
Askar cukuplah gugup untuk sekarang, bagaimana tidak, dia harus hadir di acara pernikahan dari musuh yang akan dia bunuh, termasuk dirinya sendirilah mempelai pria itu.
Apa yang terjadi benar-benar membuat Askar hanya bisa pasrah mengikutinya, sekedar berpura-pura atau pun menyelamatkan diri dari ancaman Varjo de hores dan Tisumi.
Hadir bersama dengan Resya dalam satu ruangan, seorang wanita dengan gaun berlapis selendang sutra berwarna biru muda. Namun wajah mereka berdua menunjukan ekspresi seperti orang yang habis terkena musibah berat dan tidak tertanggungkan.
Padahal di hari ini semua orang berbahagia, termasuk untuk musuh Askar, Varjo de hores dia bisa tertawa-tawa, mengangkat gelas tinggi dan mengobrol senang dengan semua tamu-tamu penting di alam semesta kerajaan beladiri.
Meskipun hilangnya Silviana masih menyajikan kekecewaan yang besar, tapi dipastikan dia akan menemukan kembali Silviana, ketika menyerang alam semesta kerajaan suci.
Anggapan bahwa Silviana tidak akan membiarkan kampung halaman dan orang-orang alam semesta kerajaan suci disakiti lagi oleh Varjo, karena hal itu, dia pasti akan datang.
Tapi kini Askar lebih mementingkan Resya ketika menatap tajam kepada Askar penuh kekesalan, semua jelas akibat pernikahan yang dia tidak inginkan, hanya saja Askar pun tidak bisa melawan keputusan ini.
"Resya, harusnya kau tersenyum." Ucap Askar memberi nasihat.
"Apa kau pikir dengan pernikahan ini sekarang aku bisa tersenyum bahagia sedangkan masa depanku di pertaruhkan." Balas Resya dengan kesal meski ditahannya agar tidak ada yang tahu.
"Paling tidak dengan tersenyum, kau tidak akan membuat para merasa aneh." Askar pun merasa paham untuk perasaannya.
"Aku tahu itu." Wajah Resya berubah jelas karena lengkungan bibir yang dia hadirkan.
Meski pun Askar tahu jika senyuman yang dia lakukan dengan terpaksa, tapi wanita ini memang memiliki kecantikan sebagai seorang putri penguasa alam semesta, tentu banyak lelaki di luar sana akan sakit hati saat menyaksikan pernikahan mereka.
Tapi satu orang yang jelas sangat bahagia melihat Resya menikah adalah ibunya, Tisumi, dia datang bersama dengan wanita saudara kandung, atau adik dari Resya sendiri.
Senyum cerah yang tidak bisa dibohongi oleh apa pun, Tisumi berjalan perlahan penuh keanggunan, tanpa perduli semua masalah yang pernah dia alami di istana kerajaan beladiri.
Wanita inilah orang yang berdiri paling depan untuk membela anak-anaknya, mengorbankan semua waktu demi Resya dan Resra, karena hanya mereka berdua dia berjuang tanpa perduli tentang harga diri.
"Resya kau sangat cantik." Ucap tisumi sembari membelai rambut hitam Resya.
"Tentu saja, karena ibunya cantik anaknya pun juga cantik." Askar membalas perkataan Tisumi dengan memuji ibu dan putrinya sekaligus.
__ADS_1
Seketika itu Resra yang berdiri disamping tisumi pun angkat bicara untuk pujian Askar hingga mungkin membuatnya tidak nyaman.
"Jadi kau pikir jika ibunya jelek kau akan menganggap aku begitu." Tapi entah kenapa di balas pujian Askar itu dengan kemarahan dari Resra.
"Tentu tidak, semua wanita memang cantik, kecuali yang brewokan, berotot dan ada jakun di lehernya, karena seperti itu bukan wanita, aku tidak menganggapnya cantik." Askar jelas membalas kembali ucapan Resra yang masih menunjukan permusuhan.
Tisumi tidak merasa kesal akan kemarahan Resra kepada Askar, dia mengaggap bahwa adik Resya itu belum ikhlas atas pernikahan kakaknya, karena sejak awal hubungan kakak beradik antara Resya dan Resra sangatlah dekat.
