
Sebelum itu...
Askar yang berniat pergi ke alam semesta awal penciptaan tidak membawa siapa pun bersama dengannya, ya dia meninggalkan Silviana, Sina, asy dan Omen di kerajaan suci.
Tidak pernah Askar menganggap bahwa perjalanan ini akan memakan waktu yang lama, hanya ingin membicarakan semua isi pikirannya kepada Davendra, dan meminta jawaban atas perbuatan di masa lalu.
Meski semua fakta menunjuk kepada Davendra yang di nyatakan bersalah atas tindakannya, tapi Askar lebih ingin mendengar semua itu langsung dari mulut Davendra sendiri.
Tapi sebelum dia pergi, segera saja Sina berjalan mendekat, menggambarkan sebuah wajah dimana ada rasa khawatir kepada Askar, meski pun dia tahu kemana tujuannya itu, adalah untuk bertemu dengan Davendra.
"Askar berhati-hatilah." Ucap Sina dengan lembut.
"Ini bukan perjalanan berbahaya, jadi tidak perlu kau khawatir dengan keselamatan ku." Jawab Askar yang sedikit percaya diri.
Dia yakin bahwa kekuatannya sekarang bisa membela diri jika pun harus menghadapi musuh kuat diatasnya, terkecuali Davendra adalah musuh.
Maka.... jangankan Askar membela diri, bergerak satu langkah maju mendekati Davendra pun menjadi hal yang mustahil.
Tapi apa yang Askar lihat di wajah Sina saat ini, sangat jelas menunjukan tingkah berbeda dari biasanya, tentu Askar paham betul dengan wanita cantik dikenalnya sejak kecil.
"Tapi aku merasa tidak nyaman untuk sekarang." Begitu yang dikatakan oleh Sina.
"Mungkin hanya anggapan mu saja Sina, aku hanya pergi untuk memastikan sesuatu." Balas Askar untuk memberi sedikit kepercayaan terhadap sikap istrinya.
Selama tiga bulan lebih Rea, Sina, Asy, Ke'su dan Omen hidup di rumah Davendra, Sina tidak merasa bahwa dia adalah orang jahat, kecuali kepada Ke'su.
Sang pangeran Phoenix itu di perintah habis-habisan oleh Davendra, segala hal yang tidak perlu sekali pun Ke'su kerjakan.
Ada pun empat wanita yang sama-sama hadir untuk melihat kepergian Askar, jelas itu bukan pertama kalinya, karena hanya ketika Askar harus melawan musuh kuat saja dirinya berada dikhawatirkan.
"Tidak perduli ini hanya perasaanku saja atau aku memang merasakan hal lain, yang jelas aku ingin kau kembali dengan selamat." Balas Sina tanpa sedikitpun celah untuk bisa tenang.
"Ya tentu, jika aku tidak selamat maka cerita ini akan tamat juga." Hanya saja Askar menganggap bahwa itu sekedar rasa khawatir biasa.
__ADS_1
Karena dalam beberapa waktu Askar berhadapan dengan lawan-lawan yang sangat kuat, bahkan mengancam kehidupannya sendiri.
"Aku tidak sedang bercanda." Balas Sina dengan kesal.
"Aku pun juga demikian." Tapi tetap saja Askar mencoba membuat semua wanitanya tersenyum.
"Jika kau tidak kembali dengan selamat, apa kau ingin aku menjadi janda." Ancam Sina yang secara tegas tidak menginginkan apa pun selain Askar kembali.
"Tentu saja tidak, aku pasti kembali, bagaimana pun caranya." Kini Askar menunjukan tatapan mata serius untuk jawaban kepada Sina.
Melihat Silviana, Asy dan Fei sui sue sebelum dirinya pergi, mereka semua tidak akan membantah tindakan yang Askar ingin lakukan.
"Setelah aku bicara dengan Davendra, mari kita pulang ke dunia asal." Itu yang Askar janjikan kepada Sina.
"Baiklah." Sina pun tentu ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Syfa.
Ya sudah lebih dari dua tahun, dan tentu Askar pun tidak ingin berlama-lama pergi, karena itu akan berakibat buruk bagi hubungan dengan anak-anaknya.
