakukan Varjo de hores kepada dirinya.


Menempatkan posisi untuk duduk bersila, Askar mengalirkan energi dalam pembentukan teknik pengendalian boneka jiwa.


Hanya dengan kemampuan ini Askar bisa bergerak bebas memasuki istana kerajaan beladiri tanpa perlu takut di ketahui oleh orang lain.


Boneka jiwa yang sudah terbentuk, bergerak seperti keinginan Askar, selama tidak ada yang menggangu tubuh utama Askar, maka boneka jiwa akan tetap aktif.


"Paling tidak Aku bisa melihat kondisi Silviana untuk sekarang." Gumam Askar dalam pikirannya.


Askar segera saja bergerak keluar dari ruangan, terbang mendekat ke istana kerajaan yang memang sangat luar biasa besar.


Kekayaan dari alam semesta kerajaan beladiri memang tidak bisa dihitung dengan jari kaki dan tangan, bahkan Askar merasa yakin setelah mengeluarkan tiga juta koin kristal energi, itu belum membuatnya miskin.


Di lihat juga para pengawal yang berjaga di sekitar gerbang, bisa di pastikan tidak ada satu penyusup masuk kedalam istana.


Berjalan mendekat dengan boneka jiwa yang kasat mata itu, para pengawal setingkat lord alam setengah saint suci sekali pun tidak mampu merasakan kehadirannya.


Askar dengan sengaja memukul kepala pengawal yang masih berdiri tegak, dan tentunya itu membuat dia terkejut, dilihat kanan atau kiri tidak ada siapa pun.


Beranjak memasuki lebih dalam, Askar lebih terkejut lagi, entah apa yang dia lihat adalah nyata atau sekedar ilusi.


Karena istana kerajaan lebih mirip seperti tempat pe*lacuran, karena di setiap sisi ruangan, di masing-masing kamar atau para pelayan semua adalah wanita berpakaian minim.


"Sepertinya aku bisa betah di tempat ini." Pikir Askar dengan semua pemandangan yang di lihat olehnya.


Wanita-wanita cantik yang menjadi selir atau pelayan dalam istana, berlalu lalang tanpa memikirkan perasaan malu, semua itu dengan keinginan Varjo.


"Jika bukan karena Varjo adalah musuhku, aku lebih ingin mengakrabkan diri." Sedikit Askar menyayangkan permasalahan dengan Varjo.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal kepada Varjo itu, Askar tanpa ragu menampar pan*tat satu selir yang lewat di sebelah Askar, dan dibalasnya pengawal yang tidak bersalah dalam hal apa pun.


Hingga kena gampar tanpa tahu kenapa harus mendapatkan cap lima jari di wajah, walau itu terlihat membuatnya senang.


Tapi itu bukan tujuan Askar sekarang, karena dia harus melihat Silviana yang berada di ruangan teratas dari tiga puluh lantai istana.


Dan siapa sangka, selagi ruangan tempat Silviana terlihat, dua sosok yang menjadi lawan Askar baru saja keluar, mereka adalah Sirjo dan Varjo.


Kedua orang yang ingin Askar musnahkan dari kehidupan ini bagaimana pun caranya.


"Tuan Varjo, kenapa anda bersikeras menginginkan silviana menjadi istri anda, bukankah lebih baik anda menggunakan teknik khusus untuk mengambil kekuatan keajaiban hidup." Berkata Sirjo yang menjadi pengawal khusus bagi varjo.


"Sirjo kau tidak tahu, ada kebanggaan tersendiri jika bisa memiliki kecantikan yang mampu membuat iri jagat raya." Varjo merasa sombong karena bisa memiliki Silviana.


Dia sendiri bisa membayangkan bagaimana pikiran para penguasa alam semesta lain ketika tahu bahwa Varjo de hores mampu mendapatkan salah satu wanita tercantik di jagat raya.


"Tapi aku yakin jika Silviana itu tidak mengharapkan anda untuk menjadi suaminya." Sirjo berasa paham atas isi pikiran Wanita itu.


