PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
pemberi masalah


__ADS_3

Karena memang jarak antara Pondok tempat tinggal Davendra dan lubang besar sarang Phoenix tidaklah jauh.


Kini Asy dan sina pun ikut dengan davendra untuk pulang, memang benar jaraknya tidak lebih dari lima belas menit perjalanan.


Di tambah lagi, keadaan Ke'su setelah melakukan pembakaran darah Phoenix menjadi tidak stabil, tidak ada yang bisa melindungi mereka.


Jika Asy dan Sina nekad menunggu Askar kembali di sana, tentu bahaya untuk diserang binatang iblis tidaklah terbantahkan.


Dengan kekuatan mereka berdua sekarang sebagai lord yang nyata, ini sama seperti membuang dua ekor anak kucing ke dalam sarang harimau.


Keduanya tidak bisa berbuat banyak, terbayang jika harus di kelilingi sekumpulan binatang iblis yang ingin memangsa mereka, sekedar melawan pun hampir mustahil.


Ke'su dalam kondisi tidak memukinkan untuk bertarung, ditempatkan di dalam sebuah bola penuh energi penyembuhan dari Davendra.


Walau sedikit hati dia tidak memerlukan bantuan untuk sembuh, tapi Asy sedikit khawatir, karena dia cukup sering membantu mereka dalam situasi berbahaya.


"Jadi tuan Davendra apa yang sebenarnya kau rencanakan kepada kami dengan semua hal tidak berguna ini." Bertanya Sina yang datang dari belakang.


"Jangan katakan apa yang aku lakukan tidak berguna. Kurang kerjaan, atau cuma gabut... Itu lebih baik." Santai saja Davendra membalas ucapan Sina.


"Apa bedanya." Sina merasa kesal sendiri.


"Jelas berbeda, tidak berguna tidak akan mendapatkan hasil, tapi kurang kerjaan, masih menghasilkan sesuatu." Berkata Davendra dengan mudah.


"Terserah kau saja."


Terlihat Sina tidak merasa puas atas penjelasan Davendra, dia sendiri tentu mengkhawatirkan Askar yang kini berada di dalam lubang tanpa tahu kondisinya sekarang.


"Bagaimana pun aku melakukan ini untuk menambah pengalaman Askar bertarung, walau Askar sekarang cukup kuat melawan orang-orang di tingkat lord alam saint, tapi alam semesta atas bukan tempat sembarangan." Ucap Davendra yang berjalan ke tempatnya duduk.


"Baiklah, aku mengerti, terus ?." Sina mengangguk paham, tapi dia meminta penjelasan lebih lanjut.


"Terus apa ?."


"Hanya itu ?."


"Apa yang kau harapkan nona Sina, aku tidak lebih hanya seorang tim hore, supporter, pemberi semangat... Agar Askar bisa melewati semua masalah nantinya." Berkata Davendra karena dia tidak tahu harus menjelaskan apa.

__ADS_1


"Dari pada pemberi semangat, tuan ini sebagai pemberi masalah." Lemas Sina memberi pendapat mengenai Davendra sendiri.


Tidak ada yang bisa Sina salahkan dimana perkataan dari Davendra memang ada benarnya.


Melihat bagaimana alam semesta kerajaan beladiri menyerang alam semesta kerajaan suci, ini sudah cukup membuktikan bahwa pertarungan tidak dalam keadaan yang bisa saling memaafkan.


Tanpa mampu Askar melawan, maka dia sendiri yang akan di habisi, cukup mudah untuk dikatakan, namun sulit jika harus dilakukan.


Dalam kondisi ini, statusnya sebagai lord dari alam semesta kerajaan bawah, tidaklah berguna dihadapan orang-orang yang memang berniat membunuhnya.


"Tapi bagiamana dengan sarang Phoenix, apa yang sebenarnya ada di dalam sana." Bertanya Sina untuk hal lain


"Sebuah ujian untuk menjadikan Askar lebih kuat lagi." Tapi jawaban dari davendra adalah tetap, yaitu mempersiapkan segalanya demi memperkuat Askar.


"Apa kau yakin jika Askar bisa melaluinya." Sina merasa khawatir sendiri dengan keadaan Askar.


"Tenang saja, aku yakin." Karena Davendra sudah ada di sini dan dia selamat dengan sehat... "Tapi ada satu tempat yang mungkin sangat sulit untuk dia hadapi, adalah taman bunga pembawa mimpi."


