
Hari ini adalah pertandingan hari ke lima dari turnamen kerajaan beladiri, ramai penonton bersorak sorai dari arena luar.
Tentu alasannya jelas, dimana pun, kapan pun, dan siapa pun, mereka mendukung masing-masing dari jagoan mereka karena sudah bertaruh banyak koin kristal energi.
Peserta yang menjadi favorit mereka adalah Le Wei dan Dal mantilo, keduanya adalah bakat terbaik dalam generasi dibawah lima ratus tahun di seluruh perguruan alam semesta kerajaan beladiri.
Jauh sebelum nama Askar dikenal oleh masyarakat kerajaan, Le Wei dan Dal mantilo sangat diagung-agungkan oleh banyak orang, tidak hanya tentang kekuatan, status mereka berdua pun bukan sembarangan.
Jika Le Wei adalah murid terbaik di perguruan gunung pedang suci, Dal mantilo menjadi pemenang turnamen kerajaan beladiri untuk beberapa waktu sebelumnya.
Jelas persentase kemenangan mereka berdua sangatlah tinggi, bahkan jika ada murid dari padepokan lain mendapatkan posisi sebagai lawan, mereka lebih memilih menyerah, karena tahu tidak ada kesempatan untuk menang.
Termasuk untuk saat ini, Karlina secara mengejutkan mendapatkan lawan dari Dal mantilo, dan membuat semua orang menaruh taruhan kepada lelaki itu.
Tepat sebelum Karlina naik ke atas arena dan Su yiu yang menunggu antrian setelah Karlina itu menyelesaikan pertandingannya, Askar secara sengaja mendekat dengan tujuan yang jelas.
"Karlina, Su yiu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Ucap Askar memanggil kedua wanita yang sedang melakukan pemanasan.
Karena tahu Askar memanggil mereka, entah Karlina atau pun Su yiu, keduanya meninggalkan kegiatan tanpa harus membuat lelaki itu menunggu.
"Ada apa Askar kenapa kau terlihat serius begitu." Bertanya Karlina yang merasa aneh jika melihat Askar berbeda dari biasanya.
"Aku ingin kalian berdua tidak melanjutkan turnamen ini." Balas Askar yang jelas itu bukanlah sebuah lelucon.
Karlina terkejut, dia jelas tidak tahu kenapa Askar berpikiran untuk membuatnya pergi, sedangkan satu kali lagi, dia akan menjadi seratus orang terpilih di prajurit khusus bentukan Varjo de hores.
"Kenapa ?, Apa yang membuatmu ingin aku menyerah." Ucap Karlina meminta alasan dari Askar.
"Apa kau tidak memikirkan tentang Lelia, dan kedua adikmu yang masih kecil." Jawab Askar memikirkan urusan Karlina.
Dia pun tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Askar, ketiga adiknya itu menjadi hal penting bagi Karlina.
__ADS_1
Sedangkan Askar memikirkan apa yang terjadi jika Karlina dipilih oleh Varjo, maka ketiga adiknya itu harus membiarkan Karlina pergi untuk pelatihan khusus.
Terlebih lagi untuk Lelia dia baru saja sembuh dari penyakit yang lama menggerogoti tubuh, itu membuat Lelia belum bisa menyesuaikan diri dengan semua hal di kehidupan barunya.
"Tapi jika aku bisa masuk kedalam pasukan itu, aku yakin bayarannya akan sangat besar." Karlina mencoba beralasan.
"Hmmmm, memang untuk sekarang kau membutuhkan uang demi siapa ?, Lelia sudah cukup membaik, kau masih memiliki banyak simpan, adik-adikmu hanya perlu kau untuk menjaga mereka." Tapi balasan Askar itu memang ditunjukan agar Karlina lebih mengkhawatirkan keluarganya.
"Aku mengerti Askar." Jawab Karlina sedikit lemas, walau sedikit hati ada rasa tidak puas karena harus menyerah tanpa perlawanan.
Karlina tentu memahami tujuan Askar, dan sekarang giliran Su yiu, sebab dia pun memiliki alasan kenapa wanita ini harus mundur.
