PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
sensasi baru


__ADS_3

Tidak ada yang berpikir jika di sekitar lubang sarang Phoenix adalah tempat aman, bahkan sejak awal wilayah alam semesta awal penciptaan memang sangat berbahaya dengan semua monster tingkat tinggi hidup.


Dan cukup merepotkan untuk Ke'su karena sesekali harus berhadapan dengan binatang iblis yang hidup di wilayah sarang Phoenix.


Biar pun mereka masih mudah untuk di atasi, tapi kehadirannya tidak bisa siapa pun tebak, memang merepotkan saat harus menikmati waktu istirahat dan para binatang menyerang.


"Sudah satu Minggu Askar turun ke bawah dan sampai sekarang dia belum menampakan diri." Ucap Ke'su yang baru saja kembali dari pertarungannya.


"Kita tidak berharap untuk semua selesai dengan cepat, karena kita sendiri tahu seberapa berbahaya di dalam sana." Balas Asy.


"Aku mengerti Dewi, tapi kita tidak bisa menutup kemungkinan jika Askar disana ternyata bersenang-senang dengan seorang wanita." Asal saja Ke'su memberikan pendapat.


"Apa yang kau pikirkan Ke'su, sejak awal kita datang kemari aku tidak melihat manusia lain, jadi bagaimana mungkin Askar menemukan seorang wanita." Kini Sina yang jelas-jelas menjawab perkataan Ke'su dengan nada kesal.


"Nona Sina, wanita bukan manusia saja, kera pun memiliki jenis kelamin wanita juga." Berkata Ke'su seakan ingin menjatuhkan martabat Askar.


"Biarpun aku tahu jika Askar mudah tergoda dengan wanita, tapi aku tidak pernah berpikir jika dia tertarik kepada seekor kera." Tapi jelas Sina tidak berpikiran hal aneh tentang Askar.


Memang sudah banyak kejadian jika Askar yang pergi begitu saja, namun pulang-pulang membawa wanita lain.


Sina sudah terbiasa dengan sifat Askar itu, tapi tidak pernah terpikir kalau Askar memiliki minat kepada mereka-mereka yang berbulu dan memiliki ekor.


"Tapi itu mungkin saja terjadi Sina." Hanya saja Asy seperti berpikir terlalu banyak, atau mungkin karena sangat khawatir dia pun membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu Asy." Sina bingung sendiri.


"Kau tahu, jika selama ini Askar hanya di temani oleh manusia, mungkin dia cukup tertarik untuk mencoba sensasi baru." Ucap Asy.


"Sudahlah lupakan itu." Dan Askar pun tidak mau membayangkan hal lain.


Lepas dari perbincangan yang mereka lakukan, sebuah bahtera angkasa berlambang sebuah bulan sabit dan pedang di setiap sisi bahtera.

__ADS_1


Cukup aneh melihat ada orang lain secara sadar datang ke tempat seperti ini, walau pun ada yang berniat berburu, tapi mereka sadar kalau wilayah alam semesta awal penciptaan sangatlah berbahaya.


Ke'su sudah siap dengan tombak yang menjadi senjata utama untuk bertarung, dia memastikan jika tidak ada satu orang pun mampu membahayakan Dewi Asy.


Hingga muncul sesosok lelaki tua renta dengan tongkat kayu bersama beberapa orang lain turun dari atas bahtera angkasa dan memang berniat untuk mendekati mereka bertiga.


"Pangeran Phoenix Ke'su dari alam semesta api mulia, tidak aku sangka akan berjumpa anda di tempat ini." Ucap lelaki tua itu dengan tersenyum demi menjukan rasa hormat.


"Siapa kau." Hanya saja Ke'su tidak mengenal sosok itu.


"Aku adalah Ah meng dari alam semesta bulan terbelah, tentu anda pernah mendengarnya." Cukup percaya diri Ah meng memperkenalkan diri.


"Tidak, sekali pun aku tahu, itu tidak membuat ku tertarik." Balas Ke'su yang menunjukan sikap sombong seperti biasa.


