
(yang sedang berpuasa sebaiknya, baca setelah buka, karena ada sedikit unsur yang menegangkan, tentu untuk hal-hal khusus.)
Resya kini tahu alasan kenapa dia tidak menyukai Askar, ya lelaki satu ini selalu bertolak belakang dalam segala urusan yang berhubungan dengannya dan menentang semua, agar dia sendiri yang kalah.
Berawal dari keinginan untuk membuat Askar meminta maaf, tapi diajaknya bertaruh. Dianggapnya akan menang, seketika Askar berada di puncak. Resya kalah dan Askar lah yang menang.
Tapi untuk kali ini Resya tidak bisa mundur, karena masa depannya sendiri yang menjadi taruhan, terlebih Askar akan semakin menjadi-jadi jika di biarkan.
Askar berdiri dan menatap mata Resya secara langsung, tanpa ragu, tanpa merasa bersalah, senyum itu ditunjukan untuk mengejek Resya.
"Aku bertanya-tanya apa masalahmu kepadaku, kenapa kau tidak mau mengalah untuk satu ini." Dengan kesal Resya berbicara kepada Askar.
"Sejak awal kau sendiri yang mencari masalah Resya, aku hanya membela diri saja." Askar memiliki jawaban untuk pertanyaan Resya.
"Apa menurutmu ini sebuah hiburan saat melihat aku bingung."
"Tentu saja, karena kau sendiri yang memulainya resya, dan aku ingin tahu seperti apa nantinya." Jawab Askar tanpa merasa kasihan melihat Resya.
"Kau mempermainkan aku Askar." Resya pun kesal sendiri melihat Askar yang tersenyum tanpa beban.
Semakin Askar melihat wanita satu ini kesusahan, semakin bahagia Askar atas kejadian yang dia mulai sendiri.
Tentu alasannya sederhana, karena dia adalah anak dari Varjo de hores, dan Askar memiliki dendam kepadanya.
Walau tidak menyenangkan untuk melampiaskan kepada Resya yang tidak tahu apa pun, tapi ini bisa menjadi awal dari pembalasan kepada Varjo.
"Menikah denganmu, hmmm aku rasa itu tidak terlalu buruk, walau kau masih belum memenuhi kriteria istri idaman, bahkan menjadi pelayan pun tidak." Askar pun berkata demikian.
"Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu." Tegas Resya menolak.
"Kalau begitu katakan sendiri kepada Ibumu, sedangkan kau sudah mengatakan bahwa menaruh perasaan kepadaku, maka rasakan sendiri akibatnya." Askar tersenyum puas karena hal ini.
Walau Askar terlihat seperti tokoh antagonis yang memaksa seorang wanita untuk menikah dengannya, tentu bukan hal penting.
Resya juga bukan gadis baik-baik yang berhati suci atau pun suka menolong, tidak ada salahnya untuk Askar bermain-main dengan wanita seperti ini.
__ADS_1
Soal kecantikan, Resya cukup bersaing dengan wanita - wanita askar, semua lelaki tentu tidak akan menolak jika harus dipaksa menikahinya, sedangkan, Askar tidak menaruh perasaan apa pun.
"Baiklah, bagaimana jika begini." Sebuah senyuman lain terlintas di wajah Askar.
Tidak tampak ada hal baik yang sedang Askar pikirkan, selain mengharapkan satu keuntungan dari milik Resya.
Askar berbisik ditelinga Resya, kata demi kata mengalir untuk dia pikirkan, sejenak mendengar, saat itu juga wajahnya merah merona dengan tubuh mundur kebelakang.
"Ap... Apa yang kau pikirkan, kau ba*jingan, seenaknya sendiri meminta hal itu kepadaku." Keras Resya menjawab.
"Hei ini adalah pertimbangan dariku, jika kau tidak mau melakukannya, aku pun tidak masalah, karena itu bisa aku dapatkan darimu saat kita menikah." Askar hampir membuat Resya pingsan karena keinginannya.
Sejenak Resya berpikir, apa yang dibisikkan oleh Askar menjadi pukulan telak atas dua pilihan sulit untuk dirinya ambil.
Di satu sisi Resya jelas menolak menikah dengan Askar, dan di sisi lain, jika melakukan keinginannya, Askar berjanji akan menolak permintaan dari Tisumi.
