
Saat Le Wei terbangun dengan wajah pucat pasi dan nafas cepat memburu, seakan dalam tidurnya itu mengalami mimpi yang sangat buruk.
Tapi melihat di sekitar hanya terdapat pepohonan besar dan sebuah api unggun membuat lelaki itu bernafas lega, walau pun sisa-sisa tentang mimpi yang dia alami masih jelas diingat.
"Tuan Le Wei anda sudah sadar." Salah seorang pelayan wanita yang menjaga Le Wei selama tidak sadarkan diri berjalan mendekat.
"Apa yang terjadi, Wesa." Ucap Le Wei bingung.
"Lelaki bernama Askar itu, memukul Anda hingga pingsan, tuan." Jawabnya dengan penjelasan singkat untuk kejadian beberapa waktu terakhir.
Dan memang apa yang Le Wei ingat adalah sebuah wajah mengesalkan seorang lelaki, dia membawa Fei sui sue pergi.
Siapa sangka lelaki yang dia hadapi untuk mendapatkan Fei sui sue itu, cukuplah kuat bahkan sampai membuat dirinya pingsan.
Le Wei jelas sangat menginginkan Fei sui sue untuk menjadikan dirinya itu sebagai pasangan, ya kejadian masa lalu saat mereka saling terhubung dalam satu ranjang, tentu tidak bisa Le Wei lupakan.
Hanya Fei sui sue yang pernah memanjakan dia lebih dari semua pelayan, kenikmatan tidak terbayang saat itu membuatnya terus mencari Fei sui sue, tapi saat kembali bertemu, lelaki bernama Askar menghalanginya.
Jelas ini membuat Le Wei marah, tidak perduli apa, dia akan merebut kembali Fei sui sue bahkan jika itu dengan cara yang memaksa.
"Lantas kemana perginya Sesa, dan Winda." Bertanya Le Wei karena dua pelayan lain tidak terlihat.
"Sesa, sedang mencari informasi tentang lokasi pedang, sedangkan Winda mengejar Askar." Jawab Wesa.
"Harusnya Winda tidak perlu repot-repot mengejar Askar karena pastinya kita akan bertemu dengan mereka."
"Tapi tuan, Winda mengejar Askar karena dia membawa dua pedang yang sudah kita dapatkan."
"Apa !!?." Terkejut Le Wei.
Le Wei semakin kesal dibuatnya, kemarahan tentang Fei sui sue yang Askar rebut sudah menjadi alasan untuk Le Wei membalas dendam.
Dan kini dua pedang dari seleksi turnamen pun mereka bawa, jelas Le Wei tidak akan membiarkan Askar lepas begitu saja.
"Sesa, apa kau tahu seberapa kuat Askar itu." Bertanya Le Wei yang mencari informasi dari kekalahannya.
"Kemungkinan besar dia berada di tingkat lord alam saint suci tahap awal."
__ADS_1
"Jika memang begitu, kenapa aku bisa kalah dengan mudah."
"Aku yakin kalau lelaki itu, menggunakan cara licik."
"Apa memang benar ?." Ragu-ragu Le Wei untuk memaksakan isi pikiran Sesa.
Dia sendiri yang berada di tingkat lord alam saint suci tahap menengah, hampir tidak bisa di kalahkan oleh tingkat setara.
Tapi Askar jelas membuatnya pingsan hanya dengan satu pukulan, ini bukan masalah kecil yang bisa dibiarkan begitu saja.
Sosok Askar barulah dikenalnya di tempat ini, tidak ada informasi tentang sepak terjang Askar di alam semesta kerajaan beladiri.
Sangat sulit bagi Le Wei mengakui jika dirinya dikalahkan oleh anak kemarin sore yang namanya tidak disebutkan dalam nominasi peserta turnamen dengan persentase kemenangan tertinggi.
Lebih dari itu, harga diri sebagai calon yang di gadang-gadang pantas menggantikan sosok Varjo de hores, karena bakatnya adalah yang terbaik di alam semesta kerajaan beladiri tentu menjadi pukulan telak saat tahu bahwa ada orang lain yang jauh lebih kuat.
Lepas dari itu semua....
Winda yang sedang mengejar Askar mendapati dirinya harus berdiri diam dari atas dahan pohon besar sembari mengawasi target.
