
Alam semesta awal penciptaan, di atas permukaan lubang besar sarang Phoenix.
Lebih tepatnya tempat itu adalah sebuah lokasi reruntuhan yang terbentuk akibat sebuah bencana besar.
Sebelumnya planet utama di alam semesta awal penciptaan ini tidaklah datar seperti sekarang, tapi ketika terjadi peperangan antar alam semesta di masa lalu.
Atas kejadian itu pun, seluruh wilayah alam semesta awal penciptaan hancur berkeping-keping dan mengakibatkan sarang Phoenix runtuh, terkubur jauh di kedalaman puluhan ribu kilometer selama ratusan ribu tahun.
Untuk sebuah hal tidak penting....
sekilas bahtera angkasa melayang melewati planet utama awal penciptaan, dimana lambang yang tergambar jelas sebagai tanda dari alam semesta bulan terbelah.
Tentu kehadiran mereka bukan tanpa alasan, dimana jalur perjalanan yang mereka lalui memang melewati wilayah alam semesta awal penciptaan untuk bepergian ke wilayah lain.
Cukup berbeda dari bahtera angkasa lain, dimana jika di perbandingan soal ukuran atau bentuk, semua tampak biasa saja, tidak ada istimewa-istimewanya bahkan ketinggalan jaman.
Sebab alam semesta bulan terbelah tidak lebih sebagai wilayah yang menempati kasta menengah, diluar daftar sepuluh alam semesta atas.
Ini jelas membuktikan, bahwa kepemilikan status sebagai sepuluh alam semesta kasta tertinggi memang mempengaruhi keuangan.
Di dalam bahtera angkasa pun terdapat beberapa orang yang bertugas sebagai supir dan satu penumpang.
Berperawakan sebagai lelaki tua, renta namun memiliki wajah tegas, sosok lord alam semesta bulan terbelah, termasuk dalam golongan leluhur yang hidup cukup lama.
Dilihat oleh mata tajam sang lord ke luar jendela, pandangannya mengarah ke planet yang menjadi sisa wilayah utama alam semesta awal penciptaan.
"Setiap kali aku melewati tempat ini, aku masih ingat jelas kejadian besar dalam peperangan antar alam semesta samudera bintang dan alam semesta dunia gelap." Gumam lelaki tua itu dengan ingatan tajam ke masa lalu.
"Ya tuan Ah meng, setelah para dewa awal penciptaan tidak mau lagi melindungi kita, ada banyak penguasa alam semesta saling melancarkan serangan ke wilayah lain, aku sendiri cukup kagum jika alam semesta bulan terbelah masih bisa bertahan." Supir yang bertugas mengendalikan bahtera angkasa pun memberi tanggapan.
__ADS_1
"Memang benar kita bisa bertahan, dimana ada banyak wilayah alam semesta hancur karena dampak peperangan yang terjadi, tapi di satu sisi, itu karena kita berada di kekuasaan alam semesta samudera bintang." Balasnya kembali Ah meng yang tidak merasa senang atas kejadian ini.
Alam semesta bulan terbelah harus menyerah dan ikut dalam bagian alam semesta samudera bintang, bagi Ah meng ini sangat memalukan.
Tidak bisa dia pungkiri, dimana kedaulatan sebagai wilayah sendiri, menjadi korban jajahan Hydra sang penguasa bintang.
"Tuan yang aku tahu saat itu, para dewa awal penciptaan bertindak sebagai penjaga alam semesta, tapi kenapa mereka tidak bertindak menghentikan peperangan." Pertanyaan lain pun diajukan oleh bawahan Ah meng.
"Aku tidak menyalahkan tindakan dewa Davendra atau pun dewa Sunawa, karena para manusia pun tidak mau lagi mengikuti aturan, dan menjadikan para dewa sebagai musuh." Ah meng merasa tidak nyaman.
"Musuh ?, Bagiamana bisa tuan."
"Semua itu terjadi saat beberapa lord dari alam semesta atas bersekutu untuk menyerang Dewa Sunawa, tujuan mereka satu mendapatkan kekuatan para dewa." Ingatannya dengan jelas membuka kembali kejadian itu.
