
Rencana yang sudah Askar persiapkan adalah mengikuti turnamen kerajaan beladiri dimana akan mulai dua bulan lagi.
Ini menjadi satu-satunya pilihan untuk Askar menyelamatkan Silviana dengan resiko kecil, tentu Askar tidak akan membuang kesempatan ini.
Dimana Varjo de hores berniat menjadikan setiap peserta yang memasuki 100 besar turnamen sebagai pasukan di kerajaannya.
Jika Askar bisa memasuki kerajaan maka tidak akan terlalu sulit untuk dia mengatur rencana demi menyelamatkan Silviana.
Sedangkan untuk Gorongo, dia jelas adalah orang yang selalu kontra terhadap tindakan varjo de hores, diluar masalah pribadi antara mereka, Gorongo tidak pernah menyukai tujuan rivalnya itu.
Semua yang dia lakukan hanya untuk mencari kekuatan dan kekuasaan, tidak perduli seberapa banyak korban demi memuaskan hasratnya, tapi dia tidak perduli.
Kali ini Loe Teu Yiu datang dengan satu rencana dan terhubung kepada Askar yang memang memiliki satu tujuan sama, menghancurkan Varjo de hores.
Dan saat ini, Askar berjalan-jalan santai mengelilingi wilayah padepokan beladiri pedang semesta, dimana tempatnya berdiri di lembah yang dikelilingi oleh jejeran pegunungan besar melingkar.
Menurut kabar yang beredar, padepokan beladiri pedang semesta, termasuk dalam salah satu tempat pelatihan terbaik di alam semesta kerajaan beladiri.
Bukan tanpa sebab, karena nama Loe Teu Yiu sang penguasa pedang berasal dari tempat ini, menjadikan banyak murid jenius berdatangan, termasuk para ahli yang bertindak sebagai guru.
Askar tidak menyangkal bahwa sebagain besar para murid yang datang memiliki kekuatan tinggi, setidaknya batas terlemah diantara mereka adalah lord diatas surga.
"Memang benar alam semesta atas adalah tempat yang jauh berbeda dari duniaku." Gumam Askar sendiri saat berkeliling melihat-lihat.
Setiap murid yang berjalan disekitar Askar mengarahkan pandangan kepadanya secara langsung, ini menujukan jika dirinya cukup terkenal untuk alasan khusus.
Menjadi murid Gorongo di awal dirinya memasuki padepokan adalah hal yang jarang terjadi, kecuali dia sebagai bakat terbaik dan diinginkan oleh para guru.
Dan itu membuat semua murid padepokan berbisik-bisik membicarakan Askar, tentu Askar merasa tidak nyaman jika menjadi perhatian orang lain.
"Aku benar-benar terkejut, Anda yang baru saja datang, menjadi perhatian semua orang." Ucap seorang wanita berjalan mendekat dari belakang.
"Aku tidak lah salah, mereka terlalu melebih-lebihkan tentangku saja, nona karlina." Tanpa berbalik pun askar tahu siapa dia.
__ADS_1
"Hampir mustahil ada murid yang mampu bertahan dalam tiga serangan dari guru besar Gorongo, tentu saja membuktikan seberapa kuat anda." Balas kembali Karlina yang secara langsung menampakan diri di hadapan Askar.
"Jika karena itu aku menjadi pusat perhatian, lebih baik aku berpura-pura kalah saja." Balas Askar dengan tersenyum lemas.
Karlina satu wanita pelayan yang Askar kenal karena melibatkan diri dalam permasalahan dengan Resra de hores.
"Itu senior Karlina, jarang sekali aku melihatnya di luar ruang pelatihan."
"Tunggu, kenapa orang baru itu bicara dengan santai tanpa hormat kepada senior Karlina."
"Apa dia tidak tahu peraturan, jika murid baru seperti dia harus membungkuk hormat ketika senior berbicara."
Semua orang mulai berkomentar, walau ada yang tidak tahu jika Karlina menyembunyikan identitas saat bekerja menjadi pelayan rumah makan.
"Jika yang mereka katakan benar, apa sekarang aku harus membungkuk didepan anda nona Karlina." Ucap Askar setelah mendengar perkataan mereka.
"Itu tidak perlu, anda jauh lebih kuat dan memiliki status sebagai murid sang penguasa pedang, aku merasa tidak pantas." Karlina merendah diri.
