
Kilauan cahaya perak menyala terang diseluruh ruangan, aura senjata lord yang sangat kuat pun dirasakan oleh semua orang.
Pedang dewa pemangsa kematian, menjadi barang lelang terakhir yang di keluarkan, jelas ini membuat semua orang terkejut, bahkan mungkin menolak untuk mengakuinya.
Siapa bisa percaya, jika pedang milik pemimpin dari ke lima dewa awal penciptaan hadir di acara ini, setelah sekian ribu tahun lenyap tanpa kabar.
"Memang mirip, tapi itu palsu." Gumam Askar yang jelas memperhatikan setiap sisi dari pedang dewa pemangsa kematian di dalam kotak kaca.
Askar yang memiliki pedang asli dari dewa Asyura tentu menujukan senyum mengejek, dimana varjo de hores sendiri sudah berdiri untuk melihat dengan jelas.
Bahkan kakek loe teu yiu yang berada di samping Askar pun terbuka mulutnya, seakan tidak percaya jika pedang penuh legenda dari Asyura tiba-tiba saja muncul.
"Askar, jika itu memang benar pedang dewa pemangsa kematian kau harus mendapatkannya." Kakek Loe Teu Yiu dengan tergesa-gesa berbicara kepada Askar.
"Untuk apa ?, aku tidak butuh pedang yang disana itu." Tapi santai saja Askar menjawab.
"Kenapa kau bicara seperti itu, kau yang memiliki kekuatan dewa pemangsa, harus tergabung dengan pedang dewa pemangsa kematian agar mendapat kesempurnaan." Balas kembali kakek Loe Teu Yiu yang tidak bisa tenang melihat sikap Askar.
"Tenanglah dulu kakek, bukan aku tidak tertarik, tapi barang yang disana itu palsu, jadi untuk apa aku membelinya." Askar menjelaskan kepada kakek Yiu.
"Palsu ?, Tapi jelas ini adalah aura dewa pemangsa, bahkan wujudnya pun sama dengan pedang dewa Asyura." Binggung kakek Yiu atas penjelasan Askar.
Ini memang aneh, siapa orang yang membawa replika pedang dewa pemangsa, bahkan kemiripannya hampir seratus persen, hanya jiwa pedang itu saja kosong.
Disaat semua orang sangat bingung atas kemunculan pedang dewa pemangsa kematian, sang pemilik balai lelang tentu saja semakin bersemangat dengan hasil yang akan dia dapat.
"Baiklah, tuan-tuan dan nyonya-nyonya semua, jelas ini bukan barang remeh temeh, harganya pun tidaklah murah, tapi kami tidak akan persulit, harga ini paten, tanpa tawar menawar cukup tiga juta koin kristal, kami akan memberikan pedang dewa pemangsa kematian, kepada anda." Ucap pemilik lelang yang tentu memastikan bahwa nominal itu bisa memberi keuntungan.
Tiga juta koin kristal, itu bukan banyak lagi, tapi mampu membuat sebuah kerajaan dengan semua fasilitas lengkap dan armada tempur yang handal.
Askar menggelengkan kepala dengan lemas..."Barang palsu saja harganya tiga juta koin kristal, apa lagi aku menujukan pedang dewa pemangsa kematian yang asli."
'Tuan tolong jangan berpikiran untuk menjualku.' suara itu datang didalam pikiran Askar.
Sahara yang ada didalam dunia imajinasi, mewujudkan diri dan sedang duduk bersama Aza El haramale untuk memperhatikan dunia luar.
__ADS_1
'eh kau dengar toh Sahara.'
'Jelas sekali, tuan memiliki niat lain.'
'Aku tidak mungkin melakukannya, tenang saja.'
'baguslah kalau begitu.'
Walau terdengar meragukan, tapi Askar tidak akan membiarkan pedang dewa pemangsa kematian yang menjadi mukjizat dari dewa Asyura diambil orang.
"Tapi siapa yang bisa membentuk pedang palsu semirip itu." Berkata Askar dengan bingung.
Karena bukan hanya bentuknya saja, tapi aura yang muncul dari mata pedang itu menyerupai skill pemangsa, bagi siapa pun selain Askar tentu tidak akan menyadari perbedaannya.
Lepas dari rasa kebingungan Askar.
Sebuah tangan terangkat dengan tegas.
