PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
langkahi dulu mayatku


__ADS_3

Dimensi Noir, desa elf, hutan tertidur.


Askar kini kembali ke tempat dimana putri Si berada, cukup mengejutkan karena saat ini, istri keduanya itu sedang mengandung.


Memang masa kehamilan ras elf berbeda dari manusia, dibutuhkan waktu tiga tahun sampai melahirkan, jika di hitung dari terakhir Askar melakukan mantap-mantap dengan Si.


Perbandingan waktu antara dimensi mortal dan dimensi Noir, harusnya sebentar lagi dia akan melahirkan yang akan menjadi penerus kekuasaan desa elf hutan tertidur.


Sebenarnya kedatangan Askar untuk membawa Si bertemu keluarganya, karena sampai hari ini, Askar belum memperkenalkan sosok istri dari keturunan elf kepada Ibunya, termasuk juga else.


Dan oleh sebab itu, sebelum Askar pergi ke alam semesta atas, ini menjadi waktu yang tepat untuk semua wanita berkumpul dalam satu kesempatan.


Paling tidak untuk Sina, Rea dan Elica sudah mengenal Si, sedangkan Else belum, hanya Askar saja sudah bercerita tentang putri dari raja iblis Edurali v'kortes itu.


"Suami apa kau yakin dengan ini, aku tidak nyaman jika ibu tidak menyukaiku." Terlihat ragu Si dengan tujuan Askar.


"Tidak akan pernah ibu mengatakan hal itu, dan juga aku sudah bercerita tentangmu, Si." Tapi Askar mencoba untuk membuat Si merasa nyaman.


"Baiklah, aku percayakan kepadamu Suami." Dan Si pun berusaha memahami Askar.


Sejenak Askar menunggu, dan sebuah gerbang dimensi pun terbuka dimana sosok wanita dari ras iblis yang tentunya sebagai istri lain Askar menampakan diri.


Hubungan antara else dan Si, sudah cukup akrab, dimana antara kedua wilayah dan ras saling menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi untuk saling berbagi kebutuhan pangan serta pengolahan lahan.


"Baiklah, karena kau sudah datang, mari kita berangkat." Bersiap Askar.


"Tunggu, tunggu sebentar Askar, aku belum siap." Tahan else sebelum Askar membentuk gerbang dimensi menuju rumahnya.


"Memangnya ada yang salah ?." Bertanya Askar yang memperhatikan wajah Else penuh keraguan seperti halnya Si.


Askar tidak menyalahkan mereka, karena bagaimana pun hubungan antara ras dari dimensi Noir dan dimensi mortal masih belum cukup baik.


Biar pun Alves dari pasukan khusus pertahanan PBB sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan kerajaan iblis tanah Utara, tentu masih ada orang-orang yang belum menerima ras iblis.

__ADS_1


Itu yang menjadi ketakutan else, atau Si jika kenyataannya ibu dari suami mereka benar-benar membenci kehadiran makhluk dimensi Noir.


"Aku tidak yakin untuk hal ini." Ucap Else.


"Tenanglah, sayang, bair pun dunia akan membencimu aku siap melawan mereka semua." Jelas Askar akan melakukan hal itu.


Dan tidak ada keraguan di hati Askar untuk melindungi semua orang yang dia cintai, karena lebih baik hidup bersama orang-orang yang jelas akan selalu di sampingnya, dari pada mereka yang berpura-pura mendekati Askar untuk keuntungan pribadi.


Tapi jelas Askar tidak akan melakukan sesuatu tindakan tanpa pertimbangan, walau itu jarang terjadi, hanya kali ini dia sangat berhati-hati.


Gerbang dimensi yang sengaja Askar ciptakan menuju kediamannya di distrik margasari pun terbentuk. Askar dengan Else dan juga Si berjalan masuk, seketika mereka berada di dalam rumah.


Elica melihat Askar keluar dengan dua gadis cantik walau berbeda ras itu, tentu menujukan senyum karena lama dia tidak bertemu salah satu dari mereka.