Dimana Hydra yang bertindak sebagai ketua 88 rasi bintang membawa para sekutu dari alam semesta lainnya, untuk menyerang alam semesta kerajaan suci.
Hanya saja ketika itu, dewa pemangsa, Asyura, mampu bertindak dan menghentikan perbuatan mereka, dimana lenyapnya Asyura, menjadi awal peperangan bagi banyak alam semesta.
"Tapi tuan yang cukup membingungkan adalah lenyapnya dewa Asyura dari jagat raya." Anggapan tentang sosok Asyura memang menjadi hal umum bagi mereka-mereka yang tidak tahu apa pun.
"Sampai saat ini aku pun penasaran, dewa Asyura tidak mungkin mati begitu saja, tapi keberadaannya juga tidak diketahui." Ah meng mengakui jika hilangnya dewa Asyura memiliki dampak besar.
"Apa tuan berpikir jika dewa Asyura masih hidup ?."
"Aku tidak yakin, tapi aku berharap dia sudah mati." Tersirat jelas raut wajah penuh emosi saat sang supir membahas tentang hidup dan mati Asyura.
"Bagiamana tuan bisa berpikir seperti itu." Cukup bingung sang supir atas jawaban yang dia dapat.
Dimana dia sendiri tahu kalau alam semesta bulan terbelah, menjadi salah satu pembela para dewa, walau pada akhirnya harus menyerah demi bertahan hidup dari peperangan.
__ADS_1
"Karena ketidakpedulian dewa Davendra dan juga dewa Sunawa, alam semesta bulan terbelah, harus menerima serangan dari alam semesta samudera bintang tanpa memberikan kita bantuan apa pun, jadi untuk apa aku mengharapkan Asyura tetap hidup." Ah meng pun menjelaskan alasannya.
Ini memang sebuah konspirasi yang harus di terima oleh semua alam semesta, karena perbuatan mereka sendiri jagat raya menjadi kacau, tapi di saat mereka kesusahan, barulah meminta pertolongan.
Hingga para dewa pun tidak ingin lagi memberikan bantuan, lambat laun, kepercayaan mereka kepada para dewa berakhir.
Kini apa yang mereka tahu adalah satu-satunya dewa yang tersisa hanya dewa Davendra, tapi mereka tidak lagi perduli, dan perubahan besar terjadi di jagat raya.
Menjadikan alam semesta yang bersanding didaftar kasta tertinggi sebagai tuan dan sisanya tidak lebih seperti para budak.
Lepas dari itu....
Tanpa di perhatian oleh Ah meng sebuah energi besar dengan elements api menyala dan membentuk tiang ke atas.
Karena kekuatan yang secara tiba-tiba muncul, membuat bahtera angkasa milik alam semesta bulan terbelah pun sedikit goyah.
Dia melihat secara langsung, terjadi sebuah pertarungan yang cukup besar di wilayah alam semesta awal penciptaan, dan itu membuat Ah meng penasaran.
Sebuah lokasi dimana cukup jarang ada orang yang berani memasuki wilayah itu, karena tahu ada banyak monster dengan kekuatan tinggi dan sangat berbahaya.
"Ling So, kita turun sebentar, aku ingin melihat orang bodoh mana yang berani memasuki wilayah alam semesta awal penciptaan." Perintah Ah meng tanpa berpikir tentang makna dari perkataannya.
"Bukankah jika kita turun, itu menandakan kita juga sebagai orang bodoh tuan." Balas sang supir dengan tersenyum lemas.
"Sepertinya itu memang benar, tapi biarlah."
"Sudah tahu bahaya, tapi masih tidak perduli, kini aku tahu kenapa para dewa tidak mau bertindak melindungi kita, karena kita sebenarnya tidak mau melindungi diri sendiri." Gumam Ling So yang hanya mengikuti keinginan dari tuannya.
Bahtera angkasa pun bergerak turun memasuki wilayah alam semesta awal penciptaan, dimana satu sosok yang cukup familiar di lihat oleh Ah meng.
__ADS_1
"Bukankah itu, pangeran Phoenix, untuk apa dia ada di tempat ini."