
Ini diluar dugaan, Askar tidak bisa membantah jika dirinya benar-benar terkejut karena senjata yang Safir miliki adalah pedang roh.
Dan setelah melewati tangkisan pedang Askar, pedang safir bergerak cepat untuk melesat ke arah leher, hampir mustahil untuk di hindari.
Skill penciptaan ruang : akselerasi.
Dalam hitungan sepersekian detik, Askar memperkuat tubuhnya di kecepatan super tinggi, semua itu demi menghindari tebasan pedang roh yang mengarah ke kepalanya.
Satu detik, didalam akselerasi penuh sama seperti sepuluh detik, dan dalam satu detik itu, segala kemungkinan bisa terjadi, hingga akhirnya Askar mampu lepas dari tebasan pedang safir.
Segera Askar melompat kebelakang, dan mengatur aliran nafas karena terlalu terkejut dengan kemampuan milik senjata Safir.
"Ini benar-benar diluar dugaan, siapa sangka pedang itu adalah pedang roh." Ucap Askar yang dengan senyum lemas.
"Maaf jika aku lupa untuk memberitahu kepada anda, tapi aku pun tidak menyangka anda bisa lepas dari serangan itu." Balas safir dengan senyuman penuh makna.
Dalam ingatan Asyura pedang roh sangat langka, bahkan hanya ada 10 pedang roh di alam semesta atas, bukan tanpa sebab tapi karena material pembentuk pedang roh dan cara pembuatannya tidak diketahui.
Akan tetapi seperti ingatan Asyura, pedang roh adalah bentukkan dari dewa penciptaan Davendra, walau begitu Askar masih belum mengetahuinya.
Pedang roh sangatlah unik, dimana tidak bisa ditangkis namun melukai jiwa lawan secara langsung, semakin banyak luka didapat maka akan mengakibatkan kematian.
"Kalau begitu aku sepertinya terlalu meremehkan, maafkan aku."
"Tidak apa-apa, aku pun belum serius."
"Kalau begitu." Jawab Askar yang melenyapkan langsung pedang ditangan.
Dan kilauan cahaya perak pun memunculkan sebilah pedang lain yang jelas Askar simpan hanya untuk keadaan darurat.
Tapi lawan kali ini bukan sembarangan, karena satu kesalahan berakibat fatal, biar pun safir hanya berkata untuk menguji coba kemampuan, walau begitu ada niat untuk mengalahkannya.
Sekarang pedang dewa pemangsa kematian sengaja dia gunakan demi melawan pedang roh, bukan tanpa sebab, kemampuan pedang dewa pemangsa kematian bisa melemahkan kekuatan pedang roh.
"Apa anda yakin, hanya dengan mengganti senjata itu akan bersaing dengan pedang roh ini." Berkata Safir yang mulai menujukan kepercayaan diri untuk serius melawan Askar.
__ADS_1
"Tenang saja, biar pun tidak mampu menangkis, tapi senjata yang aku gunakan cukup efektif mengatasi permasalahan seperti ini... ngomong-ngomong, apa kau sudah menikah." Sebuah pertanyaan pun datang untuk safir.
"Jangankan menikah, sampai hari ini aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya memiliki kekasih." Balas Safir yang merasa kesal sendiri atas pertanyaan Askar.
"Hei apa masalahmu, jika kau ingin mencari jodoh lagi, jangan disini, ini tempat pertarungan."
"Apa kau pikir Safir mau denganmu."
"Kau tahu cermin ?, Itu banyak kegunaannya, bahkan untuk melihat apa kau pantas untuk wanita secantik safir."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Askar, tentu para penonton disekitar cukup risih karena a itu. Dimana beberapa diantaranya adalah fans dari Safir.
Askar menujukan senyum penuh arti, karena ada banyak faktor yang mungkin menentukan kemenangan seseorang dalam pertarungan.
"Kalau begitu ini akan mudah." Berkata Askar dalam posisi siap.
"Kenapa anda berpikir, hanya karena aku belum menikah, ini akan menjadi mudah." Binggung dan juga kesal ditunjukan oleh Safir.
