PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
berondong


__ADS_3

Padepokan beladiri pedang semesta.


Telah berkumpul ketiga guru besar dan semua guru pengajar yang sengaja dipertemukan untuk rapat pembahasan turnamen kerajaan beladiri.


Dimana para peserta yang nantinya akan secara langsung dipilih satu persatu oleh para guru, sedangkan batas setiap padepokan mengirimkan murid mereka hanya untuk lima orang saja.


Bagi setiap padepokan di alam semesta kerajaan beladiri, turnamen ini adalah satu kesempatan yang mungkin menentukan masa depan padepokan.


Satu ultimatum kepada semua guru besar adalah, bagi setiap padepokan yang tidak layak dalam memberi pelatihan kepada murid akan dicabut izin pendirian, dan menyingkirkan dari daftar.


Tentu tidak ada yang bisa melawan keputusan Varjo de hores, biar pun penghasilan kerajaan atas uang pajak dari setiap padepokan sangatlah besar, tapi dia tidak ragu dalam perkataannya.


Ini menjadi mimpi buruk untuk padepokan yang hanya memiliki murid-murid lemah atau hanya sebatas standar jenius kelas teri.


"Guru besar Gorongo, ini adalah peringatan untuk kita, jika kita tidak mau mengikuti keinginan tuan Varjo, bagiamana nasib kami para guru." Itu yang di ucapkan salah satu guru pengajar, sebagai wakil atas suara semua orang.


"Tenang semua, aku sudah memikirkan hal ini." Balas Gorongo yang memang bertanggung jawab atas padepokan.


"Guru besar, kami tahu jika anda tidak pernah suka atas tindakan tuan varjo, tapi jika anda masih keras kepada untuk menjaga harga diri, kita bisa jadi pengangguran." Berkata guru lain yang ikut ambil bagian dalam rapat kali ini.


Hubungan antara Varjo de hores dan Gorongo yang tidak akur memang sudah diketahui secara umum, bahkan bukan hal aneh saat mereka mendengar setiap ocehan dari Gorongo yang menyindir tindakan varjo.


Tapi kondisi sekarang jauh berbeda dan status izin padepokan menjadi taruhan yang sangat berharga, tanpa itu, mereka tidak akan diakui oleh kerajaan beladiri dan kehilangan tempat.


"Tuan Gorongo, aku harap anda tidak melampiaskan masalah pribadi dan membuat padepokan rugi." Guru besar wanita bercadar yang duduk di sebelah kiri dari Gorongo pun memikirkan nasib padepokan.


"Nona Tisumi, aku tahu, dan kali ini aku akan mengikuti turnamen, tapi untuk peserta, secara pribadi aku ingin mengajukan nama muridku." Tapi jelas Gorongo memiliki rencana tersendiri mengajukan nama mereka berdua.


Memang tidak ada yang berani menentang keputusan Gorongo, karena dia adalah guru besar dengan kewenangan mutlak atas segala macam kondisi padepokan.


"Siapa yang kau maksudkan tuan Gorongo." Guru besar Tisumi pun bertanya.

__ADS_1


"Askar dan Su yiu." Dua nama disebutkan.


"Apa anda yakin atas pilihan itu ?, kedua murid baru yang tidak tahu seberapa ganas pertarungan di alam semesta kerajaan beladiri, kemungkinan hanya berakhir dipecundangi." Guru besar lain yang duduk di sebelah kanan pun angkat bicara.


Dia adalah tuan Wajoi, lelaki dengan penutup mata dan sebuah tongkat kayu melengkung sebagai senjata.


Jika dibandingkan dengan usia, guru besar yang hampir menyamai Gorongo, termasuk juga tingkat kekuatan.


"Tidak Wajoi, aku sudah menguji Askar, tapi untuk Su yiu, ya dia barulah lord alam kaisar tahap akhir, mungkin sedikit sulit." Gorongo menyakini kemampuan Askar.


"Baiklah jika anda memang memutuskan hal ini." Berkata Wajoi tanpa banyak pertimbangan.


"Dan juga, aku sengaja mengajukan nama Askar, karena ini adalah keinginan dari Tuan Loe Teu Yiu."


