PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
dibalik pintu


__ADS_3

Untuk pelatihan kali ini Askar memahami beberapa hal.


Pertama, dia belajar tentang bermacam gerakan yang meminimalisir beban pedang berat di lengan.


Kedua, pengetahuan tentang ilmu beladiri pedangnya berada jauh dibawah standard.


Ketiga, dia jauh lebih bodoh dari anak ingusan.


Semua itu memang benar adanya, dimana saat menjadikan seorang ahli beladiri pedang sebagai lawan, selalu dalam posisi sulit, sehingga satu-satunya cara adalah memaksimalkan kekuatan energi dengan skill pemangsa.


Selain itu Skill penciptaan ruang akselerasi, penglihatan masa depan, pedang dewa pemangsa kematian menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam pertarungan.


Dan Askar terlalu bergantung kepada semua kekuatan itu, dia sekarang menyadari, jika memiliki kemampuan beladiri pedang akan mengurangi kerugian dalam pertarungan.


Lepas dari itu, bahtera angkasa sudah melewati lubang hitam dan bergerak ke sebuah planet berwarna hijau di alam semesta hutan hidup.


"Jadi berapa kali lagi kita harus melintasi lubang hitam kakek." Bertanya Askar.


"Tujuh, mungkin ?."


"Kenapa jawabannya begitu meragukan." Askar merasa tidak nyaman atas ucapan Loe Teu Yiu.


"Ya aku sudah cukup lama tidak bepergian, aku sedikit lupa." Beralasan sang penguasa pedang.


"Hmmm baiklah, kita turun dulu." Ucap Askar.


Kakek Loe Teu Yiu dan orang-orang lain pun turun, sedangkan Askar masih berada di ruang kendali untuk memastikan kondisi bahtera angkasa.


Dan menyerahkan keamanan kepada kakek Loe Teu Yiu, tentu Askar tidak khawatir jika terjadi sesuatu, karena sosok penguasa pedang jauh lebih kuat.


Biar pun bahtera angkasa masih sanggup melewati dua atau tiga lubang hitam lagi, tapi Askar jelas tidak ingin memaksakan satu-satunya aset yang dia miliki untuk melintas antar alam semesta ini.


Terlebih lagi, untuk jarak perjalanan antar alam semesta api mulia dan alam semesta awal penciptaan sangatlah jauh hingga memakan waktu berbulan-bulan lamanya.


Jika terjadi sebuah kerusakan terhadap bahtera angkasa, tentu ini akan menjadi masalah besar yang harus dihadapi Askar.


Dia memang mampu melintasi lubang hitam dengan tubuhnya sendiri, tapi bagiamana untuk Sina, Rea, Omen dan Asy, Askar tidak mungkin meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


"Askar...." Wanita berambut merah memanggilnya.


Askar berbalik dan menjawab..."Ada apa Asy."


Melihat bagaimana Asy berjalan penuh keanggunan yang datang mendekat, tentu perasaan senang jika sang Phoenix memberi perhatian khusus.


Hanya saja, ekspresi berubah ketika tatapan tidak sengaja mengarah ke seseorang yang berjalan tepat dibelakang Asy.


Seakan semua pemandangan indah dari wajah cantik wanita berambut merah panjang sedikit ikal itu ternodai oleh lelaki bersempak putih.


"Asy apa kau tidak bisa melakukan sesuatu kepada lelaki ku*nyuk satu ini." Ucap Askar yang tersenyum lemas sembari menujuk kepada Ke'su.


"Kenapa kau selalu menganggap ku sebagai perusak pemandangan Askar." Balas Ke'su yang terlihat kesal karena ucapan Askar.


"Bukan menganggap lagi, tapi kenyataannya memang begitu, lihat dirimu, kau hanya menggunakan ******, tentu akan membuat orang yang melihat merasa tidak nyaman." Berkata Askar dengan begitu adanya.


Askar tentu memikirkan Sina dan Rea, karena tiap kali melihat Ke'su, keduanya merasa aneh dan lebih memilih menghindar.


Jika bukan karena permintaan Asy untuk keinginan Ke'su yang keras kepala, Askar tentu tidak akan membawa dia ikut di dalam perjalanan.


"Ini menjadi gaya formalku, jadi aku tidak mungkin mengubah tampilan dan mengurangi ketampanan ku." Dengan penuh percaya diri Ke'su membalas perkataan Askar.


