
Alam semesta kerajaan bawah, gurun kota Loyi.
Askar kembali mendapatkan kesadarannya, saat diketahui bahwa apa yang kini dia lihat adalah sebuah pan*tat berbulu dan busuk dicium.
"Omen cepat kau menyingkir." Berkata Askar dengan wajah masam saat menahan nafas karena bau kotoran dari pan*tat kucing.
"Maaf tuanku." Cepat Omen melompat pergi.
"Kau tidak pernah cebok apa yah, baunya seperti ****** yang belum di siram." Kesal askar yang hampir mutaah.
"Ya tidak ada kucing yang cebok tuan." Tapi Omen pun punya jawabannya.
Ketika di lihatnya sekitar, semua hanya gunung-gunung berbatu, padang pasir, dan beberapa lokasi pepohonan yang tumbuh.
Lupakan soal pemandangan, karena saat Askar baru sadar, kedua wanita yang dia bawa bersama dari dunianya, kini tidak tampak dimana pun.
Askar bingung, jelas saja, dia tidak memiliki ingatan soal tempatnya sekarang, dan Sina serta Rea hilang entah kemana.
"Omen dimana Sina dan Rea."
"Maaf tuan, aku juga baru tersadar setelah pingsan, jadi tidak tahu kemana perginya mereka berdua." Balas Omen.
"Gunakan hidungmu." Perintah Askar.
"Baik tuan." Segera saja Omen memejamkan mata untuk berkonsentrasi.
Setiap aroma di sekitar tempat mereka berdiri, seharusnya tidak sulit untuk menemukan keberadaan Sina dan Rea, hanya saja, tangan Omen cepat menutup hidung, dan menggelengkan kepala seakan aroma aneh dia cium.
"Kenapa kau ?." Dilihatnya ekspresi Omen seperti habis mencium kotorannya sendiri.
"Tempat ini terlalu kering tuan, hidungku kemasukan pasir." Jawabnya sembari mengusap-usap hidung.
Karena terlalu gugup Askar sampai melupakan zona persepsi, tapi saat energi Askar mulai tersebar, tepat di arah belakang dia sudah merasakan kehadiran dua wanitanya.
"Askar, kau sudah sadar." Teriak sina yang berada dibawah bukit batu.
Lebih tepatnya mereka berdua duduk di genangan air yang membentuk danau kecil di bawah bukit dan pasang pasir.
"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja." Lepas Askar bernafas lega.
__ADS_1
Sedikit perasaan takut jika mereka berdua sampai hilang, karena kemungkinan terburuk saat melintasi antar alam semesta adalah ketidakstabilan dari jalur saat melewati black hole.
Andai saja saat itu Rea atau Sina terpisah dan keluar jalur, maka kejadiannya akan sama seperti Zahra, dimana dirinya akan terlempar ke alam semesta antah berantah.
Dan mencari keberadaan mereka akan sama seperti menemukan jarum di tumpukan jerami, sedangkan jarumnya hampir tidak terlihat.
Jagat raya sangat luas, bahkan terlalu luas untuk Askar mencarinya satu persatu, terlebih ada jutaan planet yang memiliki kemungkinan menjadi tempat mereka jatuh. Itu pun jika mereka masih selamat.
"Kalian berdua membuatku khawatir." Balas Askar yang melompat turun ke tempat Sina dan Rea.
"Kau khawatir tentang apa Askar." Rea membalas seakan tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun.
"Ya kau tahu jika kalian sampai hilang di alam semesta lain, bagaimana caranya untuk aku mencari kalian." Askar menjawab dengan wajah kesal.
"Baiklah, paling tidak sekarang kau tahu bagaimana rasanya khawatir dengan orang yang kau cintai." Rea dengan santai membalas kembali ucapan Askar.
Askar mencoba menenangkan diri, dan melihat mereka berdua selamat, itu sangat penting bagi dirinya pribadi.
"Untuk saat ini, kita tidak boleh terpisah, karena kita tidak tahu bahaya seperti apa nantinya." Askar pun sedikit memberi peringatan untuk lebih berhati-hati.
"Kami mengerti Askar." Sina mengangguk patuh atas perkataan Askar.
