
Wilayah alam semesta kerajaan bawah.
Padang gurun dan bukit bebatuan, menjadi pemandangan yang paling banyak dilihat oleh Askar serta semua orang.
Terlebih ada banyak monster-monster tersembunyi di bawah pasir atau tumpukan batu yang siap menyerang siapa pun ketika melintas.
Tapi sial untuk monster liar yang kedatangan sebuah mangsa diatas kekuatan mereka, karena saat ini Askar membantai habis setiap monster saat menyerang mereka.
Putri Nanda tampak biasa saja dengan kemampuan sosok asing yang baru dia temui dan memperkenalkan diri sebagai makhluk dari alam semesta lain.
Walau jelas jika kekuatan Askar begitu mudah membunuh para monster setara lord dibawah surga hanya dengan menciptakan senjata yang terbang dan menghujam mereka.
"Putri Nanda sepertinya anda tidak terlalu terkejut dengan sosok lelaki ini." Ucap Gudo yang berbisik ke putri Nanda.
"Ya aku memang terkejut, tapi aku lebih terkejut karena kita sedang melaju di sebuah kereta yang di tarik oleh sembilan ekor kucing." Balas Putri Nanda dengan senyuman lemas.
"Aku juga merasakan hal yang sama putri." Pelayan itu pun seakan tidak percaya akan semua kejadian di hari ini.
Semua jelas di rasakan oleh mereka berdua, karena tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika saat ini mereka harus menahan malu sendiri.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan orang katakan ketika melihat kita."
Rea dan Sina yang sudah bosan melihat pemandangan diluar, kini mulai memperhatikan sosok Nanda.
Sosok cantik, muda, dan mungkin anak orang kaya, karena semua hal tentang Nanda menujukan sebagai gadis yang anggun.
"Nona Nanda, aku bertanya-tanya kenapa kau dan pelayanmu ini ada di gurun pasir." Bertanya Sina dengan niat membuang rasa bosannya.
"Soal itu..." Tertawa terpaksa Nanda sebelum menjawab pertanyaan sina.
"Kami hanya berniat untuk jalan-jalan saja, tapi siapa sangka ada monster yang menyerang kami." Gudo lah yang menjawab.
Itu sangat aneh, karena tidak ada alasan bagi orang-orang datang ke gurun yang berbahaya hanya sekedar jalan-jalan.
Cukup lama Omen sudah berlari melintasi gurun ke arah Utara, hingga dari jauh terlihat wilayah hijau dan rumah-rumah yang menjadi tanda akan sebuah peradaban.
__ADS_1
"Tuan Askar sebentar lagi kita akan memasuki wilayah kota kerajaan, Loyi." Ucap Nanda sembari menujuk ke titik tujuan Askar.
Kota Loyi menjadi pusat pemerintahan bagi luasnya wilayah kekuasaan Sam di alam semesta kerajaan bawah.
Walau pun terbilang seluruh alam semesta, tapi hanya tiga planet saja yang menjadi tempat tinggal para penduduknya.
Di setiap bagian seakan tidak ada bedanya dengan kehidupan di dimensi mortal, hanya saja, peradaban alam semesta kerajaan bawah, terlihat layaknya zaman kerajaan Nusantara di masa lalu.
Askar tidak terlalu terkejut, karena ingatan Asyura sudah memperlihatkan gambaran dari seluruh tempat yang di jelajahi oleh dewa pemangsa itu.
Tepat di dinding batas kota para penjaga gerbang sudah bersiap menghadang laju kereta yang di kendarai oleh Askar.
Walau semua penjaga menatap aneh ketika kereta yang dibawa oleh Omen berhenti untuk pemeriksaan, hanya saja Askar tidak bisa bersikap arogan dan mencoba bersabar biar pun sedikit terhina.
"Siapa yang bertanggung jawab untuk kendaraan tidak bermoral ini." Teriak salah satu penjaga dengan lantang.
