
Tepian akhirat dari skill kematian milik Lutos dalam ruang khusus yang memiliki dimensi berbeda dari alam nyata.
Kemampuan itu sendiri mampu menyerap jiwa atau tubuh nyata di dalam wilayah kekuasaan pemilik kekuatan Dewi kematian, didalam sana mereka akan disiksa tanpa pernah bisa mati.
Kecuali sang pemilik itu sendiri melepaskan orang-orang yang dikurungnya, atas dasar pengampunan setelah disiksa sepanjang waktu oleh para penghakim kematian.
Pedang dewa pemangsa kematian menggores dimensi, dimana sebuah celah terbentuk dan menyerap jiwa yang tersisa dari Varjo untuk menerima hukumannya.
Dan saat itu juga dunia dimensi perlahan lenyap, semua kekuatan itu di hancurkan saat jiwanya memasuki tepian akhirat.
Termasuk para makhluk besar yang saling bertarung pun melebur menjadi serpihan-serpihan cahaya dan kembali dalam wujud asal sebagai materi tidak bernyawa.
Begitu juga dengan mayat-mayat 10 juta para pasukan kerajaan beladiri yang telah tewas namun di bangkitkan kembali oleh Varjo.
Peperangan ini harusnya sudah dimenangkan oleh Askar dan kerajaan suci, tapi selagi Askar menghembuskan nafas lega, sebuah tangan besar berwarna emas jatuh menghantam dirinya.
Kekuatan luar biasa yang tidak mudah untuk dirinya melepaskan diri, tapi dalam satu kesempatan itu, Askar memotong tangan emas dengan pedang pemangsa kematian.
Satu sosok yang tidak terpikirkan oleh Askar, dimana sekarang giliran Suzong setelah lepas dari perlawanan atas Omen, datang untuk menghadapi berhadapan dengan dirinya.
"Asyura, atau bisa aku panggil Askar, kau harusnya lebih berhati-hati untuk menyembunyikan auramu itu." Sebuah suara dari Suzong menyebutkan nama yang jelas sangat mengejutkan.
Entah dari mana Suzong tahu identitas asli Asyura sebagai Askar, tapi itu tidak lagi penting, karena Varjo sudah dikalahkan, dia pun tidak perlu menyembunyikan diri lagi.
Dilemparkan oleh Suzong tubuh Omen yang sudah kehabisan energi, meski tidak sampai membuatnya tewas, tapi tetap saja kekalahan Omen pemilik jiwa sphinx, menunjukan bahwa sang penguasa alam semesta keabadian memang sangat kuat.
"Seharusnya jika kau tahu aku adalah Askar, kenapa tidak katakan itu kepada Varjo, sehingga itu bisa menguntungkan kalian." Askar merasa aneh atas tindakan Askar.
"Untuk apa ?, Aku lebih tertarik dengan rencana yang kau lakukan sehingga bersembunyi sebagai Askar, dan juga aliansi ini hanya sebuah permainan, sedangkan aku tidak perduli bagiamana nasib Varjo de hores itu." Tegas jawaban Suzong sembari tertawa-tawa penuh semangat.
"Ternyata semua yang terjadi ini tidak lah berarti apa pun untukmu." Askar tidak menyukai cara Suzong menjawab itu.
"Tentu saja, mereka hanya orang-orang yang tidak berguna, dan tujuanku adalah kau Askar." Tegas jawaban Suzong untuk alasan kenapa dia bertarung bersama Varjo de hores sebagai aliansi.
__ADS_1
Itu memang sudah diberitahu oleh Varjo, jika setelah peperangan ini, dia akan dibawa oleh alam semesta keabadian sebagai bawahannya.
Dan sejak awal keinginan Suzong untuk membawanya ke alam semesta keabadian tetaplah sama, biarpun tahu bahwa seluruh pasukan yang dia miliki telah dibunuh.
Suzong tidak menunjukan dendam apa pun atas kematian tiga juta pasukan alam semesta keabadian, karena sejak awal mereka hanya sebuah prajurit cadangan yang memang tidak memiliki pengaruh besar terhadap kekuatan alam semesta keabadian.
Untuk Askar yang sudah habis-habisan melawan Varjo de hores, kehadiran Suzong adalah mimpi buruk bagi semua orang, karena dia bukan lawan mudah.
Askar sudah menghabiskan 3/4 dari keseluruhan energi, bahkan bentuk transformasi hukum kegelapan dan cahaya golden darkness pun mulai melemah.