"Aku beli pedang itu." Suara keras Varjo de hores terdengar jelas menggema di seluruh ruangan.
Kejutan datang dari orang-orang yang ada di sampingnya, mereka adalah pengawal pribadi dan tidak bisa membantah jika tindakan varjo diluar dugaan.
"Apa kau berniat membantah keputusanku, Karjo, kalau memang seluruh kekayaan habis, kita hanya perlu membuat rakyat untuk membayar pajak lebih banyak." Jawab Varjo tanpa bisa dilawan.
"Tapi tuanku, ini sama saja kita menyengsarakan rakyat sendiri."
"Siapa perduli, kau tahu dengan pedang dewa pemangsa kematian, keuntungan apa yang bisa kita dapat, sedikit kekuatan pemangsa dari dewa Asyura." Sudah bebal pikiran varjo dengan niat dipenuhi oleh keinginan memiliki kekuatan sesosok dewa.
Karjo terlihat lemas, dia sudah berusaha untuk menahan Varjo de hores agar tidak terbawa suasana, tapi sayangnya hasrat akan kerakusan memiliki kekuatan dewa sudah membutakan mata dan juga membuang akal sehatnya.
Askar merasa aneh, karena tidak ada suara lain yang datang, lelaki bercadar itu lenyap dan kehadirannya pun tidak bisa dia ketahui.
Jika memang lelaki itu adalah kolektor benda langka, tentu dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk mendapat benda berharga seperti pedang dewa pemangsa kematian.
Dengan bangga Varjo de hores berjalan naik ke atas podium, secara khusus dirinya mengambil pedang yang ada didalam kotak kaca itu.
__ADS_1
"Tuan Varjo, anda tentu tidak akan menyesal, karena pedang yang sangat hebat ini akan menjadi milik anda." Berkata pemilik balai lelang penuh makna.
"Aku bisa merasakannya, kekuatan dari dewa pemangsa, dewa Asyura ada digenggaman ku." Terlihat jelas varjo begitu bangga mengangkat pedang ditangan.
Sinar perak terang muncul menyilaukan semua mata, dan ketika varjo mengayunkan pedang, terjadi gemuruh kuat ledakan energi memotong ruang.
Kebanggaan Varjo semakin tinggi hingga ke ubun-ubun, tapi pemilik balai lelang tentu menujukan isyarat.
"Jadi, tentang pembayarannya."
Varjo melemparkan sebuah cincing ruang penyimpanan, dimana ketika Pemilik balai lelang menerawang, matanya jelas berbinar-binar terang.
"Apa kau tidak menghitungnya kembali." Bertanya Varjo.
"Itu tidak perlu, karena aku percaya jika tuan Varjo adalah orang yang jujur." Puji pemilik lelang dengan senyum penuh rayuan.
Tapi dari tempat Askar, dia memang mengakui jika pedang itu memiliki aura yang sama, tapi tidak dengan jiwa Sahara.
"Aku merasa kasihan, jika dia tahu kalau itu bukan pedang yang asli." Berkata Askar dengan tersenyum bahagia.
"Tapi menurutku itu pedang asli." Kakek loe teu yiu masih kesal karena dia tidak bisa melawan varjo dalam hal keuangan.
"Tenang saja kakek yiu, aku sangat tahu pedang dewa pemangsa kematian yang asli, karena saat pedang itu diayunkan, aku tidak mendengar suara wanita mendesah." Balas Askar.
"Apa maksudmu, kenapa dengan suara mendesah."
"Nanti aku akan tujukan kepadamu kakek, tapi jangan di tempat ini."
"Tapi aku tetap pemasaran, apa yang kau maksudkan dengan suara mendesah." Kakek Yiu tidak bisa tenang untuk itu.
Setelah semua berakhir, seorang gadis cantik datang untuk membawakan Askar setiap barang yang sudah dia beli, termasuk telur dan hasil penjualan senjata-senjata lain.
Hanya saja satu hal yang aneh.
"Tuan ada orang lain yang memberikan ini." Berkata Pelayan dengan menyerahkan sebuah kotak.
__ADS_1
"Apa ini." Askar tidak merasa punya kenalan di alam semesta atas.
Tapi ketika Askar membukanya, sebuah kotak lain berisi bunga Anemoe kristal dan cincin ruang penyimpanan terlihat, dimana itu berisi dua juta tujuh ratus ribu koin kristal, sudah dipotong pajak.