
Askar tidak tahu kenapa dia menarik pedang dewa kematian itu, hanya untuk sebuah pertarungan yang dipastikan dia adalah pemenangnya, tapi dilihat bagiamana Davendra berekspresi, Askar tahun bahwa dia berniat melakukan sesuatu.
Seakan tidak memiliki pilihan lain, dan Askar pula mengeluarkan pedang yang sama dengan pancaran sinar putih keperakan menyala di sekitar.
Ini jelas pilihan buruk untuk melawan Davendra secara langsung, tapi Askar seakan tidak memiliki cara lain, karena lawannya itu sudah siap bertarung.
Dirinya yang sudah menjadi Davendra, dengan tingkat kekuatan sebagai dewa sejati, adalah eksistensi tiada banding untuk Askar hadapi.
Meski pun Askar berbuat nekad membuka skill pemangsa gerbang ke tujuh Penguasa yang mulia, itu hanya mendekati seperempat kekuatan total dari Davendra.
"Hei apa kita bicara terlebih dahulu, karena aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kau ingin melawan ku yang kenyataannya adalah dirimu sendiri." Askar berusaha bicara untuk bernegosiasi dengan Davendra.
Hanya saja tidak ada jawaban yang Askar dapat dari Davendra, dia mengayunkan pedang dewa pemangsa kematian ditangan itu ke depan.
Dan Askar pun bisa merasakan secara langsung, bagaimana sosok Davendra yang bertindak sebagai dewa sejati, menunjukan sebagian kecil dari kekuatan milikinya.
Sebuah tebasan energi melesat cepat menuju ke hadapan Askar, memposisikan diri dalam kuda-kuda untuk menangkis serangan sederhana itu.
Akan tetapi ketika mata pedang dewa pemangsa kematian menyentuh tebasan energi, dirasakan sebuah tekanan kuat yang mendorong mundur tubuh Askar dengan mudah.
Hingga beberapa nafas Askar mencoba melawan, dan serangan Davendra pecah, ledakan gelombang energi melempar Askar jatuh. Sekali pun itu adalah kekuatan kecil yang Davendra miliki, tapi bagaimana Askar mencoba bertahan, masihlah kekuatannya terlalu besar.
Davendra berjalan santai ke tempat Askar berbaring, mengarahkan ujung mata pedang ke depan dahi, dan masih menunjukan tatapan mata kosong tanpa emosi.
"Kau tidak perlu tahu tentang apa pun Askar, karena percayalah kepada ku, jika aku hanya ingin memperlihatkan sebuah kehidupan yang harus kau lihat." Balas Davendra dengan senyum aneh di wajah kosong itu.
"Jika itu kehidupan setelah mati, aku benar-benar tidak ingin melihatnya sekarang." Askar jelas menolak karena dia masih cukup perduli dengan nyawa.
__ADS_1
Dan saat satu langkah kaki di ambil oleh Davendra untuk maju, ada yang berubah dari dimensi Falsus, dimana terjadi getaran gempa dari seluruh wilayah, hingga perhatian Davendra teralihkan.
Di atas tanah, atau pun di langit-langit, gemuruh guncangan itu menunjukan ada yang tidak beres dari dimensi Falsus itu sendiri, karena tempat ini memiliki kesadaran sendiri.
"Davendra, kau berani melangkah kembali ke tempat yang sudah kau tinggalkan." Sebuah suara pun terdengar.
"Cih... Yang merepotkan pun akhirnya datang." Gumam Davendra mengarahkan pandangan ke belakang.
Itu adalah suara dari dimensi Falsus sendiri, setelah beberapa lama guncangan pun berhenti, dan seketika itu makhluk-makhluk yang tercipta dari bagian energi sang Falsus menjadikan Davendra sebagai musuh.
Rantai-rantai besar jatuh dari atas langit yang tidak ada apa pun sebelumnya, Davendra bergerak menghindar, begitu juga Askar tidak ingin tertimpa oleh rantai ini.
Secara langsung, para penjaga dimensi Falsus mengincar Davendra dalam serangan besar, ada sepuluh ribu pasukan Falsus yang di kendalikan untuk menyerang, satu makhluk datang dan segera hancur.