"Baiklah, aku menerima apa yang kau inginkan...." Ucap Resya dengan berani.
Cepat tangan Askar menarik tubuh Resya kedalam pelukannya, secara langsung gerakan satu tangan lain menyentuh pipi merah merona dari wajah Resya.
"Aku menyukai cara berpikirmu yang sederhana." Ucapan Askar Itu bukan pujian bagi Resya.
Resya gemetar, sensasi yang tidak pernah dia rasakan mengalir deras ke otak, seakan kaki kehilangan tenaga untuk berdiri, tapi dipaksa oleh Askar dalam pelukan tanpa bisa dia lepas.
"Aku yakin kau tidak pernah melakukan hal seperti ini." Goda Askar dengan berbisik lembut, sedangkan tangan tidak berhenti menjelajah ke dalam lekuk tubuh Resya.
"Diam kau, cepat lakukan keinginanmu dan selesaikan semua masalah antara kita." Tegas ucapan Resya dengan suara kacau dan nafas berat.
Askar tidak akan melepas daging empuk yang sudah ada di genggaman tangannya, permainan jari jemari pun lincah membuat Resya kacau.
Hingga.....
"Askar apa kau masih ingin berlatih ?." Suara wanita terdengar jelas dari kejauhan.
Selagi Askar membicarakan sesuatu yang cukup penting dengan Resya, Karlina pun muncul dari balik pintu, melihat mereka berdua hingga membuatnya diam di tempat.
__ADS_1
"Maaf jika aku menganggu kalian." Karlina bergegas pergi, saat melihat Askar yang sedang mendekap tubuh Resya.
Askar tidak begitu saja pergi mengejar Karlina, karena dia pun tahu mengenai perjanjian yang askar buat sengan Resya, tidak mungkin ada salah paham diantara mereka berdua.
"Kalau begitu, kita lakukan ini nanti." Ucap Askar dengan tersenyum cerah kepada Resya.
Tanpa jawaban, hanya diam ditempat seakan dihipnotis paksa dengan tubuh kaku tidak bisa melawan.
Melihat Askar pergi, seketika kaki Resya tidak bisa berdiri dengan benar, dia jatuh dengan tubuh lemas, jantung berdetak kencang dan jiwa yang terbang entah kemana.
Tangan mulai memukul-mukul lantai, Resya perlahan menjatuhkan air mata, perasaan marah, kesal, benci dan bingung, bercampur menjadi satu.
*******
Askar tidak terburu-buru untuk mengejar Karlina, bagaimana pun juga dia tahu perjanjian antara dirinya dengan Resya.
Tapi Karlina masih cukup polos untuk menyaksikan hal-hal yang fulgar yang dilakukan oleh Askar, hingga dia bingung ketika melihat secara langsung.
Berjalan Askar menuju kediaman Karlina, karena dia sendiri sudah merasakan jika wanita itu sedang bersembunyi di dalam kamarnya.
Saat pintu dibuka, tiga anak kecil, ya lebih tepatnya satu diantara mereka sudah berusia dewasa, hanya saja pertumbuhannya terhambat karena suatu alasan.
Tapi ketika dia melihat Askar datang, tampak jelas senyum terpahat di wajah gadis berwajah anak kecil itu secara tulus.
"Kak Askar, jika kau mencari kak Lina dia ada di kamar." Ucap Lelia yang sudah bisa berjalan dengan normal.
"Aku tahu, tapi bagaimana denganmu, apa kau sudah merasa lebih baik Lelia." Bertanya Askar.
"Ini terasa lebih baik, walau aku merasa bajuku jadi sempit." Ucapnya dengan memegang bagian dada.
"Itu wajar, karena kondisimu sudah membaik, pertumbuhan tubuhmu akan sangat pesat." Balas Askar.
Kemampuan keajaiban hidup tidak hanya memperbaiki yang rusak didalam tubuh Lelia, tapi memaksimalkan pertumbuhan setelah sekian lama berhenti.
Askar berjalan ke ruangan Karlina dan masuk kedalam, melihat wanita ini membenamkan diri dalam selimut tentu Askar merasa aneh.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan." Bertanya Askar.
"Aku mengantuk, dan ingin tidur." Jawab Karlina dengan cepat.