PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
semakin tidak waras


__ADS_3

Langit terus menerus bergejolak akan kilat-kilat yang menyambar di sekitar tempat akademi laut selatan.


Semua murid mulai menyingkir dan masuk keruang bawah permukaan untuk menyelamatkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh ujian langit.


Dari semua orang tentu tidak ada yang bisa memahami akan kekuatan ujian langit, ini adalah hukum alam dimana semua yang mencapai tingkatan lord akan di seleksi, tentang seberapa pantas mereka dengan bakatnya.


Para grandmaster yang tentunya merasakan sensasi kuat dari sekumpulan energi alam diatas langit akademi beranjak keluar istana.


"Apa yang terjadi dengan pusaran awan itu."


"Sepertinya akan ada bencana bagi akademi kita."


"Kalau begitu kita harus membuat lapisan pelindung."


Saat lima grandmaster akan bersiap dalam posisi pembentukan skill gabungan untuk melindungi akademi.


Satu sosok diatas istana utama berteriak..."Grandmaster berlindunglah, biar aku yang akan mengatasinya."


Teriakan dari Askar terdengar jelas di telinga mereka, secara sadar kemampuan Askar jauh lebih baik dan tidak ada keraguan untuk menyerahkan semua ini kepada Askar.


"Baiklah." Ucap grandmaster Jilu.


"Aku merasa malu sendiri dengan jabatan sebagai grandmaster, menyerahkan semua kepada seorang yang lebih muda." Balas Wajo dengan senyuman kecut dan ekspresi lemas.


"Ya aku tahu perasaanmu Wajo, tapi jika kau membandingkan diri dengan Askar, itu hanya akan membuatmu bingung sendiri." Grandmaster Laila pun tidak membantah perkataan Wajo.


Dari atas istana utama, Kilauan cahaya kuning keemasan yang memancar terang mulai menyebar membentuk kubah untuk menutupi seluruh akademi dengan empat malaikat penjaga di sekelilingnya.


Pelindung keajaiban hidup, lapisan pertahanan yang sangat kuat karena ini memang menjadi kekuatan dari salah satu dewa awal penciptaan, tentu tidak bisa dianggap remeh.


Mata semua grandmaster terbuka lebar, ketika melihat kubah emas dari dalamnya, memang tidak sampai membuat terkejut, tapi ini cukup bagi semua orang terpana.


Ujian langit dimulai, ketika sambaran pertama datang dan menghantam lapisan kubah emas dengan gemuruh kuat yang menggelegar.

__ADS_1


Seluruh bangunan akademi bergetar hebat, walau tidak sampai menembus lapisan kubah keajaiban hidup, tapi perasaan ngeri saat terbayang tanpa ada Askar untuk melindungi mereka.


Langit semakin berkecamuk, ada tiga kali serangan super kuat dari ujian yang di berikan, Askar cukup yakin dengan kekuatan pelindung dari keajaiban hidup akan mampu menahan semua kilat itu.


Kilatan ke dua muncul, dan ini berkali lebih kuat dari sambaran pertama tapi ada retakan kecil terbentuk dari sisa ujian langit kedua.


Seakan alam tidak ingin Askar menganggu ujian langit untuk Sina, saat Askar berniat untuk memperkuat lapisan pelindung, tapi itu sedikit terlambat.


Karena Sambaran ke tiga berhasil menembus pelindung Askar, biar pun masih bisa Askar menahan sedikit untuk mengurangi efek muatan energi yang akan menyambar ke tubuh Sina.


Kerusakan bangunan istana utama tentu tidak bisa di hindari, setidaknya ini masih lebih baik daripada membiarkan ujian langit menyambar secara langsung untuk menghantam permukaan akademi.


Bisa dibayangkan semua yang berada dalam jangkauan ujian langit akan hancur tanpa sisa tanpa adanya Askar yang datang untuk memberi perlindungan.


Ketika Askar turun, ke lima grandmaster, bahkan si tua gila pun ikut hadir untuk memastikan kondisi Askar, saat ini dirinya adalah lord alam kaisar tahap menengah, tentu serangan ujian langit tidak membuatnya terluka.


Tapi yang Askar khawatirkan adalah kondisi Sina, dimana saat terakhir dia tidak sempat menghalau sambaran petir.