"Lama tidak bertemu Elica." Ucap Si dengan sapaan akrab.


"Kakak Si, akhirnya kau datang juga ke rumah ini." Elica pun dengan santainya menyambut Si, terlebih dia mengetahui jika Si adalah istri pertama Askar.


"Ya aku pun sebenarnya ingin datang, tapi... Kau tahu, butuh keberanian menampakan diri di dunia mortal."


"Baiklah saudari Elica." Saut else dengan sopan.


Biar pun Else bukan tipe yang selalu bersikap lembut, tapi demi menjaga pandangan keluarga lain, dia berusaha keras untuk bersikap baik.


Elica merasa tertarik kepada Si, dimana perut buncit yang dia miliki adalah hasil usaha bermantap-mantap dengan Askar...."Si tidak aku sangka kau sudah mengandung, kapan anakmu akan lahir."


"Menurut pendeta, harusnya beberapa hari lagi." Jawab Si.


Tapi sekilas pandangan mata Elica menatap kepada Askar, terkejut bukan main, karena tidak ada angin atau hutan mata Elica menujukan arti bahwa dia sedang marah.


"Kenapa ?." Binggung Askar mengartikan itu.


"Kau itu suami seperti apa, istrimu sedang hamil dan kau mengajaknya bepergian." Ucap Elica dengan nada marah.

__ADS_1


"Tapi aku tidak merasa Si keberatan."


"Ya kau harusnya lebih peka, Askar." Sebuah alasan klise untuk wanita menyalahkan lelaki.


Tertawa Si melihat Askar yang tidak berani membalas perkataan Elica, dan segera angkat bicara.... "Tidak apa Elica, biar pun aku akan melahirkan, tubuh elf cukup kuat hanya untuk berjalan."


Tidak lama kemudian... Dua anak kecil dan seekor kucing belang Oren putih datang berlari, tentu mereka adalah Arya dan Aryana serta Omen yang ditugaskan sebagai penjaga.


Tapi jelas bagaimana merepotkannya kedua anak kembar Askar ini, Arya memang sangat aktif untuk berlarian ke sana kemari, sedangkan Aryana yang lebih banyak diam hanya mengikuti kakaknya.


"Tuan Omen lama tidak bertemu." Ucap Si ketika kucing belang oren itu menghampiri Askar.


"Ya cukup lama putri Si."


"Sepertinya kau kerepotan." Balas Si.


"Tidak juga, hanya... aku tidak mungkin menggunakan kekuatan untuk menjaga kedua bocah itu, jadi ini... Ya bisa dibilang memang membuatku kerepotan." Balas Omen dengan wajah lemas.


Else yang merasa gugup, karena kehadirannya untuk pertama kali dipertemukan dengan setiap istri Askar, kini berubah saat suasana dipenuhi keceriaan.


"Mama, kenapa sekarang banyak yang tinggal di rumah ini." Bertanya Aryana kepada Elica.


"Mereka semua adalah korban dari rayuan maut ayahmu."


"Rayuan ?, Apa itu rayuan." Tentu untuk anak usia 3 tahun masih tidak tahu apa yang Elica katakan.


Medengar Elica sedang membicarakan dirinya, cepat Askar mengambil alih... "Apa yang kau ajarkan kepada Aryana Elica."


"Aku hanya mengajarkan, untuk berhati-hati jika dekat dengan lelaki sepertimu." Berkata Elica yang jelas menyindir Askar.


"Bahkan jika ada lelaki yang mendekati Aryana, maka langkahi dulu mayatku." Tegas ucapan Askar dengan tatapan serius.


"Kau sekarang sudah mirip dengan ayahku Askar." Berkata Elica karena memang dulu Askar harus berjuang keras demi mendapatkan restu dari Zaelani.

__ADS_1


"Dan memang benar, aku merasa tidak ikhlas ketika ada yang ingin mengambil Aryana dariku." Ucap Askar sesuai dengan isi pikirannya.


"Sudahlah, sudahlah, masih banyak waktu sampai hari itu." Balas Elica yang tersenyum kepada Askar.


__ADS_2