
Malam ini, adalah waktu yang tepat untuk Askar memperkuat pondasi tubuhnya.
Setelah menerima keuntungan instan dari kolaborasi dirinya dengan Karlina, sebuah peningkatan membawa kekuatan Askar menuju lord alam setengah saint.
Ini menjadi awal pembaruan bagi seluruh tubuh Askar, dimana saat melewati batas sebagai lord alam monarch sirkuit energi yang dia miliki pun jauh lebih kokoh.
Aliran energi semakin deras, jika tidak di imbangi dengan pondasi yang kuat, kekuatan Askar akan berbalik menjadi ancaman bagi tubuhnya sendiri.
Dengan satu pedang lima kali lipat berat dari berat biasanya, satu ayunan seperti gemuruh badai menghantam ruang latihan, getaran kuat yang datang, seakan mampu meruntuhkan seluruh padepokan dalam satu kekuatan penuhnya.
Tiga orang murid yang belum keluar ruangan menyaksikan, seberapa mengerikan saat Askar melatih semua otot tubuh dengan pedang itu.
Bisa disetarakan untuk kekuatan fisik Askar sekarang, sama dengan guru besar Gorongo yang notabenenya adalah pengguna senjata berat seperti Askar.
Untuk pedang Askar yang kini mencapai berat 1.000 ton, dalam keadaan normal, tanpa membuka skill pemangsa, tidak dipungkiri jika tulang Askar akan patah dalam dua kali ayunan.
Tidak jauh berbeda dalam pembukaan gerbang ke tiga, dan semakin meningkat dua ayunan pedang di skill pemangsa gerbang empat ke atas.
Bisa dibayangkan bagaimana beratnya orang yang menerima serangan Askar, tentu lebih berat dari sekedar menerima perasaan bertepuk sebelah tangan.
Paling tidak dalam setengah malam dia melatih ototnya, peningkatan fisik terlihat jelas, dalam hal ini, Askar tidak akan ragu membuka gerbang ke enam untuk waktu yang lebih panjang.
Walau jelas Re tidak menganjurkan untuk Askar membuka gerbang ke tujuh, dan saat itu tiba, seroang lord alam awal keabadian bukan masalah besar lagi.
"Ini bagus, aku tidak merasakan energi ku berkurang secara signifikan, bahkan aku merasa, energiku jauh lebih kuat dari biasanya." Gumam Askar atas peningkatan yang dia dapat.
Menurunkan pedang ditangan, seluruh ruangan seakan mau runtuh, lantai area latihan sudah tidak berbentuk simetris lagi.
Saat Askar memusatkan konsentrasi untuk memasuki dunia imajinasi, satu pemandangan yang aneh terlihat. Ini cukup membuat terkejut, dimana tidak pernah dia ingat sudah menanam sebuah pohon di tengah dunia imajinasi.
"Re sejak kapan pohon ini tumbuh."
"Jawab : ini adalah salinan dari kekuatan Karlina tuan."
"Oh, tapi kenapa tumbuh di dunia imajinasi, bukankah Karlina bisa menggunakannya di luar tubuh."
__ADS_1
"Jawab : karekteristik tubuh tuan berbeda, setelah disalin, secara otomatis muncul di dalam dunia imajinasi."
Askar berjalan mendekat, dan menyaksikan pohon yang baru dia lihat ini sudah tumbuh besar tanpa diberikan pupuk.
"Tapi apa manfaat yang aku dapat dengan ini." Gumam Askar sendiri.
Nyatanya saat tangan menyentuh batang pohon, jawaban dari pertanyaan itu dia dapatkan, karena sejak awal kekuatan Karlina adalah menyerap energi luar dan memberikan kepada tubuh yang nyata.
Ini sama seperti milik Karlina, dimana pohon itu menyerap energi dunia imajinasi, dan terkumpul di setiap bagian.
Lebih seperti, Askar bisa menggunakan kemampuan dari milik Karlina sebagai energi cadangan. Jika dirinya kehabisan kekuatan, maka dengan bantuan Pohon ini, Askar bisa mendapatkan tambahan energi secara instan.
Dalam hal ini, dunia imajinasi memiliki ruangan berbeda dari tubuh Askar, kekuatan skill penciptaan dimensi, menjadikan seluruh wilayah dunia imajinasi sebagai tempat asal dengan energinya sendiri.
