PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
mata kaki


__ADS_3

Didalam ruangan tersegel dengan dinding tidak terlihat, lingkaran segel prasasti terbentang lebar mengitari hampir seluruh ruangan.


Ada dua belas orang yang berdiri dengan tenang dalam konsentrasi tinggi untuk mengatur aliran energi, demi menjaga kestabilan lingkaran prasasti.


Cahaya putih keemasan, dan sosok bayangan makhluk misterius didalam gelembung masih terlelap dalam tidur.


Aura suci, sangat murni dan begitu besar berpusat di wujud Chimera yang sudah menunjukan diri, setelah ratusan ribu tahun tewas dalam perlawanan bersama dewa Sunawa.


"Shinro bagaimana dengan kondisi jiwa Phoenix ini." Ucap Azela yang berjalan mendekat kepada salah seorang dari kelompok untuk diutus membawa Asy.


"Sangat stabil ratu, dengan pengorbanan jiwa Phoenix terakhir, dan sedikit energi kehidupan maka kebangkitan Sphinx akan tercapai." Jawab Shinro dengan nada sopan.


"Baiklah, kita hanya perlu menunggu Aryon untuk memulai ritual." Balas Azela dengan tatapan serius menuju sosok makhluk di tengah-tengah lingkaran prasasti.


Semua dosa yang bertumpuk tidak Azela perdulikan, dia sudah menanti hari dimana tujuannya akan dimulai, pembalasan dendam dan membawa Silviana kembali.


Sejak awal hanya keturunan dewa Sunawa saja yang mengetahui lokasi terkuburnya jazad sang pembawa keadilan, Sphinx.


Turun temurun, dari generasi ke generasi, para keturunan dewa Sunawa bertugas untuk menjaga dan merawat lokasi rahasia itu.


Bukan tanpa sebab, Sunawa sendiri tahu, seberapa berharga sosok Sphinx, walau pun hanya tersisa kepingan jiwa yang terkubur dibawah tanah, tapi kekuatan itu sangat berharga.


Karena Sphinx sendiri diciptakan oleh dewa Sunawa dari tulang dan tetes darah asli kekuatan keajaiban hidup, tapi Azela tahu jika Sphinx bisa dibangkitkan.


Mengorbankan puluhan jiwa binatang iblis tingkat lord, termasuk jiwa-jiwa dari binatang mistik, perwujudan jiwa Sphinx pun terbentuk sempurna.


Hanya perlu satu pengorbanan lagi, dan dia akan bangkit, Azela siap mempertaruhkan dirinya sebagai wadah untuk menampung jiwa Sphinx.


Azela sudah menunggu kehadiran Aryon yang cukup lama pergi untuk menyingkirkan penghalang bagi tujuan mereka.


Saat sosok lelaki berjubah datang membawa seekor kucing ditangan, dia segera berlutut dan memberi penghormatan atas tindakan yang membuat sang ratu menunggu.


"Ratu Azela maafkan aku." Ucap Aryon tanpa berani mengangkat kepala.


"Baiklah itu tidak jadi masalah, tapi kenapa kau membawa kucing peliharaan Askar kemari." Balas Azela yang bingung sendiri.

__ADS_1


"Ratuku, kucing ini bukan sembarangan, dia adalah jelmaan binatang mistik, Chimera, walau belum memiliki kekuatan tinggi, tapi aku yakin kucing ini akan berguna." Perjelas Aryon atas tujuannya.


"Aku mengerti, letakan dia di tengah segel prasasti, kita akan segera melakukan pembentukan wujud dari Sphinx." Perintah Azela.


"Baik ratu."


Saat semua sudah diatur sedemikian rupa, bahkan dua belas orang mulai melakukan ritual, pusaran energi mengalir deras menumpuk di tengah-tengah lingkaran prasasti.


Tubuh Asy dan Omen mengeluarkan sejumlah energi putih menyala terang, dan ikut bercampur ke atas, perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit energi yang berkumpul diserap oleh sang jiwa Sphinx.


Tapi ketenangan Azela tidak bertahan lama, saat guncangan besar datang dari dinding segel yang menahan siapa pun untuk masuk selain orang-orang tertentu.


"Aku tahu jika anak itu akan datang, tapi ini terlalu cepat." Ucap Azela yang memang mengetahui asal kekuatan mengguncang dinding-dinding gua.


