
Lingkaran prasasti menyalakan cahaya penuh simbol, semua orang tidak bisa menutup mulut mereka, karena kemampuan yang Askar miliki diluar dugaan.
"Apa ini sebuah lelucon."
"Aku rasa tidak ada yang melawak disini."
"Dia ahli pukulan tangan kosong, pemilik kekuatan element, petarung pedang, peningkatan kekuatan, dan ini pengguna roh kontrak."
"Dia manusia, atau combo paket komplit."
Cukup lama Aza El haramale tidak Askar keluarkan, walau sesekali Askar mengobrol didalam dunia imajinasi, tapi tampak jelas, kalau Aza lebih sering bermalas-malasan, dan jarang bergerak.
Walau pun Asyura yang mengurung Aza dalam gentong neraka selama dua ratus ribu tahun lebih, dan itu membuat dirinya bosan.
"Tuanku, aku siap melaksanakan perintah yang anda inginkan." Ucap sosok kecil setinggi satu meter dengan tanduk dan ekor.
"Baiklah, Aza kita lawan kedua orang itu." Balas Askar menujuk ke arah Sagna dan Resla.
Roh kontrak bukan termasuk bantuan, karena itu menjadi salah satu kemampuan yang dimiliki oleh Askar, sama seperti senjata, mereka adalah alat untuk mencapai tujuan pemiliknya.
Terlebih kekuatan Aza mengikuti sang tuan, dimana Askar adalah seorang lord alam kaisar tahap akhir, dan kekuatan Aza tentunya sebagai lord alam kaisar tahap akhir pula.
Ini cukup untuk mengalahkan Sagna dan Resla, walau ketika Askar menggunakan skill pemangsa gerbang kelima murka penguasa, mudah bagi0 dia mengalahkan semua kandidat tanpa mengangkat tangan.
Tapi Askar merasa tidak nyaman ketika harus mengungkap semua kekuatan yang dia miliki, karena sebuah senjata rahasia disimpan untuk mengantisipasi lawan kuat.
"Apa kau yakin untuk menggunakan peliharaan kecilmu itu, tuan Askar." Berkata Sagna dengan nada ejekan kepada Aza.
"Kecil katamu." Tapi Aza yang cukup baperan mendengar ucapan Sagna, seketika, aura merah darah menyelimuti seluruh tubuh, perlahan semakin besar dan terus membengkak.
Tawa yang menggema di dalam ruang pelatihan, kini sejenak diam karena melihat monster dua puluh meter dengan kekuatan lord alam kaisar.
Ditelan air ludah yang ada dalam tenggorokan, siapa sangka wujud nyata roh kontrak Askar, lebih menakutkan dari pada awalnya.
"Tunggu, Aza jangan kau gunakan wujud itu, kecilkan lagi, dua meter itu cukup." Perintah Askar.
__ADS_1
"Baik tuanku." Aza tentu menurut kepada Askar.
Walau dalam tubuh Aza sebesar dua puluh meter memiliki keunggulan dalam kekuatan, tapi ada kekurangannya, yaitu dia menjadi target sasaran yang sangat mudah.
Terlebih lagi lawan Askar adalah pasangan ahli beladiri yang sangat tangguh, ini akan sangat berbahaya jika dengan mudah Aza mendapat serangan.
Kini Aza berdiri dengan tubuh langsing dan ideal untuk bertarung melawan Sagna dan Resla. Dua lebih baik dari pada satu, itu faktor yang tidak bisa dipungkiri.
"Baiklah mari kita mulai." Askar mengawali pertarungan dengan satu langkah yang membawa dirinya melesat lurus menuju Sagna.
Pukulan penuh energi kuat mengarah tepat ke depan dada, tapi Sagna jelas melihat, dihadang laju serangan dengan pukulan lain.
Dua kepalan tangan saling beradu, ledakan energi membelah lantai arena menjadi dua bagian, kuat dan berbahaya, entah itu Askar atau pun Sagna, masing-masing memiliki kekuatan yang bisa membunuh lawan.
Pukulan harimau, sangat kuat dan ganas, terlebih ketika pukulan Askar saling beradu, entah dari mana, sebuah luka cakar membekas di tangannya.
Lima sayatan dan sudah mengelupaskan kulit menuju daging tubuh Askar lumayan dalam, seakan ada kekuatan lain yang mengikuti pukulan Sagna.