Pertarungan melawan Varjo itu, jelas di luar perhitungan Askar, dimana penggunakan kekuatan dimensi di tingkat tinggi sebelumnya sangat sulit hancurkan.
"Baiklah Askar, mari kita selesaikan pertarungan ini sekarang." Ucap Suzong dengan memulai tujuannya.
Suzong mengungkapkan kekuatan yang jauh lenih besar dari pertarungan terakhir dengan Askar, dimana cahaya di belakang tubuh itu mewujudkan patung bertangan seribu.
Askar terpojok, dengan sisa kekuatan ini dia mungkin hanya mampu menggunakan skill serangan terkuat rising dragon road satu kali, itu pun tidak secara maksimal.
"Nona Azela perintahkan semua untuk mundur, pertarungan melawan Varjo sudah selesai, dan dia adalah urusanku."
"Aku akan pergi jika memang tidak mampu, jangan khawatirkan aku."
"Tapi...."
"Cepatlah."
Suzong sedikit bersabar untuk menunggu Askar berbicara dengan Azela, dia sendiri mendengar bahwa pertarungan yang akan mereka lakukan jelas tidak ingin melibatkan siapa pun.
Pertarungan melawan Suzong, jelas Askar tidak yakin bisa menang atau akan dipecundangi, tapi ada alasan untuk Askar berani berhadapan dengan sang penguasa alam semesta keabadian ini.
Dia masih bisa bertahan meskipun terbunuh, karena kematian itu akan di korbankan atas nyawa Rudolfo, sehingga Askar akan bangkit kembali.
"Apa kalian sudah selesai untuk berunding." Suzong bertanya untuk tetap tidak menyerang Askar selama dia belum siap.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjanjikan siap atau tidak, tapi aku akan melawan mu."
"Tapi jika kau masih menginginkan waktu untuk sekedar menyampaikan pesan-pesan terakhir, aku akan menunggu." Suzong cukup santai meski tahu bahwa Askar mampu mengalahkan Varjo.
"Tidak perlu, karena aku......"
Belum selesai Askar bicara, sebuah pedang bercahaya biru muda jatuh ditengah-tengah antara Askar dan Suzong, melayang kemudian berputar cepat.
Mereka jelas bingung menyaksikan pedang aneh itu berputar-putar, Askar sendiri belum mengeluarkan kekuatan apa pun untuk menciptakan sebuah pedang.
"Kalian berdua sekarang sudah waktunya untuk berhenti, karena aku sudah datang dan menghentikan peperangan ini." Sepintas satu sosok tua berdiri di atas gagang pedang dengan satu kaki.
"Kakek Loe teu yiu...." Ucap Askar yang jelas terkejut untuk kehadiran lelaki tua itu.
"Aku tidak bisa membiarkan peperangan ini terus berlanjut." Tegas ucapan Loe teu yiu.
"Kau sudah terlambat pak tua, karena alam semesta kerajaan beladiri telah kalah dan tidak ada lagi yang tersisa." Jawab Suzong yang merasa aneh melihat Loe teu yiu datang setelah semua berakhir.
Pertarungan dia dan Askar jelas tidak dihitung dalam peperangan, karena Suzong hanya menunjukan ketertarikan untuk bertarung melawan Askar.
"Bagaimana mungkin, aku yang sudah datang dengan penuh gaya, tapi semua telah berakhir." Terlihat jika lelaki tua itu benar-benar menyesal.
"Memang kenapa kau terlambat, kakek Loe teu yiu." Askar balik bertanya.
"Ya kau tahu pahlawan selalu datang terlambat di waktu penting, saat keputusasaan karena kalah, dan menyelamatkan semua orang." Itu jawaban yang dia gunakan.
"...... Tidak berguna." Azela tahu jika cara Loe teu yiu tidaklah berguna.
Tapi kehadiran dari Loe teu yiu tidak sendirian, seekor makhluk besar keluar dari balik lubang hitam dengan wanita cantik berambut pirang.
Sosok naga merah membawa Silviana, dimana dia adalah long Wei, sang penguasa alam naga perkasa, entah dengan alasan apa kehadiran long wei disini.
Tapi dari sudut lubang hitam lain pun muncul sebuah bahtera besar yang sangat megah, menggambarkan sebuah lambang dari bintang-bintang di sisi samping.
__ADS_1
Alam semesta samudera bintang.