
Bagiamana ikhlasnya seorang wanita, dia tidak ingin kebahagiaan di ranjang dibaginya kepada kekasih lain, cukup wajar, karena sampai saat ini entah itu Elica, atau pun Sina tidak pernah saling berbagi ranjang.
Sedikit hal mereka malu, dilain hal mereka tidak ingin tersaingi, walau Askar tanpa pernah membeda-bedakan setiap kekasih, tapi isi pikiran mereka hanya tidak bisa menerima, jika nyatanya Askar lebih menikmati kegiatan bersama istri lain.
Askar paham dan tidak ingin memaksakan kehendak akan keegoisan dirinya sendiri, karena itu, disaat semua orang terlelap dalam tidurnya.
Rea tampak anggun, saat menampakan diri dalam balutan kain tipis putih transparan yang menggambarkan setiap lekuk tubuh tanpa cacat.
Tidak ada lemak berlebih, semua sesuai standar kualitas terbaik yang membuat Askar diam ditempat, walau pun untuk yang bagian bawah sudah bersemangat dan meronta-ronta.
Rea Azalea Refani, gadis cantik dengan rambut hitam panjang, tatapan tajam, mata dingin, bibir tipis merah jambu, 34 C, pinggang 45 cm, tinggi 172 cm dan berat 48 kg.
Askar tidak pernah membayangkan dalam hidupnya, sosok Rea yang dulu hanya menjadi angan-angan akan fantasi liar didalam toilet, kini berada tepat didepan mata tanpa perlawanan.
Siapa yang tidak tergiur akan kecantikan wanita dengan tubuh ilahi itu, gaun terbuka depan belakang, memperlihatkan punggung putih mulus, termasuk longgar bagian depan yang menampakan jurang dalam dari cela himpitan dadanya.
Lirikan matanya tajam namun sendu, bibir indah bergincu merah, dan senyuman manis yang melengkung diwajah, semua daya tarik dimana orang gila pun akan waras seketika.
Itu membuat siapa pun tertarik, tidak perduli tua atau pun muda, perjaka atau yang beranak lima, sekilas pandangan mata tertuju kepada Rea, maka hilang akal semua orang.
Andai kata Rea meminta mereka semua untuk menggonggong sekali pun, asalkan bisa menjilat kaki putih yang tersimpan dari balik gaun itu, tidak akan bisa untuk menolak.
Perlahan datang dalam langkah menuju tempat Askar duduk, sentuhan jari lentik dengan cat kuku berwarna merah mengelus pipi Askar dengan lembut, Askar terhipnotis.
"Kenapa kau diam saja Askar, apa aku kurang menarik ?." Ucap Rea yang tersenyum manis penuh godaan.
Ini pertama kalinya dia begitu terang-terangan merayu Askar, biasanya Rea dengan tenang dan damai berbicara, tapi seketika berubah liar seakan itu memang sifat asli yang dia sembunyikan.
"Tidak... Kau sangat cantik Rea." Gugup Askar menjawab pertanyaan wanita satu ini.
__ADS_1
Askar yang sudah biasa melihat kecantikan layaknya bidadari dari surga, tapi tidak ada rasa bosan dia mengagumi semua hal dari kecantikan para kekasihnya.
"Jika memang begitu, kenapa kau hanya melamun." Rea semakin mendekat dan menyentuhkan dada kedalam pelukan Askar.
Rasa girang, bahagia, gugup dan kebingungan semua bercampur aduk karena Rea jelas sedang mempermainkan Askar.
Rea tahu Askar adalah tipe lelaki yang tegas dalam pendirian, tapi akan runtuh semua harga dirinya ketika berhadapan dengan orang yang dia cintai.
"Tidak aku hanya belum bisa membayangkan jika saat ini aku benar-benar melihatmu dengan sudut pandang yang lain."
"Baiklah aku mengerti, tapi apa hanya itu yang bisa kau lakukan Askar." Berbisik Rea dengan suara lembut di telinga.
Seakan tidak perlu bersusah-susah melawan monster demi mendapat kebahagiaan, tepat dihadapan Askar, Rea datang tanpa perlawanan, hanya pasrah menerima apa pun yang dia lakukan.
