PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
PPDP


__ADS_3

Semua orang memang terlihat ragu untuk Jariko, mereka tahu bahwa dewa Asyura sudah lama menghilang dari jagat raya, bahkan informasi mengenai kisah kekuasaannya di masa lalu pun semakin lenyap dari kehidupan.


Menolak percaya, tapi Jariko jelas membuktikan dimana aura abnormal yang muncul dari dalam pedang ditangannya sangatlah tidak biasa dari pedang lain.


Berbeda dari pedang lord biasa, pancaran cahaya putih keperakan menyala terang sampai membuat mata silau panas.


Siapa pun melihat, mereka takjub, terkagum-kagum, merasa aneh, merasa tidak nyaman dan merasa bahwa ucapan Jariko bukan sekedar bualan semata.


Bahkan untuk orang-orang yang memiliki tingkat kekuatan dibawah lord alam monarch, efek samping seperti pusing, mual-mual, kesemutan dan sedikit pegal dirasakan oleh mereka.


"Pedang itu sangat kuat."


"Aku merasa energi dalam tubuhku menjadi sangat berkurang karena pedang Jariko."


"Apa iya."


Tanggapan dari sebagian besar para penonton tentu menunjukkan kekaguman, rasa tidak percaya dan bertanya-tanya di mana Varjo de hores menemukan pedang dewa pemangsa kematian itu.


Hanya saja untuk Askar, dia menahan tertawa melihat sikap sombong Jariko, sekuat tenaga dan berusaha keras, agar tidak menujukan dirinya bahwa sedang meremehkan lawan.


"Kenapa kau mengendus-endus seperti kambing ingin di sembelih, apa kau tidak percaya jika ini adalah pedang dewa pemangsa kematian, milik dewa Asyura yang agung." Tegas ucapan Jariko dengan kesombongan penuh.


"Yang agung dia bilang... Aku merasa geli saat dia mengatakan itu." Ucap kembali pujian Jariko kepada dirinya.


Terlebih lagi Jariko sangat percaya diri atas senjata yang dia miliki, sebagai pedang dewa pemangsa kematian dari dewa Asyura.


Sedangkan Asyura itu sendiri berada tepat dihadapannya, sedang mengendus-endus seperti kehabisan nafas karena menahan diri untuk tidak tertawa.


"Apa kau menghina tuan dewa Asyura yang agung, dasar tidak tahu malu." Ucapan Jariko pun menujukan kemarahan karena sikap Askar.


"Memang kenapa ?, Kau terlalu serius menanggapi dewa Asyura." Balas Askar yang memang tidak perduli untuk alasan Jariko.


"Itu sama saja menghina beliau, jika kau tahu aku ini adalah pemuja dewa Askar, bahkan aku sudah terdaftar dalam member PPDP ke 20.004.202." jawabnya penuh kesombongan.


"Apa lagi itu PPDP."

__ADS_1


"Kau tidak tahu, Perkumpulan pemuja dewa pemangsa."


"Aku baru tahu, lagian kenapa mereka sampai membentuk perkumpulan untuk dewa, memang dia anggota dewan atau personil Boy band." Askar semakin ingin tertawa karena sikap Jariko yang dia tunjukan.


Hingga Askar tidak kuat, tawanya lepas namun perlahan dan bersikap biasa, walau sesekali dia pun tertawa kembali.


Tapi bagi Jariko apa yang Askar tertawakan itu adalah sebuah penghinaan kepada junjungannya, dewa Asyura.


PPDP atau pun perkumpulan pemuja dewa pemangsa, memang barulah Askar tahu, tapi mereka adalah sekelompok orang yang masih mengingat perjuangan dari para dewa awal penciptaan.


Lebih tepatnya, secara khusus dua juta orang itu mengagumi sosok dewa pemangsa, Asyura dan menganggap bahwa hanya dia yang pantas dipuja.


"Seenaknya sendiri kau tertawa karena dewa Asyura, memang kau tahu apa tentang perjuangan beliau."


"Ya bisa dibilang aku sangat dekat dengan dewa Asyura." Jawab Askar memberi kiasan.


"Jangan mengada-ada, kau kenal dewa Asyura, jika mau melawak kau salah tempat."


"Lagian aku yakin, jika Asyura mendengar nama PPDP sebagai nama perkumpulan untuknya, dia akan tertawa terbahak-bahak." Askar jelas melakukan hal itu.


'Padahal aku sendirilah Asyura itu.' pikir Askar dalam hati.


Entah dia merasa kasihan kepada dirinya sendiri atau memang harus senang karena di seluruh jagat raya masih ada yang mengingat tentang perjuangannya.


