
Silviana tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengikuti keinginan Varjo karena tahu bahwa alam semesta kerajaan suci, keluarganya dan para penduduk disana berada dalam ancaman alam semesta kerajaan beladiri.
Varjo de hores tidaklah terlalu kuat, bahkan untuk ayah dari Silviana tingkat kekuatannya setara, dalam sebuah pertarungan antara mereka berdua, sangat sulit menujukan siapa yang menjadi pemenang.
Tapi cara yang Varjo de hores lakukan sangatlah licik, datang sebagai tamu, diterima baik-baik, namun pulang membawa segalanya, dan ayah Silviana, sang kakak, ibu tercinta, kakek Ji, saudara-saudara lain, para penduduk, semua menjadi korban.
Hanya untuk menyelamatkan sisa-sisa dari alam semesta kerajaan suci, mau tidak mau, dia menyerahkan diri dan mempertaruhkan hidupnya sendiri.
Satu-satunya harapan Silviana sekarang adalah Askar, entah apa yang akan terjadi dimasa depan, tapi sedikit hati, menganggap bahwa semua masalah berasal dari dirinya.
Saat semua orang beranjak pergi dari ruang acara pertemuan keluarga, secara pribadi Silviana berjalan mendekat kepada Resya, tentu bukan tanpa alasan, karena tujuannya itu adalah tentang Askar.
"Nona Resya, nona." Panggil Silviana dan seketika itu Resya berbalik.
Dia wanita yang memiliki tatapan lembut dan raut wajah ramah sama seperti Tisumi ibunya, tapi memang jangan melihat seseorang hanya dari luarnya saja.
"Nona Silviana, ada perlu apa anda memanggilku." Balas Resya dengan sopan.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Jawab Silviana dengan bersikap ramah kepada Resya.
"Tentang apa."
"Askar." Balas silviana.
Secara tiba-tiba, saat nama lelaki itu disebutkan, senyum Resya turun dan terdengar hembusan nafas berat seakan berbeda dari cara dia membicarakan tentang Askar sebelumnya.
"Apa yang ingin anda ketahui dengan lelaki ITU." Dengan cara aneh Resya menggambarkan bahwa kata 'ITU' yang tertuju kepada Askar.
Bukanlah suatu hal yang ingin dia bicarakan, terlebih melihat bagaimana raut wajah Resya, Silviana kini tahu bahwa ada yang tidak beres antara mereka berdua.
"Bisa kita bicara tentang dia di ruangan ku." Ucap Silviana.
"Tentu saja nona silviana." Resya tidak menujukan penolakan, terlebih dalam perbandingan usia Resya jauh lebih tua, meski silakan akan menjadi ibu tirinya yang lain.
__ADS_1
Ruangan tempat Silviana berada, sudah ada empat pelayan yang memang bertugas untuk merawatnya, membersihkan kamar, atau pun menyediakan segala kebutuhan sehari-hari.
"Nona silviana, selamat datang kembali."
"Aku ingin berbicara dengan nona Resya jadi kalian semua pergi." Perintah Silviana yang dipatuhi oleh semua pelayan.
"Baik nona."
Hanya dua wanita itu dengan niat yang memang ingin membicarakan persoalan tentang lelaki bernama Askar.
Seorang lelaki yang akan menjadi suami dari wanita satu ini, bukan lain adalah lelaki terdekat bagi silviana, empat tahun dia habiskan dalam dunia imajinasi memberi perasan khusus.
Tapi siapa sangka, bagi Silviana mendengar nama Askar di sebutkan oleh putri dari Varjo de hores, bahkan itu dengan hubungan tentang cinta.
Dia tidak berubah, segala macam wanita diembatnya tanpa pandang bulu, termasuk dari Varjo yang notabenenya adalah seorang musuh, dan ini pula anaknya.
Saat suasana dirasa sudah nyaman untuk membicarakan sesuatu antara mereka berdua, Silviana pun ambil suara... "Jadi bagaimana kabar Askar sekarang."
"Aku berharap sih dia tidak baik-baik saja, tapi sayangnya lelaki itu sangat kuat." Asal ceplos saja Resya dengan senyuman sinis penuh makna.
"Eh... Tidak, aku sangat menyukainya." Masih berpura-pura Resya untuk menyembunyikan diri.
