
Askar kembali turun dari dimensi Falsus dengan wajah murung dan tidak bisa digambarkan oleh segala sesuatu yang pernah dia alami, karena sekarang pilihan yang harus diambil Askar adalah kematian.
Ya jelas ini sangat membebani pikirannya, karena kematian sendiri bukan sesuatu hal yang mudah dan santai untuk dihadapi, dan Askar pula pernah mengalami kejadian itu.
Dimana saat dirinya hadir di dalam kegelapan yang pekat, tanpa ada satu suara terdengar, memangil siapa pun tidak ada jawaban, perlahan jiwa lenyap dan tidak sadar akan kehadirannya sendiri.
Itu menjadi ketakutan yang teramat pedih, sangat menyeramkan, dan begitu menyakitkan, Askar tidak pernah mau merasakan kejadian seperti itu lagi.
Tapi sekarang bukan waktunya untuk dia ragu, dia harus kembali ke masa lalu demi mempersiapkan diri seperti yang diharapkan oleh Davendra.
Entah apa yang akan Askar temui di masa lalu sana, sebuah tempat dimana itu menjadi peradaban para dewa awal penciptaan, termasuk segala kejadian sebelum dia pahami dalam sudut pandang orang lain.
Bahkan saat dirinya masih menjadi Asyura, kehidupan di masa lalu dewa pemangsa pun terasa samar dan tidak jelas untuk dia ingat kembali.
Semua yang dia alami itu sudah jutaan tahun silam, terlebih dirinya pula sudah berrenkarnasi menjadi sosok Askar, karena hal itu lah ingatan antara Askar dan Asyura seperti bertumpuk dan membuatnya terkadang bingung.
Memang benar jika Askar menggunakan kekuatan dewa waktu yusita untuk kembali, dia tidak akan melewatkan satu detik pun setelah dirinya pergi.
Hanya saja kehadirannya di masa lalu nanti adalah nyata, jika menang selama puluhan ribu tahun dia harus jalani, maka begitulah adanya Askar mengamati semua itu.
"Apa kau yakin untuk menerima keinginan tuan Davendra, Askar." Zilogia pun bertanya.
"Pak tua, apa ada alasan untuk aku menolak hal ini." Askar menjawab dengan senyum lemas, bahkan dari raut wajah itu sendiri sudah menunjukkan bahwa dirinya berada dalam posisi yang salah.
"Ya aku hanya berpikir jika kau akan menolaknya." Zilogia menebak-nebak apa yang Askar inginkan.
"Ini demi mencapai tujuan besar di masa depan nanti, jika sekarang aku tidak mau melakukan apa pun, apa mungkin aku bisa menyelamatkan diriku sendiri." Jawab Askar dengan lemas, meskipun itu sudah menjadi tujuan pasti.
Zilogia memang sadar bahwa Davendra tidak akan membebani sebuah tugas tanpa dia pastikan bahwa Askar akan berhasil atau gagal.
__ADS_1
Dimana Davendra sudah melakukannya, dan dia pula berhasil menapaki masa lalu untuk menemukan kesempatan mengubah takdir.
"Apa kau akan mampir ke tempatku terlebih dahulu." Bertanya Zilogia untuk membiarkan Askar sedikit beristirahat, karena dia sendiri paham kenapa Askar terlihat lemas.
"Itu tidak perlu, aku harus bertemu dengan elica, Silva, kawan-kawanku di akademi laut selatan, guild batarasanga, keluarga ku, anak-anak ku dan juga membawa Sina kembali dari alam semesta atas." Jawab Askar yang cukup banyak hal yang harus dia lakukan.
"Ternyata kau sudah memiliki banyak rencana untuk mempersiapkan diri." Zilogia berkata dengan menepuk pundak Askar.
"Ya tentu saja, meski pun aku hanya pergi satu hari di masa ini, tapi perjalananku di masa lalu sangatlah panjang, aku tidak memiliki waktu untuk menemanimu pak tua." Ucap Askar sembari memijat kening.
"Itu ada benarnya, jadi aku bisa memahaminya."