Saat nama sang penguasa pedang disebutkan, kepala semua guru terangkat, mereka sadar sosok penting yang memiliki pengaruh besar di seluruh jagat raya.


Biar pun sudah puluhan ribu tahun Loe Teu Yiu memutuskan untuk pergi, tapi rasa hormat kepada dirinya tidaklah hilang.


"Dia adalah murid sang penguasa pedang." Dengan pasti Gorongo menjawab.


"Kalau begitu, tidak bisa kita meragukan keputusan beliau." Wajoi menujukan senyum lepas, dimana guru besar satu ini sangat mengagumi sosok loe teu yiu.


Tanpa banyak komentar, keputusan Gorongo untuk mengajukan Askar dan Su yiu sudah terima oleh semua guru, tidak ada penolakan dan keraguan lagi.


"Dan sekarang tiga nama lain yang akan kita bawa siapa ?." Satu perwakilan guru pengajar bertanya kembali.


"Karlina Yuesa, Fei Sui sue, Resya de hores, bagaimana dengan mereka." Tisumi menyebutkan tiga nama murid terbaik.


"Harusnya memang itu adalah pilihan terbaik, tapi Resyua...." Gorongo merasa tidak nyaman kepada satu putri dari Varjo de hores.


"Kenapa dengan Resya, apa anda tidak masih mempermasalahkan hubungannya dengan tuan Varjo." Tisumi pun bertanya.

__ADS_1


"Tidak juga, tapi tidak menyenangkan saat kita mengajukan nama putri dari penyelenggara turnamen, untuk bertarung demi orang lain, sedangkan dia pun sebagai putri anda nona Tisumi." Gorongo merasa risih atas status Resya.


"Apa salahnya, dia murid padepokan ini, dia dibutuhkan untuk sebagai bentuk kewajiban murid membawa nama padepokan beladiri pedang semesta." Tisumi pun mempertanyakan isi pikiran Gorongo.


"Itu memang benar, .... Baiklah." Keputusan sudah dibuat.


*******


Setelah rapat para guru selesai, Gorongo dan dua guru besar lain berjalan keluar, saat mereka tahu jika sebuah hal yang cukup menghebohkan terjadi.


Askar, su yiu, Karlina dan Resya sedang bertanding untuk berjalan di menara puncak semesta demi taruhan yang membuat siapa pun penasaran.


Dan ketika mereka bertiga menyaksikan di lokasi, ada banyak orang berkumpul menatap keatas dimana Askar serta lainnya kini berada di langkah delapan ratus.


Ini sudah cukup menujukan bawa kehadiran mereka berempat adalah para sosok jenius yang melampaui batas.


"Tuan Gorongo, mari kita bertaruh separuh gaji kita, siapa diantara mereka yang lebih banyak mengambil langkah diatas menara." Ucap Tisumi yang tertarik.


"Hmmm aku mungkin lebih memilih Karlina, bagaimana denganmu Tisumi, apa kau merasa pitrimu Resya bisa menang." Gorongo memiliki satu kepastian kepada nama pilihannya.


"Aku merasa jika Askar memiliki potensi bakat jauh lebih tinggi, dan dialah yang akan memenangkan pertandingan ini." Tisumi menjawab berbeda dari pendapat Gorongo.


"Oh siapa sangka dari pada memilih putrimu sendiri, kau malah tertarik dengan askar, apa itu artinya kau menyukai berondong." Berkata Wajoi atas ketertarikan dari jawaban Tisumi.


"Tidak juga, tapi aku merasa dia adalah sebuah potensi yang menjanjikan." Jawab Tisumi dengan santai.


Gorongo tidak serta merta menjunjung Askar sedemikian tinggi biar pun dia adalah murid dari Loe Teu Yiu.


Jika dibandingkan dengan Karlina atau pun Resya, mereka berdua sudah cukup lama disini, dan berulang kali menapaki menara puncak semesta, kerja keras dan tekad, membawa keduanya hingga mencapai langkah ke sembilan ratus ke atas.


Sedangkan untuk Askar, dia baru kemarin datang dan ingin membuktikan diri tanpa tahu apa yang mereka temui di seratus langkah terakhir.

__ADS_1


__ADS_2