Tapi untuk seorang Jariko, Askar lebih ingin dia tidak menjadi bagian apa pun dalam sisi lain kehidupannya sebagai Asyura.


Selesai peraduan mulut yang cukup intens, Jariko menarik pedang dewa pemangsa kematian dengan bangga.


Satu ayunan pedang dewa pemangsa kematian imitasi tidak mengurangi kekuatan pedang yang nyata, walau jika harus dibandingkan dengan milik Askar, itu masih sangat jauh.


Hanya saja Askar belum bisa mengeluarkan kemampuan pedang dewa pemangsa kematian secara sempurna, dan juga, jika Askar menggunakan pedang itu di sini, akan terjadi kebingungan bagi semua orang.


Sebuah pedang besar Askar keluarkan dan menangkis serangan Jariko, benturan keras dua kekuatan besar terjadi, lantai arena yang mereka pijak pun terbelah dua karena satu gerakan saja.


Pedang besar yang Askar ciptakan pun melebur mengaji kepingan-kepingan fragmen dan hancur menjadi debu setelah menangkis serangan Jariko.

__ADS_1


Tidak berhenti sampai disitu, Jariko bergerak cepat, mengayunkan pedangnya ke sisi kanan dan kiri dalam waktu singkat.


Askar masih bisa mengikuti gerakan itu, tapi sayangnya, senjatanya tidak kuat, hanya dengan satu serangan saja, Jariko menghancurkan setiap pedang dari Askar.


"Inilah kekuatan pedang dewa pemangsa kematian, kau tidak akan mampu bertahan lama Askar." Ucap Jariko sembari tertawa-tawa penuh kebanggaan.


Askar memang terkejut, siapa sangka Davendra menciptakan pedang imitasi dari pedang dewa pemangsa kematian dengan kekuatan yang hampir sama.


Meski begitu, Askar bisa merasakan adanya yang tidak beres dari Jariko, wajahnya semakin pucat dan energi dalam tubuh itu sendiri diserap besar-besaran tanpa dia sadari.


"Aku lebih khawatir jika kau yang tidak bisa bertahan lama." Balas Askar dengan senyum kecut melihat mata Jariko menjadi cekung.


Memang benar bahwa penggunaan pedang dewa pemangsa kematian memakan energi yang tidak sedikit, tapi ini sangat aneh karena Jariko baru mengayunkan tiga serangan.


'Apa Davendra sengaja menciptakan pedang itu adalah untuk mengurangi kekuatan penggunanya.' pikir Askar yang tentu memikirkan tindakan Davendra.


Sejak awal Davendra harusnya tahu jika ada satu waktu dimana dia akan menghadapi Varjo de hores, dan secara sengaja pula mengirimkan pedang itu untuk membantunya.


Tidak ada kesimpulan lain, karena hampir mustahil untuk Davendra memberikan kekuatan pedang dewa pemangsa imitasi yang hampir sama kuatnya kepada musuhnya sendiri tanpa alasan lain.


Cukup mudah untuk Askar mengalahkan Jariko, dia hanya perlu menghindar, dan dipastikan saat serangan ke sepuluh, Jariko akan jatuh karena kehabisan energi.


Tapi tidak nyaman jika Askar hanya menghindar, ini jelas bukan gayanya di dalam pertarungan.


Cahaya merah dari skill penciptaan senjata menjatuhkan ratusan pedang di atas arena, Askar tidak membuang waktu, cepat gerakannya maju menghadapi Jariko.


Satu pedang dia tarik, menyerang dalam kecepatan tinggi, menebas, menusuk, melempar, menangkis dan menghindar, Askar menujukan diri dalam pertarungan sengit melawan Jariko.


Walau sebenarnya Askar lebih ingin terlihat bertarung agar tidak dianggap pengecut, hanya menunggu Jariko tumbang dengan sendirinya.


Sembilan serangan balasan dari Jariko, semakin membuatnya kacau, pandangan berkunang-kunang, lemas dirasakan oleh tubuhnya, tangan mulai mati rasa dan kesadaran pun diujung batas.


Hingga satu serangan Askar dikala Jariko dalam keadaan kacau, melempar tubuh lawannya itu jatuh tersungkur, tidak ada lagi perlawanan, karena Jariko pingsan kehabisan energi.


Wajah varjo de hores berubah drastis, kekalahan Jariko adalah kerugian dari taruhan dengan Gorongo, tentu ada kekesalan tersendiri saat tahu anak lelakinya dikalahkan.

__ADS_1


__ADS_2