Sepintas Askar mulai bergerak, satu tangan yang datang melingkar di pinggang Rea dan menyentuh pan*tat aduhai itu.
Semakin lama, Askar semakin tidak terkendali, tersikap gaun kini terangkat ke atas, dimana tangan Askar mulai membelai perlahan apa yang ada didalam segitiga penuh rahasia milik Rea.
Jelas berbeda dari kenikmatan saat bermain sendiri, Rea hanya berfantasi tentang sosok Askar, tapi sekarang lelaki itu tidak lebih dekat dari kulit yang saling bertemu.
Nyatanya Rea adalah tipe orang yang mampu menyembunyikan setiap hasrat dengan ketenangan, tapi pada akhirnya dia sendirilah paling menantikan hari ini, saat fantasi menjadi kenyataan, dan jari-jarinya mampu menyentuh lelaki yang dia inginkan.
Rea menikmati waktu saat Askar masih bermain-main dengan tubuhnya, tidak ada penolakan, tidak perlu menahan diri, secara tidak sabar, dan hasrat sudah memuncak hingga ke ubun-ubun, Rea mendorong jatuh Askar ke atas ranjang.
"Rea yang aku kenal adalah sosok penyabar dan menikmati semua secara perlahan." Berkata Askar dengan senyuman penuh makna.
"Jadi kau akan mengenali Rea sebagai sosok baru yang benar-benar menginginkanmu dan tidak bisa menahan diri lagi." Balas Rea yang dengan jelas tersenyum semangat.
Seketika gaun sudah terlepas, tatapan mata Askar secara langsung mengarah ke dua bentuk penuh keindahan yang tercipta sebagai impian para lelaki.
__ADS_1
Tubuh tanpa busana, kulit putih pucat, halus dan mempesona, tanpa basa basi, pakaian dilepas, tegak menantang seakan kuat tidak tergoyahkan.
Rea perlahan mendekat, sentuan jari jemari membelai lembut apa yang tegak tapi bukan keadilan, sebuah senjata pamungkas yang menghancurkan kesombongan.
Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit, menelan pusaka yang tegak berdiri, sempit memang benar, kuat mencengkram, darah mengalir saat ujung kepala mulai masuk ke tubuh Rea.
Ekspresi wajah Rea seakan berubah, saat dia menyadari bahwa itu jauh lebih besar dari bayangannya.
"Ini berbeda dari yang pikirkan." Ucap Rea dengan menahan rasa sakit.
"Ya kau baru pertama kalinya Rea, bersabarlah sedikit, santai dan kau akan menikmatinya." Balas Askar dengan membelai rambut hitam Rea.
Rea pun mengangguk, dia tidak lagi terburu-buru dan melemaskan diri untuk sekedar rebahan diatas tubuh Askar.
Berselang beberapa menit, dirasakan sakit mulai lenyap karena efek dari regenerasi yang Rea miliki. Tapi tanpa Rea mempersiapkan mental, Askar menggerakkan tubuh yang secara tiba-tiba dan memasukan seluruh pusaka hingga pangkal.
Terkejut Rea dengan sengatan kuat yang membuat seluruh tubuh lemas seketika.
"Askar aku belum mempersiapkan diri." Ucap Rea yang dengan kuat mencubit kulit Askar.
"Bukankah tadi kau begitu bersemangat." Sindir Askar karena sikap Rea yang berubah.
"Setidaknya bicara dulu sebelum bergerak, ini sangat mengejutkan." Rea merasa malu karena Askar benar-benar membuat dirinya lemas hanya satu gerakan.
"Jadi apa perlu aku teruskan atau berhenti ?." Goda Askar yang sedikit menyukai ketika melihat wajah Rea saat malu-malu.
"Jangan berhenti." Balas Rea dengan wajah merah merona.
Tentu tidak ada niatan bagi Askar berhenti, karena dirasakan tubuh ilahi yang dimiliki oleh Rea, adalah sumber energi murni dalam jumlah besar.
__ADS_1
Dengan memusatkan konsentrasi, aliran energi tubuh Rea diserap oleh Askar melalui teknik meditasi gabungan jiwa, dan secara langsung jurang batas peningkatan kekuatan Askar terisi penuh untuk dirinya melangkah ke lord alam kaisar tahap akhir.