Askar yang keluar dari dimensi Falsus, segera beranjak ke kediaman klan Mataram kuno, karena sejak awal dimensi buatan dari zilogia tidaklah jauh dari lokasi tempat tinggal klan Mataram.
Terlebih lagi zona persepsi sudah menangkap kehadiran Elica sebelum dirinya memasuki dunia di balik batas, tentu Askar tidak akan membuang waktu sebelum dirinya dikirim ke masa lalu.
Hanya saja lingkaran prasasti sebagai pintu masuk ke dunia di balik batas atau dimensi Falsus tidak tertutup, semua itu masih bercokol di atas langit dan terlihat dari segala ujung cakrawala.
Elica sedikit merasa senang karena melihat Askar yang masih hidup setelah perjalanan panjang ke alam semesta atas.
Hanya saja, baru beberapa detik berselang, dia sudah pergi ke tempat lain yang terlihat berbahaya, dan tidak ada kesempatan untuk pulang demi sekedar menyapa kedua anaknya.
"Kalau memang dia adalah Askar, apa dia tidak mau datang kemari untuk menyapa mertuanya ini.... Dasar menantu tidak berguna." Ucap saja Zaelani dengan mengendus nafas kesal.
"Sudahlah ayah, aku yakin dia masih memiliki urusan lain yang tidak bisa di tinggalkan." Elica masih memahami prilaku Askar.
"Kau selalu membela lelaki itu, apa boleh buat." Zaelani seakan tidak berdaya jika elica berpihak kepada suaminya itu.
"Ya bagaimana pun juga, dia tidak pergi karena alasan berlibur atau pun mencari kesenangan sendiri, jadi kenapa aku harus marah, asalkan dia tidak mengingkari janjinya." Balas kembali Elica berusaha mendamaikan hati Zaelani.
__ADS_1
Zaelani sebenarnya sangat senang karena tahu jika Askar sudah kembali tentu sedikit menyembunyikan perasaannya agar tidak begitu saja memaafkan perbuatan Askar yang sudah pergi cukup lama.
Tapi dalam hitungan nafas, sosok lelaki yang sangat mereka kenal sudah muncul di halaman depan dengan tersenyum aneh sedikit terpaksa.
Bukan berarti Askar tidak bahagia melihat elica dan kedua anaknya, hanya saja memikirkan kembali perkataan Davendra itu jelas saja membuat Askar bingung.
"Askar kau kembali." Dengan senyum cerah elica segera berlari mendekat kepada askar.
"Ya karena aku ada di sini, aku jelas akan menemui mu elica." Jawab Askar memberi sedikit pelukan.
Satu anak gadis yang ada di pelukan elica tentu Askar sangat mengenalnya, dia Aryana, putri kecil yang kini berusia enam menuju tujuh tahun, dan sudah menunjukan kecantikan alami dari gen Elica.
Ada pun bocah kecil penuh semangat yang menyeret tangan Zaelani untuk mendekat, itu adalah Arya, putranya sendiri dan memang sangat mirip dengan Askar, terutama di bagian alis.
"Jadi dimana Sina dan Rea, apa mereka tidak kembali bersamamu Askar."
"Untuk Sina, aku tidak sempat membawanya pulang, karena aku kembali ke tempat ini saja dengan tidak sengaja, tapi aku akan membawanya segera." Jawab Askar yang memang begitu adanya.
"Lantas bagaimana dengan Rea."
"soal Rea, mungkin dalam empat belas tahun dia tidak bisa pulang." Terlihat jika Askar ragu-ragu untuk mengatakan tengang Rea.
"Kenapa ?, Apa ada yang terjadi." Elica tentu khawatir jika memang Rea mengalami masalah di sana.
"Sebenarnya bukan masalah, tapi ini adalah untuk menyelamatkan Rea." Askar menjelaskan.
"Jika memang begitu, apa boleh buat, tapi kau harus membicarakan tentang Rea kepada kedua orang tuanya." Balas Elica tanpa banyak bertanya.
"Akan aku lakukan itu nanti."
__ADS_1
Untuk sekarang Askar hanya ingin bertemu dengan semua keluarganya, karena perjalanan panjang menanti.