"Askar apa kau terluka ?." Bertanya grandmaster Laila yang memeriksa seluruh tubuh Askar dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Ya aku bisa melihatnya." Grandmaster Laila jelas merasa kagum.


Satu sambaran petir mampu meruntuhkan bagian pondasi sebelah kiri istana utama yang terbuat dari batu hitam abadi, tapi itu tidak memberikan dampak apa pun selain pakaian sobek dan sedikit hangus.


"Sungguh aku tidak ingin membayangkan kalau petir itu datang menyerangku." Ucap grandmaster tua gila yang merinding takut setelah melihat keganasan ujian langit.


"Hanya saja, apa yang membuat petir itu datang di atas kepala kita." Grandmaster Wajo tentu memiliki pertanyaan atas hal ini.


"Entahlah, di dunia ini masih banyak misteri yang tidak bisa kita pahami." Saut grandmaster Jilu tanpa tahu apa pun.


Tapi mereka tidak sadar jika kedatangan petir itu berasal dari pencapaian Sina saat melangkah ke tingkat seorang lord yang nyata.


Karena memang sebagian besar manusia di dimensi mortal tidak memiliki bukti langsung atas kehadiran ujian langit, hanya arsip-arsip kuno mengatakan tentang kehadiran bencana saat sosok lord muncul.

__ADS_1


Berjalan memasuki ruangan yang menjadi tempat Sina bermeditasi, dari jauh Askar bisa merasakan perubahan jelas dari auranya.


Bahkan untuk lima grandmaster yang mengikuti Askar, terlihat jelas raut wajah penuh kejutan, karena menyadari akan tekanan kuat dari ruangan yang Sina gunakan.


"Sejak awal aku memang penasaran dengan tingkat kekuatan yang Sina sembunyikan, tapi siapa sangka, aura ini sama seperti milik Lin Dan, bahkan lebih kuat lagi." Ucap Grandmaster Laila menujukan senyum yang sangat rumit.


Bagi mereka saint suci tahap akhir menjadi batas yang mustahil untuk di lewati, karena mereka-mereka dalam kekuatan seorang lord menjadi sosok luar biasa.


Dan itu bisa menggambarkan rasa terkejut akan kekuatan dari milik Sina saat baru mendapat peningkatan ke lord yang nyata.


Tentu bisa dibayangkan mereka akan pingsan ketika tahu tingkat kekuatan yang dimiliki oleh Askar sekarang, sebagai lord alam kaisar tahap menengah, sebuah kekuatan dimana mampu membelah dunia dalam satu serangan.


"Sina apa kau baik-baik saja." Ucap Askar sembari mengetuk pintu.


"Ya bisa dianggap begitu, tapi ..." Terdengar aneh saat Sina tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa ?, Apa ada yang hilang ?." Tentu Askar merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Sina.


"Pakaianku yang hilang karena hangus."


"Syukurlah." Terhembus nafas lega dari mulut Askar.


"Tidak ada yang bisa kau syukuri karena hal ini, bagaimana caraku untuk keluar tanpa pakaian." Berteriak Sina yang kesal mendengar tanggapan Askar akan situasinya.


"Itu bukan masalah serius, jangan terlalu dipikirkan." Jawab Askar dengan santai.


Di sisi lain para grandmaster merasa bingung, melihat sikap kedua orang yang masih bisa bercanda setelah menerima bencana besar dari kilatan petir dimana membuat siapa pun ketakutan.


"Terkadang aku berpikir semakin kuat seseorang, semakin tidak waras otaknya." Itu anggapan Laila setelah melihat Askar dan Sina yang ada dihadapan mereka.


"Aku rasa seperti itu." Grandmaster Jilu tidak membantah anggapan Laila.


Termasuk ke tiga grandmaster lain hanya mengangguk setuju secara bersamaan atas perkataan Laila yang sedang membicarakan tentang Askar.

__ADS_1


(Note : untuk malam Minggu dan hari Minggu tidak up dulu ya kakak, maaf benar-benar maaf, kondisi tubuh yang kurang sehat dan ingin sejenak liburan, itu yang saya rasakan sekarang.


Tapi untuk akan dilanjutkan tanggal 1 hari Senin di jam 8 pagi seperti biasa, terimakasih.)


__ADS_2