
Malam semakin larut, rembulan di alam semesta kerajaan bawah ini ada tiga, lebih tepatnya itu adalah tiga planet yang menahan cahaya dari bintang sebagai sumber penerangan utama.
Sama seperti perkotaan di dimensi mortal, satu tempat yang menjadi lokasi berkumpulnya setiap orang untuk mencari kesibukan mereka sendiri, tapi tidak akan dijumpai pedagang rujak buah atau pun bakul ketoprak keliling.
Karena saat ini tujuan Askar menjelajah kota adalah mencari pedagang buah mangga muda, karena tiba-tiba saja Rea menginginkannya.
"Aku ingin tahu apa ada yang jual buah mangga di alam semesta kerajaan bawah ini." Gumam Askar dengan tersenyum lemas memikirkan buah mangga.
Paling tidak itu cukup wajar karena menginginkan buah mangga muda, dari pada Rea ingin pedagangnya, tentu akan sangat merepotkan untuk Askar bawa pulang.
"Aku tidak tahu dimana harus mencari buah mangga." Semakin pusing Askar memikirkan keinginan Rea.
Jika sekarang mereka berada di rumah, mudah saja Askar menemukan buah mangga, tapi untuk kali ini, mencari buah mangga, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, sedangkan jarumnya tidak ada.
Tepat diantara bayang-bayang kerumunan orang yang sibuk dalam urusan mereka, zona persepsi Askar merasakan ada sensasi kuat sebuah Aura dan sengaja diarahkan kepada dirinya.
Hanya saja, tidak dia temukan siapa sosok yang mungkin memiliki niat jahat itu, tapi jelas Askar harus berhati-hati, karena di tempat ini, banyak musuh untuk menyingkirkan dia sebagai pengganti lord.
"Aura ini tidak biasa, dia setara dengan Virnda, aku harus berhati-hati." Gumam Askar dengan mencari sekitar.
Berjalan Askar kembali dan mencoba lebih fokus pada tujuan utama yaitu mencari buah mangga.
"Jadi kau adalah anak dari Sam dan cucunya, Sowan." Ucap suara itu datang dari belakang.
"Siapa kau." Askar berbalik dan tidak ada siapa pun disana.
Zona persepsi seakan tidak mampu mengetahui sosok yang sedang mengincarnya dari balik bayangan, Askar sangat waspada, karena lawan kali ini tidaklah mudah.
Berniat Askar pergi untuk menghindari pertarungan di tengah kota yang banyak kerumunan orang, tapi secara tiba-tiba sosok itu menampakan diri tepat dihadapannya.
Dia memiliki tinggi sekitar dua meter setengah, jangkung, berbadan kurus, menggunakan caping anyaman, dan bercadar, hanya matanya saja terbuka, menuju kepada Askar.
"Sangat luar biasa, Sowan memiliki keturunan dengan bakat tingkat tinggi sepertimu." Ucap lelaki yang kini berdiri menatap Askar dengan tajam.
Segera Askar melompat mundur tiga langkah dan bersiap dalam posisi bertarung...."Siapa kau, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
__ADS_1
"Aku adalah Qian Quan, rival Sowan, orang memanggilku pendekar mata api." Balas lelaki itu.
"Mata sapi, telor ceplok dong." Ucap Askar dengan bingung.
"Mata api."
"Huh ?... sapi kan."
"Api, A P I.... Bukan Sapi."
"Ah ... Mata api, maaf disini terlalu berisik jadi aku salah dengar."
"Tidak masalah, karena setelah ini kau tidak hanya kesulitan mendengar, tapi juga kesulitan dalam hidupmu." Balas Qian Quan yang jelas tersinggung karena ucapan Askar.
Askar merasakan sensasi merinding, ketika melihat matanya yang menyala merah dan terpancar kobaran api, ada kekuatan tersembunyi dibalik cara dia menatap.
Dan orang-orang yang ada disekitar mereka pun tidak menyadari kehadiran Quan, itu karena mata api lelaki itu memberikan efek untuk melenyapkan kehadiran.
Kemampuan seperti ini sangat mendukung kepada orang-orang yang berkerja sebagai pembunuh bayaran, karena tidak ada satu pun tahu, jika dia datang.
