PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
lupa di siram


__ADS_3

Ini jelas tidak diketahui oleh Davendra, di mana saat askar memasuki lubang sarang Phoenix sosok Ah Meng Sang Penguasa alam semesta Bulan Terbelah datang berkunjung.


Tapi bukan untuk suatu niat yang baik, sebab tidak ada seorang tamu berkunjung dan melakukan pertarungan, terlebih lagi sebuah kekuatan dipenuhi niat membunuh.


Melihat kehadiran davendra, Ke'su pun menghentikan pembakaran darah Phoenix yang dia lakukan untuk melawan Ah Meng.


Cukup sengit Ah Meng menatap Davendra, dimana dia masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang menimpa jagat raya dan semua itu bersangkutan kepada para dewa.


" Dewa davendra, sungguh aku tidak sangka, setelah ribuan tahun mengasingkan diri, kini anda datang kemari, walau itu hanya sekedar membela orang lain." Ucap Ah meng saat dirinya melihat Davendra yang datang mendekat.


Ah meng jelas menyindir Davendra yang cukup lama vakum dari jagat raya sebagai penjaga kedamaian, tapi kini dia hadir untuk membela orang lain.


Sedangkan di waktu peperangan antara kubu pembela dewa dengan orang-orang yang berniat menyingkirkan mereka Davendra atau pun Sunawa tidak mau ambil bagian.


Tentu kehadiran Davendra saat ini tidak membuat Ah meng senang, rasa kesal yang ditunjukan kepada para dewa, masih terlihat diwajahnya.


Karena lepasnya kewajiban para dewa untuk menjadi pelindung saat itu, ada banyak alam semesta dihancurkan, dan mencari keselamatan dengan tunduk di atas kekuasaan alam semesta lain.


Seperti halnya alam semesta bulan terbelah, dimana Ah Meng tidak lebih menjadi budak bagi alam semesta samudera bintang.


"Tidak ada alasan khusus, tapi kau salah mencari tempat untuk satu niat yang tidak tepat." Berkata Davendra dengan santai.


"Tidak ada yang salah dari tujuanku." Tapi Ah Meng tersenyum sendiri saat mendengar perkataan Davendra.


"Mencari masalah di wilayah kekuasaanku, itu sama seperti kau mencoba buang hajat di rumah orang dan lupa kau siram." Dari ungkapan Davendra, dia hanya tidak ingin Asy dan Sina terluka.


Untuk Ke'su, walau tidak mau mengakui, Davendra hanya menujukan sedikit terimakasih karena mau melindungi kedua wanitanya dari niat buruk Ah Meng.


"Seharusnya itu bukan masalah, mengingat tentang tanggung jawab yang kau abaikan Tuan Davendra, dan membuat kami harus menanggung penderitaan." Berkata Ah Meng sembari mengacungkan tongkat ke hadapan Davendra.


Sepintas kemudian, sebilah pedang besar muncul di tangan, hingga satu ayunan mengarah ke leher Ah Meng, walau pun seketika berhenti tepat sebelum menyentuh kulit.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak melanjutkannya, selesaikan ini, dan kami akan tahu bahwa tidak ada alasan untuk kami tetap menghormati anda." Berkata Ah meng yang tidak ragu sedikit pun.


Biar pun Davendra tahu, jika sikap yang di tujukan oleh Ah Meng tidak lagi memiliki rasa hormat kepada sosok Davendra sebagai seorang dewa.


Itu didasari oleh kejadian yang dia alami, saat tahu bahwa para dewa tidak lagi mau membantu mereka di dalam kesengsaraan.


Dan sejak peperangan dimulai, Davendra tentu memiliki alasan dibalik tindakan yang membuatnya tidak lagi ikut campur dalam urusan alam semesta atas.


"Bukan aku yang akan membalas perkataanmu inu, tapi nanti di masa depan kau akan menerima semua itu dari orang lain." Davendra menyatakan jelas, jika kejadian ini akan bersangkutan dengan masa depan.


Dan Askar adalah orang yang nantinya akan membayar perbuatan Ah Meng, dimana satu kejadian ini, memiliki hubungan untuk membawa Askar di alur takdirnya.


