
Satya tidak pernah menduga jika rencana yang sudah dia atur sedemikian rupa dengan mudah di hancurkan, terlebih lagi dirinya tertangkap basah sebagai dalang dibalik pembunuhan Askar.
"Bagaimana kalian tahu jika aku yang memang merencanakan ini.... jangan-jangan kalian mengancam bawahan ku untuk bercerita tentang Quan Qian." Berkata Satya yang merasa kesal akan kegagalannya sendiri.
"Kau terlalu berlebihan dalam berpikir tuan Satya, aku sendiri tidak perlu melakukan hal seperti mengancam atau pun mengintrogasi orang-orang mu." Jawab Askar yang merasa aneh atas spekulasi Satya.
"Kalau begitu aku yakin, kau mengirimkan orang untuk mengawasiku dan dari itu semua rencanaku telah di ketahui." Berkata kembali Satya dalam isi pikiran semakin rumit.
Wajah Askar merasa malas untuk menanggapi setiap perkataan Satya, tapi lelaki itu dengan seenaknya sendiri bercerita ngalor-ngidul tanpa dasar apa pun.
"Aku bukan orang yang berpikiran buruk terhadap orang lain kau tahu, dan juga, aku tidak tertarik itu mengurusi urusan mu tuan Satya."
"Jadi apa yang kau tahu tentang ini."
"Ya aku hanya beranggapan jika itu kau, karena selama pertemuan kemarin, kau dan anggota keluargamu lagh yang paling bersemangat untuk menolak keputusan kesepuluh wali."
"Hanya itu ?."
"Ya cuma itu, aku tidak ingin merepotkan diri untuk mencari informasi lain, dan sebelum kami masuk, kau sudah berteriak-teriak mengenai Quan Qian, tanpa perlu kau mencari alasan kami semua sudah mendengarnya." Jawaban Askar ini jelas menjadi langkah terakhir untuk Satya bergerak.
Dia tidak mungkin melarikan diri, terlebih dia tidak mencari alasan, demi membantah semua perkataan yang Askar ungkapkan.
Jika Askar sendiri yang datang, tentu Satya masih mau bertindak dan berusaha membunuhnya, tapi di belakang Askar, terdapat empat wali, dan dua orang lain.
Dimana dua orang itu adalah penguasa pedang, Loe Teu Yiu, dan seorang wanita yang entah siapa namanya. Satya melawan pun akan percuma, karena tidak ada yang mampu bertahan saat menghadapi sang penguasa pedang.
Kecewa, kesal dan pusing bercampur menjadi satu dalam ekspresi Jaga, dia jelas sangat menjunjung tinggi tali persaudaraan sesama satu keluarga.
Sebagai seorang wali dari kerajaan alam semesta bawah, tentu tuan Jaga memiliki kehormatan sendiri bagi nama keluarga Saguna, dan tidak bisa membela Satya dalam kesalahan yang dia lakukan.
Dirinya berjalan menghadap Satya....
"Satya aku tahu kau sangat menginginkan Erdo menjadi lord, tapi kerajaan memang harus mencari sosok kuat untuk membawa nama Alam semesta kerajaan bawah ini, dan biar pun Erdo kuat, tapi Askar jauh lebih menjanjikan." Ucap tuan jaga dengan wajah yang kesal namun berusaha tenang.
"Aku hanya ingin mengangkat nama keluarga Saguna dengan kedudukan yang lebih tinggi."
"Apalah artinya kedudukan, kalau kau tidak pernah betah diatas kursi."
"Apa itu kiasan." Ucap kakek Esa yang tidak memahami perkataan Jaga.
"Ya... Percuma dia dapatkan yang terhormat jika dirinya tidak bisa menjaga kehormatan yang dia miliki." Berkata Tuan Jaga dengan arti kiasan itu.
__ADS_1
"Itu bagus, kau pantas menjadi seorang penyiar." Balas kakek Esa yang mengangguk tak lazim.
"Penyair, kakek tua bangka." Jaga meralat perkataan dari kakek Esa.
"Maaf kalau begitu."
Kembali ke permasalahan utama.
Satya terlihat jelas dipenuhi ketakutan, dia tidak bisa membela diri, semua kesalahan telah diungkapkan oleh Askar.
Ditambah Jaga pun dengan tegas menyatakan dirinya sebagai orang bersalah atas kejadian yang berkaitan untuk membunuh lord kerajaan.