"Pernahkah kau mendengar, cinta akan tumbuh jika selalu bertemu." Ucap Varjo de hores menujukan senyum yang penuh makna.


"Walau pun tidak, tapi dia tahu konsekuensinya." Varjo memiliki cara lain untuk mengatasi Silviana.


"Pada akhirnya anda menggunakan ancaman." Lemas Sirjo memikirkan rencana itu.


Askar jelas mendengar semua percakapan dua makhluk ini, tapi untuk sekarang dia tidak bisa melakukan apa pun, karena masih banyak hal yang Askar ingin lakukan dengan mereka.


Didalam ruangan itu, Askar melihat Silviana sedang duduk di depan cermin dengan dua pelayan yang merawat rambut kuning keemasan.


Wajah murung dan tatapan lemas itu menujukan gambaran emosi yang sedang dia alami, berada di genggaman seorang musuh dan telah menghancurkan keluarganya.


Tentu Askar tahu jika sampai sekarang, Silviana hanya berusaha menahan diri untuk tidak berbuat yang tidak-tidak, karena satu alasan demi menjaga alam semesta kerajaan suci tetap aman.

__ADS_1


Askar mendekat dan berbisik di telinga Silviana... "Nona kau masih terlihat cantik sekali."


Mata Silviana yang sayu itu terbuka lebar seketika, dia tentu menyadari suara di telinganya berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, dan satu-satunya orang dengan kemampuan itu hanya Askar.


"Kalian semua cepat pergi, aku ingin beristirahat, dan jangan ganggu aku." Segera saja Silviana memberi perintah kepada semua pelayan.


Dengan patuh dan tanpa bertanya hal lain, para pelayan segera pergi dari ruangan Silviana, setelah tidak ada satu orang pun selain dirinya, samar-samar bayangan pun muncul.


Ini adalah sedikit peningkatan kekuatan dari teknik pengendalian boneka jiwa, dimana Askar bisa membentuk bayangan hologram yang bisa dilihat oleh siapa pun.


Entah Silviana harus senang atau kesal, karena kehadiran Askar yang jelas membuatnya terkejut, perasaan bingung bercampur aduk menjadi satu.


"Bagaimana keadaanmu nona cantik, aku tidak ingat jika sekarang kau sudah tumbuh menjadi lebih dewasa." Ucap Askar melihat postur yang memang jauh lebih berisi dari terakhir Askar bertemu.


"Hei kau harusnya ingat jika aku bisa mengubah bentuk tubuhku, karena memang sejak awal keajaiban hidup menghentikan pertumbuhannya." Balas Silviana yang tersenyum cerah setelah sekian lama di tempat ini.


"Tapi aku lebih menyukai Silviana 13 tahun, itu terlihat imut sekali." Ucap Askar dengan mengeluh lemas.


"Kau itu loli*con, dasar pe*dopil." Cepat Silviana memarahi Askar.


"Ini lebih baik." Ya Askar merindukan cara Silviana saat marah itu.


Atas segala hal yang pernah Askar lalui, gadis cantik dengan wajah judes inilah menjadi salah satu alasan untuk dirinya berusaha keras.


Tanpa bantuan Silviana dirinya mungkin sudah tewas untuk bertahun-tahun lalu, dan kini Askar ingin menyelamatkan dirinya.


"Askar aku tahu jika kau pasti datang, tapi sepertinya akan mustahil untukmu melawan Varjo." Terlihat ekspresi Silviana berubah kembali menjadi murung.


"Apa yang kau katakan Nona, aku akan menyelamatkanmu, dan itu pasti aku lakukan, jangan khawatir, aku sudah cukup kuat sekarang." Tegas jawaban Askar.


"Jangan paksakan dirimu Askar, aku hanya ingin kau selamat dan kembali bersama semua istrimu."

__ADS_1


"Dan aku tidak ingin kembali, tanpa dirimu Silviana, karena kita sudah terikat takdir." Balas Askar tanpa keraguan.


Entah apa yang Askar pikirkan untuk jawabannya itu, tapi Silviana mencoba tersenyum dan memberikan Askar sedikit harapan.


__ADS_2