"Ya alam semesta kasta atas, memang tidak pernah perduli dengan mereka yang lebih rendah." Ah meng cukup paham atas kondisi ini.


"Jadi apa yang kau inginkan kakek tua." Tidak mau berbelit-belit atau pun banyak basa basi, Ke'su cukup waspada dengan sosok lelaki ini.


Biar pun alam semesta bulan terbelah tidak masuk dalam jajaran sepuluh kasta tertinggi, tapi sosok yang ada di hadapan Ke'su bukan kakek lemah.


Itu pun sama dengan kekuatan Ke'su saat ini, tapi jika perbandingan usia, mereka berdua pun terpaut sangat jauh.


"Aku hanya sekedar lewat, dan sekedar ingin menyapa anda tua Ke'su." Itu jawaban dari Ah meng.


"Benarkah begitu."


"Tentu saja, jadi apa yang sedang tuan Ke'su dan dua kekasih anda lakukan disini." Bertanya Ah meng yang cukup tertarik melihat dua wanita di belakang Ke'su.


Tapi dari pertanyaan itu, tersirat senyuman lebar ditunjukkan di wajah Ke'su.


"Maaf, pak tua mereka ini...." Lepas Ke'su akan menjawab.

__ADS_1


"Pak tua apa kau tidak bisa berpikir, dari mana anda berpikir jika kami ini anda anggap sebagai kekasih lelaki macam begini." Dengan cepat, tegas dan sedikit kesal Sina membantah perkataan Ah meng.


Seketika wajah Ke'su pun menjadi lemas, dan terlihat seperti orang ingin menangis.


"Maaf jika aku salah tebak."


*******


Susana gelap, penuh lendir, sedikit lengket dan bau, ya itu yang Askar rasakan ketika menemukan dirinya sendiri didalam perut ikan.


"Apa aku memang pantas menjadi umpan ikan, atau mungkin dia menganggap aku ini Pinokio." Lemas Askar berkata karena bukan pertama kali kejadian ini dia alami.


Ini adalah kali kedua Askar ditelan oleh seekor ikan, dan pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dia ingat kembali.


Hanya saja saat itu Askar masih bisa merasa senang, karena dia berada di dalam perut monster laut bernama Rajo luyo dengan Zua.


Dengan menggunakan kemampuan cahaya dari keajaiban hidup, Askar membuat penerangan yang memperlihatkan segala hal di sekitarnya.


Tapi sekarang apa yang diharapkan, karena tidak ada siapapun yang menemaninya, terkecuali bangkai-bangkai ikan yang ditelan oleh monster satu ini.


Tentu Askar tidak ingin membuang waktu berlama-lama didalam perut monster, karena asam lambung yang mengguyur tubuhnya memiliki sifat penghancur yang sangat kuat.


Jika bukan karena ketahanan tubuh Askar yang jauh lebih kuat, sejak awal kulit dan daging sudah terkelupas, walau begitu tidak lepas kemungkinan, Askar sudah mulai merasakan efek seperti gatal-gatal dan ruam di sekujur tubuhnya.


Dengan sebilah pedang besar yang tercipta ditangan, satu ayunan penuh dilakukan sekuat tenaga. Hanya saja ini tidak cukup untuk membuat goresan dinding lambung.


Askar cukup yakin jika sekarang kekuatan ayunannya bisa membelah sebuah gunung, walau tanpa membuka kekuatan gerbang sekali pun.


Tapi nyatanya daging yang dimiliki oleh makhluk satu ini cukuplah unik, dimana sangat lentur namun lebih kuat seperti batu adamantium.


"Harusnya aku sadar, jika level monster di alam semesta atas berada jauh dari makhluk disana." Gumam Askar yang jelas tidak terpikir perbedaan dengan Rajo luyo.

__ADS_1


Setiap ayunan akan kembali memantul, sehingga mata pedang yang tajam pun tidak bisa memberikan sebuah goresan, Askar memang belum mencoba pedang dewa pemangsa kematian.


Dan ketika pedang perak yang menyala terang dia keluarkan, sepintas Askar melihat sebuah titik cahaya merah menarik perhatiannya.


__ADS_2