Tapu sekarang dia harus melihat seorang lelaki akan membawa kakaknya sebagai istri dan akan lebih mementingkan kebutuhan Askar, sehingga tidak akan dia memiliki kesempatan banyak bersama dengan Resra.
"Sudahlah kalian berdua tidak perlu bertengkar, pernikahan akan dimulai jadi bersiaplah." Tisumi memberi peringatan dan segera pergi keluar.
Meski Resya tetap tersenyum, itu semua agar ibunya tidak kecewa, dan secara langsung menginjakkan kaki penuh kemarahan kepada Askar.
*******
Di ruang acara pernikahan.
Wirso berkumpul dengan saudara-saudara lelakinya di sebuah meja, di meja itu pula ada Jariko untuk membicarakan sesuatu kepada mereka bersepuluh.
"Jadi bagiamana Wirso, apa kau sudah membayar orang untuk merusak acara ini." Ucap saudara lelaki lain kepada wirso.
"Ya tentu, sudah aku pastikan jika dia akan datang dan mengalahkan Askar untuk merebut Resya." Wirso pun sudah melakukannya.
"Bagus sekali, aku ingin tahu bagaimana ekspresi pak tua itu saat pernikahan ini di gagalkan oleh seseorang." Jawab Jariko yang nyatanya ikut serta dalam kegiatan saudara-saudaranya.
Jelas sekali jika mereka semua berencana untuk menggagalkan pernikahan Resya dengan mengirim seseorang dan melawan Askar, bahkan berniat membunuh lelaki yang berani-beraninya menyentuh adik mereka.
Pintu ruangan terbuka saat sepasang pria dan wanita berjalan menapaki karpet merah yang di tunjukkan untuk membawa ke atas altar pernikahan.
Semua orang terkagum-kagum akan kecantikan Resya, hanya saja berbeda cerita untuk Askar, setiap pasang mata menunjukan kebencian, karena siapa pun tahu bahwa dia hanya orang asing yang merebut pujaan hati mereka.
"Sungguh aku tidak mengerti apa yang salah, kenapa aku tidak pernah mendapatkan wanita secantik Resya."
__ADS_1
"Harusnya kau sadar diri, apa kau tahu cermin, itu berguna untuk melihat apa kau pantas atau tidak untuk wanita cantik."
"Aku punya cermin, apa perlu aku pinjamkan."
"Tapi lihat lelaki itu, aku yakin dia tidak punya cermin."
"Kau benar, apa dia main dukun."
"Mungkin."
Setiap komentar tentu meragukan Askar perihal kepantasan lelaki itu untuk bersanding dengan wanita secantik Resya.
Tapi ketika Askar sudah berdiri di atas altar pernikahan bersama Resya dengan gaun pengantin biru muda yang benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah sosok cantik luar biasa.
Seorang pendeta yang diutus sebagai hakim pernikahan pun beranjak naik, sebelum memulainya pendeta berpakaian mewah itu bertanya.... "Apa ada diantara kalian semua keberatan dengan pernikahan ini."
Saat semua orang diam, tidak ada yang berani menjawab, tapi tiba-tiba saja pintu terbuka, seorang lelaki muda dengan jubah agung datang.
"Aku keberatan..." Teriak lelaki itu penuh semangat.
Dan tepat dari belakang segerombolan orang pun berjalan mendekat, mereka adalah orang-orang berkekuatan tinggi setingkat lord alam saint suci.
Wirso menyaksikan tampak kagum... "Aku tidak tahu jika dia memiliki banyak orang-orang kuat."
"Ini akan menarik."
"Aku yakin jika Askar akan dikalahkan dan Resya tidak jadi menikah."
Hanya saja ketika lelaki yang dibayar oleh Wirso untuk menggagalkan pernikahan Resya berjalan masuk bersama segerombolan orang yang datang.
"Kau menghalangi jalan." Salah satu orang menyingkirkan lelaki bayaran wirso.
Dan satu orang lain berjalan maju, menunjuk kepada Askar penuh wajah marah.
__ADS_1
"Askar aku adalah kepala keluarga tianmu meminta kembali apa yang sudah kau ambil." Tegasnya dengan tujuan lain.