PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
pembakaran darah


__ADS_3

Biarpun kekuatan Ah meng cukup tinggi, bahkan melampai Ke'su satu tahap, tapi bukan berarti alam semesta yang dikuasainya mampu mencapai sepuluh kasta tertinggi.


Semua itu karena alam semesta Samudra Bintang yang telah menguasai alam semesta bulan terbelah, di mana kedudukan Ah meng harus mengikuti segala keinginan 88 rasi bintang.


Ini menunjukkan betapa buruknya sebuah penjajahan, yang pada akhirnya, mereka harus terikat tanpa bisa melawan dengan hak-hak seperti layaknya budak.


Tidak ada kebebasan bagi siapa pun yang tunduk di kekuasaan orang lain, bahkan jika untuk memenangkan turnamen kasta tertinggi jagat raya, seperti itulah yang harus alam semesta bulan terbelah terima.


"Pak tua, anda datang kemari hanya untuk melihat, dan sekarang kau sudah melakukannya, bisa kau pergi saja." Ucap Ke'su dengan kesombongan yang masih dia miliki sebagai pangeran Phoenix.


Ke'su cukup tahu jika kekuasaan Ah meng hanya sebagai kasta tengah, bagi seorang pangeran klan Phoenix dari alam semesta api mulia yang notabenenya adalah peringkat lima kasta tertinggi, tentu Ke'su masih bisa bersikap sombong.


"Tuan Ke'su, Apa salahnya aku datang kemari biar pun lebih dari sekedar melihat-lihat, karena di tempat ini bukanlah wilayah kekuasaan mu." Memang benar apa yang dikatakan oleh Ah meng.


"Biarpun begitu kau telah mengganggu urusanku."


"Urusan apa ?, Sejak awal aku melihat, kau hanya bertarung untuk melindungi kedua wanita ini, jadi aku tidaklah mengganggu."


"Siapa yang kau sebut 'wanita ini' dihadapan Dewi Phoenix siapa pun tidak boleh merendahkannya." Ucap Ke'su yang tidak menyukai cara Ah meng menjawab.


"Dewi Phoenix ?, bukankah jiwa Phoenix ?." Jelas Ah Meng menyadari Ke'su tidak asal bicara, dimana dia memang menujukan hormat kepada seorang wanita berambut merah itu.


Ke'su secara tidak sadar memberitahu kepada Ah Meng atas sosok Phoenix yang dikabarkan lenyap dari jagat raya.


Tentu atas kejadian itu, seluruh alam semesta cukup menyayangkan jika para Phoenix harus binasa, sedangkan mereka sangat tahu seberapa berharganya orang-orang yang memiliki kekuatan Phoenix.


Tersirat sebuah niat lain di mata Ah Meng, dimana ketertarikan kepada sosok Asy terlihat jelas, dan dia pun tahu, bahwa ada banyak yang bisa dia dapatkan jika memberikan Dewi Phoenix kepada penguasa alam semesta samudera bintang.


"Pak tua apa yang sedang kau pikirkan." Bertanya Ke'su saat melihat ekspresi wajah Ah Meng yang tidak sedap dipandang.


"Pangeran Phoenix, apa kau tahu ?, Jika tuan Hydra dari alam semesta samudera bintang cukuplah dermawan bagi orang-orang yang berguna."

__ADS_1


"Terus apa peduliku dengan Hydra." Balas Ke'su tanpa harus mendengar ocehan Ah Meng.


"Tentu aku ingin memberi sedikit hal, dan itu menjadi keuntungan untuk aku dapatkan."


"Urungkan saja niatmu pak tua, jika kau menjadikanku sebagai musuh, aku tidak akan berbaik hati lagi." Tegas perkatakan Ke'su yang mengancam Ah Meng.


Tapi seakan perkataan ke'su tidak berarti apapun di hadapan Ah Meng, dari segi kekuatan Ah Meng masih berada satu tingkat diatas Ke'su, begitu pula tentang pengalaman.


Jika bukan karena ketundukan alam semesta bulan terbelah kepada samudera bintang, bisa dipastikan bahwa dirinya memasuki daftar sepuluh kasta tertinggi.


Ini dibuktikan saat Ah Meng tidak takut dengan ancaman sang pangeran Phoenix, dan menujukan niat lebih jauh kepada Asy.


Ke'su tidak bisa menahan diri, dia sangat menjunjung tinggi harga diri sebagai sosok Phoenix, ditambah lagi, Asy selaku junjungannya menjadi incaran kakek tua.