"Tidak perlu kau pikirkan, ini hanya anggapanku saja." Jawab Askar.
Safir jelas seorang master dalam beladiri pedang, gerakan sederhana namun tajam, tidak membuang-buang energi berlebih, atau pun gerakan asal yang tidak berguna.
Semua sangat efisien, intens dan mematikan, Askar dalam waktu satu detik saja, sudah lebih dari dua puluh gerakan melayang menuju Askar.
Askar tidak berhenti menggunakan skill penciptaan ruang dan terus menerus melakukan akselerasi, hingga satu kesempatan muncul, dimana langkah Safir sedikit melebar.
Itu memberikan celah besar untuk Askar mengayunkan pedang dewa pemangsa kematian, hingga lengkingan suara wanita terdengar menggema ke telinga semua orang.
Safir seketika mundur jauh karena refleks, wajah merah merona dan sedikit merinding mendengar suara yang datang dari pedang Askar.
Ini alasan kenapa Askar bertanya apakah safir sudah menikah atau belum, walau bukan sebuah kemampuan, tapi suara mendesah Sahara didalam pedang dewa pemangsa kematian, cukup berpengaruh terhadap wanita polos seperti safir.
Dan tidak berhenti sampai disitu, Askar segera melanjutkan serangan cepat, gerakan pedang cukup sengit bersaing dalam hal kecepatan, walau begitu safir masih mampu menghindar.
"Aku tidak tahu jika ada pedang memiliki suara seperti ini."
__ADS_1
"Apa-apaan senjata yang digunakan Askar itu, sungguh tidak bermoral."
"Entah kenapa aku merasa malu sendiri menyaksikan pertarungan kali ini."
Sengit dan tidak saling menujukan celah dari masing-masing gerakan, dalam kecepatan sepersekian detik itu, suara Sahara semakin cepat dan semakin ngawur.
Serangan mental akan suara desahan Sahara, sedikit menurunkan gerakan Safir, jelas sekali, jika saat ini, dia sedang menahan rasa malu karena suara wanita yang mendesah tanpa henti di setiap ayunan pedang.
Bahkan itu berpengaruh terhadap semua orang yang melihat, sejenak terdiam. Hanya Sam saja melihat dengan senyum mengejek.
"Aku sudah pernah merasakan hal ini, dan memang ini tidak menyenangkan." Saut Sam kepada orang di sampingnya.
Tapi yang paling merasakan dampaknya secara langsung dari suara Sahara tentunya adalah Safir, dia berdiri dan kini ragu-ragu untuk menyerang Askar kembali.
"Tuan Askar apa bisa anda ganti pedang itu." Pinta Safir yang menujukan wajah merah merona.
"Tidak bisa, karena bagi beberapa orang pedang adalah belahan jiwa, dan pedang ini adalah jiwaku." Perjelas Askar dengan tegas.
"Apa itu artinya kau sama tidak bermoral dengan pedangmu." Ucap Safir mengartikan ucapan Askar.
"Aku tidak ingin membantahnya."
Seketika itu juga Safir pun melenyapkan pedang yang dia pegang dan mengangkat tangan ke atas.
"Tuan aku lebih baik menyerah kalau begitu." Ucap Safir mengatakan sebuah pernyataan yang mengejutkan semua orang.
"Ehhh kenapa kau menyerah." Bertanya Askar karena bingung.
"Jika aku berlama-lama bertarung dengan anda, mungkin reputasi ku akan jatuh, dan lebih baik aku kalah." Balas Safir yang jelas sekali seberapa memalukan saat bertarung dengan Askar.
"Kau terlalu memikirkan reputasi, sedangkan reputasi tidak membuatmu kenyang." Berkata Askar yang merasa tidak nyaman atas alasan safir untuk menyerah.
Hanya saja Safir tidak lah perduli apa yang Askar katakan, dia segera saja turun dan berlari pergi menerima kekalahan begitu saja.
Siapa yang bisa menduga sosok kandidat dengan kemampuan pedang tingkat tinggi dan pemilik pedang roh langka, harus menerima kekalahan karena rasa malu.
__ADS_1