Seperti yang di katakan oleh Falsus sebelumnya, bahwa Davendra pernah melakukan sesuatu di dalam tempat ini, termasuk membuat Asyura di paksa berrenkarnasi, mengambil penelitian dari kaisar akhir zaman dan mengubah sistem dunia di balik batas.
Davendra melompat, dia menghindari setiap rantai yang mencoba mengikatnya, terus bergerak dan melawan ketika satu makhluk datang bergantian untuk menekan posisi Davendra.
Jika dianggapnya itu akan membuat Davendra terdesak, maka semua anggapan yang siapa pun pikirkan adalah salah, karena sejak awal Davendra tidak merasa kerepotan untuk sekedar bermain-main dengan semua makhluk Falsus.
Sepuluh ribu pasukan itu memang bukan makhluk hidup, hanya para patung yang dikendalikan oleh Falsus, tapi bukan berarti mereka adalah patung biasa, kekuatannya melampaui batas lord alam saint.
Meski kekuatan masih dibawah Davendra, tapi di sini adalah wilayah kekuasaan dimensi milik mereka, tentu tidak hanya para patung yang menyerang, tapi dari langit-langit pun serangan lain datang
Bergerak secara bersamaan, menyerang dalam kekuatan penuh dan tidak memberi kesempatan untuk Davendra lepas begitu saja.
Askar memperhatikan, dia bukan incaran dari Falsus, mencari tempat aman, dan melihat langung Davendra yang melayani serangan besar dari sepuluh ribu pasukan dengan mudah.
__ADS_1
*******
Pintu gerbang dimensi untuk memasuki wilayah dunia Falsus kembali kedatangan seorang tamu, lelaki paruh baya yang sejak awal mengikuti Askar dan Davendra, kini kembali hadir di sebuah tempat bernama dunia di balik batas.
Tidak banyak cerita tentang kehadiran zilogia di dalam dimensi Falsus, tapi di sini pula menjadi titik akhir pencapaian tujuan yang pernah dia dapat.
Dirinya di tolak oleh para penjaga dimensi dan di lempar keluar oleh para Falsus, tapi karena emosi yang sudah berusaha keras mencari segel dunia di balik batas, namun tidak mendapatkan apa pun, akhirnya mencoba melawan.
Sebuah kesalahan bagi zilogia mengambil tindakan, memang membuat kekuatan dalam tubuhnya itu rusak, tapi cukup bagi Zilogia bertahan hidup sampai hari ini.
Dan saat dia menyaksikan apa yang sedang terjadi, zilogia tidak bisa memahami tentang pasukan makhluk bersayap menyerang Davendra.
Dia tentu merasa bingung sendiri, karena sejak awal dia mengetahui tentang segala sesuatu mengenai dunia di balik batas adalah karena Davendra, tapi kenapa Davendra itu sendiri menjadi lawan bagi mereka.
"Askar... dimana dia." Zilogia mencari dan sedikit jauh dia pun melihatnya.
Menghindari pertarungan yang sedang terjadi kepada Davendra, zilogia bergerak mendekat menuju Askar.
"Bocah apa yang terjadi." Bertanya zilogia kepada Askar dimana dia hanya berdiri diam menyaksikan Davendra bertarung.
"Pak tua, kau datang kemari." Balik Askar bertanya karena dia tidak menyadari bahwa zilogia pun datang ke tempat ini.
"Ya ... Aku mengikuti kalian, tapi... Kenapa Davendra bertarung dengan para penjaga dimensi." Zilogia kembali mempertanyakan tentang Davendra.
"Sepertinya dia pernah membuat masalah di sini jadi.... Tunggu kenapa kau mengenal Davendra." Askar merasa aneh karena zilogia bisa tahu mengenai orang itu.
"Itu tidak penting sekarang."
__ADS_1
"Bagiku ini penting, kenapa sejak awal kau tidak menceritakan tentang Davendra kepadaku." Jelas saja Askar kesal, karena di dalam ingatan atau dia pun tidak memberitahu tentang Davendra.