"Aku hanya menjaga Dewi Asy, jadi anggap saja aku sekedar ornamen karya seni, itu akan lebih mudah bukan ?."


"Jika itu aku lakukan, maka dunia kesenian akan hancur berantakan." Lemas Askar menanggapi Ke'su.


Asy sudah cukup terbiasa melihat pertengkaran antara Askar dan Ke'su, dia pun paham jika keduanya hanya sekedar saling beradu mulut, mengoceh dan menghina.


Tidak ada niatan untuk berkelahi secara langsung, walau pun emosi yang tertahan didalam pikiran ingin dilepaskan melalui sebuah pukulan.


"Ke'su kau boleh pergi, biarkan aku berbicara dengan Askar berdua saja." Ucap Asy memberikan perintah.


"Tapi Dewi jika aku tinggalkan anda dengan lelaki busuk ini, maka aku tidak bisa bersiap menghajarnya kalau dia berbuat macam-macam." Tegas jawaban Ke'su yang memang


"Tidak mungkin Askar berbuat macam-macam denganku, jadi kau tenang saja Ke'su."


"Baiklah jika itu yang anda inginkan, tapi panggil saja aku kalau perlu untuk memukul lelaki ini."

__ADS_1


Lekas Ke'su pergi dengan tatapan tajam dan tidak melepaskan pandangan hingga dibalik pintu, Askar memang paham akan tindakannya yang mengutamakan keselamatan tuannya.


Tapi sikap yang ditunjukan oleh Ke'su seperti dia sengaja untuk memanas-manasi Askar agar terlihat buruk dihadapan Asy.


"Ini sebabnya aku tidak ingin dia ikut." Gumam Askar dengan kesal.


"Paling tidak dia mau bertindak sebagai pengangkut barang." Asy tidak bisa membantahnya, tapi dia pun merasa kesal karena Ke'su terlalu berlebihan.


"Hanya itu yang bisa dia lakukan, jadi mau bagaimana lagi." Balas Askar dengan tersenyum lemas.


Lepas dari itu, tangan Askar cepat menarik lengan Asy untuk mendekat didalam perlukan, ini cukup mengejutkan, dimana Asy tidak pernah terpikir akan berada dalam posisi yang memalukan.


Jika sebelumnya dia berada dalam tubuh Sina tidak membuat dirinya malu, karena secara sadar Sina memiliki kecantikan yang menawan.


Sedangkan untuk tubuh nyata Asy sendiri, dia tidak merasa yakin kalau Askar akan tertarik akan dirinya yang nyata.


"Apa kau menjadi malu sekarang, bukankah beberapa kali kau yang menggodaku Asy." Ucap Askar dengan bisikan lembut di telinga.


Wajah Asy merah merona ketika satu sentuhan lembut tangan askar bersarang di paha dengan membelai perlahan menuju ke atas.


"Askar." Ucap Asy dengan lirih


"Hmmm ada apa Asy ?." Balas Askar yang menujukan tatapan tajam dan tetap melanjutkan perjalanan jari jemari menuju tempat pribadi milik Asy.


Tapi melihat tatapan mata Askar, Asy terdiam, dia menggigit bibir ketika sentuhan mulai menggerayangi bagian khusus yang membuat perasaannya campur aduk.


Sekuat tenaga Asy menahan nafas, dimana tubuhnya seakan disengat oleh aliran listrik yang menjalar hingga ke otak.


Lemas dirasakan oleh asy, walau itu dilakukan dengan lembut tapi semua membuat Asy tidak berdaya atas perlakukan Askar.


"Askar aku tidak kuat." Bidik Asy dengan lembut dan nafas tidak teratur.


"Bukankah ini sangat basah." Ucap Askar yang merasakan sensasi licin di bagian bawah.


"Jangan salahkan aku." Balas Asy.


Tanpa menunggu hingga nafas Asy teratur, tangan Askar mulai melucuti setiap kain yang melekat di tubuh gadis jelmaan Phoenix ini.

__ADS_1


Berbeda dengan Sina, dia memiliki bentuk yang jelas besar, bahkan berbanding terbalik dengan Sina yang hanya satu genggaman tangan.


"Dewi Asy, apa kau baik-baik saja." Ucap Ke'su dari balik pintu .


__ADS_2