Jelas Askar tidak ingin melihat anak-anaknya memanggil Askar dengan sebutan Om, kakak, atau paman, itu akan terdengar seperti dirinya adalah penjual mainan daripada seorang ayah.
*******
Hanya perlu waktu tiga jam untuk Askar memasuki wilayah alam semesta awal penciptaan.
Sebuah planet yang menyisakan sebuah daratan melayang-layang di ruang angkasa, meski begitu luas wilayah itu jauh lebih besar dari dunia asal Askar.
Beranjak turun dalam kecepatan tinggi dan seekor kucing abu-abu seperti sengaja duduk di atas kursi untuk menunggunya datang.
"Tuan Askar, tuan Davendra sudah pergi duluan." Ucap Omen yang masih mengubah penampilannya itu.
"Kemana ?." Askar pun bertanya.
Tidak ada jawaban hanya wajah menoleh ke gerbang dimensi yang masih aktif dan berada tidak jauh dari tempat Askar berdiri.
__ADS_1
Tanpa ragu sedikit pun Askar segera saja berjalan untuk melewati gerbang dimensi yang entah dia tidak tahu kemana tujuan dari Davendra itu pergi.
Dan saat Askar melihat apa yang ada dibalik gerbang dimensi, tiga wajah familiar terpampang jelas, salah satunya adalah wajahnya sendiri sebagai Davendra, dan dua orang bodoh yang masih terkejut ketika saling melihat satu sama lain.
"Askar ?.... Dia juga Askar, apa yang sebenarnya terjadi." Tentu Alves tidak bisa memahami kenapa ada dua Askar di tempat ini.
Dalam kejutan yang dirasakan oleh Askar, dia tidak pernah terpikir bahwa selama ini, Davendra bisa pergi kemana pun yang dia inginkan.
"Alves, zilogia, berarti ini.... " Ya Askar baru menyadari bahwa tempat yang di tunjukkan oleh Davendra adalah alam dunia asal.
Askar merasa bingung kenapa Davendra membawa dirinya kembali ke tempat tinggalnya ini, tapi seketika saja Askar bisa merasakan adanya kekuatan super besar terbentuk di atas langit.
Sebuah segel prasasti besar yang harusnya bisa dilihat oleh mata telan jang di wilayah kedua dimensi.
"Dia membuka segel dunia di balik batas." Ucap Askar penuh kejutan.
Jika sebelumnya Askar harus mengumpulkan tujuh batu relik segel dunia di balik batas, tapi untuk Davendra dia hanya perlu sekejap saja dan terciptalah pintu masuk ke dimensi Falsus.
"Davendra apa yang sebenarnya kau ingin lakukan." Teriak Askar.
"Jika kau ingin tahu, maka ikut denganku." Balas Davendra.
Dengan sedikit jawaban dari pertanyaan Askar, Davendra segera pergi dan terbang menuju ke atas langit, kecepatan itu melesat naik dalam hitungan detik.
Askar tidak membiarkan Davendra pergi begitu saja, dia pun segera mengikuti dirinya dari belakang, begitu juga zilogia, dia penasaran kenapa kedua orang itu saling menampakan diri dan melakukan sesuatu yang tidak dia mengerti.
Tapi ketika Alves ingin ikut bersama mereka ke atas langit, dengan sengaja zilogia menahan dia agar tidak bergerak.
"Kau jangan ikut dengan kami, kau tetap disini." Tegas ucapan zilogia kepada Alves.
"Tapi aku penasaran, kenapa ada dua Askar yang muncul." Ucap alves yang masih memaksa terbang hanya saja tubuhnya ditekan kuat oleh zilogia.
"Sudahlah, simpan rasa penasaran mu itu untuk nanti, jika kau mengikuti kami, aku tidak bisa berjanji kau bisa kembali hidup-hidup." Balas terakhir dari zilogia sebelum memasuki dunia di balik batas.
__ADS_1
Mendengar ancaman dari zilogia itu Alves mengurungkan niatnya, meski dia ingin tahu apa yang ada di balik lingkaran prasasti itu.