
Ini diluar rencana.
Siapa sangka, tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tanpa ada persiapan, Askar menghadap kepada ayah dan ibu Rea dengan penuh keberanian.
Mereka adalah bapak Sarmoto dan ibu Surti, dua sosok manusia yang mampu melahirkan seorang gadis cantik dengan keindahan yang tidak bisa diungkapkan oleh sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan kata.
"Jadi Askar apa yang ingin kau katakan." Ucap bapak Sarmoto dengan berat, nafas naik turun karena penyakit asma membuat dirinya cukup kesulitan bicara.
"Aku ingin menikahi Rea." Balas Askar menujukan tekad kuat dan sangat serius.
"Tentu saja, aku sudah merestui kalian berdua sejak awal kau datang ke tempat ini untuk bekerja Askar." Bapak Sarmoto dengan wajah tersenyum cerah menjawab perkataan lelaki yang sudah dia kenal bertahun-tahun lalu.
Saat itu, tatapan mata seorang anak lelaki yang kurus dan kurang gizi itu menujukan tekad kuat demi keluarganya, semua masih tergambar jelas dalam ingatan Sarmoto.
Berawal dari semua yang terjadi, pandangan Sarmoto kepada Askar tentu memberi penilaian tinggi, karena Sarmoto bangga atas lelaki berjuang dalam menjunjung kehormatan bagi keluarganya.
"Jadi kapan kau akan mengadakan pernikahannya Askar." Bertanya ibu Surti yang baru saja keluar dari dapur dan duduk di bangku sebelah Sarmoto.
"Sekarang." Tegas jawaban Askar.
"Tunggu, bukankah itu terlalu cepat, kami belum mempersiapkan apa pun." Jelas bapak Sarmoto terkejut.
Memang Sarmoto ingin cepat-cepat Rea menikah dengan Askar, tapi bagaimana pun, keputusan Askar terlalu mendadak.
"Tidak apa-apa, karena aku sudah menelfon penghulu agar datang ke rumah." Askar pun menjawab dengan segera.
Sebelumnya, Askar benar-benar sudah mempersiapkan semua dalam waktu singkat, dari penghulu, mas kawin, saksi-saksi, setiap orang yang Askar panggil, dan para ahli make up.
Soal biaya, jangan anggap remeh Askar, dia bahkan bisa menyewa hotel bintang dua belas tanpa perlu berpikir tentang tagihan, tapi saat ini, Askar lebih memilih segera dan sederhana.
Dalam satu jam, Askar dan semua orang suasana siap di posisi masing-masing, termasuk penghulu yang sengaja Askar pesan secara VIP, jalur khusus agar semua berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Askar yang baru keluar dari ruangan disambut oleh semua keluarga, termasuk Elica, Sina, Silvi, Zua, xixi dan Hana, ya sebenarnya hanya mereka yang jelas Askar panggil karena dalam satu rumah.
Terlebih Zua yang ikut Askar pulang untuk bertemu dengan ibu dan setiap keluarga dari Askar. Karena memang selama mereka menikah tidak sekali pun memiliki kesempatan untuk menyapa.
"Baru saja kita pulang, dan kau meminta kami datang untuk melihatmu menikah." Ucap Sina yang menujukan raut wajah kesal.
"Ya maaf, ini memang mendadak, tapi aku merasa tidak enak karena harus mengulur waktu dengan janjiku kepada Rea." Tapi Askar mencoba memahami keadaan.
"Ya aku sih tidak masalah, karena aku yakin cepat atau lambat kau akan menikahi Rea." Sina yang tidak keberatan hanya binggung atas tindakan Askar yang membuat terkejut semua orang.
"Bukankah kau juga sama Sina, meminta untuk kita menikah, selagi masih berlangsung turnamen peringkat akademi, bahkan aku masih ingat jumlah tagihannya." Balas Askar yang menyindir kelakuan Sina.
Sina berpaling wajah karena malu, dia pun sadar akan tindakannya dulu, walau Askar tidak keberatan, tapi jelas itu cukup membuat terkejut semua orang yang tiba-tiba diminta oleh Askar untuk pergi ke Prancis.