Tapi bagaimana pun juga Davendra masihlah sosok dewa, dimana kekuatannya berada di sebuah tingkat yang melampaui batas lord alam keabadian tertinggi.


"Sebelum aku berubah pikiran, dan menjadikan kalian sebagai makanan kucing, sebaiknya kalian pergi sekarang." Tegas Davendra mengancam.


Dengan satu gerakan tangan Davendra, Ah Meng dan ketiga orang pengawal itu, dipastikan akan tewas tanpa bisa tawar menawar, dan sebelum itu terjadi dia pun melangkah mundur.


Setelah semua selesai, walau tindakan Davendra hanya untuk mengusirnya pergi tanpa perlu memberi pelajaran, satu kejadian ini tidak pernah dia ingat.


"Apa kalian baik-baik saja." Bertanya Davendra kepada Asy dan Sina.


"Kami baik-baik saja, tapi harusnya ada orang lain yang harusnya anda khawatirkan tuan Davendra." Balas Asy yang melihat kepada Ke'su.


"Ah iya, bagaimana keadaan Askar, dibawah sana." Tapi Davendra salah terka, atau mungkin memang sengaja mengabaikan Ke'su.


"Entahlah, karena cukup lama dia turun dan belum kembali." Balas Asy yang lebih memilih mempertanyakan keadaan Askar.


"Ya memang itu membutuhkan waktu, hingga dia mencapai sarang Phoenix." Ucap Davendra seakan tahu apa yang di alami Askar di dalam sana.


Semua memang sudah terpikirkan oleh Davendra, karena sejak awal lokasi yang di tujukan olehnya sudah diatur sedemikian rupa, bahkan secara sengaja setiap tujuan pun dibuat-buat untuk menambah pengalaman Askar.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong bagaimana anda datang kemari dengan cepat." Bertanya Sina yang merasa aneh.


"Soal itu." Sedikit Davendra tertawa... "Sebenarnya lokasi sarang Phoenix, tidak terlalu jauh dari tempatku."


Jawab saja Davendra seakan tidak memiliki dosa, karena perjalanan menuju sarang Phoenix dipenuhi monster-monster tingkat tinggi.


"Kalau begitu kenapa anda mengarahkan kami ke tempat-tempat berbahaya." Asy tidak habis pikir dengan isi kepala Davendra.


"Bukankah itu menyenangkan, berjalan-jalan ria, dengan membunuh monster untuk mendapatkan kristal energi mereka." Mudah saja Davendra menjawab.


"Apa anda pikir kami sedang bertamasya, aku bahkan lupa, berapa kali kami hampir tewas saat melawan para monster penguasa wilayah ini." Sina merasa pusing sendiri karena cara yang digunakan oleh Davendra.


"Tapi pada akhirnya kalian sampai disini kan ?."


Lepas dari percakapan Davendra dan Asy, mereka melupakan keadaan Ke'su yang sudah sempoyongan karena konsekuensi membakar darah Phoenix.


"Anu maaf, apa tidak ada yang mengkhawatirkanku." Ucap Ke'su yang hampir semaput.


"Jadi kau masih disini." Sengaja Davendra menjawab dengan asal.


"Tuan ... Memang sejak awal aku berada disini." Dengan badan lemas Ke'su membalas perkataan Davendra.


Tiba-tiba saja Ke'su jatuh, dia semaput, dan hampir kehabisan energi, membakar darah Phoenix sama dengan memaksa dirinya mengalirkan energi di luar batas kemampuan tubuh.


Walau itu tidak sampai membahayakan nyawa, tapi bukan berarti Ke'su mampu menggunakan kekuatan ini berulang kali, jika terlalu berlebihan, maka darah Phoenix akan habis dan dia akan kehilangan semua kekuatan tanpa bisa terregenerasi kembali.


Lupakan tentang Ke'su....


Dimana kini Askar yang bersiap menebas tubuh ikan dengan pedang dewa pemangsa kematian, sebuah cahaya merah terang menjadi perhatian bagi Askar.


"Apa itu ?." Askar berjalan mendekat karena dia merasa aneh melihat hal yang jarang ada dalam tubuh ikan.

__ADS_1


"Ini hanya batu kaca, tidak berguna sama sekali."


__ADS_2