PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
masa depan berbeda


__ADS_3

Setelah semua jiwa Phoenix dilepaskan, mereka terbang dan lenyap tanpa bekas, karena tubuh mereka sudah mati, maka tujuan selanjutnya adalah mencari wadah sebagai tempat berenkarnasi.


Asy pun kembali membuka matanya tanpa Ingatan tentang segala hal yang terjadi, hanya saja Dia pun sadar atas kondisi sebenarnya.


Dimana semua orang berkumpul menatapnya dengan rumit, terlihat seperti ingin menangis dan semua kekacauan yang ada di sekitar.


Terlebih lagi untuk Sina yang memeluknya dengan erat, seakan tidak membiarkan dia untuk pergi.


"Sina kenapa kau terlihat begitu sedih." Bertanya Asy.


"Banyak hal yang terjadi di hari ini hingga aku sendiri merasa sulit untuk mengatakan apa pun tentang diriku." Balas Sina yang semakin erat memeluk Asy.


"Baiklah baiklah Aku tidak akan bertanya lebih lanjut, tapi bisakah kau melepaskanku." Ucap Asy dengan ekspresi yang merasa sesak.


Sebuah hubungan yang terjalin antara mereka berdua tidaklah sederhana, dimana Sina sudah menganggap Asy adalah saudara kandungnya sendiri.


Tentu tidak bisa dibayangkan jika melihat saudaranya itu mengalami kesulitan atau pun harus tewas tanpa bisa Sina melakukan apapun untuk melindungi Asy.


Terlihat sebuah senyum yang melegakan dari wajah cantiknya itu, Asy hanya bisa membayangkan bahwa dirinya benar-benar berarti untuk Sina.


Padahal dulu Asy dengan tujuannya, tidak perduli jika harus mengorbankan Sina, asalkan dia bisa memiliki tubuh sebagai wadah dari jiwa Phoenix.


Waktu memang sebuah misteri di mana segala hal bisa mengubah siapapun bahkan untuk seekor Phoenix yang sudah hidup jutaan tahun.


Di sisi lain....


Askar sedang menyembuhkan Azela dengan kekuatan keajaiban hidup, karena baru dia ketahui sebagai salah satu keturunan dari Davendra, sedangkan Davendra adalah dirinya sendiri.


Tentu Askar merasa bersalah karena beberapa kali melayangkan pukulan tanpa regu kepada Azela, walau pun dia melakukan hal yang salah, tapi darah yang Azela miliki masih satu keluarga.


Jika Davendra adalah orang lain, Askar tidak akan perduli bahkan membiarkan wanita ini kesakitan walau dia sebagai kawan kakek loe teu yiu.


"Askar apa kau menemukan sesuatu yang menarik didalam jiwa Sphinx." Ucap Davendra yang kini berdiri di sebelah Askar.

__ADS_1


"Aku tahu Kau pasti sengaja melakukannya." Balas Askar tanpa menceritakan apa pun.


"Sengaja ?, memang apa yang kau maksudkan."


"Tidak perlu berlagak bodoh, dari awal kau memang merencanakan ini, agar aku masuk kedalam ruang jiwa Sphinx, untuk bertemu dengan Sunawa." Coba Askar membicarakan tentang Sunawa secara santai.


Askar tidak bisa menyalahkan atas perbuatan Davendra karena mungkin ada alasan dibalik semua yang dia lakukan.


"Baiklah, kau memang memiliki pemikiran yang tajam, dan aku akui Itu semua memang sudah aku rencanakan, ... tidak, tapi ini memang sudah jadi alur takdirnya." Berkata Davendra atas apa yang dia lakukan.


"Tapi...." Askar merasa ragu untuk melanjutkan ucapan yang nyangkut di tenggorokan.


Seakan tahu apa yang ingin Askar katakan, Davendra pun lanjut berbicara... "Saat aku berada di tempat yang sama seperti dirimu, aku pun diarahkan oleh Davendra untuk memasuki ruang kehidupan Sphinx, dan dari sana pula aku menemukan semua kebenarannya."