Karena itu, dunia imajinasi tidak berpengaruh terhadap energi tubuh Askar, dan siapa pun yang ada di dalamnya bisa menyerap sesuka hati.
Kini Askar memiliki kartu tersembunyi lain yang bisa dia gunakan dalam kondisi terdesak, tanpa perlu takut untuk menggunakan energinya secara penuh.
Sudah satu Minggu Askar berada di padepokan beladiri pedang semesta, dia memikirkan Rea yang dalam dua bulan lagi akan melahirkan.
Dan dalam satu setengah tahun, Askar akan membawa mereka semua kembali ke dunia asal. Untuk sekarang hanya itu yang Askar pikirkan, persoalan janji kepada Sam di alam semesta kerajaan bawah.
Dapat Askar lakukan nanti, sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk Askar sejenak beristirahat di rumah, dan menemani keluarganya.
Sebuah penebusan atas semua hal yang telah dia lewatkan selama ini, waktunya untuk melihat pertumbuhan Arya, Aryana dan juga Syfa, ya itu sangat di sesali oleh Askar.
Tapi dia tidak akan berkembang jika hanya berdiam diri di dunia asalnya, Askar mengumpulkan semua kekuatan demi satu hari yang telah di tentukan.
Karena titik akhir dari semua ini adalah lima belas tahun lagi. Saat sebuah bencana besar akan muncul, ramalan tentang kehancuran jagat raya tidak akan bisa dia cegah.
Saat Askar membuka mata, satu sosok wanita sudah berdiri memperhatikan dirinya, wajah ditekuk dan tatapan rumit seakan terlintas kebencian di dalamnya.
"Kau ternyata Resya." Sedikit Askar tidak berharap atas kedatangan wanita ini.
"Kenapa dengan caramu bicara itu, seakan aku bukan hal penting untuk kau temui." Balas Resya dengan tatapan lemas.
__ADS_1
"Jika sekarang kau hanya ingin mengoceh lebih baik pergi, aku sedang berlatih." Ucap Askar dengan nada serius.
Jelas Resya terkejut mendengar ucapan Askar, sebagai wanita yang tidak pernah di lewatkan oleh setiap lelaki, sikap Askar memang berbeda dari mereka semua.
"Sudah berbaik hati aku datang kemari untuk melihatmu, dan tidak bisa kah kau bersikap sopan." Resya balik marah kepada Askar.
"Untuk apa Resya ?, bukankah kau yang seharusnya bersikap sopan, karena posisimu sekarang adalah pelayanku."
"Aku benci ketika kau mengingatkan aku tentang hal itu."
Resta berjalan-jalan kecil memutari Askar yang masih duduk bersila, wajah berekspresi datar, sedikit bingung untuk mengatakan alasan dia repot-repot datang menemui lelaki ini.
Tapi permasalahan yang terjadi oleh ibunya sendiri, Tisumi, tidak bisa dibiarkan begitu saja, dimana masa depannya sendiri sedang dipertaruhkan.
"Askar apa yang kau katakan kepada ibuku."
"Mengatakan apa ?, Aku tidak mengatakan hal lain, hanya menjawab apa yang guru besar Tisumi tanyakan." Jawab Askar begitu saja.
"Tapi apa kau tahu, kini aku dalam masalah."
"Aku merasa senang mendengar kau mendapat masalah."
"Jangan asal bicara, kau tahu ibuku ingin aku menikah denganmu."
"Aku sangat menantikan itu." Santai saja Askar menjawab.
Tidak disangka Askar menanggapi persoalan menikah dengan mudah, sedangkan itu membuat Resya pusing sendiri.
Bagaimana tidak, Resya jelas menolak membayangkan masa depan nanti jika harus menjadi istri dari orang yang dia benci.
"Kau harus membuat ibuku berubah pikiran, aku tidak mau menikah denganmu." Tegasnya ucapan Resya.
"Aku tidak masalah, bahkan jika aku menikah denganmu itu akan mempermudah untuk aku menyiksamu setiap malam." Terlintas senyum penuh makna dari wajah Askar.
Askar dengan caranya sendiri mempermainkan Resya, walau Askar pun enggan menjadikan Varjo sebagai mertuanya, tapi melihat wanita ini pusing, membuat Askar senang.
__ADS_1
Karena hal itu, Askar berniat mengikuti segala ucapan Resya untuk tetap melihatnya semakin sengsara.