
Sosok Sam memang bukan yang terkuat diantara mereka, tapi dengan garis keturunan sebagai awal pemimpin alam semesta kerajaan bawah, menjadikan dirinya mengambil kursi lord menggantikan sosok sang ayah.
Termasuk juga para wali, mereka sejak awal sudah memiliki sumpah untuk mengabdikan diri kepada alam semesta kerajaan bawah dan melindungi Sam.
Hanya saja, Sam tidak lagi mampu memberikan kontribusi terhadap wilayah kekuasaannya, sehingga yang paling ditakutkan oleh para wali adalah penurunan kasta bagi tempat ini.
Jelas itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan alam semesta kerajaan bawah, karena hal itu, para wali meminta untuk Sam mencari penggantinya.
Satu persatu dari wali pun menunjuk beberapa orang di seluruh wilayah dengan bakat terbaik, akan tetapi Sam secara sengaja mengirimkan hologram kepada Askar untuk tujuan membawa dirinya datang.
Dan kini Askar pun diterima oleh para wali dengan segala kepercayaan untuk membawa alam semesta kerajaan bawah ke tingkat kasta yang lebih tinggi lagi.
"Dia adalah pengganti yang sudah aku tetapkan." Ucap Sam dengan tegas.
Tidak ada yang menyangka satu sosok yang menurut mereka tidaklah penting, sok-sok akrab dengan para wali kerajaan dan sangat berbanding terbalik dari penampilan adalah orang yang dipanggil oleh lord Sam.
Tapi dibalik itu semua, ada banyak orang yang tentunya merasa binggung atas keputusan Sam, mereka adalah para keluarga dimana anak mereka menjadi kandidat sebagai pengganti.
Ya .. salah satunya adalah keluarga dari Erdo, jelas mereka menolak Askar menjadi pengganti lord Sam, karena bagi mereka Erdo dipandang sebagai sosok yang pantas menyandang status jenius terbaik di alam semesta ini.
"Tunggu sebentar tuan Sam, kami tidak bisa menerima ini." Suara penolakan itu datang dari ayah Erdo yang memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Oh, tuan Satya, apa yang membuatmu menentang keputusanku, padahal para wali pun sudah setuju." Balas Sam dengan menjelaskan semua atas keputusan yang telah kerajaan ambil.
"Jelas kami tidak bisa menerimanya tuan Sam, siapa dia ?, Aku tahu jika Askar ini bukan dari dunia ini." Berkata Satya, ayah dari Erdo tegas.
Dia berbicara untuk melindungi harga diri keluarganya yang siap menerima kursi kepemimpinan lord bagi Erdo, tapi seketika hancur oleh seseorang yang tidak diketahui asal usulnya.
"Dia adalah anakku dari dunia lain." Jawab Sam tanpa ragu, bahkan dia menujukan senyuman sombong.
Walau Askar yang menatap dengan wajah aneh saat Sam mengaku-ngaku sebagai ayahnya.
__ADS_1
"Anak ?, Lord Sam, sampai hari ini aku baru tahu kau memiliki seorang anak, apa nanti kau juga akan memunculkan para menantu serta cucu-cucunya." Balas Satya yang merasa kesal atas pernyataan Sam.
"Sebenarnya dua wanita cantik disana adalah menantuku, walau mereka tidak sampai membawa cucuku." Jawab saja Sam dengan santai.
Siapa yang tidak terkejut mendengar pernyataan Sam, jika saat ini dia sudah memiliki cucu, padahal sebelumnya Sam hanya mementingkan peningkatan kekuatan hingga tidak perduli untuk mendapat keturunan.
"Tapi tetap saja, kami tidak mau menerima hal ini, biar pun para wali sudah memutuskan, karena tidak ada kepastian jika dia memiliki bakat yang setara dengan Erdo." Satya bersikeras menentang Askar menjadi lord.
"Itu ada benarnya, karena aku merasa Erdo tidak ada apa-apanya dengan Askar." Gumam Sam dan tersenyum mengejek kepada Satya.
Biar pun suara Sam kecil untuk menyindir Satya tapi jelas didengar oleh telinga semua orang.