Semua terjadi karena waktu yang terus berulang dan mengulangi, setiap kejadian, tindakan, tempat yang sama, dan waktu yang sama pula, tanpa terlewatkan dari alur takdir.


Askar mengangguk paham, memang benar, jika dari awal Davendra hanya mengambil jiwa Asy, dan semua selesai, maka Askar tidak akan mengetahui tentang Sunawa, keturunannya, dan yang terpenting adalah cara mengatasi kaisar akhir zaman.


Oleh karena itu, Askar tidak menganggap jika Davendra melakukan hal yang salah, dalam hukum sebab dan akibat Davendra hanya memastikan jika Askar bertemu dengan Sunawa.


"Itu memang tujuanku, hanya saja aku tidak bisa mengungkapkan sekarang, jadi segera pergi ke alam semesta awal penciptaan, aku ada di sana untuk menunggumu Askar." Balas Davendra.


Setelah davendra mengucapkan itu secara tiba-tiba tubuhnya menjadi transparan dan lenyap begitu saja.


"Tu... Tunggu sebentar." Askar tidak bisa menghentikan kepergian Davendra.


Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan, tapi pada akhirnya Askar harus menemui Davendra di alam semesta awal penciptaan.


Omen berjalan mendekat dan bertanya... "Tuan orang itu memiliki aura yang sama dengan anda, siapa dia sebenarnya ?."


Jika Sphinx tahu kalau dia memiliki kemiripan dengan Askar, begitu juga Omen, tapi sayangnya, kucing Oren ini, masih belum cukup mampu untuk membongkar rahasia yang di sembunyikan oleh Davendra.


"Dia hanya orang bermasalah yang datang tanpa permisi untuk mencampuri urusan orang lain." Ucap Askar yang menggambarkan tentang dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apa tuan membicarakan diri anda sendiri." Balas Omen.


Dia sangat paham tentang tuannya itu, bahkan saat mendeskripsikan Davendra, Omen secara langsung memahami perkataan Askar.


"Dia... Lelaki barusan." Jawab Askar yang menujukan kesal ke tempat Davendra sebelumnya berdiri.


"Oh begitu, aku paham sekarang, jika lelaki itu tidak hanya memiliki aura yang sama dengan anda, tapi sifatnya pun tidak ada bedanya." Itu yang Omen pahami.


Askar tidak bisa membantah ucapan Omen, dimana memang itu ada benarnya, karena dia adalah Davendra, dan Davendra adalah dirinya, itu sudah menjadi takdir, askar mau tidak mau harus menerimanya.


*******


Di alam semesta awal penciptaan.


Saat Davendra muncul di sebuah pondok kayu dekat dengan danau biru, sosok kucing Oren yang sudah menjadi kawan dekatnya, tertunduk patuh penuh hormat.


"Tuan, selamat datang kembali." Ucap Omen yang setia menunggu kedatangan sang tuan.


"Ya Omen." Balas Davendra singkat.


Davendra segera berjalan menuju kursi di beranda depan pondok kayu yang menghadap langsung menuju danau.


Omen pun segera melompat diatas pangkuan Askar, secara perlahan tangan itu membelai lembut bulu lembut dari kepala hingga ekor.


"Jadi tuan apa semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang anda inginkan." Bertanya Omen selagi menikmati waktu.


"Tentu saja, karena bagaimana pun juga, semua ini sudah digariskan sebagai alur ceritanya." Tanpa ragu Davendra pun menjawab.


"Jika memang begitu, maka sebentar lagi, tuan Askar akan datang kemari." Ucap Omen atas pertanyaan lain.


"Itu benar." Mengangguk Davendra perlahan.


Jadi satu hal yang berbeda adalah saat ini, dimana kehadiran Askar bersama dengan Rea menjadi kunci utama rencana Davendra.

__ADS_1


Dia sudah mempersiapkan segalanya, jika di waktu kehidupan yang lain, Rea tidaklah datang ke alam semesta awal penciptaan untuk alasan khusus.


Tapi sekarang, Davendra sudah mengorbankan kekuatan dewa waktu untuk membentuk persimpangan, dan semua itu demi mengatur sebuah rencana agar takdir yang akan terjadi di masa depan berbeda.


__ADS_2