
Dalam pertarungan duel satu lawan satu, Askar mendapat seorang petarung dari perguruan beladiri tujuh pedang, dia bernama Seoun Yan.
Lelaki itu cukup terkenal di kalangan ahli beladiri, walau tidak sekuat Remure Tianmu, atau Le Wei tapi bukan berarti dia tidak mampu mengalahkan mereka.
Dalam beberapa kemungkinan Seoun Yan adalah petarung yang menggunakan senjata tipe jangkauan panjang, sebuah tongkat dengan rantai dan ujung tajam seperti cambuk.
Tentu ini menjadi kesulitan sendiri bagi petarung jarak dekat, dalam jarak beberapa meter Seoun Yan bisa menyerang dari segala arah.
Mengendalikan senjatanya seperti ular tanpa mampu dihindari oleh lawan, ini adalah sebuah keuntungan besar dengan sedikit persentase kekalahan telak.
Askar tahu semua informasi itu dari orang yang memang mengetahui macam-macam hal dari para lelaki, Fei sui sue.
"Aku penasaran seberapa banyak kau bermain dengan lelaki lain." Bertanya Askar yang merasa tidak nyaman kepada Fei sui sue.
"Entahlah, aku berhenti menghitung setelah dua puluh lima kali." Jawabnya mudah saja bahkan tersenyum cerah.
"Aku bahkan tidak memiliki wanita sebanyak itu." Askar menggeleng tidak lazim seakan menolak percaya bahwa Fei sui sue ini benar-benar mampu menaklukkan para lelaki dengan mudah.
Fei sui sue memperhatikan wajah Askar yang melihat bahwa ada perasaan tidak nyaman untuk menceritakan tentang kehidupannya bersama lelaki lain.
Tapi tidak ada salahnya bagi Fei sui sue terbuka kepada Askar, dia hanya tidak ingin lagi menyembunyikan sesuatu demi keuntungan pribadi.
Askar pun melangkah maju, saat namanya terpanggil oleh pengawas turnamen, meski semua informasi tengang Seoun Yan tidak terlalu penting, tapi tidak ada salahnya jika Askar tahu.
Seperti pikirannya, lawan yang paling berbahaya adalah lawan yang tidak diketahui oleh dirinya, segala macam faktor bisa menjadi senjata ampuh untuk memutarbalikkan keadaan.
Dan Askar sendiri menyembunyikan banyak kartu Askar dibalik lengan bajunya itu, bukan tanpa alasan, sebagian besar kekuatan yang dia miliki adalah kekuatan diluar akal sehat.
Jika ada yang mengetahui semua itu, maka kesempatan untuk Askar memang akan semakin kecil, tentu akan berbahaya andai lawan Askar adalah seseorang yang jauh lebih kuat.
Kini tepat dihadapannya, satu sosok lelaki kurus, menggunakan caping dan senjata rantai mempersiapkan diri sebelum pertarungan.
Askar pun segera saja mengeluarkan dua senjata pendek berbentuk belati yang dia pedang di kedua tangan.
__ADS_1
Untuk beberapa alasan, Askar tentu memperhitungkan segala macam tindakannya, penggunaan pedang berat akan mengganggu pergerakan.
"Oh, jadi begini rupa manusia yang dikatakan mampu melawan Le Wei dari perguruan beladiri gunung pedang suci." Ucap lelaki kurus yang berdiri sembari menujuk tegas kepada Askar.
"Apa itu sebuah pujian, atau anda memang mau mencemoohku." Balas Askar seakan tidak perduli tentang cara bicara Seoun Yan.
"Pikiran saja itu sendiri, karena kau akan tahu setelah bertarung." Berkata Seoun Yan yang tentu menganggap Askar tidak lebih seperti tokoh tambahan dan tidak penting sama sekali.
Seoun Yan cukup percaya diri memainkan senjatanya untuk diputar-putarkan, sedangkan Askar berdiri diam dalam konsentrasi tinggi, menanti serangan pertama yang akan datang.
Wasit telah memulai pertandingan.
Sigap Askar melempar belati ditangannya, melesat lurus ke hadapan Seoun Yan, secara sengaja Askar memang menargetkan senjata rantai yang dia miliki agar terlempar.