"Tuan Askar apa perlu aku mendeskripsikan kemampuan yang aku miliki." Ucapnya yang tentu merasa bangga karena kemampuan itu melukai Askar.
Walau begitu, dia adalah satu-satunya kandidat yang mampu memberikan luka ditubuh Askar, bahkan lapisan pelindung menyelimutinya pun robek secara tiba-tiba.
Di sisi lain arena...
Aza mengikuti kecepatan Resla, tanpa ragu mengarahkan kuku-kuku tajam untuk menyerang, seketika itu Resla melompat, berputar diatas kepala, dan membuat cakaran Aza hanya merobek udara.
Langkah kaki ringan berdiri diatas tangan Aza, teknik beladiri tarian Phoenix berpusat kepada kelincahan dimana setiap gerakan sangat efisien dan sulit untuk ditebak.
Jika beladiri harimau mengandalkan kekuatan, maka tarian Phoenix menujukan efisiensi gerakan yang lincah, akan menyulitkan memang, kalau keduanya bertarung dalam satu pasangan melawan Askar sendiri.
Berulang kali, serangan demi serangan Aza hampir tidak pernah ada satu pun bersarang di tubuh Resla, dan jelas Aza tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"Ini cukup menyulitkan untukku, tuan apa boleh aku bertukar lawan denganmu." Ucap Aza karena kesulitan bertarung melawan sosok seperti Resla.
"Aku rasa memang itu pilihan yang baik." Jawab Askar dengan segera melompat membelakangi Aza.
__ADS_1
Itu bukan berarti Askar kesulitan melawan Sagna, tapi ada beberapa kemampuan yang berhasil melukai Askar walau serangannya hanya menyentuh permukaan lapisan pelindung.
"Apa tuan pikir, hanya dengan berganti posisi, itu akan membalikkan keadaan." Sagna pun terlihat mengejek Askar.
"Entahlah siapa yang tahu." Santai Askar menjawab.
"Kalau begitu jangan menyesal, jika lawan anda bukan orang yang mudah untuk dikalahkan." Saut Resla menujukan rasa percaya diri tinggi dalam perlawanan.
Tapi Askar memiliki keyakinan jika Aza adalah lawan yang cocok untuk menghadapi kemampuan Sagna, karena Askar tahu seberapa keras tubuh raja roh itu.
Sekejap mata, lenyap wujud Resla dari hadapan Askar, satu langkah cepat membawa dirinya datang dalam serangan, mengarah tepat ke samping kiri tubuh Askar.
Rahasia yang tersembunyi sebagai kemampuan Askar, zona persepsi, menangkap setiap arah gerakan Resla dengan mudah, dan cepat menghindar.
Lepas dari itu, tangan Askar cepat menangkap pergelangan Resla, bergeser satu langkah, hingga tubuh wanita kurus itu jatuh menghantam lantai.
Para penonton tentu menyaksikan pertarungan yang tidak biasa, dimana sangat jarang terlihat ketika harimau dan phoenix berpasangan.
Tapi secara khusus kakek tua yang berdiri di sebelah Virnda menujukan ekspresi rumit, tiap kali kedua murid menerima serangan.
"Kakek Esa, apa kau tidak masalah, jika kedua muridmu itu dikalahkan oleh Askar." Ucap Virnda yang melirik kakek Esa dengan serius.
"Sebenarnya ini cukup sombong untuk aku katakan, tapi aku tidak yakin jika Askar bisa mengalahkan Sagna dan Resla." Jawabnya tanpa keraguan.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu."
"Jika Askar melawan satu persatu, tentu aku yakin Askar akan menang, tapi keputusan yang salah, karena jika kedua muridku menggunakan serangan gabungan Phoenix dan harimau, maka Askarlah yang kalah." Perjelas kakek Esa seakan paham mengenai kedua muridnya.
"Benarkah begitu."
"Sepertinya kau memiliki pendapat yang berbeda Virnda."
"Aku tidak ingin mengatakan apa pun, tapi kau akan tahu seberapa besar aku memberikan kepercayaan kepada Askar." Tapi senyum tersirat diwajah Virnda penuh arti.
Dia yang sudah melihat sendiri seberapa kuat sosok Askar dan jelas tidak ada satu pun kandidat mampu mengalahkannya.
__ADS_1