"Baiklah, jika begitu, kita bicara seperti biasa saja, jangan terlalu formal."
Melihat dengan zona persepsi, setiap anak tangga memiliki aliran energi alam yang bertahap, dimana setiap langkah seseorang semakin ke atas, maka tubuh mereka akan mengalami efek energi alam itu.
Sedangkan jumlahnya untuk mencapai puncak sekitar seribu anak tangga, sedangkan energi di seratus terakhir memiliki tekanan yang sangat mengerikan.
Tapi tepat disampingnya ada sebuah pilar batu yang terukir banyak nama dan membuat Askar tertarik untuk melihat kegunaan sebenarnya dari menara ini.
"Menara puncak semesta." Ucap Karlina yang merasa tahu Askar tertarik.
"Apa itu." Balas Askar pertanyaan lain.
"Kau bisa menjadikannya sebagai alat ukur untuk mengetahui bakat yang bisa kau capai di setiap tingkatannya." Jawab Karlina menjelaskan.
"Loe Teu Yiu, Rodado Sarebat, Varjo de hores, Remure tianmu, Gorongo talasa, Karlina Yuesa, Fei Sui sue, Resyua de hores.... Oh namamu ada di sini Karlina. " Askar menyebutkan setiap nama yang tercantum di pilar.
__ADS_1
Askar cukup paham atas hal ini, dimana nama Loe Teu Yiu berdiri dipuncak dari semua nama yang ada, seakan tablet batu adalah hasil dari ujian untuk mereka.
"Ya maka dari itu Resra mengatakan jika aku memiliki bakat yang mungkin setara sang penguasa pedang, walau sebenarnya ini cukup membuatku tertekan." Berkata Karlina dengan nada kurang bersemangat.
"Beberapa orang merasa bangga atas pencapaian mereka, tapi kau sepertinya tidak." Askar mengerti isi pikiran wanita satu ini dan cara dia menatap ke tablet batu.
"Begitulah, aku merasa tidak nyaman saat semua orang menganggapku terlalu berlebihan, sedangkan jika aku tidak sesuai harapan maka...."
"Ok, ok, aku mengerti, jadi kau takut jika harapan mereka tidak sesuai kenyataan nantinya." Askar jelas mengerti arah pembicaraan mereka.
"Kau benar Askar." Tidak ada penolakan.
Askar sangat paham atas cara berpikir Karlina, dimana semua harapan dari orang-orang itu menjadi beban berat yang harus dia hadapi.
Sedangkan masa depan seseorang siapa yang tahu, segala hal bisa saja terjadi, dan Karlina khawatir masa depan nanti dia tidak menjadi siapa-siapa, hanya seorang pelayan dan tetap menjadi pelayan hingga di PHK nantinya.
"Kalau begitu aku memiliki solusi." Ucap Askar berusaha membantu.
"Apa kau memiliki caranya ?." mata Karlina terbuka lebar, dia menantikan jawaban dari Askar.
"Tentu... ini sangatlah mudah." Sedangkan Askar tersenyum lepas.
"Jadi apa yang harus aku lakukan." Karlina jelas ingin mengetahuinya.
"Maka berusahalah sekuat tenaga untuk menjadikan itu semua nyata." Santai saja Askar menjawab tanpa merasa bersalah.
Memang ini sangatlah mudah, bagi Askar tentunya. Karena dia adalah pemeran utama dan semua berjalan atas kehendak dirinya sebagai inti cerita yang ada.
Sedangkan Karlina menujukan tatapan tidak menyenangkan, bahkan binggung untuk membedakan isi pikiran Askar itu bodoh atau memang tidak waras.
Dia cukup sadar diri bahwa lelaki di hadapannya tidak mengatakan itu tanpa alasan, tapi tetap saja Karlina merasa berat untuk menerima kenyataan di masa depan nanti, jika tidak sesuai harapan.
"Jika kau hanya mengatakan itu, aku sudah berusaha keras selama ini." Lemas Karlina dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kalau begitu, jangan khawatir, suatu saat nanti kau bisa mencapai tujuanmu." Askar mengacungkan jempol.
Askar tidak ingin dia kehilangan arah, memiliki sebuah tujuan adalah satu hal yang akan membawa siapa pun berusaha. Dan saat usaha itu lenyap, maka mereka akan kehilangan tujuan yang selama ini di inginkan.