Tidak membuang satu kesempatan pun, gerakan Askar yang cepat dan tepat, membawa langkah di hadapan lawan, hingga melayang pukulan keras di satu titik tubuh Seoun Yan.
Mata semua orang tidak ada yang mampu mengimbangi gerak serangan itu, dan secara mengejutkan tubuh Seoun Yan jatuh sebelum satu nafas dihembuskan sampai habis.
Varjo de hores dan Suzong, hanya dua orang itu, sisanya mengedipkan mata berulang kali tapi tetap saja apa yang mereka lihat bukanlah sebuah ilusi.
Tersenyum Varjo de hores menyaksikan bagaimana kekuatan sosok Askar mengalahkan salah satu dari murid terbaik di perguruan tujuh pedang.
"Dia.... Diluar dugaan, lelaki itu sangat kuat." Terkagum Varjo atas kemampuan Askar.
"Apa aku bilang, dia memiliki bakat yang bisa dipertanggungjawabkan." Suzong terasa bangga dengan ucapannya sendiri.
"Tapi darimana Gorongo mendapatkan bakat sekuat ini." Gumam Varjo de hores penuh pertanyaan.
Menolak percaya namun jelas dilihat bahwa seorang Seoun Yan kalah oleh seseorang yang tidak pernah sekali pun mereka kenal.
Seakan tahu dengan hasil yang dia dapatkan membuatnya berjalan pergi dengan wajah datar dan tidak perduli atas tanggapan orang lain mengenai dirinya.
*******
__ADS_1
Satu hari berlalu dengan sepuluh pertandingan yang membawa para ahli beladiri berbakat tinggi lolos ke putaran ke dua.
Askar termasuk orang yang diperhitungkan saat ini, banyak hal terjadi, seperti para peserta lain mulai menggali informasi mengenai dirinya.
Tapi sayang kehadiran Askar di alam semesta kerajaan beladiri tidak lebih dari satu bulan kemarin, hanya sedikit orang pernah melihat bagaimana sepak terjang Askar di padepokan beladiri pedang semesta.
Terkecuali bagi mereka yang ikut dalam latih tanding bersama tiga perguruan lain, termasuk Jariko, anak lelaki dari istri Varjo de hores yang entah nomor berapa.
Dan saat ini, Varjo mengumpulkan anak-anak serta semua istrinya dalam satu ruangan, tapi Resra, Resya dan ibu mereka, Tisumi, masih belum terlihat
Di dalam ruang keluarga itu, Varjo menghadirkan semua anak-anaknya yang berjumlah 56 dari 34 istri, tidak termasuk untuk selir-selir istana.
Termasuk untuk seorang wanita yang duduk tepat di samping Varjo, sesosok cantik berambut kuning keemasan, menujukan diri sebagai Silviana, pemilik kecantikan yang membuat jagat raya merasa iri.
Tidak hanya untuk Varjo yang terkena menyaksikan seberapa anggun silviana, para anak lelakinya pun, hanya bisa diam, melongo dan lupa bernafas karena terhipnotis oleh putri kerajaan suci, walau tidak tampak ada senyuman di wajah cantik itu.
"Aku merasa kasihan dengan Silviana."
"Tapi kenapa dia mau menikah dengan tua Bang*ka itu."
"Kau benar adik, seharusnya Silviana menikah dengan aku yang jauh lebih muda dan tampan."
"Tapi sampai sekarang kenapa kau masih jomblo."
"Sebab, semua wanita yang aku incar, di makan oleh tua Bang*ka itu."
Tisumi berjalan di depan Resya dan Resra, para pengawal masih menujukan penghormatan untuk satu sosok istri majikan mereka.
Hanya saja, berbeda atmosfer yang dirasakan ketika memasuki ruang pertemuan keluarga, dimana pandangan mata tertuju kepada Tisumi dengan cara tidak menyenangkan.
Tapi karena adanya Varjo de hores, siapa pun tidak akan berani mengungkapkan isi hati mereka saat Tisumi datang.
"Baiklah, Tisumi, Resra dan Resya sudah datang, mari kita makan." Varjo pun Memulai acara mereka.
__ADS_1