Silviana tersenyum melihat sikap dari gugup saat menjawab apa yang di tanyakan olehnya, seakan silviana tahu, wanita ini menyembunyikan sesuatu.
"Nona Silviana, jika boleh aku tahu, kenapa anda kenal dengan Askar." Kini giliran Resya bertanya.
"Aku tidak bisa menceritakan hal itu, tapi dia pernah menyelamatkanku, saat para prajurit kerajaan beladiri mencoba menangkapku." Sepintas aura kemarahan muncul.
Resya bisa memahami apa yang terjadi dalam kehidupan Silviana, dia tidak bisa menyalahkan sikap calon istri dari ayahnya ini, karena sejak awal keadaan Silviana pun sama dengan ibunya.
Mereka berdua sama-sama harus menelan pil pahit untuk sebuah keinginan dari Varjo de hores, dan menerima takdir yang jelas tidak mereka bisa terima.
"Maaf nona Resya aku harusnya tidak menujukan kemarahan ku kepada Varjo di hadapan anda." Silviana pun menarik kembali aura kuat yang terpancar dari dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Apa salahnya nona Silviana, aku sendiri berharap ada seseorang yang menggantikan ku untuk menghajar ayah tidak berguna itu." Ditunjukan oleh Resya bahwa antara hubungannya dengan Varjo tidaklah baik-baik saja.
Entah apa yang terjadi, Resya hanya bersikap sopan ketika berada dihadapan ayahnya itu, sedangkan saat ini, dia menujukan semua isi hati dengan kebencian terhadap varjo.
"Oh, aku baru tahu jika kau pun memiliki masalah dengan Varjo." Silviana bisa menebak isi pikiran Resya.
"Sebenarnya ini bukan tentangku, tapi untuk ibuku sendiri." Jawab Resya akan sebuah alasan tentang kemarahannya.
"Aku tidak ingin menceritakan hal ini, tapi ada saatnya nanti aku akan membalas dendam atas perbuatan varjo kepada semua keluargaku." Ucap Silviana dengan tegas.
"Apa salahnya, lakukan saja nona Silviana, aku akan mendukung mu." Jawaban Resya benar-benar tidak memperdulikan ayahnya itu.
Silviana menaruh kepercayaan kepada Resya, bukan hanya sekedar menebak apakah dia jujur atau cuma berpura-pura baik agar bisa mengikuti alur tujuannya.
Tapi kemampuan keajaiban hidup sendiri memiliki sensitivitas terhadap aura seseorang, dia bisa membedakan siapa yang berniat buruk atau tidak, ada tujuan jahat atau memang biasa saja.
Silviana tahu bahwa tidak ada satu tujuan lain terhadap dirinya, Resya pun tidak mempermasalahkan keinginan Silviana untuk membalas dendam.
Karena sejak awal, dia hanya berniat hidup diluar pengekangan dari Varjo de hores, itu semua demi ibunya yang sudah banyak berkorban untuk dia dan saudarinya.
"Jadi apa kau benar-benar ingin membawa Askar sebagai suami mu." Kembali Silviana bertanya tentang Askar.
"Tentu saja tidak, ini semua adalah kesalah pahaman dari ibuku, dia menganggap aku menyukai Askar, aku hanya tidak ingin dia kecewa." Resya pun kini menjawab tanpa ada keraguan.
"Lantas kenapa kau bersemangat untuk membuktikan kepada Varjo." Silviana mempertanyakan tindakan Resya di jamuan makan tadi.
"Aku mengira jika ayah akan marah dan membantuku menyingkirkan Askar." Sedikit malu Resya bercerita.
"Aku mengerti sekarang." Silviana menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Dia tentu menyadari bahwa Askar memang selalu membawa masalah bagi dirinya sendiri, termasuk salah langkah hingga menarik perhatian bagi Varjo de hores.
(Note : Satu bulan depan akan menjadi akhir dari season ke dua ini, dan untuk season 3 selanjutnya akan diceritakan awal dari segala yang terjadi tentang Davendra
__ADS_1
Setiap peristiwa yang menjadi kehidupan Davendra di masa lalu, kisah para dewa awal penciptaan, dan juga As sa'ah, kaisar akhir zaman.)