Azela tidak ingin rencananya terganggu, karena satu langkah lagi, semua usaha yang dia lakukan akan berhasil dia capai.


"Tetap lanjutkan penarikan jiwa Phoenix itu, aku sendiri yang akan menghadang Askar." Tanpa ragu Azela bergerak mendekati dinding segel.


Bersiap untuk keluar, tapi sosok Askar pun muncul melewati segel yang harusnya tidak bisa di tembus oleh orang-orang selain penduduk alam semesta kerajaan suci.


Terkejut wajah Azela dan tidak ingin dia percaya dengan melihat Askar yang kini berdiri dihadapannya.


Sebelumnya....


Tanpa perlu menunggu kedatangan kakek Loe Teu Yiu, Askar berjalan memasuki gua dengan berani.


Bersama Ke'su, dia pun memiliki tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan Dewi Asy, karena hanya dia satu-satunya tujuan pangeran Phoenix mengabdi.


Dia tentu tidak ingin sosok penting bagi dirinya dan klan Phoenix hilang untuk selamanya, empat jiwa lain yang sudah hilang, dia merasa penyesalan karena tidak mampu menyelamatkan mereka.


Tapi saat Ke'su bersemangat untuk berjalan di depan, tiba-tiba saja jatuh seperti menabrak sesuatu yang tidak terlihat.


"Apa kau tidak memperhatikan langkahmu Ke'su, gunakan mata kaki mu." Berkata Askar dengan kesal.


"Apa kau pikir kaki ku bisa melihat ?." Balas Ke'su atas penghinaan dari Askar.

__ADS_1


Askar sendiri sudah menyadari jika ada dinding pembatas yang tidak terlihat dari zona persepsi, walau itu sangat samar tapi bisa dia rasakan adanya energi yang sangat tipis menghalangi sesuatu dihadapannya.


Sejenak Askar memperhatikan, dan semua struktur dari bermacam segel yang ada di alam semesta kerajaan suci hampir semuanya mirip.


Dan Askar yang memiliki kekuatan keajaiban hidup, menjadi kunci untuk melewati semua itu.


Mengalirkan energi kuning keemasan di seluruh tubuh, Askar pun melangkah maju tanpa terhalangi oleh dinding pembatas.


Tapi seketika mata Askar melihat sosok Azela berdiri dengan tatapan aneh mengarah kepada dirinya.


"Kenapa ?." Ucap Askar yang bingung sendiri melihat tatapan Azela.


"Bagiamana kau bisa melewati segel pembatas suci." Itu yang menjadi pertanyaan.


"Karena aku memiliki kekuatan keajaiban hidup, yang diberikan oleh Silviana."


"Itu tidak mungkin, keajaiban hidup hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang menjadi keturunan dewa Sunawa."


"Anggap saja, tubuhku ini sedikit unik, jadi jangan heran." Balas Askar yang cukup santai menjawab rasa penasaran Azela.


Sekilas pandangan askar tertuju kepada sosok Asy yang ada di belakang Azela, disebuah lingkaran prasasti itu, Askar bisa merasakan, jika kekuatan Phoenix yang dia miliki sedang diserap secara habis-habisan.


"Apa yang anda lakukan, ratu Azela." Tegas pertanyaan Askar.


"Ini urusanku, jangan ikut campur." Balas Azela yang jelas tidak ingin Askar maju.


Satu pedang panjang mengarah di hadapan kepala Askar, Azela menahan askar untuk tidak bergerak maju.


"Tapi dia adalah wanitaku." Askar tanpa ragu mengeluarkan sebilah pedang perak yang menyilaukan mata.


"Pedang dewa pemangsa kematian, bagaimana mungkin, pedang dewa Asyura ada ditanganmu." Ucap Azela terkejut.


"Karena aku adalah Asyura, dewa pemangsa." Balas Askar dan cepat mengayunkan pedang di tangan, menyingkirkan hadangan dari Azela.


Tapi Azela pun tidak begitu saja membiarkan Askar lewat, karena ritual pembangkit jiwa Sphinx sudah dimulai.

__ADS_1


(Note : hari Minggu kita off dulu ya kakak, sebenarnya cukup di sayangkan untuk novel-novel lain yang tidak tersentuh sama sekali...


Jika saja saya ingin melanjutkan satu novel lain ( ini baru rencana, entah kedepannya ), novel mana yang menurut kalian bagus.)


__ADS_2