Dan saat itu juga Askar turun..."Aku tuan penjaga."
Ditujukan wajah tersenyum cerah, seperti yang di inginkan oleh Elica, Askar tidak boleh bersikap arogan dalam situasi apa pun demi menghindari masalah.
Sebenarnya Askar tidak tahu jika ini akan jadi masalah, tapi jelas kehidupan kucing di alam semesta atas hampir mirip dengan perlakuan di dunia mortal.
"Kami tidak punya pilihan lain tuan, karena di tengah gurun sana, kuda kami sudah di telan kadal raksasa, jadi hanya teman kami satu ini yang bisa diandalkan." Askar mencoba mencari alasan yang tepat.
"Aku merasa lebih pantas kau yang menarik kereta ini dari pada kucing itu." Balas penjaga lain yang membuat penjaga lain pun tertawa lepas.
Askar tetap tersenyum demi menghindari masalah, walau apa yang mereka katakan sudah membuat urat kepala Askar semakin keras.
"Hei kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu, apa kau mengejekku ?." Satu penjaga merasa terhina karena senyuman Askar.
Ya elah, ni orang ngajak ribut ?, senyum aja salah, apa aku tonjok.
"Tidak tuan penjaga, aku tersenyum karena bawaan lahir." Balas Askar yang masih tersenyum walau emosi sudah di tenggorokan.
"Tapi aku merasa terhina, jadi berikan kompensasi karena aku merasa tersinggung, kalau tidak kami usir kau." Kata penjaga yang menujukan ancaman.
__ADS_1
Cih bilang aja kalian ingin memeras ku demi mendapatkan uang.
Jika Askar rasakan, para penjaga ini tidak lebih dari seorang lord yang nyata, tentu mereka berada jauh di bawah Askar sendiri.
Terlihat jelas jika di alam semesta atas, lord yang nyata tidak lebih sekedar kecoro-kecoro untuk menjadi petugas penjaga gerbang masuk kota.
Satu tamparan tangan Askar, sudah cukup untuk membunuh mereka semua, tapi akan terjadi keributan dan itu menjadi masalah bagi Askar.
Bisa dibayangkan orang-orang setingkat lord alam kaisar seperti Askar, mungkin sama dengan para petinggi di dalam kerajaan atau orang penting dengan jabatan tinggi.
"Tapi tuan penjaga yang terhormat...."
"Kau tidak bisa merayuku untuk masuk tanpa kompensasi." Potong penjaga itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan, aku tidak merayu anda, tapi aku jelas tidak memiliki uang karena aku baru datang dari alam semesta lain." Jawab Askar yang masih bersabar.
"Ah begitukah, kalau begitu kau bisa menggantinya dengan barang yang hanyanya sama."
"Hmmm baiklah." Seketika ditangan Askar muncul sebuah senjata pedang kelas lord yang membuat mata para penjaga terbuka lebar.
Askar menyadari sesuatu, dari cara mereka menatap pedang di tangan Askar, jika senjata kelas lord di alam semesta atas masih sangat mahal.
"Apa ini cukup tuan." Askar berniat menyerahkan pedang yang diciptakan kepada mereka.
Dengan wajah melongo itu, seakan tidak percaya jika Askar yang datang dari alam semesta lain dan memiliki barang berharga seperti pedang lord.
"Ti... Tidak ini masih kurang." Jawab penjaga itu.
Jelas mereka berbohong, tapi Askar tidak keberatan memberi pedang lord lain, karena dia bisa menciptakannya hingga puluhan ribu kali.
"Tuan Askar tunggu sebentar." Suara putri Nanda keluar dari dalam kereta.
Ketika dirinya turun, sontak saja wajah para penjaga terkejut atas kemunculan sosok Nanda sebagai salah satu penduduk di dalam kota kerajaan Loyi.
"Itu putri Nanda."
__ADS_1
"Ya, anak dari wali kerajaan, Virnda."