Sedangkan Askar dan ke tiga wanita yang bersama dengannya itu, tertawa-tawa untuk sekedar menceritakan setiap hal yang tidak berguna.
Tapi apa yang dia lihat setelah sekian lama menunggu, adalah sebuah adegan tidak terduga saat Askar dan dua wanita mulai bermesraan.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan di tengah hutan seperti ini." Gumam Winda merasa malu sendiri.
Satu persatu pakaian mereka tanggalkan, mendekat dalam pelukan yang sangat vulgar dan seronok.
Gerakan dua wanita mulai menggoda, Askar memanjakan mereka dalam satu tempat, di alam bebas dan tidak perduli jika ada monster lewat.
Hanya saja Winda merasa aneh ketika dia tidak melihat satu wanita itu tidak ikut serta dalam kegiatan bersama Askar, Fei sui sue, berbaring membelakangi, walau jelas dirasakan bahwa Fei sui sue tidaklah tidur.
Hanya diam, dan tidak ingin menganggu, walau winda tahu ada gerakan-gerakan kecil dengan pelan dibalik selimut, karena dia sendiri pun merasa tidak nyaman saat harus menyaksikan adegan penuh hasrat.
Dari tempat Askar....
Askar yang masih sibuk untuk urusannya, tahu jika ada satu orang sedang mengawasi dia dari kejauhan.
__ADS_1
Tidak perduli, dan memang bukan urusannya, Askar hanya ingin melampiaskan kekesalan karena Le Wei merendahkan dirinya soal kemampuan.
"Askar jangan terlalu kuat, aku tidak ingin menganggu Saudari Fei." Ucap Karlina yang masih berusaha keras menahan suara.
"Padahal dia itu tidaklah tidur." Balas Askar.
"Kalau begitu, kenapa kau masih melakukan hal ini."
"Apa salahnya, dia yang ikut dengan kita, jadi resiko di tanggung penumpang." Santai saja Askar menjawab.
Meski begitu, Karlina jelas risih jika ada orang lain yang memperhatikan dirinya sedang melakukan keadaan memalukan seperti ini.
"Bagaimana jika saudari Fei melihatku." Karlina binggung namun Askar tidak melepaskan dia dari perlukan.
"Kenapa kau malu begitu, sedangkan Su yiu tidak memperdulikannya." Balas Askar yang melihat Su yiu.
"Kalau su yiu, aku sendiri bertanya-tanya kenapa dia menerima apa pun yang kau inginkan." Aneh Karlina untuk wanita itu.
Fei sui sue tidak tahu harus apa, posisi yang jelas-jelas membuatnya kebingungan, dimana mendengar suara Karlina dan Su yiu tentu setiap bayangan tergambar dalam pikirannya.
Memang sulit untuk mengubah persepsi seseorang mengenai kenyataan, bahwa dia tidak lagi diharapkan oleh seseorang, dengan telinga kepalanya sendiri, mendengar desahan merdu yang tidak bisa di tahan.
Terbayang-bayang tentang kejadian malam itu bersama Askar, memang benar soal ketampanan lelaki itu hanya sekedar rata-rata standar lelaki tampan biasa saja.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa di lupakan oleh Fei sui sue, bagaimana dirinya menikmati sebuah sensasi lain dari sosok lelaki bernama Askar.
Mental tertekan oleh hasrat yang menggebu-gebu, tapi Askar menolak dirinya untuk sebuah alasan karena tahu dimanfaatkan.
Malam yang semakin larut membawa aroma menyengat antara lelaki dan perempuan, tapi suara Karlina atau pun Su yiu tidak lagi terdengar.
Sedangkan Fei sui sue tetap diam untuk sekedar bermain-main dengan jari jemarinya sendiri.
Tapi siapa sangka, Fei sui sue yang masih terjaga itu, mendapati bahwa Askar kini sudah duduk disebelahnya.
"Apa kau tahu, aku menang bukan lelaki baik-baik tapi, aku tidak pernah mau di manfaatkan oleh siapa pun." Ucap Askar begitu saja.
Kini dia mengambil posisi untuk kembali ke tempat Su Yiu dan Karlina tertidur, hanya saja tangan Fei sui sue cepat menghentikan langkah Askar.
__ADS_1