"Sudah, jangan ingatkan itu lagi." Berkata Sina dengan wajah merah.
Di sisi lain, Elica hanya sibuk mengurusi Arya dan Aryana yang berlarian ke sana kemari karena merasa bersemangat melihat banyak orang.
Bahkan dia berniat mengeluarkan dua roh kontrak yang tidak pernah dia panggil, tapi Askar menghentikannya.
"Askar, pernikahan manusia darat ramai sekali." Zua terlihat begitu antusias menyaksikan sebuah kejadian yang tidak pernah dia ketahui.
"Kau juga bersemangat Zua." Tersenyum Askar karena sikap polos putri dari Nyi Raro kidul.
"Ya aku yang sudah cukup lama hidup di akademi tidak pernah melihat pernikahan manusia daratan." Untungnya Zua bukan tipe istri yang menolak poligami, sehingga Askar cukup tenang dengan istri satu ini.
Walau sedikit hati Askar merasa kasihan kepada xixi, biar pun dia tidak pernah membahas mengenai hal ini, tapi tetap saja Askar ingin menjawab perasaannya.
Askar berjalan kepada penghulu, dimana dia berbisik dan membuat penghulu itu terkejut, hampir jika tidak Askar pegang.
"Apa kau yakin itu tidak jadi masalah tuan Askar."
__ADS_1
"Tenang saja, aku yang akan mengurusnya." Santai Askar menjawab.
*******
Dalam beningnya suasana, dua sosok wanita itu berjalan dengan gaun indah yang bisa menujukan kecantikan luar biasa.
Semua mata tidak berkedip ketika melihat xixi dan Rea datang dengan senyuman manis kepada Askar.
"Aku kenal Askar, dia yang dulu bocah kurus, murung, dan tidak diharapkan, kini menjadi orang hebat."
"Bagaimana tidak hebat, sudah punya tiga istri cantik, dan sekarang mau menambah istri, dua pula."
"Ya, aku iri sekali." Ucap tamu undangan dengan isakan tangis.
Mereka-mereka yang berkomentar tentu mengenal siapa Askar, anak dari Samoel dan Hana, seorang lelaki tanpa harapan, tapi kini menujukan diri sebagai seorang lelaki berwibawa.
Dihadapan kedua orang tua rea saudara-saudara jauh dan dekat, penghulu, wakil penghulu, saksi-saksi, tetangga kiri atau pun kanan, adik kelas, kakak kelas, teman kelas, guru wali kelas, satpam penjaga gerbang sekolah, hingga petugas kebersihan yang juga semua itu adalah tetangga sekampung.
Tidak lupa pula, supir angkot dan para kenek-keneknya yang sudah menjadi langganan pulang pergi ke sekolah, tidak lupa juga para mantan pacar, mantan yang belum sempat jadi pacar, mantan yang kini menjadi pacar orang, yang jelas bukan pacar tapi mengaku-ngaku pacar Rea pun datang.
Selain itu, pemilik warung makan, warung sembako, warung kopi, tidak lupa juga warung pulsa, serta para karyawan-karyawan tetap yang tidak pernah naik jabatan biar pun sudah ganti presiden berulang kali.
Semua orang yang mengenal Rea serta keluarga hadir didalam acara pernikahan dadakan. Setiap saksi-saksi berekspresi tegang, nafas berat ditarik dan lupa dihembuskan, ketegangan wajah-wajah untuk mendengarkan satu kata. "Sah."
Saat satu kata itu terucap, semua orang mulai bernafas lega, ekspresi kebahagiaan, kesedihan, kebingungan, tegang, kaki keram, perut mules, gemetaran, kepala pusing, tergambar jelas dari masing-masing wajah para hadirin.
Rea tidak bergeming, suara semua orang masih berdengung di gendang telinganya, senyum jelas tergambar, air mata menetes, tatapan bahagia dan isi pikiran mengingat masa lalu.
Karena dia melangkah ke sebuah titik awal sebagai seorang wanita bagi lelaki yang dia cintai.
Dan xixi yang jelas menangis, tidak pernah membayangkan, bahwa hidupnya benar-benar merasakan bahagia, karena Askar mengakui dia sebagai miliknya.
__ADS_1