Sepintas tombak di tangan Ke'su pun bergerak lurus kepada Ah Meng, tapi dua orang yang berdiri tepat di belakangnya, seakan mengerti untuk apa mereka ada.


Kobaran api yang membakar tombak, diterima langsung oleh dua sosok penjaga dengan tangan mereka, seakan tidak menjadi masalah besar.


Sampai beberapa nafas, pertahanan yang menangkis tombak Ke'su tidaklah goyah, ini menujukan status alam semesta bulan terbelah sebagai kasta tengah hanya sekedar bualan.


Memang Ke'su baru mengeluarkan separuh kekuatannya, tapi bukan berarti serangan Ke'su lemah, melainkan pertahanan gabungan dua orang itu sangat sulit ditembus.


"Kau terlalu meremehkan kami pangeran Phoenix, harusnya kau sadar, sebuah kedudukan kasta, tidak menujukan kemampuan seseorang yang sejati." Ucap Ah Meng penuh percaya diri.


Satu ketukan tongkat yang dia hentakkan ke tanah, memberikan satu serangan tanpa bisa Ke'su ketahui, dimana seketika tubuhnya terhempas jauh hingga berguling beberapa kali.


Ke'su bangkit tanpa luka, karena dia masih lah seorang lord alam awal keabadian, pertahanan tubuhnya tidak mungkin kalah dengan satu serangan.


Bergerak untuk satu serangan lain, kini wujud burung api terbentuk, terbang ke atas dan menukik dalam kecepatan tinggi.


Ledakan besar yang menghanguskan hutan hingga tiga kilometer persegi, tentu membuat Ke'su bangga akan kekuatan miliknya, dimana seorang lord alam saint suci akan menerima luka parah jika menerima serangan itu.

__ADS_1


Tapi sepintas, sosok Ah Meng dan tiga orang bawahannya masih berdiri tegak, dan tidak menunjukan luka sedikit pun, saat satu tongkat terangkat membentuk lapisan pelindung.


Tatapan Ke'su tajam mengarah kepada mereka, segala hal yang terjadi sekarang membuat dia menyadari sesuatu.


"Aku baru ingat sekarang, di turnamen kasta tertinggi tiga ratus tahun lalu, satu orang menyatakan menyerah saat berhadapan dengan alam semesta samudera bintang, dan itu kau." Ucap Ke'su selagi membersihkan kotoran dipundaknya.


"Bukan... itu muridku, karena usiaku tidak lagi masuk dalam kategori peserta, tapi kau benar, jika saja saat itu muridku tidak berhadapan dengan alam semesta samudera bintang, bisa dipastikan kedudukan sepuluh kasta tertinggi bisa kami miliki." Balas Ah Meng untuk perkataan Ke'su.


Ke'su menyadari, jika kemampuan orang tua satu ini dan tiga pengawalnya, terlalu tangguh untuk menjadi kasta tengah.


Bahkan dibandingkan dengan alam semesta kerajaan bawah, mereka berhasil mendapatkan status kasta tertinggi, karena satu alam semesta mengundurkan diri.


"Jika memang sejak awal aku meremehkan kalian, maka kali ini aku akan menunjukkan kekuatan Phoenix yang sejati." Secara tegas Ke'su mengumandangkan tekadnya.


Pembakaran darah Phoenix.


Ke'su memang merasakan jika dia bertarung dengan kekuatan setengah-setengah, maka tidak mungkin dia berhasil mengalahkan Ah Meng.


Karena itu dia tidak ragu membakar inti darah Phoenix dan memberi kekuatan tambahan yang menjadikan dirinya jauh melebihi batas.


Kobaran api menyala di sekujur tubuh Ke'su, warna merah darah seakan menjilat langit dengan panas mengerikan.


Sepintas Ah Meng tersenyum, dia mengakui bahwa sosok terkuat di alam semesta api mulia, pangeran Phoenix, bukan bualan semata.


"Sepertinya memang tidak mudah untuk bisa melawanmu." Tongkat kayu yang Ah meng pegang terangkat tinggi.


Dimana satu ayunan akan dia lakukan dan itu memberi serangan telak yang jelas di arahkan kepada Ke'su.


"Penguasa alam semesta bulan terbelah, singkirkan niatmu itu." Sebuah suara datang sebelum Ah Meng melakukan serangan.


Dimana saat itu juga, satu sosok lelaki berjubah hitam datang dan menghentikan Ah Meng yang sudah siap menggunakan kekuatan penuh, dan mungkin membunuh Ke'su.

__ADS_1


"Dewa Davendra." Ucapnya sebuah nama yang jelas bukan sembarangan.


__ADS_2