"Jadi apa yang menjadi permasalahanmu kepadaku tuan mata sapi... Maaf mata api." Berkata Askar tidak sengaja dan keceplosan.
"Kau sengaja kan ?."
"Tidak..."
"Sungguh ?."
"Ya aku sungguh-sungguh." Jawab Askar dengan mengangkat tangan.
Tapi jelas Quan tidak akan percaya begitu saja, terlebih dia memiliki niat tersembunyi untuk melawan Askar.
Hingga sebuah kecepatan langkah tidak biasa di ikuti oleh mata Askar, bahkan zona persepsi benar-benar tidak melihat pergerakan si mata api itu.
Skill penciptaan ruang : akselerasi.
__ADS_1
Skill pemangsa gerbang kelima : murka penguasa.
Askar tidak bisa menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan skill pemangsa, dimana tingkat Quan sendiri adalah lord alam setengah saint tahap akhir.
Ini sangat mengejutkan, karena dalam perbandingan waktu 1 : 10 detik, Askar masih kesulitan untuk mengikuti arah serangan Quan, walau mampu menghindar, tapi terlalu tipis.
Jika refleks Askar tidak bisa mengikuti kecepatan Quan, maka lepas lehernya begitu saja, dan hampir mustahil Askar melawan balik.
Sosok pendekar mata api, berdiri dan memandangi tangannya sendiri... "Ini mengejutkan, kau yang hanya seorang lord alam kaisar mampu menghindari serangan kecepatan cahaya."
"Jangan terlalu berharap banyak, aku sudah berusaha keras untuk sekedar menghindar, tapi apa yang membuat anda ingin membunuhku." Ucap Askar yang mencoba mencari tahu tentang tujuan Quan Qian.
"Aku hanya diperintah untuk membunuhmu, dan ini juga sebagai bentuk pembalasan kepada Sowan." Balas Quan dengan nada datar.
"Sowan, siapa Sowan itu, aku bahkan tidak mengenal siapa yang kau maksudkan." Jawab Askar karena jelas tidak tahu apa pun.
"Dia adalah ayah dari Sam, karena kau adalah anak Sam, jelas Sowan adalah kakekmu." Berkata Quan yang menujuk kepada Askar.
"Sudah aku duga nama Sam itu membawaku kedalam masalah, seharusnya sejak awal mereka tahu kalau aku bukan anaknya." Bergumam Askar dengan kesal.
Setiap orang di sekitar, tidak menyadari bahwa antara Askar dan Quan sudah mengalirkan energi untuk melanjutkan pertarungan.
Tapi kini Askar lebih siap dengan kemampuan penciptaan ruang yang jauh lebih kuat lagi, penglihatan masa depan, dimana Askar mampu melihat segala kemungkinan yang terjadi dalam tiga detik selanjutnya.
Selama Askar berada di tingkat lord diatas surga, dia tidak mampu menggunakan penciptaan ruang masa depan, karena terlalu banyak menguras energi.
Tiga detik membawa segala kemungkinan, dimana otak akan bekerja tiga ratus kali lebih cepat didalam ruang akselerasi dan membaca gerakan tubuh untuk mengantisipasi serangan lawan.
Gerakan cepat dan tepat, dengan semua kerumunan orang yang tidak menyadari kehadiran Askar dan Quan dalam pertarungan disela-sela kesibukan kota.
Askar tidak bisa salah mengambil langkah, jika itu terjadi, antara Askar yang akan menerima luka, atau orang sekedar lewat bisa terpotong kepalanya.
"Askar kau memiliki begitu banyak kemampuan, bahkan serangan secepat cahaya yang aku lakukan bisa kau hindari." Berkata Quan disaat pertarungan sengit masih berlangsung.
Askar menggunakan dua belati untuk menghindari gerakan percuma ketika melawan Quan, terlebih dalam lokasi menyulitkan yang begitu banyak orang disekitarnya.
__ADS_1
Tidak berhenti Askar menggunakan penglihatan masa depan, demi membaca arah gerakan serangan Quan yang tidak mungkin di ikuti oleh mata biasa.