"Apa itu ?."


"Bukankah tinggal bakar saja bunga itu dan semua selesai, mudah kan." Sina menjawab seakan itu bukan masalah.


"Sayangnya itu tidak mungkin, karena salinan yang sudah terbentuk, sudah terpisah dari bunga pembawa mimpi, dan satu-satunya pilihan adalah membunuh salinannya itu." Jawab Davendra dan membuat Sina cukup terkejut.


"Jika memang begitu, Askar tidak bisa menang."


"Tidak, tidak, ada dua cara, yang pertama salinan itu akan hancur ketika membawanya keluar sarang, dan menggunakan kekuatan yang belum pernah Askar gunakan untuk bertarung." Semua sudah Davendra ketahui, karena dia sendiri pun pernah melakukannya.


Bunga pembawa mimpi adalah masalah utama dari segala bahaya di dalam sarang Phoenix, dimana skill yang pernah Askar gunakan tersalin sempurna sebagai lawannya sendiri.


Skill pemangsa, skill penciptaan, keajaiban hidup, hukum kegelapan, energi iblis, teknik dewa pemangsa, seni beladiri pernafasan, pedang dewa pemangsa kematian dan semua itu tersalin sempurna untuk Askar hadapi.


*******


Ledakan demi ledakan menghancurkan ladang bunga dengan kekuatan yang tidak biasa, dimana sosok peniru itu bertarung tanpa ragu.


Ribuan senjata berserakan di seluruh ladang bunga, api menyala dan membakar, Skill pemangsa gerbang ke enam raja penguasa dengan mudah di gunakan oleh lawan.

__ADS_1


Askar kesulitan untuk bertarung dengan sosok yang memiliki kekuatan sama, bahkan skill penciptaan ruang akselerasi penuh pun dia mampu ciptakan.


Melihat masa depan, dia pun memiliki, gaya bertarung yang di ajarkan oleh Loe Teu Yiu setiap hal dapat di gunakan secara sempurna tanpa kesulitan dalam melakukannya.


Terlebih lagi dia seakan tidak memiliki batas penggunaan skill pemangsa, karena sejak awal efek samping gerbang ke enam tidak berpengaruh terhadap tubuhnya.


tubuh Askar berguling jatuh dengan luka yang tidak sedikit, dimana segala macam teknik dipatahkan oleh wujudnya sendiri.


Askar seperti berdiri didepan cermin, karena satu sosok yang ada di hadapannya adalah dirinya sendiri bukan orang lain.


Benar-benar mirip, tidak ada yang kurang, bahkan bentuk wajah seperti orang yang kena musibah bertubi-tubi terlihat jelas.


"Apa benar jika kekuatanku sebesar ini." Ucap Askar yang merasa aneh sendiri melihat dirinya sendiri.


"Kekuatan ini masih sangat lemah." Balas Askar yang lain dengan menujukan sifat sombong.


"Hei seharunya kau bersyukur karena meniru diriku." Kesal Askar atas perkataan yang dirinya sendiri ucapkan.


"Bersyukur ?, Apa yang bisa di syukuri dengan tampang seperti kera ini." Sebuah penilaian yang cukup aneh, sedangkan atas dasar apa dia menilainya.


Walau Askar memang mengakui jika dia yang ada di hadapannya sangat lah mirip, bahkan tingkat kekuatan yang sama-sama seorang lord alam guru tahap menengah.


Hanya saja dilihat dari sifat, sangat bertolak belakang, bagaimana pun Askar menilai orang lain, dia tidak pernah menujukan sifat sombong secara langsung kepada siapa pun.


"Memang apa yang kau inginkan, mirip seperti Syahrul Khan atau Mahmud Efendi." Ucap Askar asli dengan kesal.


"Siapa Mahmud Efendi ?, apa dia artis ?." Balasnya dengan bingung.


"Dia pedagang es cendol di sebelah kecamatan." Asal saja Askar menjawab.


"Aku bahkan tidak kenal dengannya."


"Begitu juga denganku."


Dan Askar juga tidak mengenal siapa Mahmud Efendi, itu hanya sekedar nama yang dia karang sendiri.


Tapi dari nama Mahmud Efendi, Askar menyadari satu hal, dia tidak bisa meniru sesuatu yang baru.

__ADS_1


__ADS_2