"Aku tidak bisa menolongmu dalam hal ini Satya, kesalahan yang kau lakukan sangat fatal, karena aku sebagai seorang wali kerajaan, wajib bertanggung jawab dalam keselamatan Askar." Berkata tuan Jaga dengan tegas.
Dengan kuat Jaga memaksa Satya untuk turun dari kursi atas, tidak ada yang berani melawan, bahkan para bawahan pun memahami tindakan dari para wali.
Jika saja mereka berniat melindungi Satya, tentu tidak ada hal baik akan terjadi, bahkan semua yang berhubungan pun menerima akibatnya.
"Ayah apa yang terjadi." Suara Erdo terdengar keras dari ruangan atas.
Dimana dia melihat ketika Jaga menarik Satya secara paksa untuk ikut dengannya, demi menerima hukuman yang sesuai dari perbuatan itu.
"Hukuman ?, Hukuman apa paman Jaga, bukankah paman adalah kakak dari ayah, kenapa tidak melindungi ayah." Erdo pun masih belum memahami ucapan paman Jaga.
"Ya aku tahu itu erdo, karenanya aku harus melindungi keluarga Saguna, dengan menghukum Satya."
Jelas Erdo tidak tahu apa pun, dia tidak bisa membantah ucapan paman Jaga, terlebih banyak wali yang berkumpul dan memiliki tujuan sama.
"Apa bisa aku melakukan banding." Ucap Satya untuk mencari perlindungan dan mengurangi nilai hukuman bagi dirinya.
"Memang apa yang bisa kau bandingkan... hidup seenaknya sendiri, boro-boro mikirin soal kebaikan, kekayaan di timbun sampai orang lain sengsara, menyalahgunakan nama sebagai keluarga wali kerajaan demi menguasai wilayah selatan dan memonopoli perdagangan pasar untuk keuntungan pribadi, kau harusnya sudah kami usir dari kerajaan ini, tapi Jaga tetap melindungi keluarga Saguna." Ucap Kakek Esa yang jelas tahu seluk beluk permainan Satya.
Tapi memang jelas terlihat, status sebagai wali memiliki posisi penting dalam kerajaan, Jaga bukan yang terkuat, walau begitu dia berhak menjaga keluarga Saguna di wilayah selatan.
Askar tahu apa yang harus dia lakukan sebagai seorang lord, tentu akan menjadi masalah rumit jika keluarga Saguna melepaskan bisnis di kota kerajaan Loyi.
Tapi dia pun kesal melihat tingkah laku mereka yang menjadi duri dalam daging, dan mungkin semakin membekas hingga mencelakakan seluruh kerajaan.
"Baiklah, kita sita seluruh aset kekayaan yang di miliki oleh Satya, dan orang-orang keluarga Saguna yang ikut serta dalam rencana ini, seluruh bisnis akan menjadi hak milik kerajaan, dikelola dan dimanfaatkan untuk wilayah selatan." Ucap Askar dengan bijaksana.
"Itu cukup wajar, karena aku pun tidak ingin Jaga merasa bersalah karena perbuatan saudaranya." Jawab Virnda yang memahami maksud dan tujuan Askar.
__ADS_1
Secara garis besar, Satya tidak akan memiliki pengaruh apa pun terhadap wilayah selatan, dan Jaga tetap menjadi wali kerajaan, tapi keluarga sagna harus pergi.
Ini menjadi hukuman yang cukup kompeten, dan jauh lebih baik daripada membunuh mereka, ditambah lagi Askar akan memberikan pemasukan lebih banyak untuk kerajaan.
Sebenarnya Askar tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih merepotkan, jika memang Satya di eksekusi, entah itu Erdo atau lainnya, memiliki kemungkinan untuk membalas dendam.
Untuk sekarang Askar lebih memilih menahan diri, walau dia cukup ingin memisahkan kepala Satya dari pangkal lehernya itu.
(Note yang mungkin lupa tingkatan-tingkatan dalam kekuatan Dunia di balik batas.
lord dibawah surga
lord yang nyata
lord diatas surga
lord alam raja
lord alam kaisar
lord alam master
lord alam monarch
lord alam setengah saint
lord alam saint suci
lord awal keabadian
lord keabadian tertinggi
Dewa sejati awal
....... Dan masih dirahasiakan.
Ini adalah tahapan yang harus Askar capai untuk menjadi seorang dewa.)
__ADS_1