"Bagaimana denganmu Su yiu, apa kau mau melanjutkan turnamen ini atau berhenti." Kini Askar berbalik kepada wanita yang berdiri diam di sebelahnya.
"Apa alasannya." Pertanyaan singkat dari Su yiu.
"Sejak awal apa tujuanmu di sini untuk menjadi bawahan Varjo de hores, atau keinginan kakek loe teu yiu agar kau mendapat pengalaman hidup." Balik Askar bertanya.
Karlina dan Su yiu pun paham jika itu semua demi kebaikan mereka juga, Askar tidak ingin ikut campur dalam rencana Varjo de hores.
*******
Memang banyak yang menyayangkan tindakan Su Yiu dan Karlina saat mengundurkan diri dari pertandingan mereka.
Tapi sekarang mereka-mereka yang sudah mulai mengetahui tentang Askar, menujukan senyum gembira karena sekarang adalah giliran Askar dalam pertandingan kedua.
Dan siapa sangka satu lawan yang diberikan oleh Pengawas adalah seseorang dari kerajaan beladiri itu sendiri, yaitu Jariko de hores.
Dia secara sengaja ikut karena Varjo ingin melihat seberapa kemajuan anak lelaki yang kelak digadang-gadang akan menjadi penerus kekuasaan di alam semesta kerajaan beladiri.
Gorongo berjalan cepat menuju Askar, dia tentu menunggu hari ini, dan sangat beruntung karena dia yang menjadi lawan Jariko.
__ADS_1
"Tuan guru, kenapa kau begitu bersemangat untuk pertandingan ini." Bertanya Askar kepada Gorongo.
"Bagaimana tidak, jika kau bisa mengalahkan Jariko maka perguruan beladiri pedang semesta tidak akan menerima perintah dari kerajaan lagi." Jawab Gorongo sembari mengepalkan tangan.
"Apa hanya karena itu anda mau memberi semangat."
"Tentu saja, aku sangat mengandalkanmu." Tersenyum cerah lelaki pelontos ini.
"Kalau begitu bagaimana dengan pertandinganku sebelumnya." Lemas Askar merasa tidak ada niat apa pun dari Gorongo selain untuk kepentingannya.
"Tenang, aku tahu kau menang, jadi untuk itu aku cukup senang, aku untung banyak saat bertaruh kemarin." Itu menjadi alasan kenapa Gorongo memiliki aura cerah di hari ini.
Askar bisa menganggap bahwa ini memang sudah di atur oleh Varjo de hores, karena sebelumnya Gorongo pernah bertaruh kepada Varjo untuk sebuah kebebasan padepokan beladiri pedang semesta.
Berjalan memasuki arena, Jariko sudah siap dengan semua perlengkapan tempur yang sangat luar biasa kuat.
Baju besi emas kehitaman setara senjata lord kelas atas, sebuah kalung batu dengan efek pengurang dampak semua serangan, dan juga pedang ditangan Jariko.
"Sepertinya anda sangat mempersiapkan diri untuk hari ini." Ucap Askar mencoba bersikap sopan.
"Askar tidak perlu banyak basa basi, hari ini aku sudah siap dengan kekuatan penuh dan aku akan mengalahkan mu." Tegas jawaban Jariko, seakan menaruh dendam kepada Askar.
Semua ini berasal dari satu wanita, dan dia adalah su yiu dimana tidak ada tanggapan apa pun untuk membalas rasa suka Jariko, karena memang dia adalah wanita milik Askar.
Sebilah pedang yang Jariko keluarkan itu memiliki aura tidak asing bagi Askar, pedang putih keperakan, mengeluarkan cahaya silau menyebar ke seluruh arena.
"Bukankah itu...." Askar mengenal pedang yang Jariko gunakan.
"Ayahku mempercayakan untuk menggunakan pedang legendaris ini, kau akan merasa bangga kalah oleh pedang dewa pemangsa kematian." Penuh kebanggaan Jariko mengucapkan nama pedang yang dia miliki.
Tidak ada yang tahu jika pedang Jariko hanya sebuah imitasi dibuat oleh Davendra, kecuali Askar, karena memang sejak awal pedang dewa pemangsa kematian berada di tangannya.
__ADS_1