"Tuan Sam, aku ingin satu keadilan di sini." Satya terus mendorong Sam untuk rencana lain.
"Aku bahkan ragu kau tahu tentang keadilan, bahkan jika keadilan menamparmu." Sindir lagi Sam karena dia tahu seperti apa kelakuan keluarga Satya.
Sam seperti mengetahui apa yang diinginkan oleh Satya, tapi Sam pun tidak menolak apa pun, karena dia sendiri sadar seberapa kuat Askar saat ini.
"Aku ingin Askar bertarung melawan Erdo, jika Askar kalah, tuan Sam harus menyerahkan posisi itu kepada Erdo." Tegas Satya akan kepercayaan diri untuk anaknya menghajar Askar.
"Aku juga menginginkan hal yang sama, sebuah pertarungan untuk menentukan posisi penting ini."
"Aku setuju, karena aku yakin anakku berdiri diatas semua kandidat lain."
Tapi nyatanya tidak hanya keluarga Satya saja yang menginginkan keadilan, tapi keluarga lain pun angkat bicara untuk mengikuti cara Satya.
"Hmmm aku mengerti." Mengangguk Sam dengan cara itu.
"Apanya yang kau mengerti, jangan asal menerima tanpa bertanya kepadaku." Ucap Askar memotong perkataan Sam.
Askar memang merasa yakin mampu mengalahkan semua kandidat lain, bahkan permusuhan antara dirinya dan Erdo bisa dibalas tanpa ada yang menghalangi.
__ADS_1
Walau begitu, Askar merasa enggan jika harus dimanfaatkan oleh Sam hanya untuk menujukan diri atas kesombongannya kepada orang lain.
"Askar apa kau merasa takut jika kalah dan tidak bisa menjadi seorang lord." Erdo berkata dengan keras mengejek Askar.
Semua orang tertawa keras, mereka menganggap perkataan Askar sebelumnya adalah tanda jika dia takut kalah sehingga posisinya sebagai pengganti lord akan digantikan.
"Aku bahkan tidak tertarik menjadi seorang lord, tapi soal takut atau tidak, aku bahkan bisa mengalahkanmu dengan satu tamparan." Jawab Askar yang mulai tersulut emosi atas ejekan Erdo.
"Oh sombong sekali kau Askar, aku tidak perlu meminta kau melakukan dengan satu tamparan, karena aku yakin jika kau kalah, kema*luanmu akan semakin besar." Balas Erdo yang merasa diatas angin untuk bisa mengalahkan Askar.
"Hei, jangan bawa-bawa soal kema*luan disini, karena dari awal itu sudah besar, aku takut jika lebih besar lagi, itu tidak akan muat." Berkata Askar dengan santai.
Perkataan Askar membuat Erdo risih, emosi yang meluap-luap seakan tidak bisa terbendung lagi.
"Kenapa aku merasa kesal karena kau mempermasalahkan kema*luan." Ucap Erdo dengan suara keras.
"Itu wajar, karena aku yakin jika kema*luan mu hanya sebesar jari, kelingking pula." Askar membalas dengan ejekan yang lebih tajam.
"Dari mana kau tahu." Berteriak Erdo dengan wajah merah menahan malu.
"Jangan salah sangka, aku hanya tahu orang sepertimu, sedikit memiliki rasa malu, dan terkadang tidak memiliki kema*luan." Ucap Askar penuh makna.
Dengan semua emosi yang meluap-luap diatas kepala Erdo, tanpa ragu sedikit pun, dilemparkan sebuah senjata tombak, mengarah ke tubuh Askar.
Askar bersiap menangkisnya, tapi seketika itu, satu sosok lelaki sudah berdiri dihadapan Askar, dan menangkap tombak yang Erdo lempar.
Dia adalah Jaga, paman dari Erdo sendiri yang melindungi Askar dari serangan keponakannya.
"Erdo aku tidak mengajarkanmu untuk bersikap seenaknya sendiri, jika memang kau ingin bertarung maka lakukan diatas arena." Ucap Jaga dengan tegas.
Dan jelas wajah Erdo ketakutan hanya karena mendengar suara paman Jaga.
__ADS_1