Ini tidaklah aneh, karena setiap masa benda, tekanan gravitas dan kekuatan energi alam jauh berbeda dari dunia mereka. Misalkan tingkat lord yang nyata di dunia mortal adalah sosok luar biasa.
Tapi di alam semesta atas, lord yang nyata, sama dengan tingkat panglima perang. Semua di setarakan oleh hukum alam, dan Askar yang nyatanya adalah lord alam kaisar tahap akhir, kemungkinan besar menyerupai setengah saint suci.
Hanya saja energi alam yang sangat kental, kuat dan juga berisi, mempengaruhi pertumbuhan kekuatan bagi askar, Rea serta Sina sebagai bakat jenius dalam urusan kultivasi.
Dengan semua energi alam, tentu penyerapan tubuh terhadap energi yang berkualitas akan semakin menggila, karena di dunia mereka, energi alam hampir tidak mempengaruhi peningkatan siapa pun.
"Baiklah, mari kita cari kehidupan di dekat tempat ini." Berkata Askar dengan satu tujuan yang mengarah ke Utara.
"Sepertinya itu tidak perlu." Berkata Sina.
"Kenapa memangnya Sina." Askar bingung atas tanggapannya.
"Karena kehidupan itu sendiri yang datang menuju ke arah kita." Ditunjuk Sina ke sebuah kereta kuda yang dikejar oleh seekor monster liar berwujud kadal besar.
*******
__ADS_1
Di dalam kereta kuda yang sedang menjadi mangsa monster kadal itu.
"Bisakah kau lebih cepat lagi, Godu." Teriak seorang wanita yang terlihat ketakutan saat terbayang-bayang akan kematian.
"Aku sih inginnya juga begitu, putri Nanda tapi kuda ini sudah mencapai kecepatan maksimal." Dijawabnya kusir wanita bernama Godu yang tidak berhenti mencambuk kuda agar semakin kencang jalannya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan monster ini." Putri Nanda tidak lagi bisa berpikir jernih, karena monster kadal sudah membuka mulut.
"Bisa tuan putri berikan pertanyaan yang cukup mudah untuk aku jawab." Balas Nanda dengan wajah pucat karena
"Tidak ada waktu untuk aku mencari pertanyaan lain."
Keduanya sudah berteriak keras karena kereta kuda dan mereka sudah diangkat oleh mulut kadal raksasa yang siap menelan.
Menangis ketakutan dan tidak ada harapan untuk menyelamatkan diri, sekali pun mereka melompat jelas kadal itu akan cepat menangkap dengan lidahnya.
Sekilas tiga pedang besar jatuh dari langit, menembus tubuh dan kepala kadal hingga menjatuhkan kereta kuda ke tanah.
"Apa yang terjadi Gudo." Binggung Nanda dengan kejadian ajaib yang menyelamatkan mereka.
"Entahlah, yang jelas kita selamat putri Nanda." Tapi kusir Gudo hanya bisa bersyukur karena tidak jadi sarapan kadal monster itu.
Saat tangis haru karena lepas dari maut menujukan seberapa bersyukur mereka berdua, walau seluruh tubuh masih gemetaran hingga lemas dan hampir mustahil untuk berdiri.
"Apa kalian berdua baik-baik saja." Ucap sosok yang datang dan berdiri dihadapan mereka.
Silau cahaya langit membuat Nanda tidak bisa melihat wajah dari penolong itu, tapi jelas dari suara yang didengar bahwa dia adalah lelaki.
"Iya tuan, kami baik-baik saja, terimakasih atas bantuan anda." Ucap putri Nanda yang kesulitan untuk berdiri.
"Baguslah kalau begitu." Mengangguk sosoknya yang jelas samar-samar dilihat.
Tapi sekilas pandangan mata Nanda mulai terang, dan menatap sosok lelaki yang jelas berdiri hingga membuat dirinya tidak berkedip.
"Nona jika boleh, kami ingin meminta pertolongan anda." Berkata Askar yang memang memiliki niat lain dari menyelamatkan kedua orang ini.
"Apa itu tuan."
"Bisakah anda mengantarkanku ke kota terdekat." Jawab Askar untuk tujuannya.
__ADS_1